
Boris tidak menyangka jika keluarga besar sang ayah begitu hangat, mereka bahkan menyambutnya dengan suka cita. Apalagi sang kakek, setelah dirinya memberikan kalung sebagai tanda bukti bahwa dia adalah anak dariĀ Muhammad Abram Alfateh, pria tua itu langsung memeluknya erat. Seakan-akan mencurahkan segenap kerinduannya kepada mendiang anak sulungnya itu.
"Selamat datang ya habibi! selamat datang dirumahmu..." Ucapnya sang kakek sambil memeluknya erat, lalu meminta kepada para asistennya untuk menyiapkan segala kebutuhan untuk sang cucu yang telah lama dia cari.
Di bandara tadi Boris sempat merasa takut karena kehadiran banyak orang berjubah yang telah menyambutnya, dia bahkan belum sempat menenangkan dirinya karena sebuah pesawat jet telah menantinya dibandara untuk membawanya kemari beberapa jam sebelumnya. Boris curiga jika mang Asep sebenarnya telah lama mengenal keluarga mendiang sang ayah, hal ini bisa dia buktikan dengan tindakan pria dingin itu. Hanya dalam waktu beberapa jam saja setelah dia menghubungi seseorang dengan ponselnya, tiba-tiba saja pesawat mewah itu sudah mendarat dan membawanya kemari dengan sangat mudah!
"Aku akan membuat perhitungan dengannya nanti" Benak Boris. Saat ini dia telah berada di kamarnya, sebuah ruangan yang terlalu besar untuknya, dia bahkan bisa memperkirakan jika ruangan yang terlalu mewah ini berukuran sama dengan lapangan futsal di kampungnya. Tiba-tiba saja Boris teringat dengan rumah sederhana yang telah dia tempati bersama dengan mak Oneng, rumah itu tidak lebih besar dari kamar mandinya saat ini.
"Ya Rabb...kuatkan hamba, selamatkan hamba, lindungi hamba dan keluarga hamba...Maafkan hamba jika semua ini terlalu besar untuk bisa hamba terima saat ini..." Air matanya mengalir membasahi kedua pipi tirusnya. Entah ini mukjizat Tuhan untuknya atau ada hal lain dibalik semua ini.
Boris masih belum bisa menerima semua ini dengan akal sehatnya. Selama hidupnya dia hidup serba kekurangan, bahkan dia harus rela mati-matian berjuang bersama sang nenek untuk bisa bertahan hidup! Dia bahkan tidak pernah bermimpi untuk bisa sekaya ini, apalagi menerima kekayaan sebesar ini.
Dokumen-dokumen penting dalam amplop peninggalan sang ayah, ternyata adalah bukti keapsahan bahwa dirinya mewarisi kekayaan milik sang ayah secara keseluruhan. Ini artinya dia mewarisi 3/4 dari total kekayaan sang kakek! Bayangkan saja seperempat kekayaan sang kakek yang telah dia wariskan kepada kedua putrinya, mencakup dua perusahaan global logam mulia dan beberapa pulau kecil, lalu sebanyak apa yang akan dia terima ini nantinya? Pikir Boris.
Renungan Boris terpecahkan setelah ketukan-ketukan pintu terdengar olehnya, dia lalu melipat kembali sejadahnya dan bergegas membukakan pintu yang ternyata diketuk oleh sang kakek.
"Assalamualaikum habibi, boleh kakek masuk?" Ucapnya dengan suara yang begitu lembut ditelinga Boris. Bahkan pemuda tampan itu merasa jika suara yang kakek tidak sebanding dengan tubuhnya yang tinggi besar dan wibawanya yang terlihat jelas, meski dirinya sudah terbilang tua.
__ADS_1
"Waalaikumallam ya Jaddun...silahkan kek" Sambut Boris, sungkan, lalu mempersilahkan sang kakek untuk masuk.
"Maaf menganggu waktumu nak, kakek hanya ingin lebih cepat mendengar cerita hidupmu...kakek tahu kamu masih lelah, atau mungkin belum bisa menerima semuanya...maafkan kakek" Ucapnya dengan sungguh-sungguh. Dia bukan mencurigai Boris atau menyangka pemuda tampan yang mewarisi garis wajah sang anak dan menantunya ini penipu, bukan itu! Ahmed bahkan telah mengetahui jika mendiang sang anak telah memberikan cucu untuknya waktu itu, dan kabar kejadian mengerikan itu dia terima tepat sebelum keberangkatannya ke Indonesia untuk menjenguk mereka. Andai saja dia datang lebih cepat, pikirnya saat itu.
