
"Halo Ndre, sorry udah lama nunggu kah? Tadi agak macet soalnya."
"Enggak kok, gak nunggu lama. Baru sampai juga."
Sonya duduk di seberang Andre.
"Jadi begini Andre, sebenarnya aku ngajak kamu ketemu ada yang mau diobrolin. Tapi bukan aku, dia yang mau ngobrol dan nanya sesuatu sama kamu." Ucap Sonya sambil menunjuk seseorang disebelahnya. Seseorang itu memberi senyum pada Andre, Andre membalasnya.
"Memang apaan yang mau ditanyakan?" Tanya Andre dengan raut wajah bertanya-tanya.
"Jadi gini kak, Anya mau tanya sesuatu. Tapi Anya harap kakak gak tersinggung." Ucap seseorang disebelah Sonya yang tak lain adalah adiknya.
"Tanya apa?"
Anya mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan foto Gista dan Om Faisal.
"Apa kak Andre kenal sama wanita di foto ini?" Ucap Anya sambil menyodorkan handphonenya.
Andre mengamati foto tersebut dan menyadari bahwa itu adalah Gista dan ayahnya.
"Iya aku tau."
"Kakak bisa kasih tau hubungan mereka apa?"
"Gini Anya, ini menyangkut aib keluargaku. Jadi gak semudah itu aku ceritakan." Anya tertunduk lesu mendengar penuturan Andre. Tentu tidak akan mudah bagi Andre menceritakan semuanya.
"Anya minta maaf kak kalau mungkin terlalu menuntut kak Andre cerita. Tapi jujur, ini semua ada sangkut pautnya sama seseorang kak. Demi masa depan seseorang."
"Aku mohon Andre, bantu Anya. Pliis." Ucap Sonya memohon.
Andre berpikir sejenak.
"Oke, aku akan ceritakan apa yang aku tau. Tapi dengan satu syarat." Ucap Andre menatap Sonya.
"Apa?" Tanya Sonya.
"Aku mau kamu juga jelasin semua yang ingin aku tau. Tentang seseorang yang ingin aku tau. Tanpa ada yang ditutup-tutupi." Ucap Andre.
"Siapa memangnya? Apa aku kenal seseorang itu?" Tanya Sonya mengernyitkan dahi.
Andre mengangguk.
"Kamu mengenalnya, dan nampaknya kamu cukup mengerti sesuatu yang terjadi padanya."
"Baik, aku akan terima syarat dari kamu. Asal kamu ceritain tentang seseorang di foto tadi. Tanpa kekurangan satu informasi apapun. Aku mohon." Pinta Sonya.
Andre mengangguk dan tersenyum.
"Sebentar lagi aku akan tau kebenarannya." Batin Andre.
***
Gista dan keluarganya datang kembali ke rumah keluarga Yoga. Mereka memberi ultimatum jika sampai tenggat waktu tidak ada niat baik dari Yoga dan keluarganya, maka jangan salahkan kalau keluarga Gista akan melakukan sesuatu pada keluarga Yoga.
Papa Gista yang tak terima anaknya hamil dan tidak mendapatkan pertanggungjawaban, akan menyebarkan bagaimana etika Yoga kepada rekan bisnis mereka agar semua bisa menilai bagaimana keluarga Yoga. Dengan ancaman seperti itu, papa dan mama Yoga berharap anaknya bisa mendapat pertanggungjawaban.
"Sabar jeng, kita bicarakan semua baik-baik." Ucap Mama Yoga.
"Sabar bagaimana maksud anda? Nantinya yang menanggung malu adalah anak saya, Gista. Sedangkan anak anda, seenaknya aja kesana kemari tanpa merasa bersalah." Ucap Mama Gista.
"Iya tapi saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membujuk Yoga."
"Ya jangan dibujuk dong, tapi dipaksa." Ucap Mama Gista dengan sinisnya.
Saat sedang mengobrol, Yoga masuk ke rumahnya sepulang bekerja. Masih lengkap dengan seragamnya dan terlihat gagah.
"Saya akan pastikan kalau saya bukan orang yang harusnya bertanggung jawab atas bayi di kandungan Gista." Ucap Yoga dengan tegas membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Yoga.
"Beraninya kamu ngomong kayak gitu? Lantas siapa yang harus bertanggung jawab?" Papa Gista tidak terima.
"Saya akan buktikan siapa yang memang pantas bertanggung jawab atas perbuatannya. Saya tidak akan bertanggung jawab untuk hal yang tidak saya lakukan. Saya tidak pernah menyentuh anak om." Lanjut Yoga.
