
Malam hari Mela dan Vico mendatangi Anya di rumahnya.
"Anyaa." Mela memeluk Anya yang membukakan pintu.
"Mela." Balas Anya.
"Yuk masuk." Anya mempersilakan.
Mela dan Vico duduk di sofa ruang tamu.
"Gimana kondisi lu?"
"Gue baik. Jadi ini abis pacaran terus kesini?"
"Iya, Vico juga dadakan kesini. Tiba-tiba kasih surprise."
"Cieeee.. So sweet banget."
"Terus kondisi si pak polisi ganteng gimana?"
"Udah mulai membaik."
Mela menceritakan kejadian yang menimpa Anya tempo hari pada Vico. Vico sontak kaget mendengarnya.
"Lu pasti kaget banget yah. Sorry gue baru sempet nengokin, lu tau sendiri di proyek repot banget. Pas hubungin kamu mau ketemu, kamunya masih di pak polisi. Aku juga takut ganggu jadinya."
"Iih mana ada ganggu sih. Udah gak usah kawatir. Si Lusi udah ketangkep. Jadi udah selesai masalahnya."
"Baguslah. Terus lu sama Oki gimana?"
"Gue gak ketemu dia lagi sejak dari kantor polisi. Gue masih sibuk sama kesehatannya Kak Yoga. Gue gak tega, dia sakit karena gue, Mel."
"Iya gue paham perasaan lu."
"Gue gak ada masalah sama Oki. Jadi pasti kami akan baik-baik aja kok." Jelas Anya.
"Iya, gue harap kalian selalu baik-baik. Yang ngeselin kan si mantannya itu." Ucap Mela.
"Bucin tapi selingkuh." Ucap Anya sambil geleng-geleng kepala.
"Kalau lu ngomong bucin, gue kesindiri nih." Kata Mela sambil tertawa dan mengangkat telapak tangannya memamerkan cincinnya.
"Haaahh? Apaan nih? Serius nih kalian?" Anya menutup mulutnya tak percaya.
"Serius lah." Mela tersenyum menatap Vico, begitu pula sebaliknya.
"Aaaahhh, gue happy banget dengernya. Pokoknya gue doain semua lancar, sesuai dengan planning dan harapan kalian." Ucap Anya sumringah melihat Mela dan Vico.
"Makasih doanya, Anya." Vico tersenyum.
***
Sabtu malam Sonya janjian dengan Ezza akan menemui mama Ezza. Sonya merasa grogi sepanjang perjalanan. Ezza yang sedang mengemudi melirik Sonya di sebelahnya yang sedari tadi diam saja dan nampak mencoba menenangkan diri.
"Sayang, mama pasti suka sama kamu. Aku yakin." Ezza memegang tangan Sonya yang disatukan di atas pahanya.
"Iya sayang. Semoga. Aku grogi banget nih. Baru pertama kali bakal kenalan sama orangtua pacar."
Mereka sampai disebuah rumah yang berdekorasi kuno dengan hiasan kayu. Kursi di depan rumah juga terbuat dari kayu dengan ukiran khas jawa. Taman depan yang luas dengan tanaman yang hijau dan asri menambah kenyamanan rumah tersebut. Ezza membukakan pintu mobil, Sonya turun. Sonya menggunakan dress brukat putih lengan diatas siku, ditambah dengan sepatu hak yang tidak terlalu tinggi. Rambutnya dibiarkan terurai.
"Udah siap?"
Sonya mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju pintu depan rumah yang tertutup. Ezza mengetuk pintu. Tak lama pintu dibuka, nampak wanita paruh baya yang sangat anggun. Ezza menyalami punggung tangan wanita itu. Sonya juga ikut menyalami punggung tangan wanita paruh baya itu.
Mama Mirna adalah ibu Ezza. Suaminya meninggal 2 tahun lalu. Setelah mengetahui anaknya bercerai, kesehatan ayah Ezza mulai menurun. Ayah Ezza sering sakit-sakitan karena kepikiran nasib anak satu-satunya. Namun, Mama Mirna tidak menyalahkan perceraian Ezza sebagai penyebab kematian suaminya. Baginya, kematian suaminya dan perceraian Ezza adalah takdir yang memang tidak bisa terelakkan. Mama Mirna adalah sosok wanita yang lembut dan penyayang. Bahkan kedatangan Sonya disambut dengan hangat. Rasa gugup yang dirasakan dengan Sonya berangsur menguap, karena sambutan yang sangat hangat dari Mama Mirna. Mama Mirna menerima Sonya dan mengobrol banyak hal dengan Sonya. Mama Mirna bahkan memasak banyak makanan untuk menyambut kedatangan Ezza dan Sonya.
