Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Lamaran


__ADS_3

Mela mendapat telpon saat sedang membuat laporan magang di kantor proyek.


"Halo sayang."


"Halo.. Tumben siang-siang telpon sayang. Kenapa?" Tanya Mela sambil memandangi laporan di laptopnya.


"Lagi dimana sayang?"


"Di proyek."


"Bisa keluar sebentar gak?"


"Keluar kemana yang?" Mela tidak paham dengan maksud Vico.


"Keluar ke depan proyek."


Mela mengikuti perintah Vico, Ia keluar dari proyek yang masih ditutupi oleh pagar pengaman proyek.


"Sayaaanggg.. Surprise.." Teriak Vico.


"Sayaaang.. Aaakkkhh kangen.." Mela berlari memeluk Vico.


"Kok gak ngabarin sih kalau kesini sayang."


"Kan mau surprisein kamu sayangku cintaku." Ucap Vico sambil mencolek hidung Mela.


"Iya iya, surprise banget. Tapi harusnya kabarin dong, kan aku bisa ijin kerja buat nemenin kamu." Ucap Mela sambil bergelayut manja.


"Iya sayang, lain kali aku kabarin kalau rencana mau pulang. Kamu sampai jam berapa kerjanya?"


"Aku udah selesai, cuma lagi males pulang aja. Makanya ngerjain laporan disini. Aku beresin barang-barang dulu yah. Sayang tunggu sini." Vico mengangguk sambil tersenyum.


Mela mengajak Vico ke kafetaria rumah sakit untuk membeli kopi.


"Aku biasanya makan siang atau ngopi disini yang." Terang Mela menjelaskan tempat yang biasa Ia kunjungi tanpa Vico beberapa bulan ini.


"Sorry yah sayang, kamu jadi sering makan siang sendiri."


"Iya sayang gak papa. Tapi aku gak sendiri-sendiri banget kok. Di rumah sakit ini ada kakak dan sepupunya Anya yang. Kadang kalau jam makan siang sering ketemu mereka juga. Ya tapi gak sering, setidaknya biar ada temen ngobrol."


Mela dan Vico melepas rindu satu sama lain. Mereka bertukar cerita dan sesekali tertawa bersama. Pegangan tangan satu sama lain juga tidak lepas walaupun mereka sedang duduk. Di sudut lain ada sepasang mata yang memperhatikan kemesraan mereka. "Ooh itu kayaknya pacarnya Mela." Batin Iqbal. Iqbal membatalkan niatnya untuk makan di cafetaria. Ia memilih kembali ke ruangan dan memesan makanan secara online.


***


Polisi sudah berhasil menangkap Lusi yang selama ini berusaha kabur dan bersembunyi. Lusi bersembunyi di rumah temannya di daerah Magelang. Untungnya ada warga yang bercerita kalau ada pendatang baru yang tinggal di daerahnya saat polisi sedang melakukan penyelidikan disana. Dengan mudah polisi menangkap Lusi yang secara ciri-ciri sesuai dengan informasi yang ada.


"Lepasin Pak! Saya gak salah. Ini semua salah Anya. Dia pantas mendapatkannya." Teriak Lusi sambil berusaha melepaskan borgol di tangannya.


Oki yang mendengar kabar penangkapan Lusi merasa lega. Ia bertolak ke Jogja untuk menemuinya di penjara.


"Okiii, tolongin aku sayang. Aku gak salah." Ucap Lusi saat melihat Oki datang menemuinya. Oki terdiam melihat Lusi.


"Aku tau kamu kesini karena kamu masih sayang sama aku kan. Oki sayang, plis tolongin aku. Aku gak salah, polisi-polisi ini asal tangkap orang aja. Ini semua tuh ulah Anya itu, aku gak akan maafin dia. Oki, plis kamu mau kan bantuin aku keluar dari sini?" Cerocos Lusi sedari tadi.


"Cukup Lusi. Sudahi omong kosong kamu. Kamu yang bayar preman-preman itu kan buat nyakitin Anya. Selama ini kamu juga mata-matain kegiatan aku, makanya kamu selalu mendapat foto aku saat bersama Anya dan menjadikan itu masalah. Kamu sakit jiwa Lusi."


"Aku ngelakuin itu karena aku sayang sama kamu Oki. Aku gak mau Anya jadi penghalang kita untuk bahagia."


