Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Terbongkar


__ADS_3

Sonya dan Anya sampai di kampus. Anya menemani kakaknya menuju ruangan calon suaminya.


"Ini kak ruangan calon suami lu. Gue mau ke ruangan dosen lain, gue tinggal gak papa?"


"Iya gak papa. Makasih ya dek."


Anya melangkah meninggalkan Sonya. Sonya mengetuk pintu ruangan Ezza namun tak ada jawaban. Sonya memutuskan menunggu Ezza dan duduk di kursi depan ruangan Ezza.


Ezza datang menuju ruangannya, diikuti beberapa mahasiswa dibelakangnya yang hendak membicarakan tugas.


"Sonya.." Ezza kaget dengan kehadiran Sonya.


Sonya melihat beberapa wanita dibelakang Ezza.


"Sibuk ya sayang?" Tanya Sonya berbisik.


"Masuk dulu aja, ngobrol di dalem." Ezza menyuruh Sonya masuk ke ruangannya dan menyuruh mahasiswanya untuk menunggu sebentar.


"Kok bisa disini sayang?"


"Aku mau kasih surprise. Happy birthday." Sonya mengeluarkan kotak hadiah yang tadi dibawanya. Dan memberikannya pada Ezza.


"Apa ini sayang? Terima kasih ya. Kok repot-repot mesti kesini sekarang? Nanti malem kan kita ketemu sayang."


"Emmhh, gak papa sih. Aku pingin tau aja tempat kerja calon suamiku. Anggap aja sidak, biar gak macem-macem."


"Gak mungkin lah aku macem-macem sayang. Tapi sekarang aku kepikiran kamu gimana berangkat ke rumah sakitnya?"


"Aku naik taxi online aja sayang. Kamu pasti sibuk banget kan."


"Maaf ya sayang, kamu buru-buru kah ke rumah sakitnya? Kalau bisa tunggu setengah jam aja, nanti kita bareng ke rumah sakit. Aku mau jelasin tugas ke mahasiswa di depan itu."


"Emmhh, oke deh. Aku tunggu yah sayang. Tapi gak usah buru-buru, santai aja."


Ezza tersenyum pada kekasihnya yang sangat pengertian.


Sonya menunggu di luar ruangan, dan Ezza menjelaskan tugas kepada mahasiswa yang masih sangat muda di dalam ruangan. Pikiran Sonya kembali menerawang, Ia takut jika nantinya sudah menua atau badannya tidak sebagus sekarang, Ezza akan melirik mahasiswi-mahasiswi yang masih muda.


"Yuukk, berangkat sekarang?" Lamunan Sonya buyar saat Ezza sudah duduk di sebelahnya.


"Loh, udah selesai?"


"Udah, yuk berangkat sekarang. Biar kamu gak telat."


"Iya yuk."


Saat di mobil Sonya terdiam, Ia masih sibuk dengan pikirannya tentang ketakutan yang dirasakannya.


"Kamu kenapa sayang? Kok diem aja?"


"Aahh emmh enggak kok. Gak papa."


"Ada masalah?" Tanya Ezza lagi.


"Enggak sayang."


"Sure?" Sonya nampak berpikir. Ia memutuskan bertanya pada Ezza.


"Emhh, sayang. Kamu gak pernah tertarik sama mahasiswa-mahasiswa kamu gitu?"


"Tertarik maksudnya?"


"Ya maksudnya tertarik. Suka gitu sama mereka. secara mereka masih muda dan cantik-cantik."


Ezza terkekeh.


"Jadi yang bikin kamu jadi diem dari tadi itu karena mahasiswaku tadi ya? Cemburu nih?"


"Iiihhh bukan gitu sayang." Sonya merasa malu mengakui kecemburuannya.


"Aku gak tertarik sama sekali. Bagi aku mereka semua ya anak didikku. Gak ada pikiran apapun. Beda saat pertama kali liat kamu, pertama kali liat sudah langsung jatuh cinta." Rayu Ezza membuat Sonya tersipu.


"Gombal iihhh."


"Gak papa gombal sama calon istri sendiri. Nanti kalau udah sah kamu harus siap tiap hari aku gombalin." Ezza memegang tangan Sonya dan menggenggamnya. Ia juga menciumi punggung tangan kekasihnya, Sonya makin tersipu dibuatnya.


"Pokoknya, kalau ada yang ganggu pikiran dan perasaan kamu, jangan segan langsung bicarain ya sayang. Aku gak mau ngelewatin waktu bareng untuk pertengkaran atau diem-dieman. Aku maunya sayang-sayangan begini."


Sonya tersenyum dan merasa tenang dengan jawaban Ezza.


