
Selly memandangi Airelle yang sedang tidur siang dengan pulasnya. Ia baru ingat bahwa siang ini ada janji dengan temannya membahas lowongan kerja di rumah sakit sebagai apoteker. Sebelum menikah, Selly sempat bekerja. Namun, karena menikah dan hamil Selly terpaksa berhenti bekerja. Setelah Airelle lahir pun, Selly harus ikut kembali dengan orang tuanya. Beruntungnya orang tuanya mau menanggung kehidupannya dan cucunya. Akan tetapi sekarang Ia merasa sudah waktunya untuk bekerja kembali, terlebih Airelle sudah cukup besar untuk ditinggal bekerja.
Selly memang merasa tertarik dengan Ezza, terlebih perhatiannya dengan Airelle. Ia sangat ingin Ezza yang menjadi ayah dari Airelle. Seandainya Ia bisa memutar waktu. Ia sangat menyesali keputusannya yang dulu yang menyebabkannya hamil dan menjadi merana seperti ini. Keputusannya untuk melakukan kecurangan pada Iqbal. Menghianati Iqbal yang tulus padanya.
Hubungan Selly dengan Iqbal kandas karena perselingkuhan Selly dengan seseorang. Hal ini membuat Iqbal patah hati. Hubungan dengan Iqbal yang berakhir membuat Selly memutuskan berpacaran dengan selingkuhannya itu. Selama berpacaran dengan Iqbal, Ia selalu dijaga dan disentuh. Berbeda dengan lelaki tersebut, Ia merenggut semuanya dan menyebabkan Selly hamil. Awalnya Selly ingin berterus terang kehamilannya pada laki-laki itu. Tapi ternyata Ia melihat laki-laki itu dengan wanita lain. Setelah sakit hati Selly memutuskan menghilang dari kehidupan laki-laki itu. Ia tidak mau anaknya tau siapa ayahnya. Cukuplah bagi Selly Ia yang menanggung semuanya karena kelakuannya salah memilih laki-laki. Bahkan dengan mudahnya menyerahkan mahkotanya.
Karena hal itu, Selly merasa tidak rela melepaskan Ezza yang ternyata berbeda dengan ayah Airelle. Ia terlambat menyadari ketertarikannya karena pernikahannya dengan Ezza dulu dilakukan oleh perjodohan kedua orang tuanya. Tidak mau menyesal seperti di masa lalu, menyakiti Iqbal dan memilih laki-laki lain, yang menyebabkan Selly ingin mendapatkan Ezza sekarang.
Selly sudah bersiap dan bertemu di cafe dengan temannya.
"Halo Selly."
"Haii, sorry nunggu lama kah?"
"Enggak, gak papa kok. Ini gue juga baru sampe."
"Terus gimana info lowongannya itu?"
"Iya, dirumah sakit tempat gue kerja ada lowongan apoteker. Kalau mau daftar berkasnya kasih ke gue aja nanti gue kasih ke hrd."
"Waah, iya iya. Ini berkas gue. Tapi gue belum bikin lamaran kerjanya. Emang lu kerja di rumah sakit mana?"
Belum sempat terjawab, teman Selly tersebut menerima telpon darurat dari rumah sakit dan mengharuskannya kembali.
"Selly, gue mesti balik kayaknya. Berkas lu gue bawa ya."
"Tapi ini belum ada surat lamarannya, gue gak tau lu kerja di rumah sakit mana jadi belum nulis lamarannya."
"Yaudah ntar gue tulisin aja deh. Gue buru-buru mesti balik kerja nih. Gue duluan yah. Bye."
Teman Selly itu berlalu meninggalkan Selly yang terdiam.
Bruuuuaaakkkk..
"Sorry..Sorry.." Ucap Selly berjongkok membantu lelaki di depannya mengambil beberapa berkas yang berhamburan karena bertabrakan dengannya. Selly mengumpulkan berkas tanpa memandang lelaki tersebut.
Selly yang duduk di cafe tadi, beranjak dan hendak berbalik badan. Tanpa Ia sadari ada seseorang yang berjalan dibelakangnya. Membuat tabrakan tidak terelakkan.
Setelah terkumpul berkas di tangan Selly, Ia menyerahkan ke lelaki tersebut.
