
Berbulan-bulan berlalu, kali ini percakapan diantara Boris dan sang kakek tidak lagi seputar kehidupan masa lalunya. Mereka sedang fokus untuk memindahkan aset atas nama Boris, dan juga pemuda yang ketampanannya mirip dengan mendiang sang ayah itu harus sesegera mungkin memimpin perusahaan.
Mungkin hanya satu hal yang masih mengganjal di benak keduanya, yakni kenyataan bahwa Boris telah memiliki wanita pilihannya sendiri, yakni gadis yang merupakan cucu dari mendiang Ludwig, Airin. Sang kakek sempat keberatan atas pilihan Boris, karena pada kenyataannya Natalina lah dalang dibalik semua peristiwa mengerikan itu. Tetapi hingga semua itu benar-benar terbukti, Boris meminta kepada sang kakek untuk menyelidiki kembali kebenaran tersebut. Dia ragu apakah Natalina adalah dalangnya atau ada orang lain dibelakang semua ini. Meski Natalina memang terlihat kejam dan semena-mena, tetapi dia tidak mungkin sampai hati membunuh suaminya sendiri kan? Pikir Boris.
"Kakek ingin bertemu dengan wanitamu itu, kakek harap dia tidak mewarisi sikap neneknya yang semena-mena itu" Ucapnya sedikit ketus. Ahmed rupanya belum bisa menerima keputusan sang cucu untuk lebih memilih Airin daripada Jameela, gadis cantik anak dari rekan bisnisnya yang dia jodohkan dengan Boris beberapa waktu yang lalu.
"Kakek akan bertemu dengannya segera...dan aku harap kalian bisa akur yaa..." Boris terkekeh, dia tidak bisa membayangkan bagaimana mereka nantinya. Dua-duanya memiliki sifat yang cukup keras dan memiliki keinginan yang kuat, dan keduanya memiliki kesamaan yakni bersikukuh dengan pendiriannya. Baik sang kakek maupun Airin jika menginginkan sesuatu, maka keduanya akan melakukan beribu macam cara untuk mendapatkannya juga untuk mewujudkannya.
"Ai lagi ngapain ya sekarang...."
.
.
"Hatcuuu....! Hatchu....!" Airin mengucek hidungnya. Tiba-tiba saja dia bersin saat akan menyendok makanannya, dirinya pun tiba-tiba saja begitu sangat merindukan Boris, meski kekesalannya terhadap pemuda pujaan hatinya itu sudah sampai ke ubun-ubun! dia bersekongkol dengan kedua kakak serta asisten pribadinya itu selama ini pikirnya. Apa mereka tidak tahu jika perbuatan mereka itu bisa berakibat fatal nantinya? bagaimana jika Boris dijodohkan oleh sang kakek dengan gadis lain? Secara adat istiadat di timur tengah sana itu juga termasuk mengatur perjodohan anak-anak mereka? Setidaknya itu yang Airin ketahui saat ini.
"Awas aja nanti kalau pulang! Gak akan aku kasih ampun! Kalau gak langsung nikah bakal aku culik terus aku bawa kabur ke pulau terpencil biar tau rasa!" Gumam Airin, lalu menaruh sendok dan garpunya kembali. Perasaannya ini telah membuat nafsu makannya menghilang seketika.
"Kok makanannya ditinggal dek...gak enak ya?" Aldo mengerenyitkan dahinya, lalu mencium bau makanan di piringnya. "Gak ada yang aneh..."Gumamnya.
"Gak nafsu makan bang!" Teriak Airin, gadis itu sudah terlebih dulu meninggalkan ruang makan dan mendahului sang kakak untuk pergi ke kantor.
"Apa liat-liat? Mau aku pecat lagi?!" Ucap Airin saat berpapasan dengan mang Asep. Dia pun belum mau mengampuni pengawal pribadinya itu atas ulahnya yang sudah keterlaluan selama ini. Sok jadi penyelamat!Pikir Airin.
Mang Asep tidak berani menjawab ucapan Airin, dirinya hanya mengekori mona kecilnya, lalu membukakan pintu mobil untuknya. Percuma mang Asep memberikan penjelasan kepada Airin saat gadis itu masih dalam mode perang seperti ini, satu-satunya orang yang bisa menjinakkan singa betina yang sedang marah ini saat ini masih berada di Abu Dhabi sana dan entah kapan dia akan kembali.
drrttt...drrtttt...
