DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 67


__ADS_3

Drrtt...


Drrtt...


Robby menatap layar ponselnya sekilas, dia melihat nama Airin di layar nya itu, lalu mengabaikan panggilan dari gadis itu. Tetapi tiba-tiba Boris memintanya untuk merespon panggilan dari gadis itu.


"Bilang sama dia, lo gak tau dimana gue... " Pintanya, lalu memalingkan wajahnya.


Robby semakin yakin jika sedang ada masalah besar terjadi antara Boris dan Airin saat ini, dulu saja ketika dia pura-pura amnesia, Boris masih mau merespon panggilan gadis itu. Lalu mengapa disaat hubungan mereka semakin dekat, Boris malah seperti enggan untuk berkomunikasi dengan Airin? pikirnya.


"Ya Airin? " Robby tersenyum kecut, tetapi tetap mempertahankan intonasi suaranya supaya terdengar ceria menerima panggilan darinya.


"Kenapa?? Kak Robby belum ketemu sama Boris hari ini Airin... " Robby mengerutkan keningnya.


"Oke.. oke... tenang, nanti kak Robby bantu cari ya... " Lanjut nya, lalu mengakhiri panggilan dari gadis itu. Robby menghela napasnya berat selagi dia menaruh kembali ponselnya, satu sisi dia merasa tidak enak hati kepada Airin karena telah membohongi nya, disisi lain dia sedang melindungi laki-laki yang sedang duduk termenung disamping nya. Sungguh ironis pikirnya.


"By... Apa lo bisa maafin orang yang udah bikin hati lo sakit? " Boris bertanya tanpa menatap lawan bicaranya, pandangan matanya masih tertuju pada pemandangan gelap diluar jendela.


"Maksud lo? Cewek gue selingkuh gitu? " Jawab Robby, tidak mengerti. Tetapi jika memang kerisauan hati Boris saat ini dikarenakan perselingkuhan yang dilakukan oleh Airin, rasanya konyol! Dasar bucin pikir Robby.


Boris menghela napasnya berat, "Kalo lo menemukan kenyataan bahwa ternyata bokap nyokap lo mati dibunuh orang yang lo kenal... Apa lo masih mau maafin orang itu By? " Boris menatap wajah Robby, dilihat nya perubahan pada raut wajah laki-laki itu.

__ADS_1


Robby menepikan mobil mewahnya, dia tidak perduli dengan lingkungan yang cukup sepi disekitarnya. Toh mobil mewahnya ini telah dilengkapi dengan sistem keamanan canggih, jadi jika ada seseorang yang akan mencelakai mereka, kemungkinannya kecil sekali. Selain kunci otomatisnya dan alarm yang akan otomatis menyala jika mendeteksi adanya pembobolan, kaca dan body mobil jeep mewahnya itu tahan peluru!


"Maksud lo Ris?!" Robby semakin tidak mengerti dengan ucapan sahabat nya ini.


"Maksud lo ortu lo meninggal karena di bunuh?? Apa ini ada hubungannya dengan keluarga Airin?? " Lanjut Robby, kenyataan yang sungguh diluar dugaan, pikirnya.


Perlahan Boris mulai menceritakan peristiwa yang telah dialaminya hari ini, meski rasa sesak di dadanya kembali dia rasakan, tetapi kenyataan pahit yang telah diketahui nya tadi sore membuat Boris dengan terpaksa menceritakan semuanya kepada Robby. Sahabat yang sangat dia percayai selama ini.


Boris berharap dengan Robby mengetahui kejadian yang menimpa nya, dia mau menolongnya untuk membawa mak Oneng pergi dari villa itu, juga pada akhirnya mau membawa mereka pergi sejauh mungkin dari keluarga Airin. Selain khawatir dengan keselamatan sang nenek yang begitu disayanginya, Boris juga berniat untuk melupakan cintanya terhadap Airin.


"Astaga!! Apa lo yakin dengan apa yang lo denger Ris??? " Robby memukul setir mobil dengan kedua tangannya, darahnya mendidih mendengar ucapan sahabat setianya itu.


