DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 54


__ADS_3

"Lo yakin udah kuat? Mending lo istirahat deh... baru seminggu lo ijin kuliah.." Robby menyalakan kembali mesin mobilnya, pagi ini dia menjemput Boris sahabatnya. Semalam dia menghubungi dirinya dan memintanya untuk menunggu nya di depan jalan tepat jam 7.00 pagi.


"Udah oke By, don't worry be happy lah... kesel gue di rumah mulu, mana emak gue nyanyi mulu saban waktu... tambah pening pala gue" Jawab Boris sambil memasang sabuk pengaman di kursi nya, lalu mengeluarkan bungkusan berisi satu kotak plastik cilok yang masih hangat.


"Nih buat lo... Emak yang bungkusin... " Lanjut nya.


"Thanks... betewe, lo masih jualan cilok?? " Robby menerima bungkusan cilok itu, lalu meletakkannya di jok belakang. Setelah itu dia mulai mengarahkan kemudi nya membelah keramaian kota menuju kampus Sriwijaya.


"Masih lah... income utama gue itu, lagipula itu cara gue biar emak ada aktivitas tiap harinya... ksian dia kalo diem terus... "


"Syukur lah... " Robby tersenyum, memang emak sama cucunya ini gak ada lawan pikirnya.


"Ehh... Lo udah denger kabar terbaru si Paula? " Robby menoleh sekilas, dia bisa melihat perubahan pada raut wajah sahabatnya itu.


"Kurang lebih... Airin yang kasih tau... " Jawab Boris, meski dirinya merasa apa yang dilakukan oleh kedua kakak kembar gadis itu sungguh keterlaluan, tetapi mengingat kedekatan mereka, Boris menganggap hal itu lumayan wajar. Lagipula kalau dirinya berada di posisi Aldi dan Aldo, dia bisa melakukan hal yang lebih buruk dari itu.


Dua hari setelah mereka masuk rumah sakit, Paula dan keluarga nya pergi entah kemana. Bahkan belakangan Boris mendengar kabar jika semua aset milik keluarga itu telah terjual! Boris yakin itu semua karena tekanan yang telah mereka dapatkan dari kedua kakak kembar Airin.


"Mereka beruntung cuman diminta pergi, andai Airin tidak melarang... Mungkin hukuman yang akan mereka terima akan lebih buruk dari itu" Robby menghela napas nya, ingatan nya kembali ke masa dimana dia pernah menyaksikan bagaimana kejamnya ketiga kakak kembar Airin itu. Dulu jika ada orang yang berani berlaku kurang ajar terhadap adik kesayangannya, mereka tak segan-segan membuat kehidupan orang itu sengsara bahkan mati!


"An eye for an eye... " batin Robby. Dia bahkan masih mengingat ada salah seorang rekan bisnis Aldi dan Aldo yang tangannya mereka potong, karena telah berani mengelus tangan Airin saat mereka bersalaman.

__ADS_1


"Airin?? Dia yang meminta...?? " pertanyaan Boris menyadarkan sang sahabat dari lamunannya.


Robby pun mengangguk, ada rasa lega dalam benaknya mengingat Airin yang dekat dengan Boris belakangan ini. Dia bahkan bersyukur karena Airin selalu mengejar cinta Boris, orang yang tepat, pikirnya.


Pemuda blasteran Betawi Lebanon ini tahu betul bagaiamana baiknya akhlak yang dimiliki oleh Boris. Bahkan jika dibandingkan dengan sahabatnya itu, sebagai sesama muslim dia merasa malu dengan ketaatan pemuda satu ini.


"Lo masih belum mau jujur sama dia? Kasian loh tuh bocah...effortnya gede banget... " Robby menarik salah satu sudut bibirnya, seakan mengerti besarnya keraguan dalam benak pemuda yang duduk termenung disamping nya.


"Atau lo masih ragu?? " Tanya nya lagi.


Boris menghela napasnya panjang, betul apa yang dikatakan Robby, keraguan dalam hatinya memang masih sangatlah besar! Bukan Boris meragukan cinta Airin terhadapnya, mengingat perjuangan gadis itu selama ini. Tetapi dia lebih meragukan perasaannya sendiri. Boris masih belum mengerti apakah yang dirasakan olehnya ini adalah cinta atau hanya sebatas kasihan saja, belum lagi latar belakang ekomomi mereka yang bagaikan langit dan bumi itu.


"Gue cuma gak mau nyakitin dia nanti nya... "


"Bukan gue yang ngasih tau... elah lu! " Robby mematikan mesin mobilnya, menekan tombol untuk membuka kunci pintu, melepaskan seat belt, lalu keluar dari mobil mewahnya.


"Pagi Airin... tumben pagi-pagi udah disini, gak sekolah emangnya?" Robby tersenyum, bahkan dibuat semanis mungkin.


"Pagi kak Robby, kak Boris... Aku masuk jam 10 pagi ka... Mau nganterin ini buat kak Boris... " Jawab Airin, lalu memberikan satu kotak dibungkus kain kepada pemuda itu, tanpa berani menatapnya lama.


Ada perasaan sedih bercampur bahagia di hati gadis itu pagi ini, sedih karena sang pujaan hati belum juga mengingat nya, tetapi bahagia karena setiap hari dirinya bisa bertemu dengan pemuda tampan dan baik hati itu.

__ADS_1


"Makasih Ai... " Boris tersenyum menerima bungkusan itu dari tangan Airin, "Wah... ini berat loh Ai, banyak banget yah isinya.. " Lanjut nya, sambil menimang bungkusan ditangannya.


"Hehehe... bisa dibagi dua sama kak Robby ntar ka... " Airin melihat jam di tangannya, "Aku berangkat dulu yah Kak... selamat makan! " Lanjut nya sambil melambaikan tangannya dan berlari.


"Jangan lari Ai! nanti jatoh...!" Teriak Boris, membalas lambaian tangan gadis itu.


"Bocah... " Gumam Robby.


Cinta memang tak bisa dipaksakan, terkadang cinta membuat hati dan pikiran kita tak sejalan, bahkan sering kali cinta membuat kita berangan-angan. Seperti halnya Boris dengan segala keraguannya, tetapi tetap memberikan perhatian kepada Airin.


"Udah si... Jujur aja sama dia... Ribet benget dah! "


"Tutup mulut lo! Brisik! "


"Cieeee... cieeeeee.... si paling ragu! "


.


.


.

__ADS_1


Morning halu 😘😍


Thanks buat dukungan nya di part ini yaaa 😘😘😘


__ADS_2