
Om Faisal keluar kamar hotel setelah memberi kecupan perpisahan dan uang saku untuk Gista. Ia tak menyangka di depan kamar ada istri dan anak semata wayangnya dengan wajah merah padam penuh emosi. Tante Yuni dan Andre menghampiri Om Faisal yang kaget dan panik karena terciduk dengan Gista. Gista tak kalah kagetnya dibelakang Om Faisal.
"Ma, sabar ma. Papa bisa jelasin." Ucap Om Faisal pada tante Yuni yang sudah merah padam karena emosi.
"Jelasin apa? Dasar lelaki baj*ngan. Ini juga cewek gak tau malu. Dasar pelak*r." Tante Yuni menerobos masuk dan menjambak Gista dengan murka. Gista yang kaget dengan perlakuan tante Yuni hanya bisa berteriak kesakitan.
"Om tolongin Gista om. Tolong!" Teriak Gista.
Andre yang sedari tadi diam ternyata merekam semua pertengkaran sang ibu dengan pelak*r.
"Ndre, apa-apaan kamu? Berhenti rekam semuanya." Cegah Om Faisal mencoba merampas handphone Andre. Dengan sigap Andre menghindar, Ia tetap melanjutkan merekam aksi perselingkuhan ayahnya sendiri.
"Om Faisal, Tolooong! Aaakkkhhh, sakit. Lepasin!!" Gista mencoba mendorong tante Yuni.
Tante Yuni yang sudah merasa emosi dan tersakiti tetap tidak menyerah menyerang Gista dengan ganas. Sampai pada akhirnya Om Faisal berusaha menarik istrinya tersebut agar tidak menyakiti Gista lagi.
"Lepasiiin Ma, malu sama orang-orang." Ucap Om Faisal. Memang ada beberapa orang yang melewati kamar tersebut dan menoleh ke arah sumber keributan yang terjadi. Sampai akhirnya beberapa orang mulai menonton dari jauh.
"Malu malu kamu bilang? Kamu selingkuh tapi masih bilang malu? Dasar lelaki gak tau diuntung." Ucap Tante Yuni makin emosi. Ia menarik rambut Gista makin kencang hingga beberapa helai mulai rontok. Gista mengerang kesakitan karena selain dijambak, tante Yuni juga beberapa kali melayangkan tamparan dan cakaran.
"Dasar wanita ******. Kupastikan kamu hancur sehancur-hancurnya!" Ancam Tante Yuni.
Setelah puas menghajar selingkuhan suaminya, Tante Yuni melenggang pergi bersama Andre.
"Pastikan video itu viral. Biar tau rasa cewek itu." Ucap Tante Yuni pada Andre.
Andre sebenarnya tidak tega pada ayahnya diperlakukan seperti itu. Namun, sikap ayahnya padanya juga sangat membuatnya kecewa. Setelah pembatalan perjodohan oleh keluarga Sonya, Andre dipermalukan habis-habisan oleh ayahnya. Bahkan dengan prestasi sebagai pengacara yang mumpuni, ayahnya membatalkan firma hukum yang Ia janjikan. Ayahnya tidak setuju dengan pacar Andre yang dianggap tidak seperti wanita baik-baik. Dandanannya yang seksi tidak cocok mendampingi Andre. Oleh sebab itu, ayahnya ingin menjodohkan dengan Sonya yang memiliki karir dan keluarga yang baik.
Beberapa minggu Andre merasa kecewa karena pembatalan perjodohan tersebut membuatnya harus mengikis mimpinya memiliki firma hukum sendiri. Apalagi hubungannya dengan pacarnya juga pasti tidak bisa dilanjutkan ke jenjang yang serius. Awalnya Andre berpikir ayahnya benar, mencari wanita haruslah yang baik-baik dan sopan santun seperti mamanya. Tapi, beberapa minggu lalu Andre justru mendapati ayahnya bermain gila dengan wanita. Andre menelusuri siapa wanita itu, dia tak lain adalah seorang model yang memang sering berkencan dengan pria-pria beristri. Andre makin geram dengan ayahnya. Ia merasa ayahnya sok suci, tapi sama saja Ia juga menyukai wanita yang seksi. Munafik, itulah yang ada di benak Andre.
