DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 11


__ADS_3

Seminggu sejak kehadiran Aldi dan Aldo ke kampus Sriwijaya, Boris kehilangan Airin. Gadis itu tidak lagi mengunjungnya di tempat Boris biasa mangkal untuk berjualan cilok, bahkan mang Asep pun tidak kelihatan batang bidungnya. Bahkan mobil yang biasa mengantar keduanya pun tidak pernah lagi lewat di depan alun-alun kota seperti biasanya.


Hari-hari yang dia jalani terasa begitu hampa, ingin rasanya Boris mencari Airin, tetapi dimana gadis itu sekolah ataupun tinggal Boris tidak mengetahuinya. Selama ini gadis itulah yang selalu mendatanginya, baik ke rumah kecilnya sekedar untuk menyapa mak Oneng atau menemaninya berjualan, meski pemuda tampan itu kerap kali memintanya untuk pulang karena teriknya sinar matahari. Boris berpikir akan sangat disayangkan jika kulit mulus Airin terkena sengatan matahari, belum lagi wajahnya yang merona karena terpaan udara panas di ibu kota.


"Tumben lo kayak burung pipit nelen karet akhir-akhir ini ris" Udin menatapnya sekilas, lalu memberikan satu cup plastik es doger buatannya kepada pelanggan setianya.


"Gue lagi banyak tugas din, pening pala gue" Balasnya asal, dan seperti biasa tetap melayani pelanggan yang sudah mengantri untuk mendapatkan cilok fenomenal buatan mak Oneng yang selalu dinantikan kehadirannya oleh para mereka.


"Tugas apa Airin?? Udah seminggu ini gue kagak liat dia, kemana dia?"


"Sekolah lah pastinya, lagian kesian kan kalo tu anak nemenin gue jualan tiap hari"


"Lo kagak kangen emangnya?"


"Dah ahh, gak sah ngomongin Airin, ntar kupingnya panas"


Udin hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, meski rentang usianya dengan Boris tidak begitu jauh tetapi untuk urusan kasmaran Udin sudah lebih dulu mengalaminya. Bagaimana rasanya jika sedang merindukan kekasih, bagaimana rasanya di PHP-in, bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan, dan yang lebih sering lagi adalah bagaimana rasanya di tolak oleh gadis yang disukainya. Dan menurutnya apa yang sedang Boris rasakan akhir-akhir ini, yang membuat pemuda tampan itu sering kali melamun, bahkan sering kali salah menyebut nama pelanggan dengan sebutan neng Airin, itu pertanda jika Boris sedang merindukan gadis cantik tersebut.


"Eh ris, liat siapa yang dateng" Udin melihat seorang gadis bersama dengan seorang pria tinggi besar tengah berjalan ke arah mereka, tetapi Boris tidak juga mengindahkan ucapannya. Cucu kesayangan mak Oneng itu menganggap ucapannya sebagai gurauan semata.


"Ape? gue gak bakalan kena tipu lo lagi..." Boris tetap melayani para pelanggan setianya.


"Hallo kak Boris"


Degg


Suara yang telah dirindukannya selama seminggu ini ternyata telah kembali, jantung Boris berdegup kencang bak ember yang ditabuh oleh mak Oneng, sekujur tubuhnya terasa seperti tersengat listrik seperti ketika dia tidak sengaja menyentuh kabel bocor saat mengecharge hape bututnya saat menyadari Airin telah berada dihadapannya.


Boris berusaha untuk tetap tenang dengan menyembunyikan raut bahagianya, tetapi tatapan matanya tidak juga bisa lepas dari mahluk terindah yang sangat di rindukannya itu. Entah apa yang dipikirkan Boris saat ini, dirinya seperti melayang terbawa angin jauh tinggi ke angkasa.

__ADS_1


"Kak Boris! kakak udah lupa sama aku?!!"


"Ya Sallam! Allohu akbar! Subhanalloh!" Boris terperanjat, selain karena terkejut mendapati Airin yang sudah berdiri didepannya, dia juga terkejut karena tanpa dia sadari tangannya memegang telinga panci yang sangat panas.


"Nah kan! Gue bilang juga apa...Bengong si lo dari tadi.." Secepat kilat udin mengambil bongkahan es batu dan menempelkannya di tangan Boris.


"Gue panggil-panggil dari tadi juga!" Keluh Udin.


Airin mengambil alih tangan Boris dari Udin, gadis itu segera mengambil saputangannya lalu mengikatkan kain segi empat berwarna hitam tersebut ditangan Boris agar es batu yang dia pegang tidak terjatuh.


"Makanya hati-hati kak, luka kan jadinya" Ujar Airin.


"Kak Boris gak apa-apa kok neng, ini mah cetek" Kembali senyuman manis Boris menghiasi wajah tampannya, setelah seminggu terakhir ini redup karena kehilangan cahayanya. Boris bahkan sudah tidak lagi mengindahkan rasa sakit ditangannya semenjak Airin mengambil alih tangannya itu dari Udin.


"Tetep harus diobati kak, ntar infeksi" Airin bersikeras.


