
Yoga berencana kembali ke ibu kota malam hari setelah menghabiskan waktu sejenak dengan Anya.
"Aku balik dulu ya sayang. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan telat makan, terus jangan lupa kabarin aku. Yang paling penting gak boleh macem-macem." Pesan Yoga panjang lebar pada Anya membuat Anya tersenyum mendengarnya sambil mengangguk-angguk.
"Iya sayang, kamu juga hati-hati baliknya. Gak usah ngebut terus kabarin kalau udah sampai rumah." Balas Anya.
Keduanya melepas genggaman tangan erat untuk membiarkan Yoga menuju mobilnya. Tak lama mobil Yoga berjalan perlahan meninggalkan Anya yang berdiri di depan kosannya dan melambaikan tangan melihat kepergian Yoga.
Anya sudah tidak melihat lagi mobil Yoga, Ia memutuskan masuk ke dalam. Namun langkah Anya terhenti saat mendengar Adit memanggilnya.
"Kak Adit, kenapa kak?" Tanya Anya dengan suara cukup keras membuat Adit mendengar ucapan Anya saat Adit berjalan menghampiri.
"Gak papa. Mau ngobrol aja." Jawab Adit setelah berdiri di dekat Anya.
"Oooh gitu. Anya kirain ada masalah kerjaan kak."
"Enggak kok, kerjaan beres semua. Kamu udah makan malam?"
"Sudah kak, tadi makan sama pacar Anya sebelum dia balik." Jawab Anya.
Anya mendengar suara riuh berasal dari perut Adit membuat Adit meringis malu.
"Kakak belum makan?" Tanya Anya.
"Iya belum, lupa mau makan karena asik ngerjain laporan." Jawab Adit.
"Makan dulu kak. Dari pada masuk angin nanti."
"Mau nemenin gak? Lagi pengen ada temen ngobrol soalnya. Eeh tapi kalau kamu gak keberatan, kalau kamu capek dan mau istirahat aku gak papa kok sendiri." Anya berpikir sejenak. Ia tidak enak menolak ajakan Adit mengingat sikap Adit yang sangat baik padanya selama ini.
Anya menyetujui ajakan Adit untuk menemaninya makan malam.
***
"Ngapain sayang?" Tanya Ezza saat melihat Sonya sedang melihat sesuatu di layar tablet.
"Lagi baca tentang cara mudah melahirkan normal sayang. Memang sih lahirannya masih lama, tapi setidaknya mesti mempersiapkan mental dan pikiran supaya benar-benar siap." Jelas Sonya.
"Apa saja yang perlu dilakuin sayang?"
"Emmmhh, banyak gerak sih intinya sayang. Tapi nanti trimester tiga. Terus kalau mental pasti butuh support suami dan keluarga. Jadi sayang mesti jadi suami siaga."
"Pasti sayang. Aku bakal siaga buat kalian berdua." Ucap Ezza membuat Sonya tersenyum.
"Lucu sayang.." Ucap Sonya menunjukkan baju bayi yang tidak sengaja dilihatnya di layar tablet.
__ADS_1
"Iya lucu. Tapi itu kalau anaknya cewek sayang. Kalau anaknya cowok gak bisa." Sonya mengangguk setuju.
"Sayang maunya cowok apa cewek?"
"Emmhh, apa aja yang penting ibu dan bayinya sehat. Tapi kira-kira kapan bisa keliatan cowok ceweknya?" Tanya Ezza penasaran.
"Kalau gak salah 4 bulan sampai 5 bulan gitu udah bisa keliatan kok. Tapi itu kan baru prediksi sayang. Memang lebih baiknya beli perlengkapan bayi yang netral. Setelah lahir dan ketahuan cewek cowoknya baru deh beliin perlengkapan sesuai gendernya."
"Waahhh, bentar lagi dong sayang. Aku jadi penasaran." Ucap Ezza senyum-senyum sambil mengusap perut Sonya bagian bawah yang sedikit menyembul.
"Iya sayang, aku juga penasaran. Semoga sehat terus dedek sampai lahiran ya." Ucap Sonya ikut mengusap perutnya.
Keduanya saling menatap dan tersenyum lalu berpelukan.
***
Setelah makan malam bersama Mela dan Iqbal sering bertukar pesan satu sama lain. Iqbal menjadi sangat bahagia dengan perkembangan hubungannya dengan Mela. Iqbal terus bekerja keras menaklukkan hati Mela yang pernah patah.
Saat sedang praktek Iqbal terus menatap layar ponselnya berharap ada balasan pesan dari Mela yang tadi pagi dikirimkannya. Tak seperti hari-hari kemarin yang mendapat balasan cepat, pagi ini pesan dari Iqbal nampak tidak dibaca oleh Mela. Iqbal tau kalau Mela pasti pergi ke kampus untuk melakukan penelitiannya, namun kenapa sampai tidak bisa membalas pesannya sejenak.
Iqbal terus menunggu hingga siang hari namun tetap tak ada balasan. Iqbal terus mengecek ponselnya saat makan siang, Ia menjadi tidak nafsu makan karena pesan singkatnya belum jua dibaca oleh Mela.
