
Setelah puas menikmati malam panjangnya, Gista harus pulang dan berpisah dengan Agam yang juga harus bekerja.
"Kalau lu butuh disentuh lagi, lu hubungin gue aja." Ucap Gista yang masih berbaring dengan tubuh polos tertutup bedcover hotel sambil melihat Agam yang berdiri sambil mengenakan celana.
"Siap, kalau gue belum bisa nyentuh mantan gue, gue bakal hubungin lu buat minta jatah."
"Tapi inget, gak ada yang gratis yaaa. Siapin duit yang banyak buat gue." Ucap Gista.
"Iya iya, gue nabung dulu deh buat minta jatah ke lu."
"Siipppp, gitu dong. Kan makin ganteng jadinya."
"Yaudah, gue balik dulu ya. Mesti kerja lagi cari duit." Pamit Agam.
"Oke siaaap. Byeee. Kabarin kalau rencana lu berhasil." Ucap Gista sambil melambaikan tangan.
Sebelum pulang ke rumah Om Faisal, Gista memutuskan untuk menikmati kamar mandi hotel. Ia berendam di bathup dengan air hangat membuatnya merasa sangat nyaman.
"Aaahhh, coba tiap hari hidup gue begini. Gak mesti ketemu tua bangka itu lagi. Pasti bahagia banget rasanya." Gumam Gista.
Gista menikmati momennya tanpa memperdulikan banyaknya panggilan telpon di handphonenya dari suami.
***
Saat jam makan siang, Rendy mencoba mengajak makan bersama semua timnya. Ia sengaja melakukannya agar Mela bisa ikut makan bersama. Rendy tau masa lalu yang terjadi pada Mela dari paman Mela yang menceritakan apa yang terjadi pada Mela. Sehingga Ia berusaha mendekati Mela dengan cara yang nyaman agar Mela bisa melupakan kesedihannya secara perlahan.
"Makan dimana nih boss?" Tanya salah seorang pegawai yang bingung memutuskan tempat dimana mereka makan siang bersama.
"Yang tempatnya luas aja, biar nyaman kalau rame-rame. Mela ikut kan?" Rendy langsung bertanya pada Mela yang terlihat membereskan barang bawaannya dan hendak pergi.
"Aaah eehh, tapi saya kan cuma pegawai magang pak. Saya makan siang sendiri aja gak papa kok." Jawab Mela.
"Enggak papa kok, gak usah sungkan. Bagi saya kamu sudah seperti tim saya juga, gak perduli kamu cuma pegawai magang."
"Eemhh, lain kali saja pak. Maaf sekali lagi tapi saya sudah ada janji dengan teman saya. Saya pamit pak, permisi." Mela bergegas pamit.
Mela keluar proyek dan kaget dengan kehadiran Iqbal menunggunya.
"Loh kak, kok disini? Biasanya ketemu di cafetaria." Tanya Mela kaget.
"Gak papa dong. Jalan kesini biar kalau ke cafetaria kamu gak jalan sendiri. Tapi gak papa makan di cafetaria? Kamu gak bosen?"
Keduanya berjalan beriringan.
"Eemhhh, gak bosen sih kak. Cuma ya kalau kakak mau makan di luar, Mela ikut aja."
"Makan ayam goreng yuk. Ada ayam goreng yang hits abis."
"Haha emang hits abisnya sampe gimana kak?"
"Aku juga gak tau sih, makanya yuk kita cobain."
"Yaudah yuk."
Keduanya berjalan menuju parkiran dan menaiki mobil menuju resto yang Iqbal maksud. Setelah sampai mereka memesan makanan dan bercengkerama. Saat sedang asik bercengkerama, Mela kaget dengan kehadiran Rendy dan timnya yang juga makan ditempat yang sama. Mela tersenyum canggung saat tatapannya bertemu dengan mata Rendy.
"Loooh Mela, disini juga." Sapa salah seorang anggota tim yang mengenal Mela.
"I iya pak." Jawab Mela canggung.
"Ini pacar kamu Mela?" Celetuk pegawai yang lain yang juga mengenal Mela dengan cukup kencang hingga terdengar oleh Rendy. Terlihat raut wajah Rendy yang juga menunggu jawaban dari Mela tapi berusaha untuk tidak menunjukkan rasa penasaran.