Dan hal terberat yang dilakukan oleh Ahmed dan keluarganya adalah tetap merahasiakan semua ini dari khalayak publik, keputusan terberat ini dikarenakan untuk menghindari akan bermunculannya orang-orang yang mengaku cucunya nanti, hingga memanfaatkan seluruh kekayaannya untuk menjatuhkan reputasinya. Dan semua itu berhasil! Berkat pertemuannya dengan seorang pria yang terkesan dingin dan tak acuh itu beberapa tahun yang lalu.
"Kakek...maafkan jika aku menanyakan hal ini sebelum aku bercerita nanti..."Boris menatap netra teduh sang kakek dengan sungguh-sungguh...
"Apa kakek berusaha untuk mencariku selama ini?" Lanjutnya, meski dengan perasaan yang kurang nyaman. Tidak etis memang, tetapi keingin tahuan Boris lebih besar.
"Asrap....As...."
"Asep?" Lanjut Boris, dia bisa menerka siapa orang yang dimaksud oleh sang kakek. Hal ini kembali membuktikan kecurigaannya terhadap laki-laki kutub selatan itu.
"Ya...Asep!" Ucapnya, lalu melanjutkan kembali kisah pertemuannya dengan mang Asep, pria yang sebenarnya sangat baik itu.
Tiga tahun yang lalu tanpa sengaja Ahmed menghilangkan dompetnya saat menghadiri sebuah perhelatan resmi di Indonesia. Acara tahunan itu dihadiri oleh para pemilik usaha yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Ahmed, bahkan banyak diantara mereka yang telah Ahmed percayakan kucuran dananya. Diantaranya adalah perusahaan automotif bernama TRUST Corp, dan perusahaan rekanan bernama Wessel Corp yang telah lama menjalin usaha dengannya. Pemilinya merupakan teman dari sang anak mendiang Abram bernama Ludwig.
__ADS_1
Entah bagaimana hingga akhirnya perbincangan mereka malam itu tiba-tiba mengarah kepada pemilik Wesser Corp yang meninggal dengan cara yang tragis bersama dengan sang sopir yang merupakan ayah dari pemuda baik hati yang telah menemukan dan mengembalikan dompet berharganya itu dengan utuh tanpa kurang apapun tersebut. Dan ketika Ahmed menanyakan kapan persisnya peristiwa itu terjadi, Ahmed cukup terkejut. Ternyata peristiwa nahas itu terjadi tak lama sebelum peristiwa yang menimpa mendiang anak sulung serta menantunya terjadi. Saat itu Ahmed menyimpan sendiri kecurigaannya dan memilih untuk mengerahkan lebih banyak lagi orang untuk mencari keberadaan sang cucu, hingga sebulan kemudian dia memutuskan untuk memanggil Asep dan berbicara padanya.
"Apa kakek tahu jika wanita yang selama ini kakek kira telah menculikku adalah wanita yang telah membesarkanku dengan baik? Aku bahkan mengira dia sungguh-sungguh adalah nenekku kek..." Boris tersenyum, meski air matanya kini telah membasahi pipinya kembali.
Sang kakek kembali memeluk Boris dengan erat..."Ceritakan nak...ceritakan kisah hidupmu agar kakek tahu siapa yang harus menerima hukuman dari perbuatan keji itu..."
Boris lalu menceritakan kisah hidup nya bersama dengan nenek yang sebenarnya adalah pengasuh nya itu, dimana mereka tinggal, dan bagaimana mereka bertahan hidup di kerasnya ibu kota.
Tak disadarinya airmata Ahmed mengalir dari kedua sudut matanya, dia tidak menyangka kehidupan sang cucu begitu sangat menyedihkan, tetapi dia bersyukur bahwa saat ini Boris sudah berada disisinya. Dan dia berjanji akan segera memberikan hukuman setimpal bagi orang-orang yang telah berbuat keji kepada anak dan menantunya itu.
.
.
.
Happy halu manteman!
__ADS_1