
"Ya Alloh Ai... kamu kenapa? " Boris menemukan Airin yang tertidur dengan posisi meringkuk, kedua tangannya memegangi perutnya, gadis itu bahkan masih mengaduh menahan sakit. Secepatnya Boris mengangkat tubuh Airin, lalu membawanya kedalam mobil. "Cepetan By..! "
Sebelumnya,
"Lo yakin mau bolos kuliah? matkul favorit lo loh hari ini.. " Robby bertanya, mereka sebenarnya sudah sampai di depan kampus, tetapi Boris tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk kuliah pagi ini. Dia memilih untuk meneruskan pencarian nya, rasa khawatir nya kini kuat membesar.
"Gue gak bakalan bisa konsen By, perasaan gue gak enak... gue mau nyari Airin aja... " Jawab nya, bermaksud membuka pintu mobil mewah milik sahabatnya itu, dan berniat untuk menggunakan bus untuk meneruskan pencarian nya.
"Lo mau nyari kemana?? Tuh anak gak bisa dihubungi kan?? Terus emang gampang kalo nyarinya naik kendaraan umum?? cape iya, ketemu engga.. " Robby kembali menekan tombol untuk mengaktifkan kunci otomatis di mobil mewahnya, lalu mengarahkan kuda besi itu keluar dari areal kampus Sriwijaya.
Robby memahami betul kekhawatiran Boris, ditambah lagi rasa bersalah pemuda itu. Jika dirinya berada di posisi Boris saat ini, belum tentu bisa sesabar ini. Dirinya pasti sudah terbawa emosi, dan akibatnya malah justru akan membuat masalah semakin besar! Bisa jadi malah berakhir di bar dan mabuk parah. Satu hal yang Robby kagumi dari Boris adalah ketenangannya dalam berpikir dan memecahkan masalah.
Sepanjang jalan Boris tetap memanjatkan do'anya dalam hati, memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa dimana Airin berada saat ini. Boris juga memohon perlindungan untuk gadis itu, "Ya Robb... hamba mohon petunjuk MU... " batinnya.
Tak lama kemudian, tepat di lampu merah di ujung jalan dimana kampus Sriwijaya berada, tiba-tiba saja ponsel Boris bergetar. Setelah dia keluarkan dari saku samping celananya, dilihat nya identitas penelepon. Dengan penuh rasa syukur Boris merespon panggilan tersebut.
"Ai... Kamu dimana?? "
Tetapi bukannya menjawab, gadis itu malah terdengar seperti sedang menangis. Kekhawatiran pun semakin besar lagi, bahkan cenderung panik!
"Ai.. share lokasi! cepetan! Kita kesana sekarang! " lalu melihat pesan yang dikirim oleh Airin, tanpa mematikan sambungan telepon itu. "Jangan tutup telpon nya! " Lanjut nya.
"Airin?? Dimana dia?? Dia oke kan?? " Robby mulai merasakan kepanikan yang dialami oleh sahabatnya, dan setelah Boris mengirimkan lokasi Airin berada melalui ponselnya, dirinya pun langsung tancap gas. "Kita ngelewatin tempat itu tadi! " imbuhnya.
Sesampainya di rumah sakit, Airin langsung mendapatkan penanganan khusus dari tim dokter, tak lama berselang pun kedua kakak kembarnya sampai di rumah sakit setelah mang Asep yang terlebih dulu tiba. Aldi yang sudah naik pitam, segera menghampiri Boris dan akan menghajar pemuda itu, tetapi langsung dihalangi oleh Robby dan mang Asep juga Aldo.
"Lo bisa gak sih gak marah bang?! Ini bukan saatnya buat marah!! Lo gak mau kan Airin tambah benci sama kita??! " Aldo memasang tubuh nya sebagai tameng, " Kendaliin diri lo! " Lanjut nya.
"Lo jangan halangi gue! Dia yang udah..."
__ADS_1
"Cukup bang! Cukup! Dia gak bersalah! dan gue yakin dia juga gak tau masalah ini..! " Potong Aldo
"Saudara Boris? " seorang suster tiba-tiba keluar dari ruangan Airin dan memanggilnya, " Anda diminta oleh pasien untuk kedalam" Lanjut nya, lalu menemani Boris untuk menemui Airin.
