Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Ikatan batin


__ADS_3

Yoga melajukan mobilnya menuju kota Bandung. Hampir satu bulan lebih Ia 2 jadwal kencan dengan Yoga. Siapa sangka saking lelahnya, Anya bahkan masih tertidur.


Dering ponsel Anya berbunyi berkali-kali. Ia dikagetkan setelah dering panggilan ke 5 kali yang dilakukan Yoga.


"Halooo.." Ucap Anya lirih mencoba mengumpulkan nyawa.


"Halo sayang, lagi dimana? Aku di depan." Ucap Yoga.


"Haaah? Bentar sayang, bentar. Aku baru bangun." Anya terperanjat.


Anya berlari kedepan dengan piyama melekat di badannya. Ia menemui Yoga yang sudah rapi menunggunya di depan.


"Sayang maaf, aku baru bangun. Kemarin begadang nyelesaiin laporan biar hari ini bisa full sama kamu." Jawab Anya dengan nada manja.


"Gak papa sayang, aku tungguin kamu siap-siap." Yoga mendekat hendak mencium kening Anya sembari memeluk.


Anya segera menghindar sembari menutup wajah dengan satu tangan. Membuat Yoga keheranan dengan tingkah kekasih hati.


"Jangan sayang, aku masih bau banget. Kamu tunggu di dalam aja, aku siap-siap. Janji gak lama." Ucap Anya.


Yoga tersenyum melihat orang yang dirindukan. Anya tetap tidak berubah. Selalu menggemaskan di mata Yoga.


Yoga menuruti titah Anya. Ia menunggu pujaan hati dengan sabar. Mengusir kesendirian, Yoga memilih bermain ponsel.


"Sayang, okay? Aku baru mandi. Tunggu yah, aku dandan dulu." Anya menengok Yoga di ruang tamu. Nampak handuk melekat di rambut basah Anya. Wajahnya juga lembab penuh kesegaran, ditambah aroma semerbak dari sabun yang tercium.


"Okay sayang, sampai kapanpun aku tungguin. Kan emang aku kesini buat kamu. Jadi gak masalah. Don't worry, baby." Jawab Yoga penuh kesabaran.


"I'm feel bad, baby. So sorry." Ucap Anya lagi dengan ekspresi manja semakin membuat Yoga gemas.


"It's okay. Sure." Yoga meyakinkan.


Anya mengangguk sambil tersenyum. Anya melanjutkan aktivitas dandannya. Ia juga belum memilih pakaian yang tepat. Untuk mempersingkat waktu, Anya hanya memilih pakaian yang ada tepat di depannya saat membuka lemari.


Anya sudah siap, Ia mematut kembali dirinya di depan cermin. Pakaian sederhana namun tetap membuat aura kecantikan terpancar. Anya bergegas menemui Yoga.


"Lama yah sayang?" Tanya Anya.


"Enggak kok, cepet malah. Eeh tau-tau udah cantik banget kayak bidadari." Gombal Yoga.


"Jadi tadi waktu belum mandi gak kayak bidadari?" Pancing Anya.


"Kalau tadi kayak bidadari belum mandi, sekarang kayak bidadari udah mandi." Yoga mencari alasan.

__ADS_1


"Terus apa bedanya?"


"Gak ada bedanya. Karena semua sama-sama cantiknya."


"Gombaaaal banget. Udah yuk berangkat. Kita mau kemana emang?" Tanya Anya.


"Mau ajak kamu ke tempat yang adem. Tapi sebelum itu kita cari sarapan dulu. Kamu pasti laper kan baru bangun langsung buru-buru siap-siap."


Anya baru menyadari keroncongan di perutnya.


"Hehehe iya sayang. Yaudah let's go!"


***


Sonya sudah kembali ke rumah pasca melahirkan. Ia berbaring di kasur yang sudah lama dirindukan. Kondisi bayi Sonya juga berangsur membaik, namun Ia belum bisa pulang bersama kedua orang tuanya. Dokter memperkirakan jika kondisi terus membaik seperti ini, maka kurang lebih satu minggu ke depan bayi mungil Sonya bisa pulang.


Sonya berbaring dan menyadari sakit di sekitar dadanya.


"Mana pumpingnya?" Gumam Sonya.


Ia bangkit dengan perlahan menjadi pumping asi di tas bawaan yang belum sempat dibongkar.


Sonya segera melakukan pumping untuk mengosongkan dadanya. Hasil pumping yang menurun dari kemarin membuat Sonya semakin sedih.


"Hasil pumping aku menurun sayang. Mungkin kepikiran dedek. Pengen banget dedek bisa ikut pulang bareng kita." Keluh Sonya.