__ADS_1
Gista sedikit panik dengan ucapan Yoga, Ia langsung pura-pura menangis.
"Tega kamu Yoga. Aku gak nyangka kamu bisa lepas tanggung jawab begini. Padahal sebelum melakukan kamu bilang akan bertanggung jawab." Ucapan Gista membuat kedua orangtuanya semakin tidak tega pada anaknya.
"Saya pastikan kamu gak bisa lepas begitu saja. Jangan harap keluarga kamu bisa tenang dan bahagia di atas penderitaan anak saya." Ancam papa Gista.
"Penderitaan anak Om karena perbuatannya sendiri. Jangan kambinghitamkan orang lain yang bahkan tidak bersalah, hanya untuk menutupi kesalahannya."
Ucapan Yoga membuat geram papa Gista hingga melayangkan pukulan pada sudut bibir Yoga.
"Kamu kira anak saya wanita murahan? Dia hamil karena perbuatan kamu. Kami tidak akan mengemis tanggung jawab lagi kalau memang hanya mendapat hinaan. Saya akan kasih waktu sampai minggu depan. Sampai tidak ada niat baik, jangan salahkan apapun yang akan kami perbuat." Ancam papa Gista.
Gista merasa sedikit bersalah dengan ancaman yang dilayangkan kedua orangtuanya pada Yoga dan keluarganya. Namun, semua sudah kepalang tanggung. Tidak mungkin Ia jujur mengatakan siapa ayah kandung dari janinnya. Justru dirinya yang akan didepak dari keluarga oleh kedua orangtuanya karena sudah mencoreng nama keluarganya.
Gista dan keluarganya langsung pulang dari rumah Yoga setelah melayangkan ancaman. Papa dan mama Yoga tertunduk lesu mendapatkan penghinaan tersebut.
"Yoga, duduk!" Titah Papa Yoga saat melihat Yoga hendak bergegas ke kamarnya.
Setelah Gista meminta pertanggungjawaban, Yoga mau tidak mau menuruti keinginan orangtuanya agar tinggal dirumah kembali. Ia harus meninggalkan apartemennya karena dianggap Yoga sudah terpengaruh pergaulan bebas.
Yoga menuruti perintah papanya dengan duduk di sofa ruang tamu untuk mendengarkan apa yang akan papanya bicarakan.
"Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan tadi? Papa tidak pernah ajari kamu untuk lari dari tanggung jawab."
"Tapi aku sudah jelaskan berulang kali, Pa. Bukan aku yang melakukan. Aku bahkan tidak pernah menyentuh Gista."
"Tapi bagaimana mungkin Gista hamil. Dia juga bilang kamu yang melakukan."
"Yoga juga tidak tau, Pa. Yoga pastikan akan mencari tau siapa yang harusnya pantas bertanggung jawab, bukan Yoga."
"Mama mohon nak, jangan lari dari tanggung jawab." Mama Yoga masih tidak percaya dengan ucapan anaknya.
"Ma, bukankah mama adalah orangtua Yoga. Yang mengenal Yoga, yang bisa tau kapan Yoga bohong dan Yoga jujur. Yoga jujur bahwa bukan Yoga yang menghamili Gista. Kenapa mama tidak percaya?"
Mama Yoga tertunduk dan terdiam. Benar apa yang dikatakan putranya. Ia melihat gurat kejujuran dari awal. Namun, Ia mengelak karena merasa kasian pada Gista. Sebagai sesama wanita, Ia pasti tidak tega apabila hamil tanpa mendapat pertanggungjawaban dari ayah kandung bayinya.
"Papa dan mama berusaha percaya padamu, Yoga. Semoga kamu tidak mengecewakan kepercayaan kami."
Sebagai sesama lelaki, papa Yoga meyakini bahwa anaknya tidak melakukannya. Ia tau gelagat lelaki yang lari dari tanggung jawab. Namun, anaknya seyakin itu bilang bahwa bukan dia ayah dari bayi yang dikandung Gista. Hanya saja, kekawatiran papanya bagaimana bisa Yoga membuktikan siapa orang yang harusnya bertanggung jawab tanpa tes DNA. Sedangkan untuk melakukan tes DNA tentu tidak semudah itu mengingat kandungan Gista yang masih sangat muda.
