
Boris mencoba untuk menahan emosinya sekuat tenaga, setelah dia mengintip kondisi kamar mak Oneng yang sudah porak poranda. Dia harus menjaga agar otaknya tetap waras, dan berharap jika sang nenek dalam keadaan selamat dalam kondisi apapun.
"Ris, lemari itu kayaknya belom kesentuh" Bisik Robby, sambil menunjuk lemari pakaian yang pintunya masih tertutup rapat.
Sama seperti Boris, Robby harus tetap menjaga kewarasannya agar misi untuk menyelamatkan mak Oneng bisa berjalan mulus.
"Gue masuk, lo jaga disini... " Boris kembali berbisik, jika dibandingkan dengan postur tubuh Robby, sudah terlihat jelas jika tubuhnya lebih ramping dibandingkan dengan sahabatnya itu. Hal ini lebih memungkinkan Boris untuk bertindak lebih cepat.
"Lo lagi bonyok bego.. " Robby menarik baju Boris, lalu secepat mungkin memasuki ruangan tersebut melalui jendela untuk mendahului nya. "Jagain gue" Bisiknya.
Robby harus berjalan mengendap-ngendap agar langkah kakinya tidak terdengar oleh siapapun, tetapi diapun harus bertindak secepatnya mendekati lemari tersebut dan membukanya secara perlahan.
Ceklek
Robby langsung menaruh telunjuknya didepan bibirnya, seketika dia melihat dia orang wanita tua tengah bersembunyi disana, didalam tumpukan baju. Keadaan nya sungguh sangat menyedihkan, tubuh mak Oneng dan bi Karti bergetar menahan ketakutan! Bahkan keduanya hampir saja menjerit.
"Ayo mak... pelan-pelan ya" Bisik Robby, lalu meminta keduanya untuk keluar dari persembunyiannya dengan sangat hati-hati.
Samar-samar terdengar suara wanita yang terdengar familiar ditelinga Robby, ya... Natalina sedang memaki-maki para penjaga villa! Rupanya dia sedang mencari keberadaan mak Oneng saat ini.
Misi penyelamatan mak Oneng berjalan cukup lancar, wanita itu dengan mudah keluar melalui jendela dengan pertolongan Boris tentunya. Sayangnya ketika tiba giliran bi Karti, tiba-tiba saya pot bunga yang menggantung di dinding jendela samping terjatuh, saat wanita tua itu tanpa sengaja memegangi nya.
Prang!!
Sejenak mereka menahan napasnya, tetapi seketika kemudian baik Robby maupun Boris secepat mungkin menyelamatkan kedua wanita tua itu. Mereka masing-masing membopong tubuh mak Oneng dan bi Karti dan berlari secepat mungkin menuju mobil, sebelum salah satu dari pengawal itu memutuskan untuk keluar dan memeriksa keadaan disana.
"Cepet.... cepet... " Pinta Boris kepada Robby, ketika dirinya dan sahabatnya itu telah berhasil memasukkan para wanita lanjut usia itu ke dalam mobil.
"Woi!!! Berhenti!! " Teriak salah satu pengawal, saat dia keluar dari villa besar itu dan melihat kendaraan asing yang sudah bersiap untuk pergi tak jauh dari posisinya. Beruntung keduanya sudah berada didalam mobil dan Robby sudah menginjak pedal gas untuk memundurkan kendaraannya, lalu mengoper tuas dan akhirnya berhasil keluar dari sana dengan selamat.
__ADS_1
Selama perjalanan tak hentinya mak Oneng serta bi Karti mengucap syukur sambil menangis, mereka merasa lega karena pada akhirnya bisa keluar dari neraka itu.
Pagi itu seperti biasa mak Oneng dan bi Karti sedang asik di kebun untuk membersihkan tanaman dari gulma, hingga pukul 12 siang keadaan masih baik-baik saja meski perasaan aneh menyelimuti kedua wanita lanjut usia itu. Benar saja tak lama setelah keduanya membersihkan diri dan beristirahat setelah makan siang, tiba-tiba saja mereka mendengar ada keributan di ruang depan.
Bi Karti yang tadinya berinisiatif untuk melihat keadaan disana, mengurungkan niatnya setelah salah satu dari penjaga villa berteriak bahwa tidak ada orang yang bernama mak Oneng di rumah tersebut sebelum bogem mentah melayang dan membuatnya tersungkur.