"Penghalang kita bahagia itu bukan Anya, tapi diri kamu sendiri. Kamu udah gila selama ini. Kamu bahkan selingkuh di belakang aku tapi kamu nyalahin orang lain. Sadar Lusi, yang kamu lakuin itu sudah hampir mencelakakan Anya dan pacarnya. Pacarnya ketusuk karena ulah preman bayaran kamu itu."


"Aku gak maksud Oki. Aku cuma pengen kasih Anya pelajaran aja. Biar dia gak ganggu kita."


"Pelajaran kamu bilang? Kamu yang harusnya perlu belajar jadi cewek yang bener." Ucap Oki meninggi.


"Aku kayak gini juga karena kamu Oki. Aku tau kamu pernah suka kan sama Anya. Aku gak terima itu semua." Nada Lusi ikut meninggi.


"Udah cukup, percuma aku jelasin semua ke kamu. Kita sudah gak ada hubungan apapun. Semoga hukuman ini bisa membuat kamu sadar."


Oki beranjak meninggalkan Lusi.


"Oki, tunggu! Jangan pergi, Okiiii!!! Bantu aku bebas dari sini. Oki!!!!" Lusi berteriak histeris dan para polisi memeganginya untuk kembali ke ruang tahanan.


***


Gista menemui Yoga di apartemennya setelah selesai pemotretan. Boy yang ada disana kaget dengan kedatangan Gista yang menggunakan pakaian minim.


"Boleh aku masuk?" Tanya Gista dengan nada manja pada Boy yang terpana saat membuka pintu dan melihat Gista.


"Se sebentar ya." Boy menutup pintu membuat Gista kebingungan.


Boy berlari menghampiri Yoga di kamar.


"Bro, di depan ada cewek cantik, seksi banget."


"Gista maksud lu?"


"Gak tau deh gue namanya. Dia minta masuk tuh. Bolehin gak?"

__ADS_1


"Jangan boleh masuk. Gue gak mau nanti Anya salah paham."


"Uuuh setia banget. Lu takut salah paham apa takut gak nahan liat tuh cewek. Secara dia cantik, seksi lagi. Pakaiannya juga uuuwww menggoda sekali." Ucap Boy sambil bertingkah konyol di depan Yoga.


"Udah sana suruh pulang aja dia. Gue mau istirahat."


"Oke oke."


Boy kembali membuka pintu, Gista tersenyum melihatnya.


"Jadi gimana? Aku boleh masuk?"


"Sory banget, Yoganya lagi istirahat. Lain kali aja yah."


"Yah, padahal aku bawa makanan. Aku siapin bentar yah makanannya." Gista menerobos masuk.


"Eeh tunggu.." Boy mengikuti Gista yang nyelonong masuk ke dalam apartemen.


Gista melihat kamar Yoga terbuka dan langsung masuk tanpa permisi.


"Halo sayang.." Sapa Gista membuat Yoga kaget.


"Ngapain lu kesini?" Yoga dengan juteknya.


"Iih jutek amat sih. Aku kesini karena kawatir sama kamu sayang. Kamu kayak gini kan karena cewek bau kencur itu."


"Namanya Anya, dan ini bukan karena dia. Gue begini karena kemauan gue nyelamatkan Anya, orang yang gue sayang."


"Iya itu sih sama aja." Gista memutar bola matanya jengah.


Boy masuk ke kamar Yoga..


"Sorry bro, dia nyelonong masuk."


"Bantuin gue keluar bro. Gue gak mau di kamar ada dia." Boy memapah Yoga ke sofa depan TV.


Gista kesal tidak dihiraukan oleh Yoga. Ia menyiapkan makanan yang Ia bawa di dapur, lalu membawakannya untuk Yoga yang duduk di sofa.


"Makan dulu yuk." Ajak Gista sambil menyodorkan makanan.


"Gue udah kenyang. Anya udah beliin gue makan tadi. Jdi mending lu pulang."


"Jangan gitu dong. Mau aku suapin?" Gista menawari dengan nada manja.


"Lu gak paham juga yah, gue udah kenyang." Yoga menaikkan nadanya karena kesal dengan kehadiran Gista. Gista kaget dengan teriakan Yoga, Ia menarik makanan yang tadi Ia sodorkan.