"Ini berkasnya." Ucap Selly sambil mendongakkan kepala. Mereka bertatapan, Selly tercengang. Bola matanya membesar karena kaget dengan apa yang Ia lihat.
"Selly.." Ucap lelaki itu dengan wajah yang juga kaget. Selly bergegas keluar dari cafe itu tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Lelaki itu mengejar Selly. Selly yang menyadari dirinya dikejar, mempercepat langkahnya.
"Selly.. Tunggu.."
Lelaki itu berhasil mengejar Selly, Ia memegang lengan Selly membuat Selly terpaksa menghentikan langkahnya.
"Sorry, gue rasa gak ada yang perlu dibicarain." Ucap Selly.
"Selly, tunggu. Kamu apa kabar Selly?"
"Baik, aku balik dulu. Lepasin tanganku."
"Kamu kerja dimana sekarang?" Tanya lelaki itu tak menggubris ucapan Selly untuk melepaskan lengannya.
"Lepasin. Aku mesti pulang sekarang. Anak aku dirumah nungguin."
"Anak? Jadi kamu udah punya anak?"
"Iya, aku sudah punya anak."
"Sudah menikah?" Tanya lelaki itu memastikan.
"Sudah." Jawab Selly yakin agar lelaki itu melepaskan tangannya dan Ia bisa segera pergi.
"Lepasin tanganku. Aku gak mau orang lain salah paham nantinya."
Lelaki itu mengendurkan pegangan tangan pada lengan Selly. Selly berlalu pergi meninggalkannya terpaku seorang diri. Lelaki itu seolah tak percaya bahwa Selly sudah menikah dan memiliki seorang anak. Lelaki itu mengambil handphone di saku celananya dan menelpon seseorang.
"Halo.. Tolong cari informasi tentang seseorang."
"Baik Pak."
__ADS_1
***
"Tumben ngajak kencan sayang." Ucap Sonya.
"Ya gak papa sayang. Kita kan udah kerja keras ngurus pernikahan kita. Perlu juga waktu dan momen menikmati waktu berdua dong." Jawab Ezza.
"Hmm, iya juga yah. Mesti healing biar gak setress." Sonya tersenyum dan menggandeng tangan Ezza.
Mereka berjalan di mall dan memutuskan menonton film terbaru untuk menikmati waktu mereka.
Setelah menonton, mereka berdua memilih untuk pergi ke apartemen Ezza untuk membersihkannya dan merenovasinya sedikit, karena nantinya Sonya tinggal disana. Walaupun hanya sementara karena mereka berencana mencari rumah tinggal. Namun, walapun hanya sementara Ezza tetap ingin memberi tempat tinggal yang nyaman bagi Sonya.
Mereka sampai di apartemen Ezza. Saat pertama kali masuk, Sonya merasa canggung dan malu. Ia berdiri di depan pintu. Ezza yang masuk mendahului, berbalik menatap Sonya.
"Ayok masuk sayang. Aku gak gigit kok."
"I iya sayang."
Mereka berdua mengecek kondisi apartemen dan menyesuaikan dengan kebutuhan Sonya. Mereka memutuskan untuk tidak terlalu merenovasi terlalu banyak. Sonya akan membawa sebagian barangnya yang penting saja saat pindah nanti. Jika ada barang yang Ia butuhkan bisa mengambil bolak balik di rumah mama.
"Beneran cuma mau nambah lemari aja sayang? Apa mau ganti bed? Aku bakal turutin biar kamu nyaman dan betah."
Apartemen Ezza terlihat bersih, namun memang sangat sedikit furniture di dalamnya. Bahkan di kamar tidur, hanya ada ranjang dan lemari kecil saja. Yang sangat dipastikan tidak akan cukup untuk pakaian Sonya nantinya.
"Gak usah deh sayang. Kasurnya masih nyaman kok." Sonya duduk di kasur mencoba mengetes pegasnya dengan menaik turunkan badannya. Sonya memandang kasur king size yang rapi tersebut.
"Jadi ini tempat tidurnya sayang. Kasurnya gede, tapi sendirian. Kesepian ya pasti." Goda Sonya.
"Kamu mau godain ceritanya?" Ezza memicingkan matanya. Ia mencoba menahan diri dengan sangat keras. Bagaimana tidak, mereka berada di dalam kamar dan hanya berdua. Belum lagi tingkah Sonya yang menggodanya. Sungguh ujian yang sangat berat bagi Ezza.
