
Setelah satu minggu merasa terjebak di rumah, Gista mulai merasa jenuh. Selain harus makan seadanya, Ia juga sangat bosan dengan pemandangan rumah yang baginya jauh dari kemewahan. Belum lagi setiap hari hanya wajah Om Faisal yang dilihatnya.
"Mau kemana Gista? Kamu belum sepenuhnya sembuh." Tanya Om Faisal kaget saat melihat Gista dengan dandanan sexy seperti biasanya.
"Bukan urusan lu. Yang jelas gue bosen banget dirumah kumuh ini. Gue butuh udara segar yang gak bisa di dapat disini, disini rasanya sesak banget." Jawab Gista.
"Iya terus kamu mau kemana? Ini udah malem Gista."
"Udah gak usah banyak nanya. Minta duit buat makan bayi lu nih."
Om Faisal memberikan beberapa lembar uang untuk Gista. Gista segera pergi meninggalkan Om Faisal.
Beberapa saat kemudian Gista sudah sampai di tempat hiburan malam. Ia masuk dan melihat sekelilingnya. Sekuat hati Gista menahan keinginannya menenggak alkohol karena kejadian tempo hari yang membahayakan dirinya dan kehamilannya. Saat sedang menikmati musik, seseorang mengenali Gista.
"Gistaaaa..." Sapa seseorang itu.
"Haaaiii beb, apa kabar lu? Gila abis putus makin ganteng aja." Sapa Gista balik dan langsung menerima pelukan serta cipika cipiki dari lelaki itu.
"Gue lagi galau."
"Lah, bisa galau juga lu. Kalau galau cari cewek aja. Atau mau sama gue lagi? gue bisa kok nemenin lu semalem. Asal cocok aja, duitnya." Jawab Gista dengan tatapan nakal.
"Lu tuh ya, masih gak berubah aja. Nyesel gue pernah selingkuh sama lu, taunya lu doyan sana sini."
"Salah lu sendiri gampang kegoda. Lagian kalau lu mau gue gak kesana sini, duit lu mesti cukup buat menuhi semua keinginan gue."
"Iya deh, gue paham banget. Duit gue gak banyak, makanya gue gak mampu kalau ngeladeni lu."
"Terus lu galau kenapa emangnya, Agam sayang?" Tanya Gista.
"Gue mau balikan sama mantan gue, tapi susah banget karena dia udah punya calon suami." Jawab lelaki bernama Agam itu sambil tertunduk.
"Yaelah, baru juga calon suami. Belum suami. Yang sudah suami aja bisa gue rebut, masa lu yang masih calon aja gak bisa rebut lagi." Ucap Gista meremehkan, membuat naluri lelaki yang tidak ingin kalah tumbuh dalam benak Agam.
"Iya gue juga usaha ngerebut. Tapi dia cuek terus dan bahkan ngusir gue."
"Lu mau tau cara naklukin mantan lu lagi?"
"Gimana emang?" Agam mendekatkan diri ke Gista untuk mencari tau.
"Gak gratis kaliii. Lu mesti kasih duit dan itu dulu malam ini." Gista menunjuk bagian bawah perut Agam dengan tatapan nakal.
"Masih aja lu, iya ntar gue kasih jatah. Kasih tau gue dulu caranya gimana."
"No no no, duitnya dulu kasih gue sini." Gista menengadahkan tangannya.
Agam terpaksa mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa uang. Gista yang tidak sabar langsung menarik semuanya.
"Jangan pelit-pelit sama gue. Lu kan udah pernah nyoba semuanya." Agam menggeleng melihat tingkah mantan selingkuhannya. Bisa-bisanya dia dengan bodohnya dulu bisa tergoda oleh Gista dan meninggalkan Gina yang sangat sempurna sebagai wanita. Gina memiliki paras yang cantik, Ia juga mampu menjaga dirinya walaupun Ia pandai bergaul. Selain itu Gina juga sangat mandiri dan tidak perhitungan. Sering kali Gina membantu Agam dari segi keuangan, mengingat Agam yang bekerja sebagai karyawan swasta biasa dan masih menanggu kedua orangtuanya. Sehingga kadangkala Gina yang membayar saat mereka pergi kencan.
Namun, saat kehadiran Gista yang ditemuinya di club malam, kebaikan dan kelebihan Gina seolah tertutup. Agam melihat Gista yang begitu menggoda dan sebagai lelaki Ia akhirnya tunduk pada pesona Gista yang sexy dan berani. Agam menikmati malam bersama Gista ketika keinginannya tidak bisa tersalurkan pada Gina yang teramat menjaga diri. Gista dengan senang hati menerima Agam, karena Ia juga haus sentuhan laki-laki. Semakin lama hubungan Agam dan Gista semakin intens, Agam mulai berpikir meninggalkan Gina dan serius dengan Gista yang bisa memuaskannya.
