
Gelak tawa Aldo menyambut kedatangan Aldi diruang kerja milik mereka, sejak tadi dirinya memerhatikan secara detai peristiwa yang terjadi diruang belajar milik adik kesayangannya melalui pantauan cctv dilayar monitornya.
"Brisik lu!" Kesal Aldi sambil menjatuhkan tubuhnya disofa empuk tak jauh dari posisi Aldo berada.
"Makanya dengerin kata gue...gak bakalan kena semprot Airin kan?" ejek Aldo, lalu kembali tergelak.
Gelak tawa Aldo yang renyah berhasil membuat Aldi semakin keki, sang kembaran semakin kesal dibuatnya. Tetapi satu hal yang masih mengusik pikiran Aldi, kemarahan Airin.
"Adik kita itu tercinta lagi jatuh cinta bang, kalo gak mana mungkin doi pura-pura bodoh selama ini kalo bukan karena si Boris yang harus datang kesini tiap hari dengan dalih bimbel privat?" Aldo mendekati sang kakak dengan satu gelas air dingin ditangannya, lalu memberikannya kepada Aldi. Berharap kemarahan sang kakak yang hanya terpaut 10 detik itu sirna dengan segarnya air dingin yang akan masuk kedalam perutnya.
"Gue tetep gak suka dengan cara bocah tengik itu memperlakukan Airin! Gue tetep musti bales!" Jawab Aldi setelah dirinya menenggak habis air minum dingin yang diberikan Aldo kepadanya.
"Ya elah bang, si Boris kan cuma nyentil jidat Airin...lagipula gue yakin itu pelan banget" Kekeh Aldo, lalu menerima gelas kosong pemberian sang kakak dan menaruhnya kembali diatas meja.
"Lagipula nih ya, kalo abang berani sentuh tuh bocah, gue yakin Airin bakal ngamuk bang...gak bakalan dia maafin abang" Lanjutnya.
Perkataan Aldo memang ada benarnya. Baru kali ini Airin memasang tubuhnya sebagai tameng untuk pria yang disukainya, hal ini membuktikan besarnya rasa cinta yang dimiliki sang adik untuk pemuda itu. Terakhir dia menyukai sosok pemuda, perlakuannya hampir bisa dibilang biasa saja. Tidak ada trik khusus untuk mendapatkan pemuda tengil yang berhasil mereka singkirkan itu, dan itupun tidak membuat Airin marah seperti tadi. Gadis itu hanya merajuk dan ujung-ujungnya minta pergi liburan ke Maldives.
"Pertanyaannya, apa adek gue dapetin rasa yang sama dari si Boris itu?" batin Aldi.
.
.
"Airin...are you oke?" Boris berusaha untuk memecah suasana, dirinya masih setia berdiri dibelakang Airin.
__ADS_1
"Aku janji bakal belajar sungguh-sungguh dan dapetin nilai bagus" Jawab Airin, meski tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Boris kepadanya.
Airin masih berdiri membelakangi Boris, gadis itu enggan memperlihatkan wajahnya kepada pujaan hatinya. Dia khawatir Boris tidak akan menyukai bagian dirinya yang satu ini, Airin masih berusaha untuk menetralkan emosinya sebelum dia memutar tubuhnya dan melanjutkan sesi belajarnya.
"Gimana kalau hari ini kita cukupin dulu belajarnya sampe disini, besok kita mulai lagi dari awal" Ucap Boris ragu.
Sejujurnya Boris sendiri masih ragu apakah keputusan yang dia buat akan diterima oleh Airin, tetapi sepertinya menenangkan diri saat ini merupakan pilihan yang tepat untuk keduanya. Dan Boris pun mulai mempertimbangkan kelanjutan bimbingan belajar ini.
Dengan kemarahan Aldi yang tidak Boris mengerti alasannya itu, Boris bisa menyimpulkan jika satu saja perilakunya tidak berkenan bagi kedua kakak Airin kemungkinan besarnya bisa fatal untuknya! Untung ada Airin yang menhalanginya tadi, apa kabarnya jika Airin tidak berhasil melerainya tadi?? Boris masih ingin hidup untuk mak Oneng, bidadari tercintanya.
