Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Pengakuan


__ADS_3

Hubungan Anya dan Yoga semakin dekat. Yoga merasa sangat bahagia, Anya semakin terbuka dengannya dan setiap Ia menanyakan kabar pun Anya tidak keberatan berlama-lama untuk bertelepon. Yoga berencana akan mengajak Anya keluar makan malam dan memberikan hadiah kecil untuknya, karena hubungan mereka yang semakin dekat tentunya Yoga harus melakukan cara agar Anya semakin senang dekat dengannya.


Sayangnya saat hendak mengajak keluar, Anya tidak mengangkat telponnya. Yoga terpaksa mengurungan niat untuk memberikan hadiah yang sudah dipersiapkan. Yoga menyiapkan sebuah kalung dengan liontin huruf A, inisial nama Anya.


Yoga memutuskan untuk membelikan Anya cake strawberi kesukaannya dan membawakannya ke rumahnya.


Yoga sampai dirumah Anya, sayangnya Anya sedang tidak ada dirumah. "Tumben keluar gak ngabarin." Batin Yoga. Yoga memutuskan untuk pulang. Saat akan menghidupkan mesin mobil, Yoga melihat mobil berhenti di depan rumah, Anya turun dari mobil tersebut dan melambaikan tangan. Terlihat seseorang di kursi kemudi yang juga melambaikan tangan dan tersenyum pada Anya. Yoga terbakar cemburu, emosinya memuncak melihat pemandangan di depan matanya. Anya justru sedang keluar dan bersama dengan Eka, yang sudah jelas membuat Yoga cemburu.


Yoga turun dari mobil dan menghampiri Anya.


"Eeh kak. Kok kesini?" Sapa Anya.


"Dari mana kamu? Sama siapa? Ngapain?" Yoga memberondong Anya dengan pertanyaan.


Anya terdiam, Ia melihat wajah Yoga yang menahan emosi.


"Jawab!" Yoga menaikkan nada bicaranya.


"Aku keluar sama Eka, kita makan karena ada yang mau aku omongin sama dia."


"Ngomongin apa? Bukannya aku sudah bilang jangan hubungan lagi sama Eka."


"Kak, plis. Aku sama Eka cuma ngobrol. Gak ngapa-ngapain."


"Ooh iya, dari mana aku tau kalian gak ngapa-ngapain?"


"Kak, apaan sih. Mesti gak jelas kalau emosi begini."


"Iya siapa yang gak emosi, aku ngerasa kita semakin dekat, tapi nyatanya kamu juga jalan sama Eka. Apa aku yang kegeeran? Atau emang kamu yang gak bisa diemin cowok yang deketin kamu?" Yoga semakin tidak bisa mengontrol emosinya.


"KAK, CUKUP! Kalau kakak kesini cuma mau ngehina Anya, mending kakak pulang. Nyesel Anya cerita semuanya ke Eka." Anya berjalan masuk ke rumah dan meninggalkan Yoga.


"Anyaaa.. Anyaa.. Tunggu, kita belum selesai bicara."


Anya enggan mendengarkan Yoga. Ia berlalu dan masuk ke kamarnya. Mama Meli yang melihat Anya tidak menghiraukan Yoga, mempersilakan Yoga menunggu sebentar dan membujuk Anya untuk turun.


Anya membanting tasnya ke kasur. Ia duduk di kasur dan meneteskan air mata. Baru saja Ia berniat menyelesaikan urusannya dengan Eka, Yoga justru emosi dan mengatakan hal yang menyakitkan.


Pintu kamar Anya diketuk oleh Mama Meli. Mama Meli masuk perlahan.


"Anya, ada nak Yoga dibawah. Temui sebentar nak."


"Enggak mau ma, suruh dia pulang aja." Anya menggeleng.


"Yasudah kalau gitu. Kamu istirahat, biar mama sampaikan ke nak Yoga."


Mama Meli turun ke ruang tamu untuk menemui Yoga.


***


Sonya meluangkan waktunya untuk mendatangi proyek paviliun di rumah sakit. Ia berjalan kaki dan sampai di ruang security proyek. Ia bertanya ke penjaga tentang Ezza, sayangnya orang yang Ia cari sedang tidak ada di proyek. Sebenarnya Sonya bisa menelpon Ezza dan menanyakan keberadaannya, tapi Ia enggan mengganggu jadwal Ezza. Sonya tau bahwa Ezza sudah cukup sibuk dengan pekerjaan dan kesehatan Airelle.