Getar ponsel Airin membuat gadis itu teralihkan saat ini, tetapi sejenak kemudian gadis itu menghela napasnya kasar "Ini nenek tua kapan sih gak gangguin ketenangan hidup gue! Muak gue lama-lama..." Keluh Airin, lalu melemparkan ponselnya tersebut tak tentu arah. Untung saja saat ini dia telah berada di dalam mobil, jika tidak, sudah bisa dipastikan dia akan meminta kepada mang Asep untuk dibelikan ponsel baru.
"Apa nyonya akan kembali kesini?" Mang Asep mencoba untuk mencari tahu, saat ini info terkecilpun harus dia berikan kepada Ahmed. Sepertinya laki-laki tua mahakaya itu tengah menyelidiki lebih dalam lagi peristiwa mengerikan itu.
"Gak! Dia ngirimin lagi tim pengacara baru buat ngambil perusahaan ini, dan parahnya dia ngirim Simon kesini!" Kesal Airin, sungguh diantara mahluk bumi yang hidup di alam semesta ini, Simon merupakan salah satu pemuda yang sangat dia hindari. Anak dari Hendri, pengacara pribadi sang kakek itu pernah mengisi relung hati Airin dulu. Tetapi sayangnya dia menolak cinta Airin mentah-mentah! Alasannya karena dia tidak menyukai gadis seperti Airin. Simon menyukai gadis feminim ketimbang gadis tomboy seperti dirinya.
__ADS_1
Ingin sekali Airin menghilang dari muka bumi ini saat itu, perasaan malu yang begitu besar karena telah memberanikan diri mengungkapkan rasa sukanya terhadap simon, juga perjuangannya selama itu rupanya hanya sia-sia belaka!.
"Apa nona akan menemuinya?" Kembali mang Asep bertanya, dan berharap agar Airin tidak curiga padanya.
"Gak sudi! Biar bang Aldo aja yang ngadepin dia..." Jawab Airin masih kesal. JIka saja Boris ada disini saat ini, mungkin dia akan lebih memilih untuk pergi ke rumah laki-laki tampan itu ketimbang harus pergi ke kantor saat ini, lalu mencurahkan keluh kesahnya kepadanya.
hiks....
Mang Asep sayup-sayup mendengar isak tangis gadis dibelakangnya, sungguh merupakan hal baru baginya! Telah lama sejak dia mendengar sang nona kecil menangis. Mungkin saat Airin kecil dulu mang Asep sering mendengar gadis itu menangis karena dijahili oleh kedua kakak kembarnya, tetapi begitu Airin menginjak remaja hingga dewasa, baru kali ini mang Asep mendengar kemabli isak tangisnya.
Mang Asep membenarkan posisi kaca spion didepannya, untuk memastikan sendiri pendengarannya. "Nona benar-benar menangis..." Batinnya, lalu menyerahkan satu kotak tisu kepada Airin.
Ya! Airin menangis. Menangis karena emosi jiwanya sudah tak kuasa dia tahan, dia lelah dengan semua peristiwa yang dia hadapi saat ini, dia lelah dengan ulah sang nenek yang tetap saja semena-mena kepadanya, dia lelah dengan rasa rindunya yang membuncah, Hanya tangisnya yang tersisa, dan berharap dengan tangisannya ini semua rasa lelahnya ini akan sedikit berkurang.
.
.
"Kenapa Ris? Ada sesuatu yang terjadi?" Ahmed menghentikan makan siangnya yang tertunda, dia melihat sang cucu yang tiba-tiba gelisah setelah menerima pesan masuk di ponselnya.
"Kamu bisa memerintahkan semua pengawal untuk menyiapkan penerbangan ke Indonesia saat ini juga, untuk menemui gadis itu..." Seakan mengerti apa yang tengah dialami oleh Boris.
"Lagipula kita harus mulai memberikan pelajaran kepada wanita itu, selama ini dia telah mengira jika perusahaan itu adalah miliknya dan hidup mewah dengannya...sementara kesejahteraan karyawannya terbengkalai begitu saja" Lanjutnya, menunggu persetujuan sang cucu yang masih saja menatap meja dengan tatapan kosong.
"Maaf kek...apa yang kakek katakan tadi?" Boris terbangun dari lamunannya, dia tidak mendengar secara persis apa yang telah dikatakan sang kakek. Dia hanya mendengar bahwa dia bisa terbang ke Indonesia saat ini juga.
