Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
LDR lagi


__ADS_3

Seminggu sudah Mela menikmati kebahagiaan karena Vico datang. Sudah waktunya Vico kembali ke kalimantan untuk bekerja. Mela dengan sangat sedih melepas kepergian Vico. Mela mengantar Vico ke bandara. Mobil Mela dikendarai oleh Vico. Mela terus bergelayut di lengan Vico.


"Sayang, gak mau ditinggal." Ucap Mela manja.


"Sama sayang, aku juga gak mau kesana benernya. Pengen disini sama kamu. Sabar yah sayang. Aku juga apply kerja ke daerah sini. Pokoknya biar gak terlalu jauh lagi."


"Tapi aku tetep gak mau ditinggal." Mela memanyukan bibirnya, membuat Vico gemas dengan kemanjaan Mela.


Vico dan Mela sampai di bandara. Sudah waktunya Vico akan berangkat. Mela tak kuasa melepas kepergian Vico. Entah kenapa perpisahan saat ini lebih terasa berat dibanding saat pertama mengantar kepergian Vico. Mela membayangkan kehidupannya akan jauh lagi dari Vico. Melewatkan hari-hari yang sepi tanpa kehadiran Vico. Seminggu ini harinya sangat berwarna dan bahagia. Sudah waktunya Vico hendak berangkat meninggalkan Mela.


"Sayaaanggg.." Teriak Mela berlari ke arah Vico. Mela memeluk Vico erat, air matanya menetes. Entah apa yang terjadi hatinya terasa sesak hingga Mela menangis tersedu-sedu di pelukan Vico.


"Aku gak pengen kamu pergi sayang. Jangan pergi. Aku gak bisa kita jauh begini." Ucap Mela sambil terisak. Vico tak tega melihat Mela yang begitu tersiksa.


"Maaf sayang, maafin aku udah buat kamu begini." Mata Vico memerah mencoba menahan air di matanya.


"Jangan pergi sayang, pliiiisss. Temenin aku disini." Mela memohon.


"Sayang, aku harus balik kesana dulu. Nanti kalau bisa ambil cuti aku pasti kesini langsung. Plis jangan begini. Aku nanti kepikiran." Vico mengusap kepala Mela sambil mengecup rambutnya. Mela melepaskan pelukannya, Ia mengusap pipinya yang basah dengan airmata.


"Iya sayang, maaf kalau aku egois. Aku cuma sedih aja rasanya. Tanpa kamu disini aku bener-bener kesepian."


"Aku janji bakal lebih sering hubungin kamu." Ucap Vico mengusap pipi Mela. Mela menggeleng.


"Gak usah dipaksain sayang. Aku tau kamu sibuk banget disana."


"Pokoknya aku usahain. Jangan sedih lagi yah. Pliiisss."


"Iya sayangku." Keduanya saling berpandangan sambil tersenyum. Vico mendekatkan wajahnya ke wajah Mela. Bibirnya mengecup bibir Mela.


"Aku sayang kamu, Mela. Sayang banget."


Mela tersenyum.


"Aku juga sayang kamu, Vico." Mela memeluk Vico kembali.


Tak berselang lama Mela melepas keberangkatan Vico. Mela lalu menuju mobilnya diparkiran dan melaju meninggalkan bandara. Mela tidak pulang, melainkan pergi ke kosan Ika untuk menenangkan dirinya.


***


Hari ini Yoga sudah berkegiatan seperti sedia kala. Ia sudah masuk kerja dan melakukan aktivitasnya seperti biasa. Begitupun Anya, Ia juga pergi ke kampus pada pagi hari untuk mempersiapkan presentasinya. Di kampus Anya bertemu dengan Oki yang hendak bertemu dosen untuk konsultasi rencana proposalnya.


"Okii." Sapa Anya berlari menghampiri Oki.


"Eeh Anya. Ngapain Nya?"


"Biasa nyiapin berkas-berkas nih. Lu sendiri ngapain?"


"Mau ketemu Pak Hendri. Mungkin gue skripsi sama Pak Hendri. Bidangnya lebih cocok dengan tema skripsi gue soalnya."


"Waah mesti gerak cepat lu, Ki. Tuh orang banyak banget mahasiswa bimbingannya. Kemarin pas aku ngobrol sama kakak tingkat Pak Hendri kewalahan dan mau batasin jumlah mahasiswa bimbingan angkatan kita."


