
Anya menelpon Iqbal yang baru saja selesai praktek.
"Haloo.."
"Haloo Kak Iqbal. Lagi dimana?"
"Lagi di rumah sakit. Kenapa?"
"Kak, Anya bisa minta tolong gak sama kak Iqbal?" Ucap Anya.
"Iya boleh."
"Kakak bisa tolong ke proyek paviliun rumah sakit. Tolong cek in kondisi Mela kak."
"Mela? Kenapa emang dia?"
"Tolong banget Kak, Mela kondisinya sedang labil kak. Anya takut sesuatu terjadi sama Mela."
"Memang apa yang terjadi sama Mela?"
"Seminggu lalu, pacar Mela meninggal dunia kak."
"Apa? Iya iya tunggu. Aku ke proyek sekarang. Nanti gue hubungin lagi. Bye." Iqbal bergegas lari ke proyek. Ia juga khawatir dengan kondisi Mela. Iqbal baru tau musibah yang menimpa Mela, pasti sangat berat bagi gadis itu melewati semua ini. Terlebih Iqbal tau bagaimana rasa sayang Mela pada pacarnya. Setiap Ia membicarakan pacarnya, matanya selalu bersinar. Sungguh terpancar rasa cinta di matanya membuat Iqbal merasa iri ingin merasa dicintai seperti itu.
Iqbal sampai di proyek, kondisi proyek sepi karena banyak pekerja yang sedang makan siang. Ia mendekati pos jaga dan bertanya tentang Mela. Pak penjaga juga kurang mengerti tentang keberadaan Mela. Iqbal masuk ke kantor tempat Mela biasanya mengerjakan laporannya. Ia melihat kondisi kantor yang sepi. Saat hendak berbalik meninggalkan kantor, Iqbal melihat sesuatu di lantai. Ia mendekatinya.
"Melaaaa.." Teriak Iqbal.
Iqbal berlari ke arah Mela, memeriksa kondisi Mela yang pingsan di lantai. Tak lama Iqbal menggendong Mela menuju IGD. Mela sudah ditangani oleh dokter di IGD. Anya dan Ika bergegas menuju rumah sakit setelah diberi kabar oleh Iqbal.
Tak berselang lama Anya dan Ika datang dirumah sakit. Mereka mencari keberadaan Iqbal di depan ruang IGD.
"Kak Iqbal.. Gimana kondisi Mela?"
"Tadi dia pingsan. Badannya lemah sekali Nya. Selain efek stress, nampaknya dia juga kurang cukup asupan makanan. Sekarang dia belum sadar. Ditunggu aja dulu."
"Iya kak, makasih banyak kak. Kalau gak ada kak Iqbal kita gak tau lagi gimana kondisi Mela."
"Sama-sama. Semoga Mela segera pulih. Mela pasti sedih dan sangat kehilangan."
"Iya kak, apalagi saat pacarnya kesini memberi kejutan, almarhum memberi Mela cincin sebagai tanda keseriusan."
"Pasti berat sekali untuk Mela."
Iqbal mengetahui kepedihan yang dirasakan Mela. Pasti berat kehilangan orang yang sangat dicintai. Terlebih Mela selalu merencanakan masa depan bersama kekasih tercintanya. Namun, apa mau dikata. Takdir berkata lain. Kematian merenggut mimpi masa depan yang direncanakan mereka berdua. Terasa kejam dan tidak adil memang. Tapi sebenarnya ini semua hanyalah perjalanan. Tujuan Vico sudah berakhir, sedangkan tujuan Mela berbeda dengan Vico. Ia masih harus melanjutkan perjalanan tersebut, bertemu dengan orang lain hingga sampai pada tujuan akhirnya nanti.
Iqbal kembali ke ruangannya. Iqbal dengan terpaksa menjalani prakteknya sore itu. Pikirannya masih tertuju pada kondisi Mela. Setelah selesai memeriksa semua pasien, Iqbal langsung menelpon Anya menanyakan kondisi Mela.
"Halo, Anya."
"Halo, iya Kak Iqbal. Ada apa?"
"Gimana kondisi Mela?"
"Mela sudah sadar Kak. Ini lagi kita temenin makan. Tadi sama suster disuruh makan soalnya biar cepet pulih. Ini juga udah pindah ke kamar inap. Kalau Kak Iqbal mau kesini, kita di kamar Lavender Kak."
"Iya nanti kakak kesana setelah beres-beres."