"Makasih tante, repot-repot sekali memasakkan sebanyak ini untuk kami." Ucap Sonya merasa sungkan.
"Kok tante, panggil mama saja." Ucap Mama Mirna sambil mengelus punggung Sonya.
"Gak repot kok, justru mama seneng dengan kedatangan kalian. Ezza sudah cerita banyak hal tentang Sonya. Tapi dari yang diceritakan Ezza ternyata aslinya lebih cantik lagi." Sambung Mama Mirna.
"Ya ampun tante, eeh mama. Sonya jadi malu. Terima kasih ya, Ma." Ucap Sonya dengan senyum mengembang.
__ADS_1
Sonya sangat bahagia. Mama dari orang yang Ia cintai bisa menerimanya dengan baik. Membuatnya semakin yakin dengan Ezza. Ia akhirnya tau darimana sifat lemah lembut dan perhatian yang dimiliki Ezza, semua menurun dari mamanya. Sonya makan di meja makan sambil tersenyum memandangi mama dan anaknya yang sedang melepas rindu. Ia kagum dengan Ezza yang memperlakukan Mama Mirna dengan lembut. Kini, mereka bertiga makan bersama di meja makan dan mengobrol seputar pekerjaan. Sonya bercerita bahwa sebenarnya Ezza adalah dosen dari adiknya. Ia juga menceritakan profesinya sebagai dokter, dan bisa bertemu Ezza karena Ezza menjadi pengawas di proyek paviliun rumah sakit.
"Makan yang banyak nak Sonya." Ucap Mama Mirna tersenyum.
"Iya, Ma." Sonya makan dengan lahap. Masakan Mama Mirna sungguh nikmat.
"Enak sekali masakannya, Ma." Ucap Sonya saat merasakan makanannya. Mama Mirna dan Ezza tersenyum mendengar ucapan Sonya.
"Oiya, Ezza. Bagaimana kabar Airelle? Mama sudah lama tidak bertemu dengan cucu mama."
"Airelle baik, Ma." Ezza melirik ke arah Sonya merasa tidak enak karena pertanyaan tersebut.
Mama Mirna tidak mengetahui bahwa Airelle sebenarnya bukan anak kandung Ezza. Karena Ezza tidak menceritakan penyebab sebenarnya perceraiannya dengan Selly. Ia takut kalau menceritakan yang sebenarnya akan membuat ayahnya saat itu emosi dan kecewa. Apalagi mendengar kabar perceraiannya saja sudah berpengaruh pada kesehatan ayahnya. Terlebih lagi Selly adalah anak dari teman baik ayahnya. Ezza berpikir, biarlah semua masalah ini Ia pendam. Ia bahkan rela menjadi pusat kemarahan kedua orangtuanya waktu bicara ingin berpisah dengan Selly. Namun kini, sudah saatnya Ia harus mengungkapkannya karena ada hati yang harus Ia jaga, hati Sonya.
"Ma, ada yang Ezza mau katakan sama mama." Ezza memberanikan diri menceritakan yang sebenarnya pada Mama Mirna untuk menunjukkan keseriusannya pada Sonya.
"Apa nak?" Tanya Mama Mirna dengan antusias. Ezza meletakkan garpu dan sendoknya dan berpikir sejenak untuk menyusun kata-kata yang akan Ia keluarkan dari bibirnya.
"Ma, Ezza ingi menjelaskan yang sebenarnya sama mama. Ezza tidak ingin ada kebohongan yang Ezza tutupi di depan mama. Apalagi Ezza ingin menunjukkan keseriusan Ezza pada Sonya. Mungkin Ezza harus meluruskan ini semua agar ke depannya tidak akan ada masalah."
Ezza melirik Sonya sejenak. Sonya menghentikan aktivitas makannya, menyimak ucapan Ezza. Begitupun Mama Mirna juga melakukan hal yang sama.
"Sebenarnya, Airelle bukan anak kandung Ezza, Ma." Ucap Ezza dengan berat.
"Apa?" Mama Mirna kaget mendengarnya.
"Jadi Airelle bukan cucu mama?"
