Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Lebih Aman


__ADS_3

Sore hari menjelang, semua tugas Anya sudah selesai dengan baik. Anya memutuskan pulang karena beberapa hari ini dia cukup lelah membersihkan barang-barang. Anya sampai di tempat kos yang cukup elite. Ia memilih ngekos dari pada menyewa rumah atau apartemen. Bagi Anya setelah kerja Ia harus berusaha mengatur pengeluarannya sendiri dan tidak ingin membuat mama Meli kerepotan. Oleh sebab itu, dia memulai dengan mengekos dan jika ke depannya Ia mempunyai penghasilan lebih tentunya Anya memikirkan untuk mencari tempat tinggal yang lebih nyaman.


Anya sampai di depan kosannya, Ia masuk dan merebahkan tubuhnya. Saat ingin memejamkan mata Ia teringat bahwa tidak ada makanan di kamar kosan yang baru Ia tinggali selama tiga malam. "Aaahhh, kenapa gue lupa beli makan." Gumam Anya menggerutu karena kebodohannya tidak membeli makanan. Di kosan itu disediakan dapur mini untuk penghuni yang ingin memasak. Namun bagi Anya membeli makanan untuk dirinya sendiri tentu lebih hemat dan praktis menurut perhitungan Anya.


Anya menguatkan niat untuk kembali bangkit dan membeli makanan. Ia memutuskan membeli makanan di dekat kosan dan berjalan kaki karena malas jika harus mengeluarkan mobil yang sudah terparkir. Anya mengambil sweater dan menggunakannya lalu membawa dompet kecil berisi uang dan kartu identitas, tak ketinggalan handphone juga Ia masukkan ke dalam saku sweater.


Anya berjalan menyusuri daerah tempat tinggal barunya kini. Ia melihat sekeliling ada beberapa penjual makanan kaki lima yang berjejeran. Anya memikirkan apa yang ingin dilahapnya. Perlahan matanya memandangi semua makanan yang dijajakan di pinggir jalan. Anya memutuskan untuk membeli batagor yang menggugah seleranya.


Saat sedang memesan, seseorang memanggil Anya. Anya kaget dan menoleh ke arah sumber suara.


"Kak Adit." Ucap Anya kaget.


"Anya kan? Gak nyangka ketemu kamu disini." Sapa Adit yang juga kaget saat menjumpai Anya.


"I iya kak. Gak nyangka juga. Kakak tinggal di daerah sini juga?" Tanya Anya.


Adit mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Anya.


"Aku tinggal di ujung jalan sana. Pagar warna hitam yang minimalis. Barusan dapet sewa disana dan harganya cocok. Baru beberapa minggu nyoba tinggal di daerah sini." Jelas Adit sambil menunjuk arah jalan yang dekat dengan tempat kosan Anya.


"Kalau kamu tinggal dimana?" Lanjut Adit bertanya pada Anya.


"Aku di kosan situ kak. Deket banget berarti ya." Jawab Anya mengingat kosan tempat Ia tinggal hanya berjarak beberapa rumah dari rumah Adit sekarang.


"Waaah deket dong. Lain kali berangkat bareng aku aja ke proyek. Daripada riweuh bawa mobil masing-masing. Bandung macet banget kalau pagi." Ajak Adit.


"Jangan kak, ngerepotin jadinya. Gak papa kok Anya macet-macetan. Nanti Anya berangkat agak pagian aja biar gak telat." Jawab Anya sungkan.


Adit memahami penolakan Anya. Ia sadar wanita cantik di depannya sudah memiliki kekasih. Tidak mungkin Ia semudah itu menerima tawaran bareng dengan lelaki lain. Namun, hal itu justru membuat Adit kagum. Di mata Adit, Anya adalah wanita yang bisa berusaha menjaga perasaan pasangan walaupun jarak memisahkan keduanya.


Keduanya berjalan beriringan menuju tempat tinggal masing-masing setelah menyelesaikan pesanan makanan. Suasana sedikit canggung bagi Anya karena memang Ia jarang bersamaan dengan laki-laki lain yang kurang begitu akrab. Anya berusaha tenang dan tidak menunjukkan rasa ketidaknyamanannya mengingat bantuan yang Adit berikan padanya. Adit sosok lelaki yang lembut dan ramah. Selain fisik yang tampan, Ia juga cerdas dan tidak pelit ilmu. Ia justru senang mengajarkan apa yang Ia kuasai, bukan hanya pada Anya, bahkan pada rekan kerja yang lain Adit juga bersikap sama. Mungkin jika Anya masih belum menambatkan hati pada Yoga, bisa saja hatinya terjerat oleh pesona Adit yang tidak ada celah.


