
Bugh!
Bugh!
"Arrrggghhh...! " Boris mengerang, pukulan bertubi-tubi harus dia terima tanpa tahu alasan apa yang membuat orang-orang menyeramkan ini melakukannya. Sore ini sepulangnya dari TRUST Corp beberapa orang berpakaian serba hitam berhasil menghadangnya, ketika dirinya baru saja turun dari bus. Mereka membawa Boris ke sebuah gedung kosong di pinggiran kota.
Sudah beberapa hari ini Boris merasa jika dirinya tengah diikuti, dia selalu melihat sebuah mobil minivan berwarna merah yang terparkir di seberang kampusnya setiap pagi. Awalnya Boris mengira jika mobil tersebut merupakan kendaraan salah satu pedagang yang biasa mangkal di halaman kampus, tetapi setelah dirinya berhasil mencari tahu tentang identitas mobil tersebut, Boris yakin jika penghuni mobil tersebut telah mengintainya selama ini.
"Siapa kalian?! Kalian mau apa?! " Boris berusaha untuk memberontak ketika dua orang berpakaian serba hitam tiba-tiba membawa paksa dirinya memasuki mobil tanpa sepatah katapun, disana telah ada satu orang sopir yang telah menunggu. Boris baru saja turun dari bus sepulangnya dia bekerja.
Tak.... Tak.... Tak...
"Hentikan..! " Suara berat milik seorang wanita tua menghentikan aksi ketiganya, mereka pun menganggukkan kepalanya lalu melangkah mundur, sementara salah satu pengawal pribadi wanita tua itu menarik kursi untuk majikan besarnya.
"Kamu adalah pemuda miskin yang telah bermimpi untuk memiliki cucu saya Airin, namamu Boris bukan? " Lanjutnya dengan nada sinis, setelah menjatuhkan bokongnya di kursi.
Boris terdiam, tidak ada niatan dalam dirinya untuk membalas ucapan wanita tua yang ternyata adalah nenek dari Airin itu. Boris hanya menatap sang nenek dengan tatapan sendu, dalam hatinya dia hanya berdo'a untuk memohon pertolongan serta ampunan dari Yang Maha Kuasa.
"Kamu pikir dengan menolak pemberian ku, aku akan berbelas kasihan kepadamu? Aku tahu orang-orang macam kalian! Kalian hanya butuh yang lebih banyak kan?? Ayok sebutan berapa jumlah uang yang kamu inginkan agar kamu bisa menjauhi cucuku! " Hardik Natalina, semakin Boris terdiam, semakin dia mempertontonkan kesombongannya. Natalina memerintah salah satu pengawal pribadi nya untuk melemparkan satu koper uang ke hadapan Boris, hingga koper itu membentur kening pemuda menyedihkan itu lalu terbuka dan membuat uang-uang tersebut berserakan.
Boris menghela napasnya kasar, haram baginya merendahkan diri di hadapan orang sombong seperti ini. Sejak tadi dia mencoba untuk menghargai nyonya Natalina dengan sikap diamnya, tetapi ternyata sang nyonya malah semakin menyombongkan dirinya.
"Jika dengan meninggalkan cucu anda dapat membuat hidupnya bahagia, tanpa anda berikan uang sepeserpun saya akan dengan senang hati meninggalkan Airin, anda tidak perlu mengotori tangan anda seperti ini nyonya" Meski rasa sakit ditubuhnya kian terasa, tetapi Boris masih berusaha untuk bersikap tenang. Dia pun mengusap tetesan darah di bibirnya.
__ADS_1
"Sombong kamu! Kamu pikir tanpa pemuda miskin seperti kamu cucu saya akan hidup menderita?!" Natalina terkekeh, " Mimpimu terlalu tinggi nak" Lalu tertawa.
"Dia tidak pernah bermimpi nyonya Natalina yang terhormat! " Tiba-tiba saja Airin muncul, ditemani oleh sang pengawal pribadi, mang Asep.
"Dan satu-satunya orang yang harus pergi dari hidup saya adalah Anda! " Lanjut nya dengan napas yang menderu. Sejak tadi Airin berada disana melihat dan mendengarkan apa yang dikatakan sang nenek kepada Boris, jika saja mang Asep tidak meminta nya untuk bersabar, mungkin sudah sejak tadi Airin merangsak masuk. Airin hanya ingin membuktikan sendiri manusia macam apa ibu dari ibunya ini.