"Iya, Ma. Airelle bukan cucu kandung mama. Tapi Ezza sangat menyayangi Airelle, Ma. Bagaimanapun dia anak yang tidak berdosa. Maafkan Ezza, Ma. Selama ini menyembunyikan kebenaran ini. Ezza hanya tidak ingin menyakiti hati mama dan almarhum ayah jika menceritakan keadaan sebenarnya dari perpisahanku dengan Selly."
"Memang bagaimana keadaan yang sebenarnya waktu itu nak?"
"Saat kami menikah, tak berselang lama Ezza tau kalau Selly ternyata hamil. Ezza belum pernah menyentuh Selly, Ma."
"Lantas siapa ayah kandung Airelle?"
"Ezza juga tidak tau, Ma. Selly tidak pernah mau menceritakan yang sebenarnya. Ketika Airelle lahir, hati Ezza luluh melihat bayi mungil itu, Ma. Oleh sebab itu, Ezza tidak keberatan untuk diakui sebagai ayahnya. Tapi sekarang Ezza serius dengan Sonya, setidaknya Ezza harus meluruskan semua masa lalu dihidup Ezza agar tidak menjadi masalah. Maafkan Ezza, Ma."
"Pasti berat untuk kamu saat itu, Nak. Mama benar-benar merasa menjadi ibu yang egois. Mama yang harusnya meminta maaf. Tidak semestinya mama memaksa kamu untuk menikah dengan wanita pilihan kami yang ternyata akan berakhir seperti ini." Mama Mirna semakin tidak bisa membendung kesedihannya. Airmatanya semakin deras.
"Ma, mama gak salah. Mama gak egois. Maafin Ezza kalau kejujuran Ezza membuat mama menangis. Sekarang Ezza sudah bahagia, Ma. Menemukan orang yang sangat Ezza sayang." Ezza memegang tangan Mama Mirna dan mengusapnya. Sonya terharu dengan pemandangan di depannya. Sudut matanya basah, Ia sekuat tenaga menahan agar airmatanya tidak tumpah.
Setelah selesai makan bersama, Ezza dan Sonya duduk di ruang keluarga untuk berbincang dan meminum teh. Tidak lama Mama Mirna datang membawa sebuah kotak kecil dan duduk di samping Sonya.
"Nak Sonya."
"Iya, Ma."
Mama Mirna membuka kotak kecil yang Ia bawa, kotak itu berisikan cincin berlian dengan model klasik. Mama Mirna memegang tangan Sonya dan memakaikan cincin tersebut di jari manis Sonya.
"Ini dulu cincin turun temurun dari keluarga ayahnya Ezza. Mama harap nak Sonya mau menerima dan memakainya. Mama tau bahwa Ezza sangat menyayangimu, Ia ingin membuka lembaran baru bersama kamu nak. Semoga kalian berdua selalu bahagia." Sonya memeluk Mama Mirna.
"Terima kasih, Ma. Cincin yang sangat indah." Ucap Sonya lembut.
Ezza dan Sonya pulang dari rumah Mama Mirna menjelang sore. Mama Mirna tinggal di luar kota yang dapat ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dari kota tempat Ezza dan Sonya tinggal. Sejak meninggalnya ayah Ezza, sudah berkali-kali Ezza membujuk mamanya untuk tinggal bersamanya. Namun, Mama Mirna enggan meninggalkan rumah yang penuh kenangan dengan suaminya. Walaupun suaminya pernah salah karena memaksa anak semata wayangnya dengan perjodohan, tapi almarhum adalah sosok yang penyayang keluarga. Mama Mirna selalu merasakan kebahagiaan bersama suaminya karena rasa sayang yang mereka pupuk dengan kuat.
Di perjalanan Sonya memandangi cincin yang melingkar di jarinya.
"Sayang, aku bahagia sekali."
"Bahagia kenapa?" Ucap Ezza pura-pura tidak tau.
"Karena hari ini, aku benar-benar yakin dengan keseriusan kamu." Ucap Sonya membuat Ezza tersipu.
"Aku memang serius sama kamu sayang. Aku mau kamu jadi ibu dari anak-anakku." Kali ini berganti Sonya yang dibuat tersipu.
***
Ika kembali ke kosannya. Baru saja Ia sampai saat sore hari, Eric menelponnya. Sungguh sosok Eric bagai cenayang yang mengerti Ika sekarang sudah sampai di kosannya.
"Pasti udah sampe kosan yah?"
"Kakak nih ngikutin yah? Kok bisa ngerti?"
__ADS_1
"Kan gue punya ilmu."
