Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Status baru


__ADS_3

Mela mematung, Ia hanya mampu merasakan pelukan Iqbal yang hangat. Entah karena suasana atau memang hatinya yang tak dapat berbohong, Mela akhirnya membalas pelukan Iqbal. Iqbal tersenyum bahagia.


Cukup lama keduanya berpelukan, Mela mengendurkan pelukannya dan berpamitan.


"Mela balik yah kak. Kakak istirahat."


"Makasih udah datang." Iqbal memegang tangan Mela seolah tak ingin gadis itu pulang. Iqbal mendaratkan kecupan di kening Mela seolah berat melihat Mela harus pulang. Mela kaget dengan kecupan, namun berusaha tenang.


Mela hendak berbalik pergi namun masih tertahan karena tangannya urung dilepaskan oleh Iqbal.


"Kak.. Kan Mela mau balik." Ucap Mela lembut.


"Iya udah balik deh." Jawab Iqbal.


"Mela gimana bisa balik kalau tangan Mela masih digandeng terus." Jawab Mela sambil melihat ke arah tangan kanannya.


"Ya berarti tandanya kamu belum boleh pulang."


"Iiih kakak, kalau Mela gak pulang nanti kak Iqbal gak sembuh-sembuh."


"Aku udah sembuh kok. Angkat kamu aja aku udah kuat."


"Iiihh kakak, seriuus. Kak Iqbal butuh istirahat. Kakak tuh orang paling sibuk yang Mela kenal. Jadi mumpung kakak gak sibuk, waktunya dipakai istirahat."


"Tapi kalau gak sibuk, aku maunya bareng kamu." Iqbal menarik pinggang Mela dengan tangan kanannya agar berdiri tepat di hadapan Iqbal.


Mela makin salah tingkah. Jarak kedua manusia itu sangat dekat, Mela sangat gugup.


"Mel.. kalau aku gak sibuk aku pengen bisa habisin waktu sama kamu. Kalau aku gak sakit, aku pasti bakal langsung cari kamu. Tapi aku bahagia banget kamu datang kesini saat tau aku sakit. Mel, aku sayang sama kamu. Entah sudah berapa kali aku bilang ini sama kamu. Tapi aku pingin kamu yakin kalau aku benar-benar serius. Aku bakal nunggu kamu siap. Tapi jangan salahin aku kalau aku bakal berusaha semaksimal mungkin untuk bisa sama kamu." Mela tersenyum mendengar kata-kata Iqbal.


"Kamu kok malah senyum? Aku kedengeran gombal ya? Aku serius Mela." Iqbal berusaha meyakinkan.


"Iya kak, Mela percaya. Mela senyum karena kakak yang terlalu polos banget."


"Polos kenapa?"


"Iya coba kakak pikir aja, kakak gandeng dan peluk Mela bahkan cium kening Mela, tapi Mela gak nolak. Mela juga rela jauh-jauh kesini buat tau kondisi kakak. Harusnya kakak kan tau maksudnya." Mela menjelaskan.


"Maksudnya gimana? A apa kamu mau jadi pacarku?" Tanya Iqbal bingung.


Mela mengangkat bahunya semakin membuat Iqbal kebingungan.


"Ayoo dong kasih tau maksudnya apaan." Iqbal memeluk erat pinggang Mela.


"Masa harus dikasih penjelasan kak. Coba kakak peluk cewek lain yang gak ada perasaan sama kakak kayak gini. Pasti langsung dihajar habis-habisan."


"Kalau sekarang aku gak dihajar, berarti kamu ada perasaan dong sama aku." Selidik Iqbal.


"Iiihh tau aah, gak paham-paham. Percuma sekolah tinggi-tinggi sampe jadi dokter." Gerutu Mela kesal.


Iqbal mengecup pipi Mela yang sedang kesal.


"Iiihh apaan coba cium-cium. Lepasin." Mela masih kesal.


"Gak mau, aku gak akan lepasin. Toh aku gak bakalan dihajar."

__ADS_1


Mela melirik Iqbal kesal. Keduanya terdiam masih dalam pelukan.


"Jangan pulang dulu yah." Pinta Iqbal.


"Terus mau ngapain?" Tanya Mela.


"Maunya ngapain? Aku pasrah aja."


"Iiihh jorok."


"Haah, jorok apaan? Aku pasrah kalau mau main atau nonton film. Hayooo jangan-jangan malah kamu yang mikir jorok yah. Dasar anak muda jaman sekarang."


Iqbal mendekatkan pandangannya ke arah mata Mela yang kebingungan.


"Enggak, Mela gak mikir aneh-aneh kok. Kakak tuh yang aneh-aneh."


"Enggak ya, aku gak ada pikiran aneh-aneh. Terus kenapa matanya bingung gitu." Iqbal semakin menggoda Mela dengan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Mela yang salah tingkah.