"Lu apaan sih? Keluar dari sini!" Teriak Yoga, mata Yoga menatap Gista penuh emosi. Nyali Gista menciut hendak merayu Yoga. Terpaksa Gista keluar dari apartemen Yoga. Ia kesal, bisa-bisanya Yoga tidak tergoda dengannya. Padahal biasanya laki-laki lain melihat penampilan seksinya sudah pasti tidak akan membiarkannya keluar dari kamar. "Tunggu aja kamu Yoga. Kamu pasti bakal bertekuk lutut sama aku." Gumam Gista.


***


Mela menikmati hari-hari dengan Vico. Mereka memutuskan untuk pergi berlibur ke pantai. Melihat pemandangan indah dari resort dan makan seafood kesukaan Mela. Mela dibuat bahagia dengan perlakuan Vico yang menjadikannya bak ratu. Saat melihat sunset bersama di pinggir pantai, Vico tiba-tiba berlutut di depan Mela.


"Mela.. Will you marry me?" Vico membuka kotak kecil di depannya yang berisikan sebuah cincin emas putih dihiasi berlian kecil ditengahnya.


"Sayaaanggg.." Mela menutup mulutnya dengan kedua tangan tanda terharu, tak terasa Mela menitikkan air mata. Ia sangat bahagia.


"A aku mau." Jawab Mela. Vico tersenyum bahagia, Ia berdiri dan memakaikan cincin ke jari manis Mela. Mela berhambur ke dalam pelukan Vico. Mela menangis bahagia, Ia sungguh tidak menyangka Vico datang untuk melamarnya.


"Makasih yah sayang." Mela melepaskan pelukannya. Ia melihat tangannya yang kini dihiasi sebuah cincin.


"Sama-sama sayang. Aku sejak awal memang pengen bisa membeli cincin buat kamu dengan kerja keras aku sendiri sayang. Makanya aku rela kerja di kalimantan. Maaf ya sayang, karena keputusan itu kita jadi LDR." Vico mengelus rambut Mela.


"Iya sayang. Tapi kamu tau, dengan kita LDR aku jadi sadar satu hal."


"Apa itu?"


"Rindu itu beraaaattt. Hahahaha." Mela tertawa dan berlari di pantai. Vico mengejarnya. Mereka menikmati kebahagiaan bersama di pantai dengan pasir yang berwarna putih bersih. Mela memang sangat menyukai pantai, itulah sebabnya Vico selalu dengan senang hati membawa Mela ke pantai. Bagi Mela pantai adalah tempat healing yang sangat nyaman. Mendengarkan suara ombak dan hembusan angin membuatnya tenang. Menantikan matahari terbenam ditemani orang terkasih membuat Mela ingin waktu berhenti disaat itu. Momen yang indah yang selalu terpatri di sanubarinya.


***


Boy menceritakan semua kronologi kejadian dan dalang kejadian tempo hari pada Yoga, karena Yoga terus mendesaknya. Awalnya Anya melarang Boy menceritakannya, namun Boy terlanjur bercerita. Yoga kaget bahwa dalang semuanya adalah mantan pacar Oki. Tak berselang lama Anya datang ke apartemen untuk menjenguk Yoga. Boy membukakan pintu.


"Halo Kak." Anya menyapa saat di depan pintu.


"Halo.."


"Kenapa mukanya begitu?" Muka Boy sedikit ditekuk seperti ketakutan karena merasa bersalah.


"Sorry banget Nya, Yoga tau kronologi kejadian kemarin. Pelakunya juga. Gue keceplosan tadi." Bisik Boy.


"Aduuuh. Iya iya Kak. Semoga kak Yoga gak ngelakuin yang aneh-aneh." Balas Anya dengan berbisik juga. Anya melangkah masuk dengan membawa bingkisan buah-buahan. Tadi pagi Ia sudah mampir ke apartemen untuk membawa bahan makan yang Ia simpan di kulkas. Setelah memasakkan makanan, Anya bergegas ke kampus untuk melihat jadwal presentasinya.


"Kakak, gimana kondisinya?" Tanya Anya sambil menaruh buah di meja dapur. Lalu menuju sofa tempat Yoga duduk.


"Sudah enakan kok. Lukanya sudah gak sakit."


"Syukurlah kalau sudah enakan. Kakak sudah makan? minum obat? Aku kupasin buah ya." Anya beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Sudah sayang. Sini dulu, peluk. Nanti aja kupas buahnya. Kamu itu pacar aku, bukan tukang buah." Ucap Yoga manja.


"Iih apaan sih Kak. Malu kan ada Kak Boy." Anya menepis tangan Yoga yang terbuka hendak menerima pelukan.