"Gak godain kok, kan cuma nanya. Sayang tidur di kasur segede ini gak kesepian?"
"Emang kalau kesepian, kamu mau nemenin?" Ezza mencoba menanggapi godaan Sonya. Ia duduk di samping Sonya sekarang.
"Iya nanti aku temenin kalau sudah sah." Ucap Sonya malu.
"Ooh kirain mau ditemenin sekarang." Ezza membaringkan badannya di kasur dengan menggunakan kedua tangannya menjadi pengganti bantal. Membuat Sonya salah tingkah.
"Iya gak sekarang sayang. Udah aah, kok jadi kamu yang godain aku sekarang." Sonya makin tersipu.
"Udah aah, aku keluar aja." Ezza dengan sigap menarik Sonya hingga terjatuh di atas badan Ezza. Jantung Sonya berdegup kencang karena tubuhnya yang menindih tubuh Ezza. Sepersekian detik Sonya tersadar. Ia hendak beranjak namun tangan Ezza berada dipinggangnya menahan untuk tidak beranjak.
"Sayang, tunggu sah dulu." Sonya mulai panik. Ezza terdiam sambil menahan pinggang Sonya dan mengikis jarak antara mereka.
Ezza menatap Sonya lekat, Sonya salah tingkah. Wajahnya memanas karena ini pertama kalinya berada dalam posisi seintim ini dengan lelaki.
"I love you, Sonya."
"I love you, too." Balas Sonya. Sonya mempersiapkan diri untuk kecupan ataupun ciuman. Namun, Ezza segera duduk dan tidak melakukan apapun. Sonya terheran, setelah jarak sedekat itu tapi... Sonya sedikit kesal tapi kalau menunjukkan kekesalan itu sama saja menunjukkan bahwa Ia adalah wanita agresif.
Ezza berdiri, mengajak Sonya yang masih sedikit kesal, melihat ruangan yang lain. Sonya berusaha terlihat tenang.
Mereka sampai di dapur. Dapur yang cukup rapi dan sangat minimalis. Sangking menimalisnya sampai tidak ada bahan makanan ataupun alat masak yang mumpuni.
"Kayaknya mesti beli alat-alat masak deh, yang. Nantinya kan pasti sering masak. Dan alat masak pun kalau kita pindah juga bisa dibawa. Jadi, gak percuma."
"Iya boleh sayang. Kamu yang atur aja sayang perlunya apa aja."
"Oke siap nanti aku list perlunya apa aja."
Mereka sudah selesai menentukan apa saja yang diperlukan. Sekarang Sonya duduk di kursi ruang tengah sambil beristirahat sejenak.
"Mau beli keperluannya sekarang atau gimana?" Tanya Ezza sambil membawakan minuman untuk Sonya.
"Next time aja sayang. Kan sekarang waktunya quality time kita. Masa jadi belanja keperluan." Ucap Sonya mengingatkan.
"Emmhh, terus maunya ngapain kalau quality time emang?" Tanya Ezza sembari duduk di sebelah Sonya.
"Mau apa yah.." Sonya nampak berfikir sambil memicingkan mata. Ezza dengan sabar menanti jawaban kekasihnya itu.
"Kalau begini, gimana yang?" Sonya menghamburkan badannya ke pelukan Ezza. Ezza terkejut.
"Haah? Emmhh, ya gak papa begini." Sonya menyandarkan kepalanya di dada Ezza yang bidang. Kedua tangannya memeluk pinggang Ezza. Ezza awalnya kaget namun kini tangannya mengelus rambut dan punggung Sonya.
__ADS_1
"Kalau ditempat umum kan malu mau peluk-peluk. Kalau berdua gini kan gak bakal diliatin."
"Mau lebih dari peluk-peluk juga gak ada yang liatin." Ucap Ezza asal.
Sonya mendongakkan kepalanya. Mendekatkan wajahnya ke wajahnya Ezza dan mengecup bibir Ezza. Sonya tersenyum.
"Sudah lebih. Kalau mau yang lebih lagi, sabar dulu yah. Bukan kamu yang bersabar, aku juga sabar kok." Sonya memeluk Ezza kembali lebih erat.
Ezza tersenyum kegirangan, Ia mengecup kening Sonya.