"Oke kak."
Anya menutup telponnya dan melanjutkan duduk di samping Mela yang sedang makan bubur.
"Siapa Nya?" Tanya Mela.
"Kak Iqbal. Nanyain kondisi lu. Nanti dia mau kesini, gak papa kah?" Tanya Anya.
"Gak papa Nya, dia kan udah nolong gue juga. Masa iya gue gak bolehin Kak Iqbal kesini."
"Iya udah kalau gitu. Lanjut makan dulu. Mesti makan yang banyak biar gak lemes."
Mela melanjutkan makannya dengan terpaksa, Ia harus makan demi tubuhnya walaupun tidak sedikitpun Ia merasakan lapar.
__ADS_1
***
Manager Gista kaget dengan foto yang tersebar di internet. Nampak Gista memeluk laki-laki yang mukanya diburamkan.
"Gis, gimana nih. Ini lu sama siapa sih? Kok pake peluk-peluk segala. Skandal lu sama cowok yang kemarin aja barusan kelar, ini ada skandal lagi."
"Ya maaf, ini gebetan gue yang baru."
"Tapi lu harusnya jaga sikap dong. Kalau skandal gini terus job bisa sepi lama-lama. Lu inget dari skandal yang kemarin aja udah berapa iklan yang dibatalin. Sekarang lu bikin ulah lagi. Mau sampai gak ada job baru lu jera gitu?"
"Jangan marah-marah gitu dong. Iya iya gue salah. Lain kali gue bakal lebih hati-hati kalau ketemuan deh." Rayu Gista.
"Bukan masalah lain kali mesti hati-hati, ini sekarang brand yang lu kemarin pemotretan gak jadi make lu lagi. Kan di kontrak dia udah bilang gak mau kalau modelnya terlibat skandal. Mereka juga minta ganti rugi. Puyeng gue kalau lu bertingkah terus."
"Haaah? Serius lu. Sial*n banget. Abis lama-lama tabungan gue. Dapet duit kagak, bayar ganti rugi mulu. Kalau bukan karena om-om udah kere gue."
"Gila lu ya. Stop deh yang kayak gitu, nanti blunder sendiri sama karir lu. Jangan sampai karir lu ancur karena kebongkar lu simpenan om-om."
"Iya terus mau gimana? Kalau gak sama om-om yang udah punya istri gitu, mana bisa gue hidup mewah begini. Lagian asal lu tau, kalau om-om begitu bakal lebih loyal ngasih duitnya dibanding yang seumuran. Asal lu tau, gue kerja sampe keriput belum tentu hasilnya sebanyak yang dikasih sama om-om kesayangan gue."
"Kalau lu masih nekat kayak gitu, gue lama-lama gak kuat buat nyelesaiin semua masalah lu. Kalau lu mau hancurin nama baik lu sendiri, silakan deh." Ucap manager Gista emosi.
"Kok jadi lu yang emosi, kalau lu gak terima gue bisa gampang banget ganti posisi lu sama orang lain. Asal lu tau, banyak diluaran sana yang mau jadi manager supermodel kayak gue."
"Oke kalau itu mau lu, gue resign sekarang. Ini surat kontrak sama brand kemarin. Lu urus sendiri semuanya." Manager Gista pergi begitu saja.
"Sial*n. Lu kira gue gak bisa apa cari pengganti manager begitu doang."
Gista dengan terpaksa menyelesaikan permasalahannya sendiri dengan brand yang kemarin memintanya menjadi modelnya.
***
Sudah beberapa hari ini Anya merasa bahwa memang benar bahwa Oki menghindarinya.
Siang hari setelah bertemu dosen, Anya melamun berjalan sendiri ke kamar mandi. Tak sengaja Ia bertemu dengan Sisil yang juga sedang membenahi penampilannya di depan cermin.
"Kak Anya.." Sapa Sisil sambil tersenyum sedikit membuat Anya kaget karena tadi sedang melamun.
"Iya kah kak? Emang Kak Oki gak cerita kalau emmhh sebenarnya kami udah jadian Kak." Jawab Sisil tersenyum malu-malu.
"Waaah beneran? Selamat yah." Ucap Anya antusias dan terlihat kaget seperti baru tau.
"Emhh tapi kakak beneran gak tau kalau kami jadian? Kak Oki gak cerita?" Tanya Sisil kebingungan.