"Haaah, serius lu?"


"Dua rius malah. Makanya lu cepetan ngadep Pak Hendri. Semoga bapaknya nerima lu deh jadi bimbingannya. Apalagi kalau tema lu menarik bagi bapaknya."


"Iya deh gue coba, doain gue ya."


"Iya pasti. Semangat. Dah buruan ke ruangan bapaknya sana."


Saat Oki hendak bergegas terlebih dahulu, Ia menghentikan langkahnya. Ia memutar badannya kembali menatap Anya.


"Lah apaan lagi? Cepetan keburu bapaknya pergi loh." Ucap Anya.


"Nya, gue mau minta maaf sama lu. Gue masih ngerasa ngeganjel banget. Ada perasaan bersalah banget di hati gue."


"Kiii, gue udah lupain masalah itu. Selain itu lu gak salah apapun. Jadi jangan sampai karena masalah ini jadi bikin persahabatan kita ancur. Kalau begitu ceritanya berarti si Lusi berhasil hancurin persahabatan kita."


Oki tersenyum mendengar penuturan Anya. Dia memang sahabat yang sangat dewasa. Jarang sekali Anya menyelesaikan masalah dengan emosi. Ucapan Anya membuat Oki lega. Jauh di lubuk hati paling dalam Oki juga ingin persahabatannya dengan Anya tetap utuh.


Anya melihat punggung Oki yang menjauh meninggalkannya. Anya tau bahwa Oki pasti merasa bersalah dengan kejadian penyerangan waktu itu. Anya pun tidak memiliki perasaan dendam pada Oki. Bagi Anya yang bermasalah adalah Lusi, jadi mau bagaimanapun yang Lusi lakukan, Ia tidak ingin hubungannya dengan Oki menjadi buruk karena ulah wanita itu.


***

__ADS_1


"Ikaaa.." Mela melenggang masuk ke dalam kosan Ika.


"Kenapa Mel? Sembab amat tuh mata?"


"Gue galau. Barusan abis anter Vico ke bandara. Gak ngerti kenapa gue ngerasa nyesek banget. Kayak gak rela aja gitu, Ka. Gak biasanya gue ngerasa kayak gini."


"Sabar Ka. Lu lagi sensitif mungkin. Baru ngerasain LDR dan menyiksa, jadi pas Vico nyamperin kesini, lu gak rela buat dia balik lagi dan bikin lu tersiksa lagi dengan LDR."


"Iya kali yah. Tapi rasanya itu berat banget gue ngelepas Vico kali ini Ka. Makanya gue sampe nangis bombay di bandara tadi."


"Sabar yah. Cup cup jangan nangis lagi."


"Iya, biar gak sedih gue seneng-seneng aja sama lu sama Anya. Jadi ke mall kan?"


"Jadi dong."


"Terus Anya gimana?"


"Dia masih ke kampus, ntar langsung nyusul ke mall katanya."


"Yaudah kalau gitu cabut sekarang yukk."


Saat keluar kosan Ika kaget ada Eric yang menunggunya di atas motor. Mela yang melihat Eric tak kalah kaget. Mela memicingkan mata ke arah Ika untuk mencari jawaban atas kehadiran Eric di depan kosan Ika.


"Gue juga gak tau Mel." Jawab Ika sambil mengangkat bahu, seolah mengerti pertanyaan di hati Mela yang tidak terlontarkan. Ika berjalan mendekati Eric.


"Loh Kak Eric ngapain kesini?"


"Mau pergi?" Tanya Eric sambil menoleh sebentar ke arah Mela yang berjalan di belakang Ika.


"Iya Kak. Mau ke mall. Kakak ngapain kesini?"


"Ada yang mau gue eeh.. aku.. omongin."


"Akuu.. tumben." Ika mengernyitkan dahi.


"Mau ngomong apa? Sekarang aja sekalian Ika dengerin."


"Jangan deh, gak enak sama Mela. Nanti kalau kamu udah balik, kabarin aku aja."


"Aneh.." Gumam Ika melihat kepergian Eric.


"Apanya yang aneh?" Mela yang mendengar langsung kepo dengan maksud Ika.


"Eeh.. itu tadi kak Eric yang langsung pulang. Kan aneh karena udah jauh-jauh kesini eeh pulang malah pulang."