Mela memandang wajah Iqbal yang sangat dekat dengan wajahnya. Refleks Mela mengecup bibir Iqbal. Cup.


"Mela gak mikir aneh-aneh. Cuma mikir biar kakak cepet sembuh." Jawab Mela menutupi rasa grogi dan malu.


Iqbal berdegup dan salah tingkah. Ia memandangi bibir Mela yang beberapa detik lalu mengecup bibirnya. Seperti terpancing Iqbal menci*m bibir tipis Mela dan keduanya menikmati ci*man pertama.


Setelah cukup lama berpag*tan Iqbal mendorong Mela. Mela tersentak. Wajah Mela kebingungan karena ci*man yang terputus ditengah-tengah.


"Kamu bisa ketularan sakit nanti. Aaahh bego banget aku." Iqbal menyadari kebodohan yang dilakukan. Ia tidak mau Mela tertular sakit karena ci*man mereka.


Mendengar ucapan Iqbal, Mela tersenyum. Ia ada yang salah dengan ci*man tadi, tapi ternyata tidak. Iqbal justru khawatir Mela akan sakit tertular Iqbal.


"Nanti aku beli obat juga sepulang dari sini." Mela mendekat dan melanjutkan ci*man mereka.


"Sekarang kamu milik aku, Mel. Jangan tinggalin aku ya." Iqbal mengelus pipi Mela. Mela mengangguk pasrah mendengar permintaan Iqbal.


***


Emosi Anya sudah cukup reda, namun mengingat wajah Yoga, Ia teringat kembali kata-kata menyakitkan dari kekasihnya itu.


Hari ini sabtu malam. Seharusnya Ia menghabiskan waktu untuk video call dengan Yoga. Tapi tidak sekarang. Ia bahkan belum menjawab telpon ataupun pesan dari Yoga sejak kejadian yang membuat harga diri Anya terinjak-injak.


Telpon Anya berdering. Yoga.


Karena merasa tidak tega, Anya akhirnya mengangkat telpon Yoga.


"Haloo.." Ucap Yoga di seberang telpon.


"Haloo.. Kenapa?" Tanya Anya ketus.


"Lagi sibuk?" Tanya Yoga lembut.


"Biasa aja."


"Bisa keluar bentar? Aku di depan."


Anya kaget karena Yoga berada di depan. Sekalipun mereka bertengkar, Anya tidak ingin Yoga melihat dirinya yang kini sedang berpenampilan tak karuan. Anya sejak pagi malas untuk memakai skincare dan make up karena mengira akan menjalani hari di kamar saja.

__ADS_1


"Iya tunggu." Jawab Anya sembari memutus panggilan. Ia segera mengganti pakaian yang layak dan memakai polesan di wajah agar nampak segar. Tak lupa Anya menyemprotkan parfum dengan aroma lembut.


Anya keluar menemui Yoga dengan dandanan natural yang tidak mencolok. Ia nampak cantik tapi tidak berlebihan. Yoga yang melihat Anya, terpukau dengan kecantikan kekasihnya.


"Kamu cantik banget sayang." Ucap Yoga refleks saat melihat Anya.


"Makasih." Jawab Anya singkat dengan mimik datar. Walaupun dalam hati Anya bersorai karena usaha singkatnya berhasil membuat Yoga terperangah.


"Makasih juga udah mau nemuin aku. Aku mau ngobrol. Ikut aku yuk cari tempat yang nyaman buat ngobrol."


"Aku gak bisa lama-lama." Anya masih dengan mode ketus.


"Iya, kita cari tempat yang dekat aja."


Anya masuk ke dalam kursi penumpang dan mengikuti Yoga mengemudi mobil menembus jalanan kota Bandung.


Tak lama keduanya sampai di cafe yang lumayan nyaman bagi kawula muda. Suasana yang kekinian dan cocok untuk mengobrol. Cafe pun nampak belum terlalu ramai karena hari masih lumayan sore untuk para muda mudi nongkrong. Anya dan Yoga masuk beriringan dan duduk di sudut cafe. Keduanya memesan minuman dan tak lama waitress mengantar pesanan.


"Anya.. aku mau minta maaf." Ucap Yoga.


Anya diam. Ia menunggu Yoga mengeluarkan semua yang ingin dikatakan.


"Aku tau aku salah, gak seharusnya aku bicara yang sangat menyakiti perasaan kamu. Aku terlalu emosi hanya karena cemburu buta. Aku tau cemburu itu bukan alasan yang tepat untuk bicara sejahat itu, tapi entahlah. Aku memang sangat buruk sampai tidak bisa mengendalikan emosiku sendiri. Maafin aku Anya, aku takut kamu akan ninggalin aku." Ucap Yoga tertunduk.