"Itu masalahnya. Beberapa hari ini aku ngerasa Oki ngehindar tiap ketemu aku. Tapi kalau ternyata kalian beneran jadian, mungkin itu alasannya. Demi menjaga perasaan pacarnya yang cantik ini, aku sih gak masalah." Jawab Anya.
"Aah Kak Anya bisa aja. Kak Anya juga cantik banget. Tapi bener deh kak, aku gak pernah ngelarang Kak Oki buat bersahabat sama Kak Anya kok. Justru aku ngefans banget sama Kak Anya. Memang kak Oki ngehindar gimana Kak?"
"Waaah, jadi malu nih kakak. Makasih banget udah bikin jadi goodmood. Iya beberapa hari ini sih aku ngerasa kalau Oki sedikit ngejauh aja. Aku bingung takutnya bikin salah aja atau salah ngomong."
"Apa coba Sisil tanyain nanti Kak?"
"Emmhh, boleh sih kalau gak ngerepotin kamu."
"Enggak dong Kak. Nanti coba Sisil cari info deh."
"Makasih yah Sil." Anya tersenyum. Mereka berdua keluar kamar mandi bersama dengan saling bertukar cerita. Tak jauh ada Oki yang menunggu Sisil di kamar mandi. Oki kaget Sisil sedang berbincang dengan Anya.
"Ayok pergi sekarang." Oki bicara pada Sisil tanpa menatap Anya sama sekali. Bahkan Ia pergi tanpa berpamitan. Sisil yang merasa tidak enak berpamitan singkat karena tangannya ditarik oleh Oki untuk bergegas pergi.
"Lu kenapa sih Ki? Apa gue bikin salah?" Batin Anya.
***
Mama Mirna dan Ezza datang ke rumah Sonya. Kedatangan kali ini ditemani oleh paman Ezza, adik dari almarhum ayahnya. Sedangkan dari pihak Sonya, Mama Meli ditemani oleh Om Ehan, adiknya. Pertemuan yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja. Sonya merasa grogi, apalagi baru pertama kalinya ada seorang laki-laki yang hendak serius padanya. Ia berharap pilihannya memang tepat. Semoga Ezza bisa menjadi orang yang baik untuk masa depannya.
Acara dimulai dengan perkenalan, mama Meli menyambut Mama Mirna. Mereka mengobrol bersama dan bercanda tawa. Sampai pada intinya bahwa Ezza ingin melamar Sonya. Saat sedang berbincang serius tiba-tiba ada tamu yang hadir. Selly dan Airelle datang tanpa diundang. Sontak membuat kaget semuanya.
"Siapa yah?" Tanya Mama Meli heran saat Selly melangkah masuk.
"Perkenalkan tante, saya Selly, mantan istri Ezza. Dan ini Airelle, putri Ezza." Selly memperkenalkan diri membuat Ezza menahan emosi. Sonya merasa sangat kesal dengan ulah Selly.
__ADS_1
Ezza memutuskan ijin sebentar untuk berbincang sejenak dengan Selly di luar.
"Apa maksud kamu begini?" Tanya Ezza menahan emosi.
"Aku cuma mau kenalin mereka sama Airelle. Kalau mereka mau menerima kamu, artinya mereka juga harus menerima Airelle kan."
"Cukup Selly.. Sudah cukup kamu gunakan Airelle sebagai alat. Temukan dia sama ayah kandungnya. dan satu hal lagi tidak ada kewajiban aku harus memperkenalkan Airelle sama mereka, atau bahkan mereka harus menerima Airelle terlebih dahulu. Kamu tau alasannya kan? Jangan sampai kamu memancing aku untuk ungkap semua kenyataan. Aku sudah cukup sabar. Aku tau bagaimana kamu menemui Sonya, menemui mamaku juga. Iya kan?"
"I iya, tapi aku nemuin Sonya dan mama kamu buat kebaikan kita semua. Kamu malah tega, hanya karena wanita itu kamu tega melihat Airelle sedih."
"Airelle tidak akan sedih kalau kamu jujur tentang siapa ayahnya." Ucap Sonya yang datang kehadapan Selly.
"Kenapa gak pernah kamu ungkapkan siapa ayahnya? Ada yang kamu sembunyikan selama ini?" Selidik Sonya.
"Maksud kamu apa?"
"Berhenti bertingkah seolah Ezza adalah ayah kandung dari anak kamu. Ezza sudah sangat baik selama ini sama anakmu yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri."