***

__ADS_1


Iqbal kembali ke ruangannya setelah makan siang dengan wajah berseri-seri. Entah kenapa siang ini Ia merasa sangat bahagia. Iqbal menyadari bahwa sepertinya Ia jatuh cinta pada Mela. Pertemuannya dengan Mela saat makan siang membuat semangat untuk dirinya menjalani pekerjaan kembali. Ia seperti menemukan alasan untuk bekerja lebih keras.


Saat masuk ke ruangan, Ia melihat Sonya duduk di sofa sambil bermain ponsel.


"Ngapain lu?"


"Uhuuk, bening amat tuh muka." Goda Sonya.


"Gue abis charger perasaan. Emangnya lu doang yang bisa pacaran, happy-happy, sayang-sayangan."


"Wuuiissh, sabar dong. Sensi amat nih sama calon pengantin. Emang lu abis makan siang sama gebetan lu itu?"


"Iya iya yang mau married. Iya gue tadi makan siang sama cem-ceman gue."


"Padahal mau gue ajakin makan siang tadi."


"Gak perlu, gue bukan jones kok." Jawab Iqbal percaya diri.


"Jones apaan?"


"Jomblo ngenes."


"Iya deh percaya yang udah punya gebetan. Terus gimana perkembangannya? Lu udah bilang kalau suka?"


Iqbal menggeleng. Ia menghempaskan tubuhnya bersender ke sofa.


"Kalau gue bilang, kayaknya gue langsung bakalan ditolak."


"Haaah? Kok lu bisa ngomong gitu? Emang siapa sih? Perawat? Atau apoteker disini? Emmhh atau siapa sih? Gue penasaran siapa orangnya."


"Orangnya gak siap buat pacaran. Lebih tepatnya kayak trauma gitu. Kita deket juga karena berteman. Makanya gue takut kalau ungkapin semua malah bikin gue sama dia nantinya jadi menjauh."


Sonya memasang wajah prihatin.


"Sabar ya Bal. Gue yakin dia pasti nanti luluh sama kebaikan sama ketulusan lu. Gue yakin setiap cewek pasti suka diperjuangin. Lu jangan nyerah pokoknya."


"Iya Nya, gue mesti perjuangin dia. Gue gak mau nyerah dapetin hatinya sepenuhnya."


"Naaah gitu dong. Terus siapa orangnya? Dari tadi gue nanya gak dijawab. Gue penasaran."


"Kasih tau gak ya?" Goda Iqbal.


Iqbal membisikkan sebuah nama yang membuat Sonya tercengang.


"Seriusan lu? Bukannya awal kenal kalian kayak tom and jerry yah?"


"Iya itu dulu. Makin kesini, gue kayak pengen jagain dia, bikin dia bahagia dan kalau deket dia, gue semangat gitu jadinya." Sonya tersenyum mendapati cerita sepupunya yang sedang jatuh cinta.


"Semangat ya Bal. Semoga Mela secepatnya bisa membuka hatinya buat lu, dan menutup kenangan mantannya." Iqbal mengangguk.


***


Gista dan keluarganya datang ke rumah keluarga Yoga di malam hari. Keluarganya mengira Yoga setuju menikah dengan Gista karena mama Yoga bilang ingin membicarakan semuanya.


"Jadi bagaimana jeng? Kapan pernikahannya dilaksanakan?" Tanya mama Gista antusias. Gista disebelahnya ikut tersenyum senang. Ia merasa senang karena mengira sudah bisa membuat Yoga menyerah untuk memutuskan menikahinya.


"Yeeesss.. Bentar lagi gue bisa jadi nyonya Yoga. Lumayan suami gagah dan ganteng. Kalau duit bulanan gak banyak, gue bisa morotin tuh tua bangka buat biayain anaknya." Batin Gista.


"Tunggu dulu ya jeng. Tunggu Yoga turun nanti kita bicarakan semuanya."


"Yoganya dikamar tante? Boleh Gista susulin?" Tanya Gista dengan nada manja.


"Aahh emmhh ditunggu aja Gista, paling sebentar lagi turun." Jawab mama Yoga beralasan.


"Iya jeng, biar dipanggil sama Gista aja. Kalau mereka bentar lagi nikah, Gista harus latihan ngelayanin keperluan Yoga. Siapa tau Yoga butuh sesuatu." Rayu mama Gista.


"Ooh gitu ya. Yaudah terserah jeng." Jawab mama Yoga pasrah.


Gista beranjak dan berjalan dengan percaya diri. Ia segera naik dan mencari kamar Yoga setelah tadi bertanya pada mama Yoga yang mana kamar Yoga.