Sonya akhirnya kembali ke ruangannya. Ia baru ingat tentang Airelle, anak Ezza. Ia ingin melihat kondisinya. Sonya memberanikan diri ke ruang inap gadis kecil itu untuk melihat keadaannya. Sonya sampai di depan ruangan Airelle.


Tok tok..


"Permisi.."


"I iya silakan masuk." Nampak Selly mempersilakan masuk.


"Sudah jadwalnya visite yah dok?" Tanya Selly. Visite adalah jadwal kunjungan dokter yang biasanya untuk mengecek kondisi pasien yang sedang rawat inap di rumah sakit.


"Ooh belum kok, nanti yang visite dokter Iqbal. Saya cuma mau lihat kondisinya saja. Saya Sonya, temannya Ezza."


"Ooh iya, Saya Selly." Selly memperkenalkan dirinya.


"Bagaimana kondisi Airelle?"


"Sudah mulai membaik, sudah mulai nafsu makan juga."


"Syukurlah. Semoga lekas membaik. Kalau begitu saya permisi. Biar Airelle istirahat." Sonya melihat gadis kecil yang terlelap itu sejenak dan keluar dari ruang inap.


***


Anya menutup dirinya dengan selimut. Semenjak kejadian dengan Yoga tadi dia enggan keluar kamar. Perasaannya benar-benar kacau. Bagaimana Yoga bisa langsung emosi seketika melihatnya dengan Eka. Seharusnya dia bertanya baik-baik bukannya langsung emosi dan bicara seenaknya.


Anya mengingat yang dia obrolkan dengan Eka. Sejenak Ia merasa menyesal dan bodoh. Ia memang masih awam dalam urusan percintaan. Tapi Ia tau tanda laki-laki yang memang ingin mendekatinya dengan tujuan mendapatkan hatinya.


#throwback on..


Siang tadi Eka menelpon hendak mengajaknya bertemu. Sudah beberapa kali Eka memang mengajaknya bertemu, tapi Anya terus membuat alasan untuk tidak menemuinya. Akan tetapi Eka tetap berusaha. Anya sadar jika Eka berusaha menemuinya karena merasa masih ada kesempatan untuk mendapatkan hatinya. Anya menyadari bahwa Ia tidak ingin memberikan harapan semu untuk Eka. Anya akhirnya menerima ajakan Eka untuk bertemu dan berencana menceritakan yang sebenarnya.


"Makasih yah Nya udah mau nerima ajakan makan siangku." Eka membuka obrolan.


"Sama-sama Eka. Sekalian ada hal yang mau aku jelasin ke kamu juga."


"Apaan?" Tanya Eka antusias.


"Emm, soal yang dulu kamu tanyain. Hubunganku sama Kak Yoga."

__ADS_1


"Lalu bagaimana hubungan kalian?"


"Sebenarnya, kami pacaran pura-pura karena mamaku ada niatan menjodohkan aku sama anak temannya. Tapi.."


"Tapi apa?"


"Tapi aku berniat mencoba membuka hati untuk Kak Yoga. Selama ini dia sudah sangat berjuang dan mungkin sekarang saatnya aku kasih Kak Yoga kesempatan." Eka mengangguk memahami ucapan Anya. Ada perasaan kecewa tentunya, tapi Ia tidak ingin memperlihatkannya di depan Anya.


"Maaf aku harus bicara begini sama kamu." Sambung Anya.


"Iya Anya, aku paham. Aku salut sama kamu. Kamu wanita yang bisa menentukan pilihan. Aku berharap kalian baik-baik."


"Terima kasih Eka. Oiya, untuk hal ini jangan bilang ke Kak Yoga dulu yah. Biar nanti kalau waktunya pas, Anya yang bicara sendiri ke Kak Yoga."


"Iya, aku akan jaga rahasia baik-baik."


"Makasih yah, kamu teman yang baik Eka." Anya tersenyum, Eka membalas senyuman Anya.


#throwback off..


Anya menyesali kebodohannya bicara seperti itu pada Eka. Nyatanya sikap Yoga yang cemburu buta tadi dan melukai perasaan Anya, membuatnya kembali ragu membuka hati. Ia takut merasakan sakitnya kehilangan. Benteng dihatinya yang perlahan akan Ia buka untuk Yoga, Ia tutup erat kembali karena sikap Yoga. Anya bingung, sesulit itu ternyata berurusan dengan perasaan. Saat perasaan sedang sakit, beraktivitas pun rasanya enggan. Pantas saja orang patah hati bisa ada yang sampai sakit secara fisik karena memang patah hati bisa sangat menyiksa.


