DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 22


__ADS_3

"Naon Boris? Dagang cilok na online?? Online teh dimana tempatna?" Tanya mak Oneng masih bingung. Wanita tua itu sudah mulai khawatir dengan modal yang akan digunakan sebagai pengeluaran untuk menyewa tempat dan alat-alat masak lainnya, jika memang sang cucu bersikeras untuk berjualan cilok ditempat yang bernama online tersebut.


Sudah seminggu ini Boris tidak berjualan ditempat seperti biasanya, tetapi mak Oneng masih tetap mendapatkan pesanan cilok dari sang cucu. Si emak sempat kebingungan kemana cilok-cilok itu pergi, karena dirinya merasa tidak ada aktifitas tambahan dari cucu satu-satunya itu. Seperti biasa setiap pagi Boris akan berangkat kuliah, tetapi kali ini dengan membawa banyak bungkusan cilok sebagai bekal. Dan ketika sang cucu pulang, pemuda tampan yang akhir-akhir ini terlihat murung itu menyetorkan uang hasil jualannya, lalu meminta mak Oneng untuk membungkus banyak cilok dan menunggu tukang ojek mengambilnya.


"Tempatnya disini mak...tuh" Jawab Boris sambil mempertontonkan layar ponsel baru yang belum lama ini dia beli. Meski hp seken, yang penting bisa dipakai untuk berjualan di platform jualan online pikirnya.


Kerutan di dahi mak Oneng semakin lama semakin berlipat-lipat ketika dirinya mencoba untuk mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan sang cucu, bersamaan dengan pandangan matanya yang beralih dari layar ponsel lalu kewajah anak itu. Semakin lama sang cucu memberikan penjelasan, semakin mak Oneng tidak mengerti apa yang diucapkan olehnya. Satu hal yang membuat si emak akhirnya mengerti, ketika Boris mengatakan bahwa harga jual ciloknya sekarang menjadi semakin mahal.


"Tah satuju emak ai kitu mah Ris..." ujarnya, singkat padat dan jelas juga nyaring di telinga Boris.


Sekarang mak Oneng baru mengerti kenapa si Boris tiba-tiba beli ponsel baru, dan kenapa bocah itu tiba-tiba saja membeli kotak-kotak kemasan plastik juga plastik-plastik lainnya. Bocah itupun tiba-tiba pergi kuliah dengan membawa bekal berkotak-kotak cilok! Ternyata selama seminggu ini sang cucu berjualan dengan cara yang lain. Entah apa alasannya pikir mak Oneng, tetapi selama harga jual cilok buatannya menjadi mahal, dirinya bersedia untuk mengikuti aturan main baru cucu satu-satunya itu.


Berbeda dengan Boris, alasan pemuda itu memutuskan untuk menjual ciloknya secara online adalah karena dirinya tidak mau bertemu dengan Airin. Sebenarnya Boris tahu jika gadis itu tiap hari mencari dirinya, ke alun-alun tempat biasa dia mangkal, ke kampus bahkan ke rumah. Tetapi selama seminggu ini Boris telah berhasil menghindari pertemuannya dengan Airin, meski dengan susah payah.


Ucapan Airin seminggu yang lalu telah membukakan matanya, dia memang tak pantas mencintai gadis itu apalagi memilikinya. Kasta mereka terlampau berbeda! Airin berasal dari keluarga terhormat dan kaya raya, sedangkan dirinya hanya berasal dari keluarga sederhana dengan status ekonomi dibawa rata-rata apabila dibandingkan dengan mereka. Bagaikan punuk merindukan bulan! batin Boris.

__ADS_1


Sementara itu dikediaman Airin, Aldi dan Aldo beserta seluruh penghuni rumah mewah itu tengah dilanda kebingungan masal. Pasalnya sang nona tengah dilanda kegalauan akut.


Sudah beberapa hari ini seluruh penghuni rumah mendapatkan tugas yang teramat sulit dari Airin, apalagi jika harus mendapatkan kabar terbaru mengenai keberadaan dan aktivitas sang pujaan hati, si Boris tukang cilok beserta ciloknya.


Seminggu yang lalu Airin berteriak histeris dikamarnya, gadis itu bahkan memporak porandakan seisi ruangan itu! Tiga hari Airin mogok makan dan bicara hingga membuat kedua kakak kembarnya serta seisi rumah panik dan mengeluarkan beribu macam jurus untuk membujuk adik kesayangannya itu. Belakangan mereka tahu jika telah terjadi kesalah pahaman diantara Boris dan Airin.


Aldi berhasil membujuk sang adik dengan mengakui kesalahannya dan berjanji akan membantu Airin untuk mendapatkan Boris kembali, dengan syarat kedua kakaknya tersebut dilarang memberikan uang sepeserpun kepada Boris atau mak Oneng. Keduanya pun mendapatkan ultimatum dari sang adik agar tidak mendekati, membujuk apalagi memaksa sang pujaan hati untuk menerima cinta Airin. Aldi dan Aldo hanya diminta untuk mengintai Boris dari kejauan serta memberikan informasi terkini mengenai pemuda tampan itu. Dan yang paling utama dari semua permintaannya adalah menyingkirkan siapapun yang berani mendekati ataupun mengganggunya.


"Neng...Ini pesanan ciloknya" mang Asep menyerahkan beberapa kotak berukuran jumbo kepada Airin.


"Tuh neng, si Boris mah beli kotak bekel buat bawa cilok meni banyak...Tapi pulangnya teh gak pernah di bawa lagi" Ujar mak Oneng seraya menunjukan tumpukan kotak plastik bening lengkap dengan kantong plastik dan jenis-jenis plastik lainnya.


"Terus pulang kuliah teh udah ditungguin tukang ojek, katanya mau ngambil pesenan cilok...ahh emak mah gak ngerti" lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya.


Sepulang dari kediaman mak Oneng, sontak seisi rumah mendapatkan tugas baru yakni mendaftar sebagai pembeli di berbagai platform jualan online. Masing-masing dari mereka harus mencari tahu dimana Boris menjual ciloknya, beruntung tak memakan waktu yang lama bagi mang Asep untuk mengetahuinya. Imbasnya sang bodyguard harus membeli dengan menggunakan alamat rumahnya, dan itu membuatnya harus bolak balik untuk mengambil pesanan cilok untuk nona kecilnya.

__ADS_1


Aldi dan Aldo bisa saja menggunakan kekuatannya untuk membeli platform online tersebut, tetapi kedua saudara kembar itu terlanjur mengucapkan janji kepada sang adik bahwa mereka dilarang mengeluarkan uang sepeserpun untuk membantu Airin mendapatkan Boris kembali.


Yang membuat mereka prihatin adalah kenyataan bahwa Boris masih saja menghindari Airin, padahal sang adik hanya ingin meminta maaf dan dia sangat bersungguh-sungguh dengan itu. Dan dengan anjloknya nilai mata pelajaran Airin karena gadis itu benar-benar malas belajar saat ini, padahal sebentar lagi Airin menghadapi ujian akhir sekolah. Fokusnya hanya kepada pemuda sederhana yang dikaguminya itu.


"Gue yakin keadaan bakalan baik lagi bang...tenang aja" Aldo berusaha untuk meyakinkan sang kakak.


"Gimana gue bisa tenang Do, liat dia...gue gak kenal Airin yang sekarang" balasnya, lalu mengarahkan pandangannya kepada Airin sebagai kode pada Aldo. Airin sedang melahap ciloknya sambil terisak.


"I think i have an idea bang...."


.


.


.

__ADS_1


Happy halu manteman


__ADS_2