"Haaahh, eehhh.. Temen pak, temen dekat." Jawab Mela salah tingkah karena kebingungan dengan pertanyaan mendadak itu.
"Oooh temen. Yaudah, kalau gitu duluan ya." Mereka mengikuti Rendy menuju sebuah ruang privat yang cukup luas agar bisa leluasa untuk tim mereka.
"Kenapa?" Tanya Iqbal melihat raut sungkan Mela.
"Enggak papa kak. Cuma tadi aku diajakin makan bareng, jadi agak sungkan aja malah ketemu disini." Jawab Mela terus terang.
"Oooh, makasih ya lebih milih makan siang sama aku." Ucap Iqbal sambil tersipu malu.
"Iiih kakak apaan coba. Mela tuh gak ikutan makan siang karena memang gak terlalu akrab sama semuanya. Takutnya canggung dan malah ngomongin kerjaan, kan capek ya jadinya." Jelas Mela.
"Ooh kirain karena mau makan siang sama aku. hehe."
__ADS_1
"Kakak kepedean. Weeekkk." Ledek Mela.
"Ya maaf." Iqbal menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Iqbal dan Mela menikmati makan siang mereka dan kembali ke rumah sakit setelah selesai. Mereka kembali bersamaan dengan Rendy dan timnya. Mela berjalan menuju proyek di belakang Rendy yang mengecek ponsel dan didahului oleh timnya. Saat menoleh ke belakang barulah Rendy menyadari ada Mela di belakangnya. Mela tersenyum sungkan saat matanya bertemu dengan mata Rendy.
"Jadi kamu tadi sudah ada janji makan siang?" Tanya Rendy sambil berhenti melangkah menunggu sejajar dengan Mela yang berjalan mendekat.
"Iya Pak, saya sudah ada janji. Maaf sebelumnya."
Jawab Mela.
Keduanya berjalan bersama.
"Iya gak papa kok, saya juga gak bisa marah sama kamu hanya karena tawaran makan siang saya ditolak." Ucap Rendy dengan wajah sedih.
"Bukan gitu Pak, maksud saya bukan menolak."
"Saya juga gak bisa marah walaupun kamu manggil saya Pak."
"Aduuh, i iya maaf Pak, eeh Kak. Saya gak maksud nolak ajakan makan siang, tapi karena saya memang sudah ada janji." Jelas Mela.
"Kalau gak nolak berarti besok bisa makan siang bareng?" Ajak Rendy.
"Memang besok ada makan siang tim lagi?" Tanya Mela.
"Enggak ada, cuma besok saya maunya makan siang sama kamu aja berdua. Kan kamu tadi sudah bilang kalau gak nolak ajakan makan siang saya."
Mela dibuat kebingungan sendiri. Ia terpaksa menyetujui ajakan yang menjebak dari Rendy.
"I iya Kak."
"Oke, besok kita makan siang bareng." Rendy tersenyum sumringah.
***
Setelah selesai lelah bekerja, Selly bergegas pulang. Ia kaget mendapati Andre sedang menunggunya dengan kantong belanjaan yang cukup besar di tangannya.
"Haiii.. Mau pulang?"
"Iya.." Jawab Selly singkat.
"Apaan itu memangnya? Gak usah repot-repot Ndre, mainan Airelle sudah banyak di rumah." Jawab Selly.
"Ini boneka." Andre menunjukkan boneka yang ukurannya besar.
"Boneka Airelle sudah banyak." Tolak Selly. Ia tidak ingin ada pertanyaan dari Airelle tentang sosok Andre.
"Enggak papa kok. Aku yakin dia pasti suka." Rayu Andre.
"Mainan dia sudah banyak Ndre. Aku gak yakin masih ada tempat untuk nyimpennya." Selly terus beralasan.
"Pliiis Selly. Aku mohon! Aku cuma pengen kasih sesuatu buat Airelle."
Selly berpikir sejenak, Ia tidak tega dengan Andre yang memohon padanya.
"Iyaudah, gak papa."
"Makasiiiih. Tapi aku anter kamu pulang ya?" Tawar Andre.
"Gak usah, aku pulang sendiri aja."