***


Sonya keluar dari ruang inap Airelle. Ia melihat Ezza yang menuju ruang inap Airelle. Saat hendak menghindar, Ezza lebih dahulu mendapati keberadaan Sonya.


"Sonya.."


"Ezza, maaf aku gak ada niatan apa-apa. Aku cuma mau liat kondisi Airelle."


"Iya gak papa. Makasih sudah perhatian sama kondisi Airelle." Sonya tersenyum. Ezza hendak masuk ke ruangan Airelle.


"Ezza.."


"Iya Sonya, kenapa?"


"Kamu ada waktu? Aku mau bicara sesuatu sama kamu."


"Bisa, setelah aku lihat kondisi Airelle sebentar gak papa?"


"Iya gak papa. Aku tunggu di ruanganku gimana?"


"Iya, nanti aku kesana." Sonya tersenyum dan berlalu pergi. Hatinya berdebar.


15 menit kemudian Ezza di depan ruangan Sonya. Ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Sonya mempersilakannya duduk di sofa.


"Enggak ganggu sama sekali kok. Jadi apa yang mau kamu bicarain tadi?"


"Emm, jadi soal aku sama Andre." Sonya menghentikan ucapannya, menata kata demi kata sebelum terucap dari bibirnya.


"Perjodohan aku sama Andre, aku batalkan." Ezza terbelalak, Ia menatap Sonya dalam. Sonya membalas tatapan Ezza dan tersenyum.


"Kamu yakin? Kondisi mama kamu gimana?"


"Yakin." Sonya mengangguk. "Syukurlah mama mengerti." Lanjut Sonya.


"Lalu Andre bagaimana? Apa dia juga setuju dengan pembatalan perjodohan kalian?"


"Aku gak tau, tapi aku sudah gak menggubris telponnya. Mama yang akan bicarakan semua sama orang tua Andre nanti."


"Semoga semua baik-baik yah, Andre dan keluarganya bisa menerima dengan lapang dada." Sonya mengangguk.


"Terus.." Ucap Sonya.


"Terus apa?" Ezza melanjutkan ucapan Sonya yang terputus.


"Gak papa gak jadi." Sonya memanyunkan bibirnya. Ezza tersenyum mengerti kode dari Sonya.


"Kenapa kok manyun gitu?" Goda Ezza.


"Gak papa, dulu sih katanya ada orang nungguin, tapi kayaknya orangnya udah lupa."


"Oooh gitu." Jawab Ezza singkat.


Sonya makin sebal. Ia berdiri menuju meja kerjanya untuk mengambil ponselnya. Saat hendak meraih ponselnya, Ezza memeluknya dari belakang. Jantung Sonya berdegup kencang.


"Aku masih nungguin kamu kok." Sonya tersenyum mendengar kata-kata Ezza.


"Terus?"


"Terus, aku mau maunya kamu jadi milik aku."


Sonya semakin tersipu mendengar ucapan Ezza.


"Iya, aku mau. Aku juga berusaha menerima Airelle. Karena dia adalah bagian dari hidup kamu."


"Airelle?"


"Iya, putri kamu."

__ADS_1


Ezza tersenyum datar mendengar ucapan Sonya.


"Yaudah, kalau gitu mau makan siang bareng?"


"Yuk, aku laper." Ucap Sonya manja.


Mereka berdua menghabiskan waktu bersama di cafetaria. Saling bercanda tawa dan bahagia. Tidak pernah Sonya merasa sebahagia ini. Benar apa kata Mama Meli, bersama dengan orang yang kita cintai tentu membuat kita bahagia.


***


Yoga berulang kali mencoba menghubungi Anya, tapi tidak diangkat. Ia merasa salah karena ucapannya yang terlalu kasar. Tidak seharusnya Ia cemburu buta seperti itu. Belum juga mendapatkan hati Anya sepenuhnya, malah membuat semuanya runyam. "Aarrgh bod*h banget. Harusnya gue gak emosi kayak tadi." Yoga menyesali perbuatannya sendiri.


Ia teringat obrolannya dengan Mama Meli tadi sore.


#Throwback on..


"Maaf ya nak Yoga. Sepertinya Anya capek, dia bilang mau istirahat."


"Iya gak papa tante. Maaf udah ngerepotin."


"Enggak ngerepotin kok. Tante yang harusnya terima kasih nak Yoga sudah bersabar menghadapi anak tante yang keras kepala itu."


"Anya memang keras kepala sejak kecil, mirip almarhum papanya. Apa yang menurut dia benar, pantang untuk dia mundur."