"Sabar sayang. Kalau kamu sedih, dedek pasti juga sedih. Kalian kan punya ikatan batin yang kuat. Kamu harus semangat dan optimis."


Sonya mengangguk mencoba menepis semua gundah gulana di hatinya.


"Habis ini kamu makan terus istirahat. Aku udah siapin makanan di meja makan. Aku ke rumah sakit sebentar buat anter asi." Titah Ezza.


"Ikuuuuttt. Aku mau ikut ke rumah sakit juga sayang. Mau lihat dedek juga. Kangen banget sama dedek. Pliiiiisaas." Ucap Sonya memohon.


"Tapi kamu masih belum pulih sayang. Nanti kalau udah pulih yah baru ke rumah sakit. Sekarang istirahat dulu." Pinta Ezza.


"Pliiis sayang. Aku udah kangen banget sama adek. Siapa tau kalau aku ketemu adek, aku jadi semangat dan asinya makin lancar. Begitupun adek juga bisa semangat untuk membaik." Bujuk Sonya kembali.


"Yaudah, abis ini kita ke rumah sakit tengok adek. Tapi kamu harus makan dulu yang banyak." Ezza mengalah mendengar penjelasan Sonya. Memang ikatan ibu dan anak sangat kuat. Ia tidak mungkin tega membiarkan rasa rindu seorang ibu baru pada bayinya.


***


Andre datang ke rumah sakit menjenguk mamanya. Saat di lobby Ia berpapasan dengan Selly.

__ADS_1


"Sayang.." Sapa Andre percaya diri.


"Ssstttt.. Jangan kenceng-kenceng. Malu tau. Kamu ngapain kesini?" Tanya Selly.


"Mau nengok mama. Sekalian nanya mama butuh apa aja. Sama pengen liat kamu juga." Andre membuat Selly tersipu.


"Iiih gombal banget. Udah aku mau kerja dulu, jangan gangguin."


"Nanti aku jemput ya."


"Gak usah, aku bisa pulang sendiri. Kamu kan banyak kerjaan."


"Aku udah janji untuk jagain kamu, sayang. Jadi kalau cuma jemput kamu pulang itu bukan hal yang berat sama sekali. Justru bikin aku semangat karena bisa ketemu."


"Hmm, yaudah terserah aja." Selly malas berdebat.


"Yaudah, kerja dulu sana. Semangat kerjanya. Kan udah disemangati ayang." Goda Andre.


"Iiihhh, udah sana-sana." Selly mendorong Andre untuk bergegas pergi ke kamar inap mamanya.


Setelah kepergian Andre, Selly senyum-senyum sendiri menuju ruang farmasi. Entah kenapa Ia benar-benar merasakan perubahan pada Andre. Ia benar-benar memperjuangkannya. Ia berharap Andre tidak akan berubah dan mematahkan hatinya untuk kedua kali.


***


Pagi hari Boy sudah siap dan rapi dengan seragam polisi yang membuat terlihat gagah. Ia sengaja bersiap lebih awal karena mau mengantar Gina ke rumah mertua.


"Sudah siap sayang?" Tanya Boy mendekati Gina di kamar yang sibuk menata barangnya.


"Sayang, jangan deket-deket. Bau parfum kamu bikin aku mau mu.. muu.. hueeekkkk.." Gina bergegas ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya.


Setelah merasa lega, Gina menemui Boy di kamar yang terlihat bersalah tidak bisa berbuat apa-apa.


"Maaf sayang, aku gak tau bau parfumku juga bikin kamu mual." Ucap Boy dengan nada sedih.


"Maaf sayang, aku beneran gak tau kenapa kok bisa begini. Rasanya tiap deket kamu ada bau yang bikin aku mual. Entah parfum, entah bau matahari. Pokoknya bikin aku pengen muntah. Aku bener gak maksud sayang." Gina merasa bersalah juga. Ia tidak tega dengan suaminya yang nampak sedih karena membuatnya justru mual dan muntah.


"Gak papa sayang. Udah santai aja, yang penting buat aku kesehatan kamu. Kamu udah selesai belum packingnya? Biar aku bawain ke dalam mobil barangnya." Ucap Boy berusaha menutupi kesedihan.


"Udah sayang, tinggal peralatan mandi aja yang belum dibawa."


"Kamu duduk di kasur aja. Aku yang beresin semuanya."


"Makasih sayang." Ucap Gina dengan senyum tipis. Ia tidak tega namun bingung harus berbuat apa. Gina hendak membantu suaminya, namun jika di dekat Boy Ia pasti sangat mual. Entah apa yang membuat Gina seperti ini, yang jelas hal ini membuat Gina bisa menilai pengorbanan Boy untuknya dan calon anak mereka..'

__ADS_1


__ADS_2