Gista membenahi dandanannya. Ia menurunkan sedikit gaunnya agar memperlihatkan dadanya yang memang bervolume. Ia juga membenahi rambutnya dengan tangan. Setelah dirasa cukup seksi dan menggoda, Ia langsung mengetuk pintu kamar Yoga. Gista menunggu beberapa saat dan tidak ada sahutan dari dalam.


Gista merasa tidak sabar, Ia mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Gista segera masuk ke kamar Yoga dan menutupnya kembali. Ia melihat sekeliling dan mendengar gemricik air. "Oooh lagi mandi." Gumam Gista. Gista membayangkan badan kekar Yoga yang sebentar lagi akan menjadi miliknya. Segera saja bayangan itu membuat gairah Gista meningkat, apalagi sejak kehamilannya Ia belum pernah melakukannya dengan siapapun karena kedua orangtuanya mengekangnya untuk kemana-mana sendiri.


Gista duduk di tepi ranjang, Ia menyilangkan kakinya dan menaikkan gaunnya, sehingga terlihat kakinya yang jenjang dan mulus. "Gue jamin sekarang lu gak bisa nolak lagi. Lu udah jatuh ke dalam jebakan gue." Batin Gista sambil senyum-senyum sendiri membayangkan Yoga melihatnya dan pasti akan tergoda. Gista berinisiatif untuk tidak terlihat agresif saat ini, Ia akan membiarkan Yoga tergoda secara alami karena pemandangan indah di depannya, yaitu dirinya.


Tak berselang lama Yoga keluar kamar mandi dengan menggunakan celana pendek dan handuk di bahunya, memperlihatkan dada dan perut sixpacknya. Yoga kaget dengan kehadiran Gista. Gista yang melihat pemandangan indah tersebut tak bisa menyembunyikan gairahnya dan terus menatap tubuh Yoga yang tidak terbalut pakaian.


"Ngapain lu disini?" Bentak Yoga.


"Kaget ya sayang? Maaf ya, tadi aku udah ketuk tapi gak ada respon. Jadi aku masuk." Jawab Gista lembut sambil tersenyum, namun pandangannya tidak lepas dari badan Yoga yang kekar.

__ADS_1


"Keluar lu sekarang!" Titah Yoga dengan menahan amarah.


"Kamu malu ya?" Tanya Gista pura-pura polos. Gista bukannya keluar, Ia justru berdiri dan melangkah menuju Yoga yang diam berdiri di depan kamar mandi.


"Lu gak denger gue suruh keluar?"


"Ssstt, jangan malu-malu gitu dong. Bukannya kita sebentar lagi nikah ya?" Ucap Gista merayu, Ia mulai meletakkan telunjuknya di dada bidang Yoga. Yoga seketika mundur memberi jarak agar tidak tersentuh oleh Gista.


"Nikah sama lu? Jangan mimpi."


"Haah? Bukannya kamu nyuruh aku dan keluarga kesini buat ngomongin pernikahan?" Tanya Gista bingung.


"Lu keluar sekarang atau gue seret lu keluar?" Yoga mulai geram dan meninggikan suaranya.


"I iya aku keluar." Gista merasa panik. Ia merasa ada yang tidak beres. "Kalau Yoga menyuruh gue kesini bukan untuk membicarakan pernikahan, lalu apa yang direncanakan oleh Yoga?" Batin Gista.


"Duuh gimana kalau Yoga tau sesuatu." Gista mulai berpikir yang tidak-tidak.


"Tapi kayaknya gak mungkin deh. Gimana juga dia bisa tau Om Faisal. Lagian si tua bangka itu juga pasti bakal malu kalau jujur sudah ngehamilin selingkuhannya sampai diceraiin istri sah yang kaya raya." Gista mencoba menghibur dirinya sendiri.


Ia segera turun dan kembali duduk di dekat mamanya.


"Yoga abis mandi ma, tunggu sebentar lagi." Ucap Gista pada mamanya yang baru saja mengobrol dengan mama Yoga.


Yoga turun dengan kaos santai berwarna hitam dan celana pendek. Nampak santai namun tetap gagah dan tampan. Gista semakin terpana menatap Yoga. "Ternyata ganteng juga calon suami gue." Batin Gista.


"Halo om, tante. Selamat malam." Sapa Yoga pada mama dan papa Gista dan duduk di sofa dekat dengan mamanya.


"Iya Yoga, selamat malam. Jadi bagaimana keputusan kamu? Kapan pernikahannya dilangsungkan?" Tanya papa Gista dengan wibawanya.