"Yaudah masuk gih. Aku balik ya." Pamit Adit.


"Iya kak, makasih." Jawab Anya dan berlalu masuk ke dalam kosannya. Saat masuk ke kamar dan membersihkan badan, Anya mendapati handphonenya berdering. Yoga.


"Haloo." Sapa Anya.


"Halo sayang, lagi apa?"


"Abis mandi dan bersih-bersih, sayang lagi apa?" Jawab Anya sambil bertanya balik.


"Aku baru pulang. Tadi macet sayang. Gimana hari pertama kerja? Seru?"


"Hmmm, seru kok sayang. Semua karyawan baik dan ramah, terus kerjaannya so far Anya bisa handle semua." Jawab Anya.


"Untung kalau sayang nyaman dan betah. Semoga semua kerjaan disana lancar."


"Makasih sayangku. Makasih pengertiannya." Jawab Anya.


Hati Anya kembali merasa penuh cinta saat mendengar suara Yoga. Ia sadar bahwa sepenuhnya ruang di hati Anya telah terisi oleh sosok Yoga yang selalu memperjuangkan dirinya. Jarak mungkin menjadi penghalang untuk mereka, tapi Anya berharap jarak juga tidak mengikis rasa yang ada antara kedua pasangan tersebut. Anya dan Yoga melanjutkan telpon dengan menceritakan apapun yang terjadi di hari itu. Awalnya Anya ingin jujur mengenai Adit, tapi keraguan hadir. Anya ingat bagaimana kecemburuan Yoga yang besar terhadap laki-laki yang hadir di sekitar Anya. Mengingat hal itu Anya memutuskan untuk tidak menceritakan perihal Adit. Anya hanya cukup memberi tau bahwa ada yang membimbingnya dalam pekerjaan, seniornya.


***

__ADS_1


Setelah ujian semester selesai, Oki, Mela dan Ika tidak menikmati liburan mereka. Ketiga sahabat itu mendaftarkan diri masing-masing untuk seminar proposal. Ketiga sahabat Anya mengejar kelulusan tepat waktu dan buah kerja keras mereka selama ini mereka bisa menyelesaikan proposal dan segera melakukan seminar. Saat ketiganya melakukan seminar, Anya yang sudah bekerja merasa bersalah. Anya sempat melakukan video call pada masing-masing sahabatnya dan mengirim bucket bunga pada ketiga sahabatnya guna menebus rasa bersalah karena tidak bisa hadir disaat penting sahabat dekat.


Ketiganya menjalani sidang dengan baik dan berhak melanjutkan proposal semester depan. Ketiganya berharap bisa segera menyusul jejak Anya dan mengejar masa depan masing-masing. Mela, Ika dan Oki duduk bersama di kantin sambil melakukan perayaan kecil atas keberhasilan melewati satu proses menuju kelulusan.


"Gak nyangka banget gue udah seminar proposal. Awal semester lalu gue kira kalau gue gak bakal lanjut kuliah karena depresi. Ternyata gue gak selemah itu." Ucap Mela mengagumi dirinya sendiri.


"Lu emang kuat banget. Lu cewek yang hebat banget Mel" Jawab Ika.


"Bener, lu keren banget Mel. Lu gak pernah menye dan setrong banget." Oki menimpali.


"Aaakkhh thankyou gaes. Gue pun gak nyangka sekarang bisa setenang dan seikhlas ini. Banyak pelajaran hidup saat Vico hadir maupun saat Vico tiada. Gue bersyukur bisa melewati itu semua." Oki dan Ika tersenyum mendengar sahabatnya yang benar-benar keren di mata masing-masing.


"Gue kagum sama lu Mel. Gak semua orang bisa mengambil semua hal baik atas kejadian yang menimpanya. Tapi lu bisa mengambil hikmah dan jadi gas poll begini buat kuliahnya." Ucap Oki.