"Perintahkan Hasan untuk menyiapkan keberangkatanmu ke Indonesia nak..." Ahmed tersenyum, dia ingat saat dirinya jatuh cinta pada Fatimah mendiang istri tercintanya. Seperti itulah kira-kita keadaan dirinya saat sedang merindukan wanita cantik itu.
Kembali pada Airin
"Kapan si Simon sama cecunguknya pada dateng?" Dengan kesal Aldo bertanya kepada mbak Tutiek sang sekertaris yang masih setia meyendiri itu.
"Kira-kira besok jam 9 pagi pak, dia akan langsung kemari.." Bukan hanya Aldo yang kesal, dirinya pun demikian. Untuk kesekian kalinya sang nyonya besar membuat ulah dengan mengusik ketenangan para majikannya, dan ketika itu terjadi secara otomatis diapun kena getahnya. Tugasnya akan semakin menumpuk! Sudah bisa dipastikan Tutiek akan kembali kerja hingga larut malam selama berhari-hari.
__ADS_1
"Tuhan! Semoga engkau memberikan keajaibanMU kali ini..." Ucap Aldo dengan penuh harap. Andaikan saja Aldi ada disini sekarang, sudah pasti semua beban ini akan terasa ringan jadinya.
Hari yang dinantikan pun tiba. Tepat pukul 9.15 pagi Simon beserta timnya tiba di TRUST Crop, kedatangan mereka disamput oleh mbak Tutiek dan rekan-rekannya yang lain. Sementara Aldo dan Airin sudah berada di ruangan kerjanya saat ini, memastikan kembali kelengkapan dokumennya sejak pagi tadi, setelah semalaman kedua nya begadang.
Tanpa memperdulikan sambutan hangat yang diberikan oleh mbak Tutiek, Simon dan teman-temannya langsung meminta untuk diantar ke ruangan meeting. Mereka tidak mau membuang-buang waktu lagi, dan ingin segera menyelesaikan perintah nyonya Natalina untuk mengambil kembali perusahaan yang diklaim miliknya itu.
"Pak...Mereka udah nunggu di ruang meeting" Mbak Tutiek mengetuk pintu, lalu memasuki ruangan kerja bosnya untuk membantu mereka membawa setumpuk dokumen penting.
"Selamat siang tuan-tuan, maaf telah membuat anda semua menunggu" Ucap Aldo saat memasuki ruangan bersama dengan Airin.
Sesosok mata memandang Airin dengan tatapan takjub! Gadis yang selama ini dia kira adalah gadis tomboy, urakan dan kekanak-kanakan itu telah berubah menjadi gadis yang sangat cantik. Tetapi demi profesionalitas kinerjanya, dia lebih memilih untuk menyimpan rasa takjubnya itu dan meneruskan misinya disana.
"Airin...Bisa kita bicara?" Pinta Simon saat mereka menyudahi pertemuan yang baru separuh jalan itu, dan memutuskan untuk meninggalkan ruangan rapat untuk bersiang.
Airin terpaksa menghentikan langkah kakinya, lalu menghela napasnya kasar. "Apa maumu Simon?" Tanya Airin dengan tatapan sinis.
"Apa kabarmu? Lama sekali kita tidak bertemu..." Jawabnya cukup ramah, bahkan terlalu ramah menurut Airin. Bukankah dulu dia terlihat begitu jijik saat memandanginya? Lalu ada apa dengan sikap konyolnya saat ini?
"Hentikan omong kosongmu Simon, dan katakan apa tujuanmu..." Kali ini giliran Airin yang menatapnya jijik.
"Sepertinya kamu sudah banyak berubah Rin, aku hanya mau bilang...menyerah saja hari ini..."Simon menarik salah satu sudut bibirnya, "Aku akan memastikan bahwa nyonya Natalina mengasih kalian dengan menyisakan sedikit kekayaan untuk kalian" Lanjutnya lalu terkekeh.
Suara yang begitu mengganggu pendengaran Airin. Tetap saat Airin akan menjawab, tiba-tiba saja ada suara lain yang dia dengar, suara yang sangat familiar ditelinganya, suara yang biasanya terdengar lembut dan ceria yang begitu dan ia rindukan itu kini terdengar begitu tegas dan berwibawa,
"Oh ya? Hanya jika anda mampu tuan Simon.." Ucap Boris, dari arah belakang Airin."Dan tolong singkirkan tanganmu dari wanitaku..." Boris lalu menarik tangan Simon dari lengan Airin, dan menarik tubuh gadis itu ke dekatnya.
.
.
.
to be continued yaaaa...
__ADS_1
see you again manteman! dan semangat berhalu!