Tak berselang lama, Tante Yuni menangis dan mengetahui perselingkuhan suaminya. Ia mengadu pada Andre dan menceritakan semua keluh kesahnya. Andre berpura-pura kaget walaupun sebenarnya sudah mengetahui semuanya. Tante Yuni meminta bantuan anaknya untuk pemisahan harta dengan suaminya. Perusahaan yang dikelola Om Faisal selama ini adalah milik keluarga Tante Yuni. Untungnya semua saham dan surat kepemilikan masih atas nama Tante Yuni. Tapi tentunya Om Faisal tidak akan diam saja jika semua jatuh ke tangan Tante Yuni, karena selama ini Om Faisal lah yang bekerja keras untuk memajukan perusahaan tersebut. Andre akhirnya membantu mamanya agar Om Faisal mendapatkan ganjaran yang sesuai. Selain itu, Tante Yuni akan mengabulkan mimpi Andre jika Ia berhasil membantu mamanya mendapatkan haknya. Andre menyetujui, Ia tidak rela harta keluarganya jatuh ke jal*ng yang membuat hancur keluarganya.
***
Hari ini Anya akan bertemu dengan Yoga untuk melihat perkembangan rumah yang Yoga bangun. Mereka sampai di proyek di siang hari sehingga bisa berbincang dengan pekerja dan mengecek apabila ada kekurangan. Yoga melihat Anya dari jauh yang menjelaskan dengan detail pada salah satu pekerja. Yoga dibuat kagum, selain cantik Anya juga sangat pintar. Ia semakin dibuat jatuh cinta. Ingin rasanya Ia memiliki Anya sepenuhnya, menikahinya. Namun, Ia sadar bahwa hal tersebut bukanlah prioritas Anya. Bersabar adalah hal terbaik yang bisa dilakukan Yoga.
"Ngelamunin apa kak?" Tanya Anya membuyarkan lamunan Yoga yang tidak menyadari bahwa Anya sudah ada di depannya.
"Ooh enggak, cuma bayangin rumah ini kalau jadi. Kamu ngobrol apa tadi?"
"Cuma jelasin tulangannya aja kak, tadi ada yang salah pasang soalnya. Untungnya ini rumah tinggal, kalau udah gedung bertingkat bisa bahaya banget kak. Makanya tadi Anya jelasin ke bapaknya aja tanpa bermaksud menggurui. Karena kalau pekerja proyek pasti kan mereka berdasarkan pengalamannya. Selama ini baik-baik aja karena ya rumah tinggal bebannya gak seberapa, coba gedung bertingkat, bisa ambruk nanti jadinya kalau salah pasang tulangan." Jelas Anya yang membuat Yoga melongo tak memahami.
"Pinter banget sih kamu, pacarnya siapa sih ini."
__ADS_1
"Iiih apaan sih kak, gombal banget. Biasa aja, itu Anya pelajarin waktu magang dulu. Jadi sedikit-sedikit bisa paham."
"Tetep aja pinter banget, bikin aku jadi makin jatuh cinta."
"Iiih apaan sih kak. Jangan mulai ya gombal-gombal yang alay itu."
Mereka berdua bergegas ke mobil untuk berteduh dari teriknya matahari yang sedang menyengat.
"Kalau udah jadi, kakak mau pindah kesini sama keluarga kakak?" Tanya Anya.
"Maunya sih pindah kesini kalau udah jadi. Tapi keluarganya yang belum ada."
"Hah? Maksudnya? Emang mama papa kak Yoga kemana?"
"Maksudnya bukan keluarga yang itu. Tapi aku pengen pindah kesini sama keluarga yang aku bangun sendiri. Istri dan anak-anak aku nantinya." Yoga menatap Anya tajam. Anya menelan ludahnya sedikit gugup.
"Semoga bisa terkabul ya kak." Anya kikuk berusaha mengalihkan pandangan.
"Gimana skripsinya?" Tanya Yoga.
"Udah proses penelitian kak. Doain aja sesuai sama timeline yang Anya buat. Kalau sesuai mungkin 3 bulan lagi Anya sidang dan jadi sarjana. Yeeaay!" Ucap Anya sambil bersorai.
"Kalau sudah sarjana, planningnya mau ngapain?"
"Mau kerja lah kak, nanti kalau udah cukup pengalaman kerja mau lanjut S2 juga boleh." Celoteh Anya membuat Yoga cemberut.
"Ahahaha gak papa kok sayang, keriput keriput gitu aku tetap cinta." Goda Anya.
"Iih sayang mah gak paham." Yoga sebal.