"Gue begini berkat support kalian semua gaes. Tiap hari nelponin gue, video call gue, ngirimin makanan, niiih sampe nyuapin segala. Gue jadi gak ngerasa sendiri." Jawab Mela menunjuk Ika.


"Iya gue trauma lu masuk rumah sakit gara-gara mogok makan. Ya gue harus pantau lu makan mau doyan gak doyan." Ika membela diri sendiri.


"Iya iya deh, tapi justru hal itu yang bikin gue sadar gaes. Kita akan kehilangan apapun dalam hidup, cuma waktunya kapan yang beda. Gue bersyukur dalam momen sama Vico semua diisi dengan kebahagiaan dan pelajaran hidup yang bawa gue ke level yang lebih baik dibanding dulu."


"Banget, dulu lu dikit-dikit dugem. Sekarang, udah enggak lagi." Ucap Oki sambil terkekeh.


"Ngerayain sambil party gimana?" Tanya Mela menggoda kedua sahabatnya.


"Gilaaa luuu!" Jawab keduanya membuat Mela terkekeh dengan reaksi keduanya.


***


Setelah kepergian Om Faisal, Gista yang sudah pulih pulang ke rumah. Ia melihat kondisi rumah yang kosong dan tidak ada lagi barang-barang milik Om Faisal. Hanya tersisa barang Gista di kamar. Gista duduk di sofa sambil merenungi hidupnya. Ia tidak punya sandaran lagi kini. Setelah bayinya meninggal dan Ia tidak memiliki rahim lagi, Gista tau bahwa Ia sudah menyia-nyiakan yang berharga baginya.


"Selamat siang, Bu." Sapa kedua lelaki yang hadir di depan pintu dengan badan kekar.


"Iya, ada apa yah Pak?" Tanya Gista kaget.


"Kami dari bank ingin menginformasikan agar Ibu segera mengosongkan rumah ini karena rumah ini sudah disita oleh pihak bank. Kami beri waktu tiga kali 24 jam untuk ibu mengosongkan semuanya." Jelas salah satu lelaki.


"Disita? Gak mungkin. Mana suratnya? Kalian jangan bohong!" Ucap Gista tak percaya.


"Kami tidak bohong Bu, ini surat perintah penyitaan rumah. Suami ibu melakukan pinjaman di bank dengan jaminan rumah ini. Sudah lebih waktu jatuh tempo dan terpaksa rumah ini harus disita. Kami beri waktu tiga hari dan kalau ibu belum mengosongkan rumah ini, kami akan mengusir paksa ibu." Ancam lelaki tersebut.


Gista hanya bisa terdiam. Disaat luka operasinya belum kering Ia mendapati rumah yang ditinggalinya harus disita.


Gista terpaksa menjual mobil satu-satunya agar bisa menyewa kos untuk tempat Ia tinggal. Kehidupannya kini sungguh drastis. Ia harus menghemat uangnya karena Ia tidak ada tempat meminta uang. Bahkan kedua orang tuanya sudah tidak perduli pada kondisi Gista.


***


Saat sedang melakukan pemeriksaan kehamilan, Sonya dikagetkan dengan pertemuannya dengan Iqbal yang nampak lesu. Ia memanggil Iqbal untuk berbincang sejenak. Ezza memberi ruang bagi kedua saudara tersebut untuk mengobrol.


"Lu kenapa? Apa karena gue cuti? Kerjaan lu banyak banget ya?" Tanya Sonya.


Iqbal menggeleng tetap dengan wajah lesu.


"Gue kehilangan semangat Nya. Mela beberapa waktu lalu udah berhenti magang. Dia ngabarin gue saat tepat hari terakhir dia magang, sampai sekarang gue ngerasa udah gagal dapetin hati Mela. Dia gak mau ngabarin gue jauh-jauh hari karena takut nyakitin perasaan gue. Gue patah hati Nya, rasanya gak ada semangat kerja." Curhat Iqbal.

__ADS_1


Sonya tidak tega melihat Iqbal yang tanpa semangat. Ia tak menyangka perjalanan cinta Iqbal berjalan tidak mulus.


"Lu udah coba chat dia?" Tanya Sonya diikuti gelengan dari Iqbal.


"Coba aja dulu Bal. Mungkin aja sebagai cewek dia nungguin lu yang memulai semuanya. Jangan nyerah dulu selama janur kuning belum melengkung dan belum tekdung kayak gue nih." Jawab Sonya memberi solusi dan hiburan untuk Iqbal.