"Lu naksir sama Kak Eric?"


"Haaah? Naksir? Ahahaha gak mungkin lah. Gue kan gak suka sama playboy begitu." Ika mengelak.


"Yakin? Gue dulu juga suka mainin cowok, eeh tobat juga pas udah ketemu Vico. Kalau lu beneran suka, lu taklukin dong si Eric sampe bisa bertekut lutut sama lu. Gak lagi tertarik sama cewek lain."


"Iya mana bisa gue taklukin kak Eric. Mantannya aja cantik banget, apalah gue yang cuma butiran debu." Ujar Ika tertunduk malu.


"Sssttt. Gak boleh insecure gitu. Siapa bilang lu butiran debu. Lu itu cantik Ka, cuma style lu sederhana banget kalau dibanding cewek-cewek ibukota. Gimana kalau ke mall kita belanja make up, terus lu belajar make up. Gimana?"


"Boleh.." Ika mengangguk sambil tersenyum antusias.


"Yuk cuusss.."


Mereka berdua pergi ke mall dan menunggu Anya di resto di dalam mall. Setelah Anya datang mereka pergi berbelanja make up bersama dan saling bercanda tawa menikmati waktu bersama. Setelah puas berbelanja mereka makan bersama dan bergegas pulang ke kosan Ika.


Sesampainya di kosan Ika, mereka bertiga mencoba make up untuk Ika. Dan benar saja Ika tidak kalah cantik jika berdandan feminin. Kulitnya yang putih di padupadankan dengan dress warna merah muda membuatnya sangat cantik. Ditambah polesan make up yang minimalis tidak terlalu tebal tapi membuatnya terlihat segar.


"Aaahhh ini mah cantik banget." Puji Mela.


"Iyaaa, gue sampe gak percaya liatnya. Ini beneran Ika kan?" Tambah Anya.


"Jangan gitu dong gaes. Gue malu banget nih." Jawab Ika tersipu sambil melihat dirinya di cermin.


"Ngapain malu, lu itu cantik banget Ika. Yang begini ini harus di kasih liat ke si Eric playboy biar tercengang dia." Ucap Mela.


"Iiih jangan dong, ntar dikiranya gue godain dia." Tolak Ika. Tak lama handphone Ika berdering. Eric.

__ADS_1


"Ika, aku di depan." Suara Eric dari seberang menunjukkan sedang menunggu Ika di depan.


Ika keluar dengan sedikit gugup karena tampilannya yang berbeda. Eric tercengang melihat Ika berjalan ke arahnya. "Cantik." Gumam Eric.


***


"Kok ngelamun sayang?" Tanya Ezza yang bingung melihat Sonya hanya mengaduk-aduk spagethi bolognesenya.


"Eeh sorry sorry sayang. Lagi gak fokus. Tadi kamu nanya apa?"


"Kamu ngelamunin apa sayang?"


"Eemh, sayang aku mau nanya sesuatu sama kamu boleh?"


"Boleh sayang, silakan tanya apapun supaya kamu gak kepikiran lagi."


"Eemh, kamu sama Selly itu.. maksud aku kamu ke Selly itu gimana? Aduuh gimana ya maksudnya. Maksud aku, apa kamu ada perasaan ke Selly?" Sonya kebingungan menata kata-kata yang keluar dari bibirnya.


"Aku menganggap Selly hanya teman baik. Bagaimanapun dia tetap seseorang yang hadir dalam perjalanan hidupku. Kalau untuk perasaan ke Selly. Aku tidak ada perasaan istimewa apapun ke Selly sejak awal kami bertemu. Emang kenapa sayang kok nanya gitu?"


"Kalau misal Selly mau kembali sama kamu demi kebahagiaan atau masa depan Airelle gimana?" Ezza nampak berpikir sebelum menjawab.


"Menurutku kebahagiaan Airelle bukan serta merta hanya karena aku dan Selly sepenuhnya kembali menjadi suami istri. Perhatian tulus yang tercurah untuknya adalah sumber kebahagiaan yang sesungguhnya. Percuma juga kalau aku dan Selly bersama tapi saling menyakiti karena tidak ada perasaan satu sama lain."


"Kalau semisal Selly ada perasaan sama kamu, dia ngajak kamu rujuk demi Airelle, gimana? Apa kamu mau belajar cinta sama dia?"