***
Ika dan Eric berencana akan keluar bersama. Seperti yang telah mereka bicarakan bahwa Ika akan berusaha membuka hatinya dan percaya pada Eric. Begitupun Eric yang akan membuktikan keseriusan pada Ika.
Eric sampai di depan kosan Ika. Saat hendak berangkat, handphone Ika berdering. Mela memanggil.
"Halo Mel."
"Ika, lu di kosan kah?"
"I iya di kosan. Kenapa?" Ika menatap Eric di dekatnya.
"Gue boleh kesana? Gue ngerasa sedih lagi. Bingung mau kemana lagi."
"I iya Mela. Lu kesini aja. Ati-ati tapi jangan ngebut."
"Oke, aku kesana sekarang."
Mela mematikan sambungan telponnya.
"Kak, sorry banget aku gak bisa pergi sekarang. Mela mau kesini soalnya dia galau lagi." Ucap Ika lirih merasa bersalah pada Eric.
"Iya gak papa, Ka. Aku paham kok. Mela pasti sangat butuh sahabat sehebat kamu."
"Soalnya kita udah sepakat untuk selalu ada buat Mela. Kita tau banget kesedihan yang dialami Mela. Pasti berat banget yang dirasain. Kehilangan orang yang disayangi untuk selamanya."
"Makanya aku gak mau sedih dan terpuruk karena kehilangan. Aku maunya berusaha buat dapetin kamu sampai kamu bener-bener yakin."
"Iih apaan coba, gombal banget. Tapi kakak gak marah kan kita gak jadi jalan sekarang?"
"Marah? Buat apa aku marah. Kalau kamu batalin kita jalan karena cowok lain, baru deh aku marah. Eeh, tapi aku gak ada hak juga untuk marah ya. Pacar aja bukan." Jawab Eric tertunduk lesu.
"Sabar ya Kak. Tunggu sampai Ika bener-bener yakin dengan semuanya. Ika gak pengen sampai nantinya nyakitin perasaan kakak."
"Iya Ika, aku bakal nunggu kamu yakin sama aku. Sampai kapanpun aku tunggu. Supaya kamu bener-bener percaya kalau aku serius." Eric meyakinkan.
"Makasih ya kak. Sorry juga buat hari ini. Kakak udah jauh-jauh kesini padahal."
"Iya Ika, gak papa. Tenang aja, santai. Jangan dipikirin ya. Aku paham kalau Mela sangat butuh sahabatnya disaat seperti ini. Jadi aku rela-rela aja kalau gak jadi pergi karena Mela mau nyari teman ngobrol supaya gak sedih."
"Pastinya kak, Mela kalau dirumah kesepian karena mamanya kerja. Jadi dia mending disini aja, bisa aku awasi apa yang dilakuin sama dia."
"Iri banget sama persahabatan kalian." Ucap Eric tersenyum.
"Emmhh, mau ngerasain sahabatan gitu?"
"Eeeehhh, jangan jangan. Kalau kita sih pasangan aja. Pasangan yang bener-bener loh yah, bukan friend zone."
"Ahahaha, aku friendzone in aja deh kalau gitu." Goda Ika.
"Jangan dong. Aku yang jadi galau lagi nanti."
"Ahahaha iya iya enggak kak."
"Yaudah,kalau gitu aku balik aja yah. Gak enak kalau Mela datang dan aku masih disini. Dia pasti sungkan, dan bisa-bisa mikir yang aneh-aneh."
"Iya kak. Ati-ati baliknya yah kak."
Eric bergegas pergi, Ia kembali pulang. Pupus sudah rencana hari ini untuk pergi berdua dengan Ika. Namun mau bagaimana lagi, Ia harus memahami Ika agar Ika mau membuka hati untuknya.
Ika mengirimi pesan pada Eric.
"Maaf ya kak, Ika bener-bener gak enak jadinya. Semoga next time bisa ketemu lagi buat janjian yang tertunda."
__ADS_1
Eric sumringah membaca pesan Ika. Setidaknya pengorbanan untuk memahami Ika berjalan mulus. Semoga kedepannya bisa ada waktu lebih lama saat bersamaan.
Sesaat kemudian Mela datang ke kosan Ika dan melanjutkan sesi curhatnya. Kesedihan melanda Mela saat merasa kesepian.