DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 65


__ADS_3

"Alhamdulillah... Akhirnya selesai juga" Boris boleh bernapas lega setelah tiga hari mengikuti ujian susulan, akhir-akhir ini dia disibukkan dengan urusan keluarga Airin yang cukup menyita waktunya.


Seringkali Boris harus mengusap dadanya dengan sikap nenek beserta cucu-cucunya itu, karena selama hidupnya dengan mak Oneng dia tidak pernah sama sekali mempermasalahkan sikap sang nenek, apalagi melawannya. Tetapi jika diingat lagi, mak Oneng memang tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada Boris selama hidupnya. Tidak seperti nyonya Natalina yang memaksakan keinginannya kepada anak serta cucu-cucunya.


Selesai dengan urusannya di kampus, Boris pun langsung melanjutkan aktivitas nya kembali, kali ini tujuannya adalah di TRUST Corp. Setelah cukup lama mempertimbangkan, akhirnya Boris memutuskan untuk melanjutkan kembali projek Aero yang sudah cukup lama terbengkalai itu.


Baru saja Boris melangkahkan kakinya meninggalkan halte bus, ketika tiba-tiba saja seseorang berjalan mendekati nya dari arah belakang dan menodongkan senjata tajam ke tubuhnya.


"Berani bicara, akan aku bunuh kau!" Ucapnya cukup pelan, hingga hanya mereka berdua lah yang bisa mendengar nya. Lalu mendorong tubuh Boris agar pemuda itu mengikuti arahannya untuk memasuki mobil yang telah terparkir tak jauh dari mereka berada saat ini.


Sepanjang dirinya melangkah, tak henti nya Boris memberikan senyuman serta menyapa orang-orang yang berlalu lalang disana, berharap ada seseorang yang mengenalinya dan lalu mencurigai orang dibelakangnya. Tetapi hingga dirinya memasuki mobil, tidak ada seorangpun yang mendekati nya.


Tuhan memang Maha Kuasa, Dia selalu melindungi mereka yang begitu mencintai ajaranNYA dan mengagungkan utusanNYA. Tepat sebelum Boris dipaksa untuk memasuki mobil, mobil yang di kendarai oleh mang Asep tiba disana dan melihat apa yang sedang terjadi dihadapan nya. Tanpa pikir panjang pria sedingin es batu itupun mengikuti ke arah mana mobil yang telah membawa Boris pergi berlalu.


Tiga puluh menit perjalanan kemudian, setelah melalui kemacetan yang cukup melelahkan, lalu memasuki jalanan sepi dan berakhir di sebuah gedung kosong, mobil itu pun sampai. Dari kejauhan mang Asep melihat dua orang yang baru saja dilihatnya menyeret Boris memasuki areal gedung kosong tersebut secara paksa.


"Ini pasti ulang nyonya Natalina lagi... " gumam mang Asep.


Belum juga kering luka di lengannya akibat baku tembak dengan orang-orang suruhan wanita itu belum lama ini, kini dirinya sudah dihadapkan kembali pada situasi yang hampir sama.


Mang Asep menghela napasnya kasar, dia harus bertindak secara hati-hati, karena dirinya tidak tahu ada berapa banyak orang di dalam gedung tersebut. Beruntung jika jumlahnya hanya sedikit saja, tetapi jika ternyata ada banyak orang didalam sana, itu sama saja dengan bunuh diri.


"Anggap saja ini sebagai balas budi atas kebaikan mereka dulu... " batinnya, lalu menekan tombol untuk membuka bagasi mobilnya. Disana tersimpan beberapa pucuk pistol beserta amunisinya, peledak dengan daya ledak cukup tinggi, juga beberapa bilah pisau kecil yang terbuat dari baja kualitas terbaik.

__ADS_1


Secara diam-diam mang Asep melihat keadaan disekitarnya, dia bisa melihat dia orang pengawal yang menjaga pintu masuk. Pria itupun berinisiatif untuk mencari akses masuk lain di belakang gedung tersebut.


Samar-samar mang Asep mendengarkan suara ringtihan Boris, pemuda malang itu bahkan meminta kepada seseorang untuk menghentikan perlakuannya, dan bertanya apa maksud dari tindakannya, tetapi pukulan-pukulan tersebut masih saja mendarat di tubuhnya.