Boris mengangguk pasrah. Telinganya masih normal, jadi dia tidak mungkin salah mendengar pikirnya. Tadinya Boris hanya ingin mengetahui kondisi mang Asep dan berterima kasih kepada pengawal Airin yang ternyata baik itu, tetapi saat dirinya secara perlahan membuka pintu kamar laki-laki itu, dirinya tanpa sengaja mendengarkan percakapan antara mang Asep dan salah satu kakak kembar Airin disana.


"Tolong emak keluar dari villa itu By... " Boris menjeda ucapannya.


"Dan yang terakhir ini mungkin bakal bikin lo kena masalah besar... " Boris ragu. Bagaimana pun dia tidak ingin mencelakai Robby nantinya, apalagi urusan keluarga nya ini bukanlah urusan kecil. Dan Boris sudah cukup tahu bagaimana kekejaman keluarga Hutama Putra.


"Just tell me Boris! Gue bakal lakuin apapun saat ini... Kita sahabatan udah lama Ris, lo sering banget nolongin gue... ini saatnya gue bales semua kebaikan lo... " pinta Robby, mengingat semua pengorbanan laki-laki disamping nya ini.


Jika bukan karena Boris, mungkin hubungan dirinya dengan ayahnya tidak akan kembali baik. Jika bukan karena kebaikan Boris, mungkin dirinya masih menjadi seorang laki-laki manja yang kurang ajar dan suka membully! Boris lah yang selama ini menemani nya, mengajarkan kebaikan kepadanya, dan menyadarkan nya berapa berharganya kehadiran orangtua bagi Robby.

__ADS_1


"Tolong bawa kami pergi sejauh mungkin dari mereka By... " pinta Boris dengan penuh harap, meski jujur saja saat ini dirinya tidak tahu kemana akan pergi. Satu-satunya harta yang dia miliki adalah rumah sederhana yang ditempatinya selama ini bersama dengan neneknya itu, Boris tidak pernah mengetahui apakah dirinya memiliki saudara atau tidak. Karena selama hidupnya, sang nenek selalu mengatakan jika dirinya seorang yatim piatu dan tidak memiliki kerabat.


Tanpa pikir panjang, Robby menancapkan gas nya membawa Boris secepat mungkin menuju villa untuk menjemput mak Oneng, lalu akan membawa pergi keduanya. Robby akan membawa Boris dan neneknya itu untuk tinggal di rumah miliknya yang berlokasi jauh di luar pulau, tempat dimana kerabat dari sang ibu tinggal.


Robby tidak akan perduli jika Aldi dan Aldo apalagi Airin mencari tahu keberadaan Boris melalui dirinya, dia akan tetap menjawab tidak untuk semua pertanyaan yang mungkin akan mereka ajukan kepadanya. Menurutnya adalah hal yang wajar bagi Boris meninggalkan Airin, jika memang keluarga mereka ada kaitannya dengan meninggalnya kedua orangtua sahabat baiknya itu.


Tiba di villa, Robby mengerutkan keningnya. Pasalnya pintu gerbang sebesar itu dalam keadaan tidak terkunci dan tanpa adanya penjaga seperti biasanya, kemana mereka pikirnya.


Perlahan Robby menepikan mobilnya, dia sengaja tidak memarkirkan mobilnya dihalaman villa seperti biasanya. Robby mulai mencurigai adanya sesuatu yang buruk tengah terjadi didalam sana, setelah dia mendengar suara teriakan minta ampun dari seorang wanita.


"Lo diem disini, gue mau masuk lewat sana" pinta Robby, menunjukkan jarinya ke arah samping villa tersebut. Disana jendela kamar dimana mak Oneng tinggal berada, dia berharap mak Oneng akan membuka jendela kamar nya seperti biasa. Wanita tua itu menyukai angin malam sebagai pendingin kamarnya! Sungguh unik, sekaligus menguntungkan jika terjadi peristiwa tak terduga seperti sekarang ini pikirnya.


"Gue ikut!! Gue takut lo kenapa-kenapa" Boris bersikeras. Mana mungkin dia akan membiarkan Robby untuk bertindak seorang diri benaknya.


.


.


.


Happy halu manteman

__ADS_1


Thanks buat dukungan nya di part ini yaa...


loph loph segunung Everest 😘😘😘


__ADS_2