Anya sebenarnya tau arah pembicaraan Yoga. Namun, membuat pacarnya itu sebal, sangat menyenangkan. Anya tentunya juga memikirkan langkah selanjutnya dengan Yoga. Apalagi keluarga Yoga sangat ingin Yoga segera menikah. Anya sebenarnya sangat berusaha sekeras mungkin menyelesaikan pendidikannya. Tidak ada waktu luang bagi Anya. Saat ada waktu luang, Ia lebih memilih membaca penelitian ataupun jurnal yang ada. Kalau lelah membaca Ia akan mencicil mengerjakan laporan penelitiannya sementara agar bisa Ia periksakan ke dosen pembimbingnya.
Setelah mengecek kondisi proyek, Yoga dan Anya pergi untuk makan siang sebentar. Setelah makan siang, Yoga mengajak Anya untuk menonton bioskop. Namun, Anya menolaknya. Yoga sedikit kecewa karena penolakan Anya, padahal jarang sekali mereka memiliki waktu senggang bersama. Berbeda dengan Anya, Anya justru ingin segera pulang agar bisa mencicil mengerjakan penelitiannya dan memberi progres untuk pertemuan dengan dosennya besok.
***
Mela pergi magang dan melamun di ruang kerjanya. Tak terasa sudah sore hari dan waktunya para pekerja untuk pulang. Mereka berpamitan dengan Mela. Mela masih betah di kantor hingga malam hari untuk mengusir rasa kesepiannya dirumah. Sampai Ia melihat jam yang melingkar ditangannya bahwa sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Mela melangkah gontai dari kantor menuju parkiran mobil. Mela masuk ke dalam mobilnya. Ia duduk dan melamun sendiri, menangis tersedu-sedu. Kehilangan seseorang memang akan makin terasa jika sudah berselang beberapa waktu. Disaat semua orang di sekitar Mela berpikir bahwa Ia kuat dan sudah mampu berdiri sendiri, disaat itulah kesepian mulai hadir menimbulkan kerinduan pada sosok yang meninggalkannya. Bayang kenangan yang pernah mereka rajut semua hadir dalam fikiran. Saat semua hadir bersamaan membentuk rasa rindu, namun, rindu itu tidak lagi memiliki tempat untuk disampaikan. Mela merasakan perih teramat sangat dihatinya. Pilu mengingat semuanya, semakin berusaha melupakan justru semua hal indah menggema dalam pikirannya.
Mela lelah dengan kesedihan ini, Ia menyeka airmatanya. Ia membuka tasnya, membuka kotak make up di dalamnya. Ia berdandan dengan tebal tidak seperti sehari-hari. Make up tersebut biss menutupi mata Mela yang bengkak karena menangis. Terakhir Ia memoleskan lipstik merah menyala. Ia membuka kemejanya, kini hanya tanktop hitam yang menutupi tubuhnya. Mela mengganti sepatu sneakersnya dengan highheels yang ada di mobil. Terakhir tak lupa Ia menyemprotkan parfum.
Tak jauh dari mobil Mela, ada Iqbal yang memperhatikan gerak-gerik Mela sejak tadi. Saat Mela memacu mobilnya, Iqbal mengikuti mobil Mela dari belakang. Entah kenapa Iqbal merasa khawatir dengan kondisi Mela.
__ADS_1
Mela pergi ke tempat hiburan malam. Musik yang ramai mengusir kesepian Mela untuk sesaat. Mela memilih duduk di meja bar dan memesan minuman beralkohol. Ia tak memikirkan lagi kalau sampai nantinya mabuk. Setelah minumannya datang Mela menikmati minuman dan sesekali berjoget mengikuti alunan musik. Mela akhirnya turun untuk bergoyang dengan pengunjung yang lain.
***
Iqbal mengikuti mobil Mela, sialnya Ia terjebak lampu merah dan tertinggal cukup jauh. Setelah memacu dengan kencang Iqbal berhasil menemukan mobil Mela yang parkir di depan tempat hiburan. Iqbal segera memarkir mobilnya dan turun untuk mencari Mela.
Iqbal kaget mendapati Mela sudah berlenggak lenggok dengan tariannya mengikuti alunan musik edm. Banyak laki-laki disekitarnya ikut bergoyang. Iqbal geram melihat laki-laki itu melihat Mela dengan pandangan nakal. Mela justru cuek dan terus bergoyang yang makin memperlihatkan lekuk tubuhnya. Iqbal melangkah mendekatinya, menarik tangan Mela. Mela terhuyung jatuh ke pelukan Iqbal. Aroma alkohol yang sangat kuat tercium oleh Iqbal, Mela sudah sangat mabuk.