***
Keesokan harinya, Yoga sedang menunggu seseorang di cafe. Dari jauh nampak seseorang yang berjalan ke arahnya. Hatinya menjadi tenang melihat sosok tersebut. Ia tersenyum dan melambai ke wanita itu.
"Makasih ya Nya, kamu masih mau nemuin aku." Ucap Yoga pada Anya yang duduk di depannya.
"Sama-sama kak. Anya harap masalah kakak bisa segera selesai."
"Aku sedang berusaha mencari siapa orang yang sesungguhnya harus bertanggung jawab."
"Bagaimana caranya kak?"
"Aku sudah beberapa hari ini menyuruh seseorang mengikuti Gista kemanapun Ia pergi."
"Bukannya agak sulit kak?" Tanya Anya.
"Sulit kenapa?" Yoga tak paham dengan maksud Anya.
"Gista sedang hamil muda, kedua orangtuanya juga mengetahui hal itu. Sudah pasti Gista tidak bisa bebas pergi seorang diri. Dengan begitu, tidak memungkinkan dia menemui siapa ayah sebenarnya dari bayinya."
Anya memang sangat cerdas. Yoga tidak berpikir sampai sejauh itu. Ia hanya berharap ada celah yang bisa membawanya pada kejujuran dan bisa mengungkap siapa ayah kandung bayi tersebut.
"Kamu benar juga. Nanti aku akan berusaha mencari cara lain."
"Kak, Anya menghubungi kakak dan mengajak kakak bertemu karena ada yang mau Anya kasih ke kakak."
Anya memberikan sebuah flashdisk kepada Yoga.
"Apa ini?" Tanya Yoga.
"Nanti kakak buka, Anya harap hal ini bisa membantu. Anya tidak bisa membantu lebih jauh lagi. Sisanya kakak yang lakukan sendiri." Anya hendak pergi meninggalkan Yoga.
__ADS_1
"Anya.." Panggil Yoga.
"Ada apa lagi kak?" Anya menoleh dan duduk kembali.
"Makasih sudah mau berusaha percaya sama kakak. Kalau seandainya kakak bisa membuktikan semuanya, apa kamu mau menerima kakak kembali?" Tanya Yoga penuh harap.
"Anya tidak bisa jawab itu sekarang kak. Kakak selesaikan dulu semuanya. Biarkan Anya juga tenang dengan semua kewajiban Anya." Yoga tersenyum dan mengangguk memahami maksud Anya. Ia hanya bisa memandangi wanita yang disayanginya pergi menjauh meninggalkannya.
***
Anya duduk di balik setir. Ia menyalakan mesin mobilnya namun belum bergegas dari tempat parkir. Ia melihat Yoga yang masih duduk di dalam cafe. Anya bisa melihatnya karena cafe tersebut di desain dengan jendela kaca besar di semua sisi.
Entah kenapa hatinya terasa sesak. Ia percaya dengan Yoga. Ia memahami apa yang dikatakan Yoga adalah kejujuran. Namun, masalah ini sangat krusial. Oleh karena itu, Anya memutuskan mengakhiri hubungan tersebut. Anya hanya bisa menunggu Yoga membuktikan semua kebenaran. Walau begitu, Anya bukan orang yang berpangku tangan. Ia memberikan bantuan sebisa yang Ia lakukan. Sisanya Ia serahkan pada Yoga.
Anya menghela nafas dalam-dalam. Sangat sesak baginya melihat Yoga yang masih sangat Ia sayangi setelah perpisahan tempo hari.
#Flashback On..
"Aku gak akan lepasin sampai kamu mau dengar penjelasan aku."
"Aku udah bilang gak ada yang perlu dijelasin lagi." Ucap Anya dengan nada makin tinggi.
"Enggak. Aku mohon Anya. Dengerin aku sekali ini aja."
Anya memilih mengalah, Ia duduk kembali untuk mendengarkan penjelasan Yoga.
"Untuk terakhir kalinya." Batin Anya.
"Anya, bukan aku yang menghamili Gista. Aku berani sumpah." Anya hanya bisa diam mendengarkan.
"Gista berkencan dengan banyak laki-laki Nya, kamu ingat kan ketika kita liat dia di cafe tempo hari. Dia dengan lelaki dan mesra sekali. Lalu beberapa hari kemudian dia menuduh aku menghamilinya."
Anya mengernyitkan dahi. Benar yang diucapkan Yoga. Ia juga beberapa kali mendapati Gista dengan laki-laki. Bahkan nampak laki-laki yang sudah matang.
