Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Seleksi Alam


__ADS_3

Iqbal sampai di rumah Anya. Anya segera turun untuk membantu Iqbal.


"Gak papa gue gendong aja Nya." Ucap Iqbal menggendong Mela ala bridal.


"Kuat kak? Duh sorry banget nih kak, Mela jadi ngerepotin." Anya merasa sungkan pada sepupunya.


"Gak papa lagi Nya. Justru bersyukur gue yang nemuin Mela. Mela tuh sendiri dan mabuk, gak bayangin kalau ada orang dengan niat buruk kan."


"Aduuh amit-amit deh kak. Mela kayaknya tertekan banget sampai mabuk-mabukan begini."


"Mau dibawa kemana ini Nya?"


"Langsung ke kamar Anya aja kak." Anya mendahului Iqbal ke lantai dua dan membukakan pintu kamarnya. Iqbal membaringkan Mela di kasur, melepaskan sepatunya lalu memakaikan bedcover untuk menutupi bagian tubuhnya yang membuat Iqbal bergetar. Anya yang melihat perhatian sepupunya pada teman baiknya merasa curiga.


"Kakak naksir sama Mela?" Bisik Anya.


"Haaah? Ee ee enggak." Jawab Iqbal tergagap karena kaget dengan pertanyaan Anya yang tiba-tiba.


"Oooh, kirain naksir. Abis perhatian banget kak." Balas Anya sambil senyum-senyum membuat Iqbal makin salah tingkah.


"Yaudah gue balik Nya. Udah malem." Iqbal pamit. Anya mengantar Iqbal ke depan. Saat melewati rumah, Iqbal merasa kondisi rumah Anya sangat sepi.


"Mana yang lain Nya?" Tanya Iqbal kepo.


"Mama udah tidur kak, kak Sonya kayaknya di kamar telponan sama calon suaminya."


"Hahaha baru kali ini gue liat si Sonya bucin. Tapi baguslah, kayaknya si Ezza cowok baik-baik. Gue jadi gak begitu khawatir ngelepas sahabat plus saudara gue itu."


"Iya kak, Pak Ezza kan juga dosen Anya. Anya bisa jadi jasa mata-mata buat awasin Pak Ezza. Kalau mau macem-macem, genit-genitan bakal Anya laporin langsung ke kak Sonya."


"Gue jadi sedih sama nasib gue sendiri. Jomblo begini, udah tua tapi belum ada calon juga."


"Sabar kak, tunggu Mela bisa buka hati dulu." Iqbal kaget dengan ucapan Anya.


"Si siapa yang nungguin Mela."


"Udah udah, Anya bisa jaga rahasia. Keliatan banget kak sikap kakak tuh kalau ada yang spesial sama Mela."


"Iya iya deh gue ngaku. Tapi jangan cerita siapa-siapa yah Nya."


"Siap. Rahasia aman." Iqbal masuk ke mobilnya dan pamit pergi.


Anya bergegas kembali ke kamarnya, Ia melihat kondisi Mela yang terlelap. Sebagai sahabat Anya merasakan kepedihan yang dirasakan sahabatnya. Pasti sakit sekali hati Mela kehilangan orang yang Ia sayang untuk selama-lamanya dan secara tiba-tiba.


"Semoga ke depannya lu bisa membuka hati kembali Mel. Ada orang yang tulus sama kamu." Batin Anya.


Anya membaringkan diri disamping Mela dan terlelap.


***


Pagi hari Ika menuju rumah Anya. Ika juga khawatir dengan keadaan Mela. Saat Ika sampai, ternyata Mela sudah bangun dan sedang menangis pilu mengingat kepedihan di hatinya.


"Apa ini karma buat gue yah? Dulu gue suka mainin perasaan cowok, dan sekarang ini yang gue dapet. Gue stuck sama Vico dan gak akan pernah bisa lupain dia." Mela menangis tersedu-sedu.


"Enggak Mela, ini semua sudah takdir. Vico hadir di hidup kamu untuk membawa kebaikan. Mengajarkan kamu sesuatu hal yang baik dalam hidup. Vico pasti sedih liat lu mabuk-mabukan kayak kemarin." Ucap Anya bijak.


"Dengan mabuk gue bisa lupain semuanya sejenak, Nya. Setidaknya gue bisa tidur nyenyak, gue berharap bisa bertemu Vico di mimpi gue."