Anya tetap diam, emosi dan kesal bercampur dengan rasa tidak tega melihat penyesalan Yoga. Yoga nampak semakin kurus dan tak terawat. Anya tau pasti seminggu ini Yoga sangat bingung mencari cara meminta maaf padanya. Anya sangat paham bagaimana Yoga jika sedang emosi, namun hal tersebut sangat tidak bisa ditolerir oleh Anya apalagi jika sampai menghina dan menyakiti perasaan orang lain. Anya menyadari Yoga pasti sangat bingung karena Anya sudah mendiamkannya lebih dari satu minggu. Bagi Anya itu merupakan balasan yang cukup karena cemburu buta Yoga.


"Aku berharap kakak bisa lebih percaya dengan aku. Membicarakan semua masalah dengan tenang tanpa emosi yang menggebu. Anya maafin kakak, tapi jangan salahin Anya kalau dengan sikap kakak kemarin, Anya semakin ragu untuk menjalin hubungan yang serius. Dan ini semua tidak ada hubungan dengan orang ketiga. Keraguan Anya murni karena sikap kakak yang membuat Anya tidak mengenal kakak saat emosi." Yoga mengangguk memahami.


"Aku paham. Itu semua konsekuensi dari emosi ku yang tidak terkontrol. Aku akan berusaha semampuku untuk membuat kamu yakin. Makasih Anya sudah maafin aku."


Anya tersenyum. Yoga memeluk Anya, wanita yang sangat dirindukannya beberapa hari ini.


"Aku kangen kamu sayang. Jangan diemin aku kayak gini lagi plis. Aku bingung banget harus kayak gimana." Bisik Yoga namun tetap terdengar oleh Anya. Anya tersenyum dan membalas pelukan kekasih hatinya.


***


Pagi hari mama Meli menjalani aktivitas seperti biasa. Mama Meli berencana membuat kue dan menjenguk Sonya yang sedang di apartemen. Mama Meli tentu sangat rindu dengan putri tersayang yang sedang mengandung calon cucu.


Setelah semua siap Mama Meli langsung meluncur menuju tempat Sonya. Sonya yang tau kedatangan mamanya langsung terlihat bersemangat dan bahagia. Ezza sedikit tenang mengetahui jika Sonya ada teman ngobrol. Ia sangat tau bahwa Sonya pasti kesepian menjalani kehamilannya hanya di rumah tanpa bisa menjalani aktivitas seperti sedia kala. Namun, pengorbanan itu semua yang membuat Ezza semakin kagum dan cinta pada Sonya.


"Mamaaaa.." Sonya berhambur memeluk mama Meli yang baru saja masuk. Ezza yang sudah rapi dengan pakaian kerja mencium punggung tangan mama Meli dan mempersilakannya masuk.


"Makasih ya ma udah mau bantu nemenin Sonya. Sonya pasti bosen banget sehari-hari di rumah aja." Ucap Ezza.


"Sama-sama nak Ezza. Mama juga kangen sama anaknya mama satu ini."


"Iya ma, Sonya bosen banget. Berasa dikurung banget karena gak bisa kerja, mau kemana-mana kelamaan juga bawaannya capek." Keluh Sonya sambil memasang mimik cemberut.


"Uuuhhh, sabar ya sayang. Itulah pengorbanan seorang ibu. Jangan banyak ngeluh, kasian adek di perut juga akan merasa sedih kalau mamanya merasa sedih." Petuah mama Meli sambil mengelus pipi Sonya.


"Haah? Emang iya ma?" Tanya Sonya kaget mendengar bayi dikandungan akan ikut merasakan kesedihan ibu saat mengandung.


"Iya dong sayang. Bayi di kandungan akan merasakan apapun dari ibunya. Justru kalau ibunya selalu bahagia, bayinya juga akan tumbuh bahagia dan senang karena dia membuat ibunya menjadi wanita yang bahagia."


"Iya sayang, jangan sedih-sedih ya. Aku tau kamu bosen, tapi demi dedek bayi kamu harus happy. Aku bakal turutin apapun yang kamu mau asal kamu happy." Ucap Ezza sembari mengusap kepala Sonya dan mengecup rambutnya.

__ADS_1


"Makasih sayang." Jawab Sonya.


"Kalau gitu mulai sekarang Sonya gak mau galau-galau lagi karena bosen di rumah. Sonya mau selalu bersyukur karena ada kehadiran dedek bayi di perut Sonya. Ini fase hidup yang baru bagi Sonya, Sonya akan menikmati dengan senang hati." Sonya mengusap perut sambil tersenyum bahagia mensyukuri kehamilannya. Semua ikut tersenyum bahagia melihat semangat Sonya.


__ADS_2