
"Wah! Ini gak bisa dibiarin dek...kayaknya dia harus dikasih pelajaran..!" Ungkap Aldo, dia menganggukkan kepalanya kepada Aldi pertanda sang kakak harus mendukungnya langsung kali ini.
"Mmm iya...Bener tuh dek, gak bisa dibiarin! Dasar wanita genit!" Aldi pun mengangguk-anggukkan kepalanya memberikan kesan kesungguhan akan dukungannya.
"Gue musti temuin tuh nenek lampir! Enak aja sentuh-sentuh punya gue!' Airin geram, gadis itu beranjak dari duduknya bermaksud untuk menemui langsung perempuan tadi dan memarahinya, tetapi kedua kakaknya terlebih dahulu menahannya.
"Eiittt...Nanti dulu, masa mau maen labrak-labrak aja...malu dong sekelas Airin ngelabrak cewek model gitu.." Ucap Aldo, sambil menahan tubuh sang adik dengan menekan pundak gadis tersebut hingga dirinya terduduk kembali.
"Gak level..." Dukung Aldi, sambil menggelengkan kepala dengan mata tertutup dan bibir mengerucut.
"Terus Airin musti gimana?? Ntar nenek lampir itu makin berani...Atau bang Aldo pecat aja langsung kan beres!" Airin mengacak rambutnya sendiri, gadis itu kesal karena bingung dengan tindakan apa yang harus diambilnya.
Benar apa kata Aldi dan Aldo, kalau dirinya sampai melabrak wanita itu, itu sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri. Dimana harkat dan martabat seorang Airin yang terkenal anti rebutan cowok selama ini? Bisa-bisa kutukan menjilat ludah sendiri dialaminya! ini karma buruk! Tetapi apa yang dilihatnya tadi telah mengusik ketenangan batinnya, Airin tidak rela jika wanita manapun mendekati pria pujaan hatinya.
"Wah, nanti kalo bang Aldo langsung pecat, gak profesional itu namanya...Masa mecat orang cuma karena deketin si Boris" Ujar Aldi, mewakili sang adik yang terihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Lagian yah dek, kalo nenek lampir itu langsung kita pecat, keenakan dia dong langsung bebas dari hukuman" sambung Aldo memanas-manasi.
"Benerkan bang??" lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Aldi.
"Terus Airin musti gimana ini abaaaanggg...!!" rengek Airin.
__ADS_1
Ini sejarah bagi Aldi dan Aldo, mengetahui sisi Airin yang lain yang baru saja mereka ketahui. Sang adik mana pernah merengek seperti ini, apalagi untuk urusan pria selama ini. Biasanya Airin akan memutuskan pemuda yang disukainya jika pemuda tersebut disukai oleh gadis lain, meski pemuda tersebut menolak gadis lain yang menyukainya itu. Airin akan meninggalkan pemuda tersebut tanpa beban, tidak akan ada drama seperti sekarang ini.
Sepertinya sang adik tengah benar-benar jatuh cinta saat ini.
"Mending kita makan siang dulu yuk.." Ajak Aldo.
.
.
.
"Wah rejeki tumplek tuh Ris, dapet bingkisan banyak gitu..." Ejek salah satu rekan kerjanya, setelah menepuk pundak pegawai magang baru di meja kerjanya.
"Wah boleh tuh Ris! Sini gue bawain..." Pintanya, lalu mengambil bingkisan tersebut dari tangan Boris sambil mencoba untuk mengintip apa isi tas tersebut.
Tiba di kantin Boris bersama dengan teman barunya menempati meja panjang yang biasa mereka tempati jika sedang beristirahat, Tito membuka bungkusan yang ada ditangannya lalu menggelarnya agar mereka bisa menikmatinya bersama, dibantu oleh Boris sendiri dan rekan-rekannya yang lain. Mereka terlihat begitu senang dengan banyaknya makanan yang tersedia dihapadan mereka, ini artinya mereka tidak harus mengeluarkan uang untuk makan hari ini.
"Lo ulang taon Ris? Banyak gini makanannya?" Ucap pria bertubuh tambun berambut klimis sambil mengunyah makanannya.
"Kagak bang, anggap ada lagi dapet rejeki" Jawab Boris, lalu beranjak dari duduknya untuk membeli makanan lain di kantin itu
__ADS_1
"Lah lo gak ikut makan?" Tanya Tito. melihat Boris mendekati booth bakso tahu disana.
"Kagak bang, gue alergi sama makanan laut...Abang abisin aja sama temen-temen makanannya" Jawabnya, lalu memesan bakso tahu kesukaannya.
Ya! Boris memang tidak bisa menyantap makanan laut akibat alergi yang dideritanya sejak kecil. Itu sebabnya ketika dirinya mengetahui bahwa makanan yang diberikan oleh Diana adalah makanan laut, pemuda itu memutuskan untuk memberikan semua makanan itu kepada teman-temannya. Lalu dari mana dia tahu jika itu adalah makanan laut padahal Boris belum membukannya? Dari baunya yang amis!
Saking alerginya Boris terhadap makanan laut, maka dari baunya pun Boris sudah bisa tahu jika makanan yang ada dihadapannya mengandung makanan laut meski hanya sedikit saja.
Sementara disalah satu sudut ruangan, seorang wanita tengah mengamati aktivitas mereka dengan kesal, Pasalnya makanan yang dia buat untuk pemuda incarannya sekarang ini telah dinikmati oleh rekan-rekannya yang lain! Sementara pemuda tersebut malah terlihat membeli makanan lain dikantin itu.
"Sabar Di...sabar..." Ucapnya meyakinkan dirinya sendiri sambil mengelus dadanya yang semakin bergejolak. Ingin rasanya dirinya menghampiri pemuda itu dan memarahinya, tetapi untuk apa? toh sekarang ini dirinya bukan siapa-siapa bagi pemuda tersebut.
Ada pertanyaan menggelitik dipikiran Diana. apa yang menyebabkan pemuda itu tidak mau menyentuh makanan yang sudah susah payah dia buat untuknya. Apakan makanan tersebut tidak enak? tapi dirinya bisa melihat rekan-rekannya tengah menyantap makanan tersebut dengan lahapnya. Atau apa karena Boris tidak menyukai dirinya hingga makanan yang dia berikan tidak dimakannya?
"Gue harus temuin Boris sekarang..."
.
.
.
__ADS_1
Happy halu manteman