"Mela, lu itu cewek yang kuat. Percaya ujian yang dikasih ke elu ini karena lu emang wanita pilihan. Wanita yang sangat hebat. Terus jadi Mela yang positif seperti yang Vico ajarin ke elu." Ika tak tega melihat kesedihan Mela. Dia memeluk Mela dan tangis Mela pecah kembali. Anya melihat pemandangan itu ikut menitikkan airmata. Ia ikut memeluk Mela erat.


"Jangan seperti kemarin lagi Mela. Gue sama Ika khawatir banget. Kalau kesedihan itu menyiksa banget, hubungi kita. Kita akan siap nemenin kamu. Oke? Janji?" Pinta Anya.


"Iya gue janji. maafin gue ya, kemarin gak seharusnya gue mabuk-mabukan lagi."


"Gitu dong." Ika melepas pelukannya dan mengusap air mata Mela.


"Udah cup cup. Gak boleh nangis lagi, ada gue sama Anya disini."

__ADS_1


Mela mengangguk.


"Oiya, yang bawa gue kesini kemarin siapa? Kok gue gak inget ya." Mela ingin tau.


"Kemarin yang bawa elu kesini Kak Iqbal. Dia sempet liat lu diparkiran lagi dandan macem tante-tante. Makanya diikuti sama dia. Untung tepat waktu elu belum diapa-apain sama orang di sana. Coba kalau telat, udah abis lu bisa-bisa." Cerita Anya geram.


"Iya iya Nya, maafin gue. Gue janji gak ada mabuk-mabukan lagi walaupun gue galau banget. Gue akan berusaha mencari hal yang positif buat ngusir kegalauan gue."


"Naaah, gitu dong. Vico pasti bangga liat elu di surga. Wanita pilihannya memang super duper hebat." Puji Ika.


Mereka bertiga bersiap-siap menuju kampus. Sebelumnya Anya mengantarkan Mela ke tempat parkir klub yang Ia kunjungi kemarin untuk mengambil mobil yang terparkir. Setelah itu mereka bergegas ke kampus untuk kuliah.


***


Gista merasa kesakitan dengan semua kelakukan bar-bar dari Tante Yuni. Pipinya lebam karena beberapa tamparan, memaksa Gista mengompres bagian sudut bibirnya.


"Sial banget tuh nenek sihir. Awas aja dia, gue ambil beneran tuh suaminya, gue porotin sekalian biar tau rasa." Gumam Gista.


Gista tak terima dengan apa yang Ia alami. Rencananya dia akan meminta pertanggungjawaban dari Om Faisal. Pastinya nantinya Om Faisal akan bertanggung jawab dalam bentuk uang, pikir Gista. Setidaknya Ia bisa shopping sesuka hati melupakan kejadian kemarin. Namun, siapa sangka bahwa Om Faisal juga sekarang sedang kesulitan. Apalagi saat Tante Yuni meminta pembagian harta dan dilanjutkan dengan tuntutan perceraian. Om Faisal hanya bisa pasrah.


Gista semakin kesal karena Om kesayangannya sudah tidak bisa diandalkan untuknya. Ia terpaksa harus mencari atm berjalan yang lain. Gista teringat dengan Yoga. Setidaknya Ia akan berusaha dekat dengan Yoga sembari mencari mangsa pria hidung belang lainnya yang bisa menopang kehidupannya.


Gista segera pergi ke apartemen Yoga. Untungnya Yoga belum berangkat kerja. Yoga kaget saat membuka pintu, ada Gista di depan berdiri dengan menangis terisak dan wajah yang lebam. Sebagai sesama manusia, Yoga tentu merasa iba.


"Kenapa lu?" Tanya Yoga heran saat membuka pintu.


"Tolongin aku, Yoga. Ada yang nyerang aku tiba-tiba. Aku gak tau salah apa." Ucap Gista dengan pura-pura.


"Iya kalau ada penyerangan lu lapor aja ke kantor. Gak usah kesini." Jawab Yoga enteng.


"Tapi aku takut, aku nemuin kamu supaya kamu bisa ngelindungi aku. Kamu gak mau kan aku bilang ke mama kamu kalau kamu ninggalin aku begitu aja dalam kondisi begini."