"Mel, Mela. Sadar Mel." Iqbal menepuk pipi Mela.
"Vicooo. Akhirnya kamu datang. Aku nungguin kamu sayang." Mela memeluk Iqbal makin erat membuat Iqbal bergetar.
"Mela, sadar Mel. Ini gue, Iqbal. Lu udah mabuk parah. Ayok balik." Ajak Iqbal dan berusaha melepaskan pelukan Mela, Iqbal takut Ia hilang kendali. Saat melepaskan pelukan Mela, Iqbal justru dikagetkan dengan kecupan yang mendarat dipipi kirinya.
"Sayang, aku kangen banget. Jangan tinggalin aku lagi ya. Aku selalu jadi milik kamu, kamu selalu jadi milik aku." Ucap Mela membuat Iqbal menelan saliva dan berusaha menahan dirinya. Mela langsung tertidur di bahu Iqbal tak sadarkan diri. Iqbal menggendong Mela ala bridal, membawanya keluar ke parkiran dan memasukkannya ke mobil.
Di dalam mobil, Iqbal menatap Mela yang terlelap, wajahnya yang cantik dan menggoda membuatnya semakin tertarik. Iqbal menarik nafasnya berusaha menenangkan diri agar berfikir normal. Iqbal mengambil jaket di jok belakang mobil dan menutupi tubuh Mela yang hanya berbalut tanktop bertali spageti. Mengekspose kulit putih mulusnya yang menggoda bagi Iqbal. Iqbal menyibak rambut yang menutupi wajah Mela dan mengelus pipi Mela.
"Lu cantik banget Mela. Kenapa lu sampai begini sih? Sadar Mel jangan kayak gini. Gue sedih banget rasanya liat lu begini." Gumam Iqbal.
Pandangan Iqbal teduh merasa tidak tega dengan Mela. Pasti berat apa yang dialami wanita di sampingnya ini. Pasti sangat sakit dan perih hatinya sampai-sampai dia memilih mabuk untuk melupakan semua masalah dan menenangkan hatinya. "Seandainya kamu mampu membuka hati kamu kembali Mel. Seandainya.." Batin Iqbal.
Iqbal masih memandangi wajah Mela yang terlelap. Seperti tidak ada tanda-tanda Mela akan sadar. Iqbal akhirnya memutuskan menelpon Anya karena nampaknya Mela tak kunjung sadar.
"Halo Nya.."
"Halo.. Iya Kak Iqbal, kenapa?"
"Nya, gue minta tolong dong."
"Minta tolong apa kak?"
"Jadi ini gue lagi sama Mela dan Mela mabuk. Gue minta alamat rumahnya buat anter dia balik."
"Mabuk kak?" Anya kaget.
"Iya Nya. Kasih alamatnya yah, gue anter dia pulang."
"Jangan kak, jangan dianterin pulang. Nanti kasian mamanya malah kepikiran kalau Mela pulang dalam kondisi mabuk begitu. Emmh, gini deh, mending kakak anter Mela kesini aja. Biar dia nginep disini. Nanti Anya yang ijinin ke mamanya kalau Mela nginep karena ada tugas."
"Ooh iya udah mending gitu deh. Kasian mamanya nanti. Gue anter ke rumah ya sekarang."
"Iya kak, Anya tunggu."
__ADS_1
Iqbal turun untuk mengatur mobil Mela, Ia menitipkan ke keamanan karena mobil Mela terpaksa menginap diparkiran. Tak lupa Iqbal memberikan sejumlah uang pada pihak keamanan di tempat hiburan tersebut. Setelah itu Ia bergegas mengantarkan Mela ke rumah Anya.
Anya mematikan panggilan dengan sepupunya. Ia merasa cemas menunggu kedatangan Mela. "Ya ampun Mela, kenapa lu pake mabuk segala Mel. Harusnya lu cerita sama gue atau Ika." Batin Anya. Anya merasa bersalah, pasti sahabatnya itu merasa sangat sedih, hingga berfikir bahwa alkohol adalah jalan keluarnya. Sebenarnya Anya tidak heran dengan kebiasaan mabuk Mela. Tapi dulu setelah bersama Vico, Mela sudah tidak pernah mabuk-mabukan lagi. Mungkin kepergian Vico sangat membuat Mela hilang arah. Ia kembali menjadikan alkohol untuk jalan pintas mengatasi beban hidupnya. Tentunya hal ini membuat Anya sangat khawatir, Ia takut Mela bisa berbuat nekat karena kesedihannya.