"Aku kan udah punya kamu. Orang yang aku sayangi. Jadi aku rasa aku gak perlu belajar cinta sama Selly dan memaksakan hubungan karena orang lain. Aku pernah di posisi itu, memaksakan pernikahan karena kebahagiaan orangtua. Tapi rasanya tersiksa. Aku yang sekarang ingin menjalani hidup dengan orang yang aku sayangi, kamu Sonya."


Sonya tersenyum mendengar penuturan Ezza. Hatinya terbang melayang saat mendengar bahwa Ezza lebih memilihnya untuk menjalani masa depan.


"Sayang, kenapa kok tiba-tiba tanya begitu?" Tanya Ezza menaruh curiga dengan sikap Sonya yang tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Gak papa sayang. Aku cuma penasaran aja. Seberapa besar rasa sayang kamu sama aku. Ternyata besar banget." Ucap Sonya sambil senyum-senyum.


"Terus kalau udah tau rasa sayangnya sangat besar, kamu mau ngapain?"


"Aku mau... emmhh.. mau menjalani masa depan sama kamu." Sonya memandang mata Ezza. Ezza terbelalak mendengarnya.


"Serius sayang?"


Sonya mengangguk dan tersipu.


"Aku mau kita bangun keluarga yang bahagia, yang membuat anak-anak kita tumbuh sehat, bahagia dan selalu bangga punya orangtua seperti kita. Aku pengen kita berdua selalu menjadi teman hidup menjalani sisa hidup kita sampai menua. Saling berbagi cerita saat penat dan memberikan pelukan saat kita lelah. Ezza.. ayo kita.." Ucap Sonya menggenggam tangan Ezza di atas meja.


"Jangan dilanjutin.. Harusnya aku yang ngucapin itu semua, bukan kamu." Potong Ezza.


"Sonya, maukah kamu menikah denganku?" Ucap Ezza.


Sonya mengangkat tangannya menunjukkan cincin yang tersemat manis di jarinya.


"Cincinnya udah dipake, berarti mau gak mau harus tetep mau dinikahin kamu." Ucap Sonya. Mereka berdua tergelak.


***


Sore hari Oki mencoba menemui Yoga di kantor polisi hendak meminta maaf atas semua perbuatan Lusi. Ia memang sudah meminta maaf lewat Anya, tapi hatinya masih merasa bersalah. Bagaimanapun Yoga menjadi korban dari preman-preman itu sampai harus di operasi.


"Permisi, bisa bertemu dengan Pak Yoga?" Tanya Oki di meja depan yang dijaga oleh beberapa petugas.


"Bisa langsung di ruangannya saja. Di sebelah kanan lurus saja."


"Terima kasih."


Oki mencari ruangan Yoga dan dengan mudah Ia menemukannya karena tertera nama di depan pintu. Oki mengetuk pintu dan mendapat sahutan dari dalam. Oki masuk.


"Permisi, Pak."


Yoga melihat Oki di ambang pintu.


"Loh temennya Anya kan? Masuk." Titah Yoga. Oki masuk dan duduk di hadapan Yoga.


"Ada apa kesini? Sendirian?"


"Iya sendirian saja. Saya kesini mau minta maaf atas kejadian tempo hari. Saya tidak menyangka mantan pacar saya tidak terima dengan keputusan saya untuk berpisah. Dia gelap mata dan menyalahkan semua penyebab perpisahan kami pada Anya. Padahal Anya tidak bersalah dalam hal ini."

__ADS_1


"Lalu kenapa mantan kamu itu bisa sampe seperti itu dengan Anya? Memang apa yang sudah Anya lakukan? Atau yang pernah kamu lakukan pada Anya mungkin?" Yoga memicingkan mata, Ia sedikit curiga ada yang disembunyikan Oki karena tidak mungkin seseorang melakukan tindak kejahatan sampai senekat itu tanpa suatu sebab. Oki jujur pada Yoga tentang semuanya. Masa lalu awal persahabatannya dengan Anya. Mereka berbincang cukup lama, hingga menjelang malam. Oki pamit keluar ruangan Yoga dengan tertunduk lesu. Ia merasa sedih, namun memang semua adalah konsekuensi yang harus Ia terima.


__ADS_2