"Jadi begini om tante, saya minta maaf sekali. Tapi saya benar-benar tidak bisa bertanggung jawab atas kehamilan Gista." mama Gista yang mendengar itu langsung emosi dan hendak berbicara memotong ucapan Yoga. Namun, papa Gista memegang pundaknya untuk menunggu alasan Yoga.


"Saya tidak bisa menikahi Gista, karena saya tau bahwa ayah kandung dari bayi itu bukan saya. Saya tidak pernah melakukan apapun dengan Gista."


"Jadi maksud kamu anak saya pernah melakukan dengan laki-laki lain?" Tanya mama Gista dengan tatapan tajam. Gista yang mendengar obrolan itu mendadak panik.


"Mungkin tante bisa tanyakan sendiri pada Gista. Kalau Gista tidak mengaku, saya bisa berikan buktinya." Gista menoleh ke arah Yoga. Ucapannya membuat Gista bingung. "Apa bukti yang dia punya?" Batin Gista.


"Gista kamu bisa jelasin apa yang dibilang Yoga?" Semua pandangan sekarang tertuju pada Gista.


Gista bingung hendak jujur atau tetap berbohong. Ia takut bukti yang dimiliki Yoga bisa membuatnya ketauan berbohong. Gista terdiam sejenak bingung dengan keputusan yang akan diambil.


"Enggak ma, aku cuma melakukan sama Yoga." Gista memutuskan tetap berbohong. Ia cukup yakin bukti Yoga tidak akan sampai membuatnya terlihat seperti wanita tidak benar.


"Gue bisa mengelak kalau memang ada bukti yang menunjukkan gue sama cowok. Bilang aja itu klien yang ngontrak gue jadi modelnya." Batin Gista mencoba tenang.


"Kamu dengar sendiri kan? Saya yakin anak saya bukan wanita gampangan, Yoga. Hati-hati dengan omongan kamu, saya bisa tuntut kamu karena ucapan yang menghina anak saya." Mama Gista mulai emosi dan bicara dengan nada tinggi.


"Baik kalau Gista tidak mau jujur. Saya ada bukti yang menunjukkan bahwa saya bukan ayah kandung dari bayi tersebut."


Yoga memutarkan video Gista yang diserang oleh tante Yuni. Gista panik dan kaget dengan video tersebut. "Sial, dari mana dia dapet video ini." Batin Gista.


"Ini apa Gista? Kamu bisa jelasin?" Sorot mata mama Gista dan papa Gista tertuju pada anaknya. Wajah mereka benar-benar menunjukkan butuhnya penjelasan terkait video yang baru mereka tonton.


"Emmhh, enggak ma. Itu salah paham. Jadi aku sama klien aku makan malam di hotel, terus istrinya kayak salah paham gitu dan cemburu buta." Gista mencoba beralasan.


"Kamu yakin?"


"I iya ma. Beneran ma."


"Kamu yakin cuma hubungan klien sama Pak Faisal?" Tanya Yoga pada Gista.


"Ka kamu tau dari mana Pak Faisal?" Gista semakin panik.


"Gue sudah ketemu sama Pak Faisal. Gue bahkan udah ngobrol dan tau siapa ayah kandung bayi itu. Apa perlu gue putar rekaman obrolan gue sama Pak Faisal? Atau, lu yang jujur sendiri." Ucap Yoga tetap tenang namun tegas.


Mama dan papa Gista menatap Gista. Mereka menyadari ada yang tidak beres, sepertinya memang anak mereka yang bermasalah.


"Gista, jelaskan semuanya!" Tanya Papa Gista.


Gista bingung, Ia tertunduk dan diam tidak menjawab apapun.


Yoga yang melihat Gista tidak kunjung berkata jujur memilih memutarkan rekaman suara obrolannya dengan Pak Faisal.


Gista menggigit bawah bibirnya saat mendengar obrolan mereka. Yoga terus memutarkan sampai pada ucapan Om Faisal berbicara bahwa Gista sering melakukan dengan lelaki paruh baya lainnya, dan Om Faisal yang mengakui dia adalah ayah bayi dikandungan Gista.


"STOP! Lu matiin rekaman itu. Ini semua fitnah. Gue gak kayak gitu." Gista panik dan berteriak. Semua menatap Gista dengan tatapan tajam. Terutama kedua orangtuanya yang merasa sangat malu dengan kelakuan putri kesayangannya selama ini.


Mama dan papa Gista beranjak keluar dan menarik Gista demi menutupi rasa malu mereka.


"Ma, pa, Gista bisa jelasin semua. Tunggu ma, pa.. Ini semua fitnah maaa, paaa.."

__ADS_1


__ADS_2