"Aku akan berusaha membuktikan semuanya Nya, bahwa aku tidak bersalah. Tapi, aku butuh kepercayaan dari kamu."
Anya terdiam.
"Kak, Anya tetap ingin kita berpisah. Anya harap kakak bisa menyelesaikan semua masalah ini." Ucap Anya lembut membuat Yoga tertunduk. Yoga menahan air di sudut matanya. Matanya memerah.
"Anya berusaha percaya dengan ucapan kakak. Tapi, Anya berharap kakak bisa menyelesaikan semua dengan baik, karena hal ini juga menyangkut nama baik keluarga kita masing-masing kak. Anya akan berusaha membantu semampu Anya. Tapi Anya harap kakak juga memahami posisi Anya. Kita jalani semua sendiri-sendiri dulu." Lanjut Anya.
Yoga memahami maksud Anya. Masalah ini tentu sangat menyangkut nama baik keluarga. Jika sampai ada orang yang tau Gista hamil dan tak mendapatkan pertanggungjawabannya, orang akan memandang keluarga Yoga buruk. Belum lagi jika orang tau ada Anya yang bersama Yoga. Justru Anya dan keluarganya yang akan mendapat cap buruk dan akan berdampak pada pandangan orang tentang mamanya yang berstatus janda, dan kakaknya. Sungguh Anya memilih menggunakan logikanya saat menjalin hubungan, Ia sangat berusaha perasaan tidak mengendalikannya walaupun semua terasa menyakitkan bagi Anya.
"Aku paham Nya. Aku menerima kita putus. Aku akan berusaha menyelesaikan semua masalah ini dengan baik tanpa menyakiti siapapun." Ucap Yoga yakin. Anya mencoba tersenyum walau hatinya terasa perih. Tidak pernah terbayang baginya hubungannya dengan Yoga kandas dan sesingkat ini. Anya hanya pasrah, jika memang Yoga adalah jodohnya, maka kebenaran akan segera terungkap.
"Baiklah kalau begitu. Aku permisi Anya. Semoga kamu bisa bahagia. Semoga takdir membawa kita kembali bersama." Ucap Yoga.
"Iya kak, hati-hati." Anya melihat kepergian Yoga. Ingin rasanya berlari memeluk punggung Yoga dan menahannya pergi. Namun, Ia harus tetap berpikir logis demi semuanya. Ia tidak mau keputusan berdasarkan egonya akan berdampak buruk pada keluarganya.
Anya menaiki anak tangga dengan lemas. Saat hendak memegas handle pintu kamarnya, Ia memutuskan pergi ke kamar kakaknya, Sonya. Anya menceritakan semua keluh kesahnya pada kakaknya. Semua hal yang ingin Ia ungkapkan pada Yoga juga tak luput Ia ceritakan pada kakaknya. Sonya hanya bisa menenangkan adik semata wayangnya yang terlihat sangat sedih dan terpukul akibat perpisahan dengan seseorang yang disayanginya.
"Sabar yah dek. Semoga kebenaran segera terungkap." Hibur Sonya sambil memeluk Anya.
"Iya kak, semoga memang Yoga jujur atas semuanya kak. Anya gak bayangin kalau Yoga bohong kak, hancur banget pasti hati Anya."
"Sssttt jangan bilang gitu. Kakak yakin Yoga bicara yang sejujurnya." Anya mengangguk mengiyakan ucapan kakaknya.
"Lalu sekarang apa rencana kamu?" Tanya Sonya.
Anya nampak berpikir sejenak. Ia beranjak dari pelukan Sonya.
"Anya pengen berusaha bantu Yoga kak. Walaupun kami berpisah, Anya tidak bisa membiarkan dia sendiri menanggung ini semua. Kalau memang Yoga jujur bukan dia yang melakukannya, maka Gista pasti berbohong. Alasan dia berbohong itu pasti juga karena Anya dan Gista sering cek cok saat bertemu. Anya yakin dia berbohong karena ingin menghancurkan hubungan Yoga dan Anya. Namun, jika semua terbukti bahwa Gista jujur, Anya tidak akan mau melihat muka Yoga lagi dimasa depan." Ucap Anya sambil menyeka air matanya.
"Bantu Anya yah kak." Pinta Anya.
"Kakak akan bantu apapun yang kakak bisa."
Anya tersenyum.
"Makasih kak." Anya menceritakan semua rencananya pada kakaknya. Kakaknya mengangguk dan menyetujui rencana Anya.
__ADS_1
#Flashback Off..