Sampai malam menjelang tetap saja Iqbal menunggu-nunggu balasan. Tetap saja tidak aja pesan masuk dari Mela. Entah kemana Mela hari ini, bagi Iqbal Mela serasa hilang ditelan bumi. Bahkan saat Iqbal mencoba menelpon tetap tidak ada balasan apapun. Iqbal semakin gusar. Ia mengingat momen kebersamaan dengan Mela serta mengingat apa saja yang Ia perbincangkan dengan Mela kemarin-kemarin. Iqbal berpikir sejenak mencari apakah ada kesalahan yang dibuatnya hingga Mela tidak mau membalas pesannya. Namun, tak lama pikiran Iqbal berubah menjadi rasa khawatir. Ia takut ada hal buruk yang terjadi pada Mela.
Iqbal kembali menekan tombol memanggil namun hasilnya nihil. Ia segera bergegas menuju tempat parkir mobil dan memacu mobilnya ke rumah Mela.
"Kak Iqbal?" Ucap Mela kaget saat membuka pagar dan melihat kehadiran Iqbal di depan rumahnya.
"Mela.."
"Kenapa kak?"
"Kamu gak papa?" Tanya Iqbal penuh rasa khawatir.
"Mela gak papa kak. Memangnya kenapa?"
"Aku ada salah sama kamu?" Tanya Iqbal kembali.
"Salah? Salah apa kak?" Jawab Mela dengan raut kebingungan.
"Aku takut kalau ada salah sama kamu, soalnya pesan aku sejak pagi gak kamu balas." Cerita Iqbal dengan wajah sendu.
"Ya ampuuun! Maaf maaf kak Iqbal. Mela gak niat buat gak balas pesan kakak." Jawab Mela menggantung.
"Terus kenapa memangnya Mel kok gak dibales? Aku khawatir kamu kenapa-kenapa. Apalagi aku coba telpon juga gak mau angkat. Jujur, aku takut kamu marah sama aku." Ucap Iqbal jujur.
__ADS_1
"Sebenarnya handphone Mela ilang kak. Semalem Mela keluar sama Ika buat nyari makan waktu di kosan Ika ngerjain skripsi. Pas pulang ke kosan Mela baru sadar kalau handphone Mela gak ada. Pas cari di warung makan lagi udah gak ada." Jelas Mela.
"Terus Mela gak ada handphone?" Tanya Iqbal. Mela menggeleng.
"Sementara Mela gak pegang handphone kak, tunggu nabung dulu buat beli handphone yang murah-murah." Jelas Mela.
"Aku gak bisa hubungi kamu dong." Ucap Iqbal dengan mimik sedih.
"Maaf ya kak. Mela aja juga bingung gak ada handphone. Tapi mau bagaimana lagi, Mela juga salah udah teledor banget nyimpen handphone."
Iqbal hanya bisa mengangguk dengan raut yang sedih.
Iqbal pulang dengan rasa kecewa menerima kenyataan bahwa Ia tidak bisa bertukar kabar dengan Mela sampai batas waktu yang tidak diketahui. Iqbal berpikir sambil menyetir. Tak lama Iqbal terpikir ide agar Ia tetap bisa bertukar pesan dengan Mela.
Ting tong.. Iqbal kembali menekan tombol bel di rumah Mela.
"Loh kak Iqbal lagi. Kenapa kak?" Ucap Mela saat mendapati Iqbal di depan rumah.
"Mela, aku gak pengen sulit hubungin kamu. Plis terima ini." Iqbal menyerahkan dustbag bertuliskan merk handphone mahal. Mela kaget dan menerima dengan perasaan bingung. Mela mengecek dan kaget dengan handphone keluaran terbaru di dalamnya. Mela mengembalikan dustbag itu.
"Jangan kak, ini kemahalan. Mela gak enak nerimanya." Ucap Mela karena merasa sungkan.
"Pliiis terima Mel. Aku lebih tersiksa kalau gak bisa tau kabar kamu. Diterima yah." Iqbal memohon.
"Tapi kak, ini mahal banget. Mela gak mampu bayarnya." Ucap Mela.
"Siapa yang nyuruh kamu bayar. Kalau memang kamu mau bayar aku maunya dibayar 10 kali kencan sama kamu." Ucap Iqbal mencari peruntungan.
"Hahaha emang kencan sama makan malem kemarin apa bedanya?"
"Emmhh, berarti makan malam kemarin udah termasuk kencan ya?" Tanya Iqbal polos.
Mela mengangkat kedua bahu menandakan tidak paham.
"Yaudah, aku mau 10 kali keluar sama kamu. Baru aku anggep handphonenya lunas. Tapi pliiis kamu terima handphonenya. Kalau gak diterima, aku nangis disini nanti."
"Eeehhh, ngapain nangis. Ntar dikira tetangga aku ngapa-ngapain kakak."
"Kan kamu udah ngapa-ngapain aku. Buktinya aku sampai deg-degan gini ngobrol sama kamu." Ucap Iqbal sambil memegang dadanya.
"Yeeey, ada-ada aja kakak. Ngapain deg-degan coba."
"Plis terima yah Mel. Terus nanti langsung kabarin aku. Itu di dalamnya ada notes nomor aku. Aku pamit. Byeee." Iqbal menyerahkan dustbag dan berlalu menuju mobil.
"Kak Iqbal. Makasih banyak." Teriak Mela yang membuat Iqbal berhenti dan berbalik tersenyum ke arah Mela.
__ADS_1
***