"Gak apa-apa beneran deh, suer!" Boris menarik tangannya kembali dari tangan halus Airin, selain dia mulai merasakan desiran aneh di tubuhnya, tatapan maut mang Asep yang setia berdiri di belakang Airin telah mengancamnya.


"Iya kak, seminggu ini aku ujian jadi gak bisa mampir kesini, aku udah kangen sama ciloknya...Buatin seporsi yah" Pinta Airin dengan senangnya, meski aura gadis itu tetap terasa dingin bagi siapapun yang berada dekat dengannya.


Baru saja Boris akan mengambil plastik bening dan memasukkan cilok-ciloknya, tiba-tiba sebuah tangan kekar dengan mangkuk berwarna hitam bermotif batman menghalangi pandangannya. Dengan gerakan matanya mang Asep meminta agar Boris menggunakan mangkuk tersebut untuk cilok yang diminta oleh Airin.


" Isi penuh" Titahnya singkat


Tanpa pikir panjang lagi Boris pun menerima mangkuk yang menurutnya unik itu lalu mengisi mangkuk tersebut hingga penuh dengan cilok dan bumbu kacang terlezat di bumi, tak lupa dia menambahkan kecap manis cap bebek nyengir dan perasan jeruk limau.


"Habiskan yah neng"


Boris kembali melayani para pelanggannya yang sedari tadi sudah mulai melancarkan demo, setelah Airin kembali ke dalam mobilnya untuk menyantap ciloknya disana. Gadis itu sempat bersikeras untuk memakan ciloknya di dekat Boris, tetapi karena rayuan maut pemuda tampan tersebut, akhirnya Airin mau menurut dengan syarat kaca mobilnya tetap dibuka.

__ADS_1


"Jieee...Yang senyumnya kembali merekah bak bunga mawar yang dikelilingi lebah" Ledek Udin yang hanya dijawab oleh senyuman oleh Boris.


"Bang Boris, yang tadi itu pacarnya yah?? keren ihh...Dapetin anak orang kaya!" Ucap salah satu pelanggan setia Boris yang terkenal dengan sebutan ratu nyinyir sejagat. Entah ucapannya itu pujian atau hinaan, yang jelas begitu menohok benak Boris. Kelakiannya langsung tercoreng!


"Eiiitttt...Sapa dulu dong, Boris gitu loh" Balasnya asal, meski saat ini si dongkol sudah menyelimuti hatinya tetapi Boris tetap bersikap tak acuh. Toh tidak semua orang paham dengan apa yang dia rasakan, dan bukannya cinta itu tidak bisa di atur kemana dia akan berlabuh??


"Nah gitu dong bang, lagian nih yah biasanya anak orang kayak itu gampang buat di bodo-bodoin, kan daripada jualan cilok mending..." lanjutnya, merepet bagaikan knalpot motor ninja bocor


"Heh! nenek lampir! maksud lo siapa yang bodoh?? Lo pikir semua orang itu sama hina nya kayak lo hah!" Tanpa disangka dan tanpa diduga, Airin tiba-tiba sudah berada di belakang wanita tersebut dan menarik rambut panjang yang ternyata adalah wig itu. Ucapan yang keluar dari mulutnya terdengar sangat tidak etis ditelinga Airin, dia tahu Boris bukanlah pria kebanyakan apalagi dirinya yang sama sekali tidak bodoh dan tidak pernah mau di bodohi oleh siapapun dibumi ini.


Meski fasilitas mewah memang dia dapatkan tetapi tetap tidak mudah baginya menggunakan semua itu, apalagi jika mempunyai papa yang sangat disiplin yang menerapkan aturan ketat juga kedua kakak posesif yang tidak memanjakan Airin dengan kemewahan. Semua itu harus diperjuangkan oleh Airin.


"Aaahhh....Lepasin! Sakit sialan!" Pekiknya sambil mengaduh karena Airin telah berhasil menjambak rambut aslinya.


"Ngomong sekali lagi, atau gue robek mulut ember lo! mau hah!" Kali ini tangan Airin berhasil mencengkram mulut wanita nyinyir itu, meski sekuat tenaga dia berusaha untuk memberikan perlawanan, tetapi percuma karena selain tinggi tangan Airin memang panjang.


"Airin udah! Lepasin dia!" Kali ini Boris terpaksa meninggikan volume suaranya, karena sejak tadi gadis itu tidak memperdulikan bujukannya untuk melepaskan tangannya dari wajah si ratu nyinyir.


"Apa?! Karena kak Boris setuju sama ucapan dia jadi kak Boris membela dia daripada aku??!"


"Bukan Airin! Bukan..! Apa bedanya kita sama dia jika kita membalas keburukan dengan keburukan?" Boris memelankan suaranya.


"Kamu adalah gadis terhormat, jangan mengotori semua itu dengan hal sepele seperti ini" Boris meraih tangan Airin, lalu mendekap tubuh gadis itu berusaha untuk menenangkannya. Sementara mang Asep terlihat menelan salivanya kasar melihat pemandangan didepannya..


.


.


.

__ADS_1


Happy halu manteman


__ADS_2