Yoga berpikir sejenak, pasti akan sangat ribet jika berurusan dengan mamanya. Yoga akhirnya terpaksa mengabulkan keinginan Gista.


"Sekarang lu maunya apa? Gue anterin aja ke kantor sekarang, lu bikin laporan."


Gista masuk ke apartemen Yoga dan duduk di sofa di depan televisi. Gista sengaja memakai pakaian seksi untuk menggoda Yoga. Yoga masuk ke kamar untuk mengambil kotak P3k. Tanpa disadari handphone Yoga yang ada di atas meja bergetar, ada telpon dari 'My Lovely". Gista dengan liciknya mengangkat telpon tersebut.


"Halo.."


"Haloo beb, aduuuh sorry banget ya. Yoganya lagi sibuk sama aku. Biasa dia kecapekan abis menikmati malam sama calon istrinya." Ucap Gista palsu untuk mengompori Anya.


"Oooh gitu, masa sih? Kok gue gak percaya yah. Kasih handphonenya ke pacar gue."


"Gue bilang ya sama lu anak bau kencur. Gue bakal rebut Yoga sampai dia lupa sama cewek gak level kayak kamu. Jadi gak usah terus ngarepin Yoga. Ngerti?"


"Iya iya terserah lu deh tante gir*ng. Gue gak peduli sama omongan lu. Kasih handphonenya ke pacar gue."


"Liat aja, gue pastiin ke depannya kalian gak akan bahagia!" Ancam Gista sembari mematikan sambungan telpon. Gista tersenyum jahat, Ia merasa puas sudah membalas perlakuan Anya yang dulu menghinanya. Di seberang telpon Anya merasa geram.


Tak berselang lama Yoga kembali dengan membawa kotak P3k. Ia berencana mengobati luka Gista sejenak, lalu menyuruhnya keluar. Namun, siapa sangka ide Gista lebih cerdik. Ia berusaha tetap disana dan tidak mau pulang.


"Aku takut kalau harus pulang, Yoga. Aku trauma." Gista memeluk lengan Yoga erat dan mendekapnya hingga lengan Yoga bisa merasakan aset Gista. "Gue yakin lu pasti tergoda." Batin Gista.


"Lepasin! Gue bilang keluar sekarang! Lu bisa telpon manager atau temen lu, atau bahkan orang tua lu."


"Tapi masa kamu tega sih sama aku. Kondisi aku kayak gini loh."


"Lu keluar sekarang, atau gue yang keluar? Gue udah cukup baik mau nerima lu masuk kesini."


Gista beranjak, mukanya kesal karena penolakan dari Yoga.


"Sial banget. Sok kecakepan. Awas aja lu, gue akan buat lu nikahin gue dan pacar kesayangan lu bakal nangis-nangis." Batin Gista sambil berlalu pergi meninggalkan apartemen Yoga.


***


Hari ini Sisil meminta Oki untuk menemaninya pergi ke cafe. Sekaligus meminta bantuan untuk beberapa tugas kuliah yang kurang Ia pahami.

__ADS_1


"Kak, ajarin tugas mekanika tanah dong. Pliiiss. Sisil gak paham banget di kelas dosennya jelasin apaan."


"Bagian yang mana memangnya? Yaudah sini kakak coba cek dulu."


Saat Oki sibuk membaca tugas Sisil, Sisil memandangi wajah Oki dan tersenyum-senyum. Oki menyadari bahwa Sisil sedang memandanginya.


"Kenapa? Ganteng ya?" Ucap Oki sambil tetap membaca buku tugas Sisil.


"Haaah? Apaan sih kak. Geer banget." Sisil salah tingkah.


"Kirain mengagumi kegantengan pacarnya."


"Hueeeeeekkk pede banget iih. Terus gimana jadinya? Kakak bisa gak materi ini?" Tanya Sisil mengalihkan pembicaraan.


"Bisa sih, cuma perlu buku panduan buat rumusnya. Kakak agak lupa."


"Ini bukunya Kak." Sisil mengeluarkan buku dari tasnya.


"Waah, ini niat minta ajarin atau minta kakak yang kerjain?"


"Hahaha, ya sini Sisil yang kerjain. Tapi kakak jelasin rumus-rumusnya sama data yang harus Sisil input ya."