"Kamuu!! Liat aja kamu nanti!! Aku pastiin pernikahanmu tidak bahagia persis seperti pernikahanku dulu." Ucap Selly emosi.
"SELLY!!!" Bentak Ezza. Selly dan Sonya kaget melihat amarah Ezza. Baru ini mereka melihat Ezza tersulut emosi. Memang benar marahnya orang sabar akan lebih mengerikan dibanding dengan orang yang tempramen.
"Aku sudah bilang cukup. Sampai kamu berani menghancurkan rencana pernikahanku, aku pastikan semua akan tau yang sebenarnya. Kamu yang memulai, jangan kamu kira aku akan diam saja." Ucap Ezza tegas dengan sorot mata penuh emosi.
"Kamu bener-bener tega, Za. Padahal kamu udah kenal aku lebih lama dibanding wanita ini." Selly menahan sedihnya dan mengajak Airelle pulang. Ezza terdiam sejenak menahan diri. Ia tau Sonya pasti kaget dengan emosinya tadi.
"Maafin aku ya, aku tadi emosi." Ucap Ezza pada Sonya.
"Iya gak papa. Aku cuma agak kaget ngeliat kamu marah. Baru pertama kali ini."
"Karena aku tidak suka dia mendoakan pernikahan kita nantinya tidak akan bahagia. Bahagia atau tidak pernikahan tergantung yang menjalani, beraninya dia membandingkan dengan pernikahan kami dulu. Jelas-jelas dia yang membuat semua tidak bahagia."
"Iya sayang, aku ngerti. Sudah jangan dipikirkan lagi. Aku yakin dengan niat baik kita. Sekarang, ayo kita masuk. Kita lanjutkan acara ini."
Di dalam tenyata Mama Mirna sudah mencoba menjelaskan semuanya. Mama Meli tidak menyangka yang terjadi pada masa lalu Ezza. Mama Meli justru terharu dan kagum dengan kondisi Ezza yang masih mau berbaik hati pada Airelle yang tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Acara lamaran akhirnya berlangsung lancar. Sonya menerima lamaran Ezza. Raut wajah Ezza dan Sonya berseri-seri. Kedua keluarga inti juga menentukan rencana hari pernikahan, mereka tidak ingin menunda terlalu lama. Semakin cepat semakin baik tentunya.
***
Hari ini Anya berencana membelikan Yoga makan siang. Karena Yoga sibuk efek tugas yang menumpuk setelah cuti sakit tempo hari, membuat Yoga harus menggunakan jam makan siangnya untuk bekerja. Anya berinisiatif membawakan Yoga makan siang. Karena bagaimanapun juga, tugas yang menumpuk milik Yoga adalah akibat dari Yoga menyelamatkannya.
Anya datang ke kantor polisi sambil membawa makanan kesukaan Yoga. Di pintu depan saat hendak masuk, Anya bertemu dengan Boy.
"Eeh Kak Boy.. Apa kabar Kak?"
"Eeh Anya. Baik. Lu sendiri apa kabar?"
"Baik juga. Kakak mau kemana?"
"Mau makan di luar."
"Sendiri aja kak?"
"Iya abis temen gue sibuk ngurusin laporan yang seabrek."
"Maaf kak. Kak Yoga sibuk karena waktu itu nyelametin Anya kak. Semua karena ulah cewek obsesi itu deh pokoknya." Anya menggeleng kepala mengingat ulah Lusi mantan Oki.
"Eeh gak usah minta maaf. Emang obsesi bener tuh cewek kayaknya. Oiya, temen lu itu kapan hari dia kesini. Nemuin Yoga kayaknya, mungkin bahas kejadian saat itu."
"Haaah? Serius? Oki nemuin Kak Yoga?" Anya kaget mendengar kabar dari Boy.
"Iya serius. Emang kenapa?"
"Kakak tau mereka ngobrolin apa?"
"Waduh, kurang tau ngobrolin apa. Gak denger, gue cuma gak sengaja liat pas mau ke ruangan Yoga."
"Ooh gitu yah. Yaudah nanti Anya tanya langsung ke Kak Yoga deh. Makasih ya Kak."
"Sama-sama. Yaudah gue cabut dulu yah. Udah laper banget."
__ADS_1
Anya tersenyum melihat tingkah sahabat dari pacarnya. Anya bergegas masuk dan menuju ruangan Yoga membawakan makanan untuk kekasihnya.