"Udah malem, bahaya cewek secantik kamu pulang sendiri. Yukk." Andre segera menggandeng tangan Selly. Selly pasrah dibuatnya karena Ia tau keras kepalanya Andre jika tidak menuruti keinginannya.
Keduanya sampai di depan rumah orang tua Selly. Airelle segera berhambur menuju luar rumah saat tau mamanya sudah pulang bekerja.
"Mamaaaaa.." Teriak Airelle.
"Sayaaangg.." Selly menciumi seluruh wajah Airelle.
Sesaat kemudian pandangan Airelle tertuju pada Andre yang ada di samping Selly.
"Om kan yang waktu itu di rumah sakit." Ucap Airelle.
"Kamu masih inget?" Andre kaget karena Airelle mengingat perjumpaan mereka di rumah sakit.
__ADS_1
"Masih dong om. Inget karena om ganteng sih. Airelle mau punya papa ganteng kayak om gitu." Ceplos Airelle membuat Selly menutup mulut anaknya.
"Maaf ya. Anak kecil kadang suka bicara asal." Selly salah tingkah menjelaskan pada Andre.
"Iya gak papa kok."
"Oiya Airelle, Om punya hadiah buat kamu. Semoga kamu suka ya." Andre menyerahkan bingkisan berisi boneka beruang yang sangat besar.
"Waaahhhh, besar banget Om. Airelle sukaaaa.. Suka banget." Wajah Airelle tersenyum bahagia. Tak hentinya Ia memeluk boneka besar itu.
"Makasiiih ya Om, Airelle taruh di kamar dan pake main duluuu. Dadaaah." Airelle lari kegirangan menuju dalam rumahnya.
"Sama-sama." Jawab Andre.
"Makasih ya Ndre, Airelle nampaknya seneng banget." Ucap Selly tulus.
"Sama-sama. Aku akan berusaha buat kamu dan Airelle bahagia. Buat nebus semuanya." Andre menatap Selly tajam. Selly terdiam, Ia tak paham dengan maksud Andre menebus semuanya. Namun, Ia urung menanyakan kejelasannya. Selly tidak mau berharap terlalu banyak pada Andre karena pernah merasakan luka saat mencintainya dulu.
"Tapi lain kali kamu gak usah repot-repot Ndre. Aku gak mau Airelle jadi bergantung sama kamu. Kita gak ada hubungan apa-apa, dan gak akan mungkin ada apa-apa. Jadi aku gak mau Airelle berharap terlalu banyak sama kamu." Jelas Selly.
"Selly, apa sudah gak ada kesempatan buat aku dihatimu?" Tanya Andre.
"Sudah malem Ndre, mending kamu pulang. Aku mesti nemenin Airelle tidur." Selly menghindari pertanyaan Andre karena bingung dengan hatinya sendiri. Ia tidak menepis bahwa dihatinya masih ada nama Andre. Namun, Ia tidak mau sakit untuk kedua kalinya. Apalagi saat Airelle sudah mulai tumbuh besar dan ditakutkan bisa merasakan kekecewaan. Hal itu membuat Selly menjadi takut untuk mengakui perasaannya sendiri.
Andre terpaksa pulang tanpa jawaban tentang perasaan Selly. Walau begitu Ia tidak menyerah untuk berjuang.
***
Agam mencoba menghubungi Gina, namun panggilannya terus ditolak oleh Gina. Agam akhirnya mengirimi pesan singkat permohonan maaf pada Gina.
"Maaf Gina soal kejadian kemarin. Aku cuma pengen kita tetap berhubungan baik."
Gina membaca pesan singkat itu, Ia merasa tidak tega dengan permintaan maaf Agam. Selama Ia berhubungan dengan Agam, Agam memang lelaki yang baik dan menjaganya. Awalnya hubungan mereka begitu dekat dan membuat Gina yakin untuk memilihnya menjadi pendamping. Namun, semua berubah saat Agam tiba-tiba memutuskan hubungan dengannya karena alasan kesibukan kerja. Gina mencoba menjelaskan semua pada Agam dan mendatangi Agam ke rumahnya. Bukannya menjelaskan, Gina justru terkejut mendapati Agam berpelukan dengan wanita lain. Gina yang awalnya ingin serius dengan Agam dan meninggalkan pekerjaan demi Agam baru menyadari kebodohan dari keputusannya. Gina bersyukur Ia tidak jadi membuat keputusan itu untuk lelaki yang ternyata tergoda wanita lain dibelakangnya.