"Iya tante, Anya memang wanita yang berpendirian." Yoga menimpali.


"Dia juga belum pernah jatuh cinta, makanya perasaannya masih sangat labil. Sejak kecil, Anya hidup dengan melihat penderitaan tante ditinggal oleh papanya. Dia tumbuh melihat sakitnya tante karena kehilangan cinta. Oleh karena itu, Anya tumbuh dengan perasaan takut untuk jatuh cinta. Karena kehilangan akan lebih menyakitkan daripada kebahagiaan jatuh cinta itu sendiri."


"Tante tau, harusnya tante dulu bisa lebih berbesar hati menerima kepergian almarhum, tapi berat bagi tante. Semua berdampak pada anak-anak tante yang menjadi tidak ingin membuka hati untuk siapapun. Setiap hari Anya melihat tante melamun dan menangis tanpa tau sebabnya. Anya ikut kemanapun tante pergi, tapi hanya kesedihan yang dia lihat dari tante, bukan senyum bahagia yang mengajaknya bermain."


"Anya itu ibarat kepiting nak Yoga, luarnya punya cangkang yang keras dan kuat. Tapi sebenarnya hatinya rapuh dan lemah. Tante mohon jaga Anya, jangan sakiti dia."


"Iya tante, Yoga akan berusaha menjaga Anya semampu Yoga. Yoga tidak ingin menyakiti Anya."


"Terima kasih nak Yoga." Mama Meli tersenyum hangat pada Yoga.


#Throwback off..


Yoga mencari ide untuk meminta maaf pada Anya. Dia terpikir cara untuk membuat video permohonan maaf dengan filter yang lucu dan suara yang seperti anak kecil. Ia memvideokan dirinya sendiri dan meminta maaf pada Anya dengan ekspresi gemas, lalu mengirimkannya pada Anya.


Anya membuka video yang dikirimkan oleh Yoga, Ia melihat dan tertawa. Video yang sangat lucu membuat Anya yang sejak tadi cemberut kembali sumringah. Bagaimana tidak Yoga yang memiliki badan kekar, membuat video dengan filter kumis dan telinga kucing. Ditambah dengan adanya blushon di pipinya dan suara yang dibuat seperti anak kecil meminta mainan.


Tak lama telpon masuk dari Yoga, Anya mengangkatnya karena emosinya sudah mereda melihat video dari Yoga tadi.


"Halo."


"Halo, udah liat videonya?"


"Udah, sumpah enggak banget tuh video."


"Tapi terhibur kan? Jangan marah lagi yah. Serem tau kalau kamu marah."


"Yee, siapa juga yang bikin marah. Kan situ sendiri yang ngomong asal nuduh aja gak nanya-nanya dulu."


"Iyaaa maaf Anya. Lain kali kakak berusaha lebih mengontrol emosi."


"Iya iya, kalau lain kali masih begitu. Anya viral in video ini yah."


"Jangan dong, malu banget nanti. Perjuangan ngetake videonya loh."


"Hahaha makanya jangan macem-macem biar videonya gak aku sebar."


"Macem-macem gimana? Aku gak bakal macem-macem, aku satu macem aja sama kamu."


"Iih maksud Anya itu jangan bikin emosi." Anya mencoba mencari alasan.


"Oooh gitu. Iya aku gak bakal bikin emosi lagi. Jadi dimaafin yah? Kita baikan yah?"


"Iyaaa, dimaafin."


"Makasih. Berarti sekarang kamu utang penjelasan kenapa ketemu Eka."


"Tuh kan nyebelin lagi."


"Loh itu karena aku penasaran, kamu ngobrol apa aja sama Eka."


"Rahasia. Weeekk."


"Iih kok gitu sih. Aku penasaran banget."


"Biarin aja sana penasaran. Gak bakal Anya ceritain pokoknya."


"Iyaudah kalau gak mau cerita, aku percaya kamu gak bakal macem-macem."


"Yee apaan ih. Mau macem-macem kan suka-suka Anya juga. Aku kan gak punya pacar, inget kita cuma pacar pura-pura."


"Emang kamu gak mau dijadiin pacar beneran?" Yoga menggoda Anya.


"Hmmm, i iya nanti deh. Aku pikir-pikir dulu." Anya salah tingkah dan menutup telponnya. Entah kenapa Ia merasa ada perasaan bahagia menyelimuti hatinya. "Apa iya gue jatuh cinta?" Batin Anya sambil senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


__ADS_2