"Oke."


Oki menjelaskan semuanya pada Sisil dengan sabar. Jika dirasa Sisil kurang memahami, Oki langsung mengulangnya hingga pacarnya itu paham.


"Nanti hasilnya bisa keliatan ketebalan tanah yang baik untuk masing-masing lapisannya. Jelas kan?" Tanya Oki.


"Oke oke, Sisil paham sekarang. Sisil coba kerjain deh kalau gitu."


"Yaudah kakak tungguin. Nanti kakak cek sekalian." Sisil mengangguk dan langsung mengerjakan tugasnya. Sekarang berganti Oki yang memandangi wanita imut di depannya. Wanita itu tidak menyadari bahwa sedang dipandangi oleh Oki karena sedang serius mengerjakan tugasnya. Cukup lama Oki memandangi Sisil yang sedang serius, membuat Oki gemas ingin menggodanya. Namun, Ia urung menggodanya. Saat ada hal yang mulai membuat bingung Sisil bertanya kembali pada Oki, Oki menjelaskan dengan sabar. Akhirnya tugas Sisil bisa terselesaikan dengan baik.


"Makasih ya Kak. Sisil jadi paham dan bisa ngerjain tugasnya."


"Sama-sama. Itu semua juga karena kamunya pinter. Coba kalau gak paham-paham, kan capek juga jelasinnya. Tapi buktinya, kamu sekali dua kali dijelasin udah langsung nangkep maksud kakak."


"Yang penting sekarang tugas Sisil sudah selesai. Yeeeyyy. Kakak laper gak? Mau pesan makan?" Sisil mengajak memesan makanan karena sedari tadi mereka hanya memesan minuman.


"Boleh, yuk pesan makan."


Sesaat kemudian makanan datang..


"Kakak gimana sama Kak Anya?"


"Baik, kita udah baikan. Pacar Anya sempet minta maaf karena ngelarang kakak berteman sama Anya."


"Pasti pacarnya cemburu buta yah kak."


"Emmhh, memangnya kamu gak cemburu kalau liat aku sama Anya?"


"Enggak sih kak, karena aku tau kalau kakak gak mungkin jadian sama Kak Anya. Kalau kalian emang saling suka ya pasti udah jadian dari dulu atau mungkin bakal gak suka kalau satu sama lain punya pasangan. Tapi yang aku liat saat masing-masing punya pasangan kalian santai-santai aja."


"Iya karena emang gak ada perasaan yang gimana-gimana. Bagi aku, Anya itu udah kayak saudara banget. Memang kesan awal pasti banyak cowok yang akan tertarik sama Anya. Tapi itu perasaan yang normal antar lawan jenis. Selebihnya saat mengenal Anya ya aku ngerasa berteman sama dia itu nyaman banget."


Sisil mengangguk mendengar penjelasan Oki.


"Kak Anya dewasa banget orangnya ya kak? Aku suka banget liatnya. Cantik, pinter, dewasa. Pokoknya paket komplit. Pacarnya pasti beruntung banget. Pacarnya anak mana Kak?"


"Pacarnya polisi. Dulu aku sama Anya pernah pulang bareng. Kita gak sengaja kena razia gitu. Ya pacarnya ini yang nangkep kami sampai harus ke kantor polisi. Untung semua bisa selesai baik-baik karena emang hanya salah paham aja. Setelah kejadian itu, pacar Anya berusaha minta maaf ke Anya. Dan akhirnya sekarang jadian deh."


"Waaahh, hebat banget yah tuh pak polisi. Bisa menaklukan hati Kak Anya. Padahal gosipnya susah banget buat dapetin hati Kak Anya karena dia fokus pendidikan."


"Iya emang. Udah banyak cowok yang curhat ke aku karena pengen deketin Anya. Tapi akhirnya laki-laki akan minder sendiri kalau kualitas mereka dibawah Anya sok-sokan deketin hanya untuk main-main."


"Langsung kayak seleksi alam gitu yah kak. Keren banget kak Anya." Puji Sisil tulus.


"Terus pacarnya ini gak dipuji." Oki cemberut.

__ADS_1


"Ahahaha kok kayak anak kecil. Iya iya pacarku yang ganteng dan pinter ini." Oki tersenyum sumringah.


__ADS_2