"Sembunyi disana bu! Ayok cepet!" Pinta bi Karti dengan suara dipelankan, samar-samar dia mendengar langkah kaki mendekati kamar yang mereka tempat bersama itu.
Bi Karti lalu mengacak-acak baju didalam lemari, dan membuat baju-baju tersebut sebagai media untuk menyelimuti tubuhnya dan mak Oneng.
"Jangan bersuara yo bu, Bismillah... semoga mereka ndak nemuin kita disini" Lanjutnya setelah menutup kembali pintu lemari tersebut dari dalam.
Bi Karti memegangi tangan mak Oneng, untuk sekedar saling menenangkan dan menguatkan satu sama lain. Baik dirinya maupun mak Oneng terus menerus memanjatkan doa dalam hatinya, dan sekuat tenaga untuk tidak bersuara, saat orang-orang menakutkan itu memasuki kamar dan mengobrak-abrik ruangan tersebut untuk mencari keberadaan mak Oneng.
Brak!
Brak!
Prang!!
Hingga pada akhirnya orang-orang itu meninggalkan ruangan tersebut, bi Karti memutuskan untuk tetap berada didalam lemari bersama dengan mak Oneng, karena dia tahu mereka belum meninggalkan villa mewah itu.
"Maafin Boris mak, Boris dateng terlambat... " Boris memeluk nenek kesayangannya itu dengan erat, setelah mencium kening dan pipinya. Saat ini mereka sudah berada di pelataran parkir sebuah penginapan kecil di perbatasan kota.
"Teu nanaon cu, nu penting mah urang salamet sarerea" (Gak apa-apa nak, yang penting kita semua selamat) Ucapan mak Oneng sambil mengelus punggung sang cucu.
Mereka menghabiskan sisa malam itu bersama dikamar yang berbeda. Mak Oneng bersama dengan bi Karti, sementara Boris bersama dengan Robby. Tidak ada satupun dari mereka yang bisa memejamkan matanya, peristiwa menakutkan hari ini cukup menyisakan trauma di diri mereka masing-masing.
.
__ADS_1
.
Kali ini Airin benar-benar dibuat frustasi, pasalnya sang kekasih hati seperti lenyap ditelan bumi! Kedua kakak kembar nya telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencari keberadaan Boris, tetapi satupun dari mereka tidak berhasil menemukannya.
"Nona Istirahat saja dulu, biar mang Asep yang melanjutkan pencarian" Pinta mang Asep, setelah dia mengakhiri panggilan telepon nya. Baru saja mang Asep menerima kabar buruk dari villa, salah seorang penjaga disana mengabarkan perihal kedatangan nyonya Natalina kesana bersama dengan para pengawalnya. Dia juga memberi tahu mang Asep perihal hilangnya mak Oneng dan bi Karti malam ini.
"Apa?! Istirahat?! " Airin beranjak dari duduknya, bagaimana mungkin dirinya bisa beristirahat saat ini, disaat dia belum juga mengetahui dimana Boris berada saat ini, pikirnya.
"Mang Asep mikir gak sih?? Gimana Airin bisa istirahat disaat seperti ini??!! " Airin kesal, tadinya dia ingin melayangkan pukulan ke arah pengawalnya itu, tetapi mengingat kondisi mang Asep yang jauh dari kata pulih, Airin mengurungkan niatnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi siang mang?!!" Lanjut nya. Tetapi tidak juga mendapatkan jawaban dari laki-laki kutub Selatan itu.
"Dek... tenangkan dirimu" pinta Aldo, meraih bahu adik kesayangannya. Belum saatnya Airin tahu pikirnya.
"Kita pasti temukan Boris... Ya kan mang?" Aldo menghela napasnya pelan, lalu mengajak Airin untuk ke kamar. Hari sudah sangat larut, Aldo khawatir jika Airin sampai sakit gara-gara kelelahan.
Segera setelah kepergian Airin dan Aldo, mang Asep menghubungi rekan-rekannya.
"Cari mereka sampai dapat! "
.
.
.
Happy halu manteman!
Thanks buat dukungan nya di part ini yaaaa 😘😘😘
__ADS_1