Anya beranjak ke dapur dan mengupas buah. Setelahnya Ia menyuapi Yoga buah.


"Oiya, aku mau nanya." Ucap Yoga.


"Nanya apa Kak?"


"Kenapa mantan Oki bisa dendam sama kamu sampai segitunya?"


"Anya juga gak tau Kak. Mantannya cemburu buta. Terus beberapa minggu lalu, mereka putus karena mantannya ketauan jalan sama cowok lain. Dia gak terima diputusin Oki dan mencari kambing hitam."


"Apa hubungannya sama kamu? Kamu kenal sama dia?"


Anya mengangkat bahunya.


"Gak kenal Kak. Kan mereka LDR. Tapi sering banget mereka tengkar karena mantan Oki cemburu sama Anya. Walaupun Anya sama Oki cuma duduk di kantin." Jelas Anya.


"Waah parah tuh cewek berarti." Boy ikut nimbrung.


"Iya Kak, parah kan. Bucin sih bucin. Tapi dia seenaknya juga selingkuh, bahkan Oki juga liat dia ke hotel sama cowok."


"Kayaknya dia obsesi sama temen lu. Tapi dia juga gak bisa kesepian." Tebak Boy.


"Mungkin Kak."


"Yaudah nanti biar tim interograsi yang nyelidikin kenapa dia sampai nekat berani seperti itu." Ucap Yoga. Anya mengangguk setuju. Menjelang sore Anya pamit pulang.


***


Sore hari Ika mendapat telpon dari Eric.


"Halo kak, gimana sidangnya?" Tanya Ika setelah menekan tombol menerima panggilan.


"Wuushh sabar dong. Penasaran banget yah."


"Iih seriusan Kak, gimana sidangnya?"


"Sidangnya lancar, gue lulus."


"Aaaakkk selamat Kak. Ikut seneng dengernya. Tapi bikin galau juga deh kak."


"Makasih ya. Galau kenapa?"


"Ika jadi kepikiran bisa gak yah lulus tepat waktu. Mau mikir ide buat skripsi masih belum nemu-nemu." Ika jadi galau memikirkan rencana ke depannya.


"Pasti bisa dong, gak mungkin gak bisa. Secara lu pinter, pasti bisa. Kalau emang bingung sama judul, coba cari salah satu dosen yang sreg dan nanya-nanya seputar penelitian yang bisa diambil."


"Gitu yah Kak. Iya deh Kak, nanti kalau udah balik coba Ika nyari dosen dan konsultasi. Semoga dapat pencerahan."


"Semangat dong. Lu anak yang rajin. Jadi pasti bisa selesai tepat waktu."


"Iya kak, makasih juga semangatnya. Terus kan kakak udah lulus nih."


"Iya, emang kenapa?"


"TRAKTIRAAANNNN!" Teriak Ika memekik di telinga Eric. Ika tertawa terbahak-bahak.


"Sakit eeeh kuping gue. Awas ya kalau ketemu." Eric mengelus telinganya.


"Sorry sorry Kak." Ika berusaha menghentikan tawanya.


"Nanti kalau lu udah disini, bakal gue traktir apapun yang lu mau."


"Weeiits, beneran nih yah. Apapun yang Ika mau? Janji? Jangan nyesel loh."


"Iya janji." Eric tersenyum.


"Makanya cepetan balik sini biar bisa ketemu."


Deg.. Hati Ika dibuat bergetar lagi.


"Iya kan gue udah beli tiket Kak, males kalau di reschedule. Nanti juga orang tua nanyain kok buru-buru balik."


"Iya iya, puas-puasin dulu kangen-kangenan sama orangtua. Lu beruntung banget punya orangtua yang selalu menanti kedatangan anaknya." Ucap Eric tersenyum.


"Mama dan papa kakak juga pasti menanti kedatangan kakak. Hanya saja setiap orang punya cara yang berbeda untuk mengungkapkan semuanya. Waktu Ika ketemu mama kakak, keliatan banget kalau mama kakak sayang dan senang banget bisa jalan sama kakak."


"Iya kah?"


"Kakak mesti berdamai dengan masa lalu itu, untuk menjadi lelaki yang lebih hebat lagi." Ika memberi semangat pada Eric.


"Makasih ya Ka, setiap cerita sama kamu selalu tenang banget."


"Sama-sama Kak." Ika tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2