Gina memutuskan membalas pesan tersebut.
"Iya, gak papa." Balas Gina singkat.
"Apa boleh aku traktir kamu makan buat permintaan maaf?"
Gina merasa perlu menyelesaikan urusannya dengan Agam agar Boy nantinya tidak salah paham. Gina akhirnya menerima tawaran tersebut dengan tujuan menyelesaikan semuanya dan membuat jelas bahwa sudah tidak ada masa depan antara dia dan Agam.
Agam mengajak Gina makan di resto sebuah hotel. Gina menyetujui dan bergegas berangkat ke tempat tersebut.
Sesampainya di resto itu, Agam sudah menunggunya dengan beberapa hidangan di atas meja.
"Aku pesan masakan kesukaanmu." Gina tersenyum sungkan melihat makanan di atas meja.
"Aku mau ketemu kamu untuk menjelaskan semuanya Gam. Aku harap kamu bisa ngerti bahwa aku gak akan bisa lagi kembali sama kamu. Aku dan Boy akan segera menikah." Jelas Gina tegas pada Agam.
"Iya Gina, kita bicara setelah makan aja bagaimana? Kita makan dulu aja baru nanti kita cari tempat yang nyaman untuk ngobrol."
Gina menyetujui Agam, Ia memakan hidangan yang telah dipesankan oleh Agam. Agam juga makan sambil sesekali memandangi makanan yang disantap oleh Gina.
"Habisin ya. Kamu keliatan kurus banget." Agam tersenyum lembut pada Gina.
Keduanya makan bersama tanpa obrolan apapun. Gina berusaha menikmati makanannya walaupun dengan suasana yang sangat canggung, berbeda sekali saat mereka bersama dulu.
Setelah selesai makan, Gina diam sejenak untuk menata kata-kata.
"Gam, makasih banyak. Tapi aku harap kamu ngerti supaya kita gak bertemu lagi seperti ini. Aku gak mauu.." Belum selesai ucapan Gina, Gina merasa tubuhnya seperti melayang. Kepalanya berat dan mengantuk. Gina berusaha menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Gina.. Gina.. Kamu kenapa?" Agam panik melihat Gina.
"Eeehh, gak papa. Cuma tiba-tiba ngantuk aja rasanya. Mataku berat banget." Jelas Gina.
Agam berpindah posisi ke kursi sebelah Gina untuk memeganginya.
"Kita pindah aja ke tempat yang nyaman buat kamu ya. Ayok ikut aku!" Ajak Agam.
Gina merasa badannya sangat lemas hingga tidak sanggup menolak ajakan Agam. Ia pasrah saat tubuhnya dipapah oleh Agam. Sesekali Ia memejamkan mata dan membukanya kembali untuk melihat kemana Agam membawanya. Gina dengan samar melihat Agam membawanya menuju kamar hotel. Namun, Ia tak kuasa melawan.
Agam menuju lantai 5 dan membawa Gina ke kamar yang telah dipesannya. Ia membuka kamar dengan keycard lalu masuk bersama Gina yang sudah dalam keadaan setengah sadar. Agam menidurkan Gina diatas kasur hotel dengan senyum nakal di bibirnya. "Malam ini kamu akan jadi milik aku seutuhnya, sayang." Bisik Agam ditelinga Gina.
"Kamu mau apa? Lepasin!" Gina yang masih setengah sadar berusaha melawan Agam yang memeluk dan menciumi pipinya.
__ADS_1
"Kita mau ngobrol kan. Tadi kita sudah bilang kalau akan ngobrol di tempat yang nyaman. Sekarang kita sudah ada ditempat yang nyaman. Dan hanya kita berdua, jadi kita bisa lakukan apapun yang kita mau, sayang." Agam membelai pipi dan bibir Gina lalu menci*mnya. Gina berusaha memberontak dengan sisa tenaganya walaupun badannya terasa sangat lemas.
Agam tidak memperdulikan itu semua, Ia bagai kesetanan melihat Gina tergolek lemas dan justru mulai membuka kancing kemeja yang dikenakan Gina. Gina menangis dan berusaha memberontak.