Sebenarnya Airin menyaksikan sendiri kedua orang yang kini berdiri tak jauh dari Boris itu menculik pemuda tersebut, ketika mobil yang dikemudikan oleh mang Asep baru saja tiba disana. Airin bermaksud untuk mengantarkan makanan untuk mak Oneng tadi.
"Ai... jaga ucapannya, beliau itu nenekmu...tolong hormati beliau" Pinta Boris, tetapi tidak mendapatkan respon dari Airin. Gadis itu sepertinya tengah diselimuti emosi tingkat tinggi saat ini! Dia bahkan seperti tidak mengindahkan keberadaan Boris disana.
"Kamu! Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu pada nenekmu sendiri!" Natalina mengangkat tangannya, berniat untuk melayang kan pukulan di pipi mulus sang cucu, tetapi Boris terlebih dahulu menghentikan nya dengan menangkap tangan wanita tua itu.
"Aku lebih tahu siapa yang lebih pantas aku anggap nenek, dan dia lebih terhormat dibandingkan anda" Ucap Airin dengan sorot mata tajam mengarah pada netra tua Natalina, dia lalu menarik tangan Boris dan mengajaknya pergi meninggalkan tempat terkutuk itu. Dan ketika Natalina memerintahkan semua pengawalnya untuk menghadang kepergian mereka, secepat kilat mang Asep menarik pistol dan mengarahkan senjata api tersebut ke arah mereka, lalu menembakkan peluru tepat di kaki dua orang diantaranya.
Boris terkejut bukan main, dia sempat menghentikan langkah kakinya, bermaksud untuk melihat apa yang telah terjadi. Tetapi Airin memaksanya untuk pergi dan melarang Boris untuk menyaksikan hal yang tidak perlu dia saksikan itu, mungkin apa yang akan dilihatnya hanya akan menimbulkan trauma mendalam bagi Boris, pikir Airin.
"Innalillahi! Ai...! Nenekmu... "
"Dia baik-baik saja ka, mang Asep gak sebodoh itu.. " Airin mempercepat langkahnya, sebentar lagi mang Asep akan menyusulnya dan dia sudah harus berada didalam mobil bersama dengan Boris.
"Tapi Ai..." Lagi Boris berusaha untuk kembali, pasalnya suara tembakan didalam sana saling bersautan. Boris berpikir akan ada pertumpahan darah disana, dan satu-satunya orang yang dia khawatirkan adalah Natalina.
"Ka, untuk kali ini... turuti apa kataku! " Airin membuka pintu lalu meminta Boris untuk masuk, tak lama kemudian mang Asep pun memasuki mobil mewah itu, lalu segera pergi meninggalkan tempat tersebut, menyisakan teriakan Natalina disusul suara tembakan pistol yang berhasil mengenai lampu sen belakang kendaraan berkecepatan tinggi itu.
__ADS_1
"Tangannya kena mang! " Airin melihat rembesan darah dari bahu sopirnya itu.
"Hanya luka kecil non, jangan khawatir... " Jawab mang Asep, selagi dia melakukan manuver. Mang Asep harus membawa nona kecilnya kembali kepada kedua kakak kembarnya, dan kali ini terpaksa membawa Boris serta.
"Dia sudah sangat keterlaluan! " Kesal Airin, gadis itu tak habis pikir, apa yang sebenarnya diinginkan oleh neneknya itu? Selama ini mereka merasa baik-baik saja tanpa kehadirannya, tanpa campur tangannya. Apa yang membuatnya kembali?
Mang Asep tidak menjawab pertanyaan Airin, pikirannya saat ini kembali ke masa dimana almarhum Alda masih hidup dan jatuh cinta kepada seorang gadis sederhana dan pada saat Alda bermaksud untuk menikahi gadis itu, tiba-tiba saja dia mendapatkan kecelakaan maut yang menewaskan dirinya.
"Tuhan... semoga ini hanya kebetulan saja... " Batin mang Asep, meski tak bisa dipungkiri adanya kemiripan dalam peristiwa saat ini.
"Dek! Kalian baik-baik aja kan?" Aldo segera menghampiri Airin. Dia bisa melihat sang adik dalam keadaan baik-baik saja, tetapi tidak dengan pemuda disamping nya dan sopir pribadinya.
"Ya Tuhan! Dia benar-benar keterlaluan!! "
.
.
.
Happy halu manteman
Maaf othor baru bisa up lagi cerita nya, karena kesibukan othor yang lain.
__ADS_1
Makasih atas dukungan nya selalu! Loph loph sekebon sawit 😘