Lalu, tak lama kemudian mang Asep mendengar suara seseorang yang begitu familiar ditelinga nya. "Ini..." benaknya, lalu mempertajam pendengaran nya kembali.


"Dunia ini ternyata begitu sempit! Akhirnya aku menemukan anak sialan itu" Ucapnya, lalu memerintah anak buahnya untuk melenyapkan pemuda yang kini sudah dalam keadaan tak sadarkan diri itu.


Tanpa pikir panjang lagi, mang Asep mulai melakukan aksi penyelamatan nya. Dia meledakkan bom-bom yang telah dia tanam sebelumnya hingga membuat para penjahat itu lari menyelamatkan diri, sebagian dari mereka bahkan tertimpa reruntuhan dinding.


Mang Asep tidak memperdulikan mereka yang lari menyelamatkan diri, fokus nya saat ini adalah mengeluarkan Boris dari sana. Beberapa kali dia melepaskan tembakan juga pisau-pisaunya, untuk menghalau siapapun yang masih saja menghalangi jalannya.


Clep!


Clep!


Tak memperdulikan ucapan penjahat tengik itu, dan tanpa ampun, mang Asep melayangkan pukulan mautnya hingga membuat nya tak sadarkan diri. Lalu mengangkat tubuh Boris dan membawanya pergi.


Uhuk!


Darah segar keluar dari mulut pria kutub selatan itu, rupanya selain luka tembaknya yang kembali menganga, luka akibat hantaman benda tumpul yang mendarat di perutnya saat perkelahian sengit tadi telah berhasil melukai organ dalamnya. Dengan sisa tenaganya, mang Asep berhasil membawa Boris keluar dari reruntuhan gedung itu dan membawanya pergi dari sana.


"Astaga!!! Apa yang terjadi?!! " Pekik Aldo. Dia baru saja tiba di rumah sakit setelah menerima kabar dari dokter Varel tentang dua orang yang akhir-akhir ini menjadi pasien langganan nya.

__ADS_1


"Jadi, ini sebabnya dari tadi kamu tidak mengangkat telpon saya mang??! " Lanjut nya, " Airin nyariin dari tadi! " Aldo menarik kursi di samping ranjang, lalu menduduki nya.


"Tuan... ada yang harus saya sampaikan, saya mohon jangan sampai nona Airin tahu... " Mang Asep berusaha untuk duduk dengan bantuan Aldo.


Mang Asep pun menceritakan tentang peristiwa yang telah menimpanya tadi, termasuk suara yang begitu familiar ditelinga nya dan hasil dari penyelidikan nya selama ini secara diam-diam.


Kecurigaan nya terhadap beberapa orang yang terlibat dalam kematian kakek dari Aldo serta ayahnya, juga peristiwa kecelakaan maut yang merenggut nyawa Alda, dan rentetan peristiwa lain yang menurutnya berhubungan satu sama lain.


Hal yang membuat Aldo terkejut mendengar apa yang disampaikan pengawal setia sang adik ini adalah mengenai siapa pemilik suara yang begitu dikenal olehnya dan apa yang diucapkan oleh orang misterius tersebut.


"Ya Tuhan... Apa kamu yakin mang?! " Ucap Aldo, masih berusaha untuk mencerna semua ucapan manusia es batu ini.


"Saya mohon, jangan sampai nona Airin juga pemuda itu mengetahui nya tuan, ini akan menjadi pukulan hebat untuk mereka... " Pinta Asep kembali, satu hal yang tidak dia harapkan saat ini adalah kesedihan gadis itu jika saja berita buruh ini sampai ditelinga nya.


"Aku gak bisa menjanjikan hal ini mang, tapi demi Airin aku akan berusaha... " Aldo menghela napasnya kasar, dia pun memijat keningnya yang mulai berdenyut. Dia tidak menyangka ternyata semua ini tidak sesederhana yang dia kira selama ini, prahara keluarga nya ternyata sangatlah pelik!


.


.


.


Happy halu manteman

__ADS_1


Maafkan othor baru up sore ini setelah sehari kemarin absen... (dimaafkan yaaa... 😘)


loph loph sekebon sawit!


__ADS_2