"Haah serius Kak?" Ika dengan polosnya percaya.
"Beneran, lu pasti lagi rebahan kan?"
Ika yang sedang rebahan langsung bangkit untuk duduk. Ia mengecek kamar kosannya apakah ada cctv yang terpasang.
"Kok kakak bisa tau. Serius nih, kakak gak pasang cctv kan disini?"
Eric tertawa terbahak mendengar kepolosan Ika.
"Ika Ika, gue kan cuma nebak. Kalau emang bener ya berarti kebetulan."
"Oooh, kirain kakak beneran punya ilmu. Kan serem yah."
"Ntar malem mau cari makan gak?"
"Emmh boleh."
"Oke, ntar gue jemput ya."
"Oke."
Malam hari keduanya keluar untuk makan malam. Mereka bertukar cerita satu sama lain tentang kegiatan mereka selama ini. Tak berselang lama ada wanita cantik yang menyapa Eric.
"Hai Eric. Apa kabar?" Sapa wanita itu mendekati meja Eric dan Ika.
"Eeh Sean. Baik. Lu sendiri apa kabar?"
"Gue juga baik. Lu lagi sama cewek lu?" Tanya wanita itu sambil melirik Ika.
"Cewek yang keberapa nih?" Bisik wanita itu tapi tetap bisa terdengar jelas oleh Ika.
"Lu sama siapa?" Eric mengalihkan pembicaraan.
"Sama temen gue, itu dia baru datang. Yaudah gue kesana yah. Bye." Wanita itu tersenyum pada Ika, Ika membalasnya dengan kikuk. Mood Ika yang awalnya bahagia, menjadi benar-benar kesal. Ia juga bingung kenapa merasa sekesal ini. "Apa iya gue cemburu?" Batin Ika. "Secara penampilan gue udah kebanting abis." Batin Ika sambil menghela nafas.
Ika hanya menggunakan kaos gombrong dan celana jeans dengan sepatu sneakers. Rambutnya pun Ia jepit cepol tanpa di styling. Wajahnya polos tanpa ada polesan make up, namun kulitnya yang putih bersih khas mojang bandung tidak membuatnya nampak kusam. Sedangkan wanita bernama Sean itu menggunakan rok mini dengan highheels, polesan make up yang tebal dan rambut yang di styling curly. Sungguh penampilan yang sangat berbanding terbalik.
"Kok diem aja?" Eric menyadari bahwa Ika menjadi diam saja sejak Sean pergi.
"Enggak, gak kenapa-kenapa."
"Itu tadi Sean, mantan gue."
"Ooo.." Ika mengangguk-angguk.
"Sial, bentukan mantannya aja begitu." Batin Ika. Ika kembali terdiam dan melamun.
"Ika.. Ika.. Wooii.. Lu ngapain sih bengong?"
"Eeh enggak gak papa. Gue cuma kepikiran mama papa. Lupa belum ngabarin kalau udah sampe." Ika mengambil handphone menghilangkan salah tingkahnya dan berpura-pura mengirim pesan pada orangtuanya. Padahal sudah jelas-jelas Ika langsung menelpon orangtuanya tadi sore saat sudah sampai. Setelah selesai berpura-pura mengirim pesan, Ika menyeruput minuman di depannya.
"Lu gak cemburu kan sama Sean?"
"Uhuukk." Ika tersedak mendengar pertanyaan Eric.
"Ngapain gue cemburu coba." Balas Ika sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
"Ya siapa tau cemburu."
"Enggak lah, jangan geer."
"Iya gue cuma meluruskan aja. Lu gak perlu cemburu. Dia bukan tipe gue."
"Bukan tipe tapi dipacarin juga." Jawab Ika sedikit sewot dengan alasan yang dilontarkan playboy di depannya.
"Iya dia nembak duluan. Gue juga lagi jomblo waktu itu, mau gak mau gue terima biar dia gak malu." Jawab Eric enteng. Ika semakin kesal, bagaimana mungkin beberapa saat tadi Ia sempat dibuat melayang kegeeran oleh playboy di depannya ini, tapi mengetahui mantannya saja membuat Ika kini merasa insecure.
"Terus kalau secantik itu bukan tipe kakak, yang jadi tipe kakak kayak gimana?"
"Kayak kamu, natural." Jawab Eric menatap mata Ika tajam. "Kuat Ika, lu gak boleh tergoda sama playboy ini. Pesonanya memang kuat banget." Batin Ika.
__ADS_1