"Gitu yah Nya? Tapi kalau gak dibales gimana?" Jawab Iqbal bimbang.


"Yaelaaah, itu urusan belakangan. Yang penting usaha dulu. Kalau chat gak dibales ya lu telpon aja." Jawab Sonya tidak ingin melihat Iqbal lesu seperti itu.


Iqbal berpikir sejenak.


"Iya deh, gue bakal coba. Gue harap bisa berhasil. Gue iri tau gak sih liat lu sama Ezza begitu. Gue juga pengen married dan buntingin anak orang." Jawab Iqbal dengan bibir cemberut namun membuat Sonya terkekeh.


"Iya makanya jangan nyerah, biar Mela nanti gak nolak lu buntingin. Hahaha. Bahasa lu aneh-aneh aja deh." Sonya masih tergelak mengikuti ucapan Iqbal.


"Gimana kabar calon ponakan gue?" Tanya Iqbal mempertanyakan kondisi kehamilan Sonya.


"Baik, sehat kok bayinya. Mamanya nih yang mabuk parah." Jawab Sonya.


"Makanya kurang-kurangin minum biar gak mabuk." Jawab Iqbal tidak nyambung.


"Waaahh parah emang, patah hati bikin dokter sekelas lu aja jadi eror begini. Gue mabuk bukan karena minum oooiiii." Jawab Sonya kesal.


"Hahaha iya iya gue tau. Terus gue mesti gimana?" Tanya Iqbal.


"Ya perhatiin dikit gitu sodara lu ini. Mau makan apaan, pengen beli apaan. Tanyain gitu dong." Jawab Sonya.


"Lu kan punya suami kok mintanya ke gue." Protes Iqbal.


"Tuh kan pelit gitu, lu mesti loyal jadi cowok biar cewek-cewek pada nempel. Kalau loyal gue jamin Mela bakal klepek-klepek." Jawab Sonya asal.


"Gak ada, Mela bukan cewek matre. Emangnya Mela kayak lu doyan tas-tas mahal gitu." Jawab Iqbal.


"Eeeh jangan salah ya, gue beli tas mahal itu buat namanya investasi. Lagian gue kan beli tas mahal pake duit gue, hasil kerja keras gue. Weeek! Tapi kalau lu mau nurutin ngidamnya bumil buat beli tas mahal ya gue gak nolak." Jawab Sonya tidak terima.


"Tuh kan! Ogaaah gue. Ngapain bela-belain beli tas mahal buat lu. Mending buat Mela kalau dia memang mau."


Sonya cuma bisa menggeleng melihat kebucinan saudaranya.


"Emang dasar bucin akut." Goda Sonya.


"Gue tuh udah terMela-Mela." Jawab Iqbal membuat Sonya begidik melihatnya.


"Hemmm iya deh, susah emang kalau udah bucin akut gini. Udah pokoknya berjuangnya juga jangan sampe kalah sama kebucinan itu. Bucin doang tapi gak berjuang sama aja doyan tas mahal tapi gak mau kerja keras."


"Agak aneh sih analogi lu, tapi gue terima aja deh. Gue bakal berjuang dapetin Mela. Sampe titik darah penghabisan gue akan berjuang."


"Naaah gitu dong. Kadang cewek itu bisa luluh kalau diperjuangin. Jadi lu jangan nyerah sebelum Mela menentukan pilihan. Dia itu lagi menutup diri karena membenahi hati yang habis patah dengan parah. Nah makanya kalau lu berjuang terus, dia pasti perlahan buka hati juga. Gue jamin. Kodratnya cewek itu akan luluh karena sebuah perjuangan. Gue kan cewek."


"Iya yah, gue sampe lupa kalau lu cewek." Goda Iqbal.


"Sial! Awas lu ya! Tau gitu gak gue hibur lu biar cemberut terus." Jawab Sonya merajuk.

__ADS_1


"Ya jangan dong. Gue kan butuh hiburan, ya gak papa lah walaupun hiburan dari istri orang. Sekarang gue siap melangkah melaju hati Melaaa." Ucap Iqbal mantap membuat Sonya tersenyum karena saudaranya sudah tidak nampak galau lagi.


__ADS_2