"Ai...kamu kenapa? kenapa lari dari rumah? " Boris bertanya setelah dia duduk di kursi disamping ranjang Airin, gadis itu sudah terlihat lebih baik saat ini.
"Abisnya aku kesel sama bang Aldi... terus... " Ucapan Airin terhenti, seakan tak ingin mengungkapkan alasan lain dari pelarian nya kemarin malam.
"Terus apa? Lagipula udah tau gak bisa makan pedes, kenapa makan pedes? " Boris bisa menyimpulkan fakta, setelah apa yang dia lihat tadi dikamar Airin. Dirinya melihat bungkusan yang dia yakini merupakan bekas sarapan Airin, dan dari rupanya, sepertinya gadis itu memakan nasi yang bercampur sambal.
"Ka... Aku suka sama kakak, aku sayang sama kakak...tapi bukan sebagai teman... " Ucapnya ragu, dan tak berani menatap Boris lebih lama.
Boris tersenyum " Kakak tau... sejak lama malah.."
Airin kembali menatap Boris, ada senyuman bahagia terukir disana, tetapi sekejap hilang lalu mengerutkan kening nya. "Sejak kapan kaka tau? " Airin penasaran.
"Jadi kaka udah ingat?!! " Potong Airin, gadis itu menyipitkan matanya, kecurigaan nya tiba-tiba muncul. "Jangan-jangan....! "
"Maafin kaka ya Ai... kaka udah jahat sama kamu, kaka merahasiakan semuanya dari kamu semenjak kaka keluar dari rumah sakit.. " Sesal Boris, dirinya tidak menyangka jika keputusan nya saat itu akan berakibat buruk pada Airin. Atau setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Boris.
"Kok kaka tega banget sih!!! Kaka tau kan gimana khawatir nya aku!!!" Airin mulai emosi, gadis itu bahkan tidak bisa lagi mengontrol volume suara nya.
"Kak Boris jahat tau gak!!! " Lanjut nya dengan suara yang lebih nyaring.
"Ai... Ai... istighfar...pelanin suara kamu... ini rumah sakit Ai.. " Pintar Boris, dirinya sudah mulai salah tingkah.
"Bodo amat!!! Emangnya kenapa kalo ini rumah sakit kak hah?? kenapa?!! " Bukannya menjadi pelan, suara Airin malah tetap dalam mode volume tinggi! bahkan hingga terdengar ke luar ruangan.
"Ssstttt...!! " Robby yang menyadari ada suara-suara aneh bersumber dari kamar Airin, meminta semua orang untuk diam. Dia menaruh telunjuknya dibibir tipis nya. "Jangan berisik... " Lanjut nya.
__ADS_1
Aldi pun yang masih bersitegang dengan Aldo langsung terdiam, setelah kedua telinga mereka menangkap lengkingan suara Airin. Sepertinya sang adik sedang mengalami sindrom emosi level alam semesta!
Sontak mereka pun bersama-sama mendekati arah sumber suarasuara dengan sangat hati-hati.
"Maafin kaka dong Ai... kan kak Boris udah ngaku salah... please maafin kak Boris... " Kembali ratapan Boris terdengar.
"Gak mau!! Kaka udah jahat sama aku! kaka udah boongin aku!! " Airin sepertinya tetap dengan keputusan nya, dia marah sama Boris. Gadis itu juga terdengar begitu kecewa.
"Ai... please pelanin suaranya... malu kedengeran orang nanti... " Boris kembali memohonmemohon, terdengar jelas dari intonasi suaranya.
Sementara dari balik pintu, empat orang pria tengah saling bertatap mata, lalu mengangkat bahu-bahu mereka hampir bersamaan, tanpa menyadari kehadiran sesosok wanita tua dengan dua orang pengawalnya sedang menyaksikan kebodohan orang-orang didepannya.
Dia menyesal tidak datang lebih awal, dia bahkan menyesali keputusan nya menyetujui permintaan sang putri untuk memberikan kepercayaan kepada mereka selama ini. Andaikan mereka hidup bersama dengannya di Jerman, tidak mungkin ketiga cucu nya itu memiliki perilaku udik seperti sekarang ini.
"Lihat saja kelakuannya, seperti tidak beradab sama sekali! " pikirnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan??! "
.
.
.
Happy halu manteman.
Blessed Friday untuk kita semua.
Thanks buat support nya di semua novel karya Othor. Love you all segunung Everest! 😘😘😘
__ADS_1