"Sebaiknya ka Boris pulang, nanti aku hubungi" Ucap Airin, lalu meninggalkan Boris tanpa melihat kearah pemuda yang masih mematung ditempatnya.
"Ya Rabb..." Boris menggelengkan kepalanya setelah dia berhasil keluar dari rumah mewah milik Airin tanpa bertemu kembali dengan Aldi. Hanya mang Asep yang mengantarkannya keluar tadi, itupun mang Asep diam seribu kata sepanjang perjalanannya.
"Gitu yah rasanya punya kakak?" Batinnya, lalu melangkahkan kakinya menuju luar komplek ke halte bus terdekat dimana Boris biasa menunggu kendaraan umum mirip roti bakar dengan selai kacang tersebut biasa berhenti untuk menaikan penumpang.
"Huffhhh...pasrah aja dah..." gumam Boris, lalu kembali memerhatikan sang dosen di depan sana.
Sebenarnya ada perasaan lain yang dirasakan oleh pemuda tampan nan rajin dan rupawan serta baik hati dan tidak sombong itu, rasa yang lebih yang dirasakan olehnya ketika ditinggal oleh mak Oneng berziarah bersama teman-teman pengajiannya selama 3 hari penuh. Perasaan yang lebih ketika melihat mak Oneng sakit tak berdaya di ruang UGD belum lama ini, perasaan gundah gulana yang lebih dari ketika dirinya menerima kenyataan bahwa mak Oneng di vonis sakit jantung oleh dokter rumah sakit dimana mak Oneng dirawat kala itu.
"Boris! dipanggil dekan ke ruang kemahasiswaan!"
Deg!
Teriakan dosen killer saat memanggil Boris membuat lamunan cucu mak Oneng itu buyar seketika, "apa yang diinginkan pak dekan? gak biasanya pak dekan manggil... Apa ada masalah dengan program beasiswanya?" pikir Boris.
__ADS_1
Ingin rasanya Boris berlari menuju ruang kemahasiswaan agar rasa penasarannya bisa secepatnya hilang, tetapi kekhawatiran dihatinya lebih besar dari itu. Bahkan jauh lebih besar ketika dirinya melihat mobil mewah yang terparkir di depan gedung kantor kemahasiswaan.
"Ya Rabb...Lindungi hambamu yang berdosa ini...." Batin Boris meronta. Pasalnya Mobil yang terparkir disana merupakan mobil milik orang yang paling Boris takuti selain mak Oneng kali ini.
"Assalamualaikum..." Ucap Boris setelah tiga kali mengetuk pintu ruang dekan.
"Waalaikumsallam...Masuk Ris.." Sambut pak dekan dengan sopannya, lalu mempersilahkan Boris untuk duduk di sofa ditengah ruangan tersebut.
Setidaknya senyuman milik pak dekan kali ini sedikit mengobati ketakutan yang dirasakannya saat ini.
"Ris, kenalin...ini pak Aldi dan pak Aldo pemilik serta penyumbang dana terbesar kampus kita" Lanjutnya.
"Kami sudah pernah bertemu.." Jawab Aldo, lalu memeluk Boris dan menepuk pundak pemuda yang terlihat sedang ketakutan tersebut. Sementara Aldi tetap di posisi duduknya.
"Baik, saya tinggal pak Aldi...pak Aldo... silahkan..." pamit pak Dekan, melihat kedekatan Aldo dan Boris, bapak dengan segudang prestasi itu berkesimpulan jika mereka memang telah memiliki kedekatan. Dengan demikian beliaupun memutuskan untuk meninggalkan ketiganya diruangan itu.
"Gak usah banyak basa basi...dimana Airin?!"
Dag...dig...dug...Dueeerrrr...
.
.
.
__ADS_1
Happy halu manteman