Setelah berhasil meninggalkan Gina dengan alasan kesibukannya bekerja, Agam barulah mengetahui semua kebusukan Gista. Gista juga menjelaskan bahwa Ia tidak akan bisa setia begitu saja pada Agam, jika Agam tidak bisa memenuhi semua kebutuhannya yang serba mewah. Agam mencoba bertahan dengan Gista dan berharap Gista bisa berubah menjadi lebih baik, namun semua harapan itu pupus. Ia mendapati Gista tidur dengan bos Agam di kantor hanya demi uang. Agam akhirnya menyerah pada Gista dan putus. Hubungan keduanya tidak buruk walaupun telah putus. Setelah hubungan berakhir, beberapa kali Agam masih mendatangi Gista untuk menuntaskan hasratnya sebagai laki-laki. Namun, ada tarif yang dipasang oleh Gista karena mereka sudah putus, Gista tidak mau melakukannya secara sukarela.
"Terus gimana caranya? Cepet kasih tau gue!" Agam memaksa Gista.
"Simpel! Mantan lu akan bertekuk lutut sama lu dan bahkan rela ninggalin calon suaminya kalau lu bisa dapetin sesuatu yang berharga darinya."
"Maksud lu apaan?"
__ADS_1
"Haduuh, plis deh Agam. Don't be stupid! Lu tau gak apa yang berharga dari cewek?"
"Duitnya maksud lu? Gue porotin dia?"
"Bukan Agam. Plis deh!" Ucap Gista kesal.
"Kesuciannya. Kesucian tuh cewek yang lu harus bisa dapetin gimana pun caranya. Dan yaaa, gue jamin tuh cewek gak akan bisa ninggalin lu lagi. Yang ada calon suaminya yang bakal terhempas dari kehidupan kalian."
"Waaahhh, bagus juga ide lu. Gue bisa milikin dia selamanya dan seutuhnya." Agam senyum-senyum sendiri membayangkan ide liciknya.
"Bagus gak ide gue?"
"Bagus banget, brilian. Gak nyangka gue lu bisa hebat gitu." Agam mengelus pipi Gista.
"Iya dong. Gue gitu loh. Tapi ide gue gak gratis ya. Lu mesti muasin gue malem ini. Gue udah lama gak disentuh soalnya."
"Siap. Gue juga lama gak nyentuh nih." Keduanya mulai berci*man tak peduli sekelilingnya yang ramai, seakan rasa malu dari keduanya sudah hilang. Kedua orang itu memutuskan untuk berpindah ke hotel guna menuntaskan hasrat satu sama lain.
Om Faisal kebingungan menelpon Gista yang tak kunjung mendapat jawaban karena hingga tengah malam Gista belum pulang. Gista sengaja mematikan telpon agar malamnya tidak terganggu. Bahkan Ia juga memutuskan untuk tidak pulang malam ini, Ia ingin menikmati malam dengan Agam.
***
"Gimana sayang? Udah selesai semua persyaratan sidangnya?" Tanya Yoga yang meluangkan waktu untuk menjemput Anya di kampus.
"Sudah sayang, tinggal tunggu jadwalnya keluar. Karena kan nyocokin jadwal masing-masing dosennya. Tapi kok Anya jadi deg-degan yah." Jelas Anya.
"Gak usah takut sayang, aku yakin kamu bisa lalui semuanya dengan baik dan dapat hasil yang memuaskan. Aku tau sendiri bagaimana perjuangan kamu." Ucap Yoga menenangkan sambil mengusap rambut Anya.
"Makasih ya Kak. Terus kita mau kemana nih?"
"Ke rumah masa depan kita. Lantai satunya sudah jadi sayang. Mau lihat?"
"Waaah, boleh kak. Aku penasaran juga gimana jadinya desain pertama Anya yang jadi real." Ucap Anya menggebu-gebu.
"Enggak, aku gak laper." Jawab Anya mantap.
"Kruucuuuukkk.." Suara perut Anya begitu keras membuat Yoga tertawa mendengarnya. Anya bersemu merah menahan malu. Ia baru ingat bahwa tadi pagi Ia hanya sarapan selembar roti karena saking antusias menuju kampus agar semua urusan segera selesai.
"Kita makan dulu ya sayangku." Yoga mengelus pipi Anya gemas.
Anya mengangguk dengan menunjukkan mimik seperti anak kecil.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Yoga.
"Apa aja deh kak, yang penting makan sama kamu." Gombal Anya.
"Waaah, gombal banget. Belajar dari mana gombalan begitu?"
"Dari kamu lah. Kan selama ini aku pacaran sama Yoga si tukang gombal."
"Heeh, awas ya. Siapa bilang gitu?" Yoga memicingkan mata mendengar julukan dari Anya.
"Emang kenyataan kok, kakak si tukang gombal. Weeekkk!" Anya menjulurkan lidahnya.
"Awas yaaa! Kalau gak diparkiran udah abis kamu aku hukum."
"Uuuhhh tattttuuuutttt. Ada tukang gombal lagi marah." Jawab Anya dengan gaya seperti anak kecil.
"Anyaaa sayaaanggg, awaaas yaaa!" Anya tergelak melihat wajah kesal Yoga. Yoga hanya bisa menggeleng melihat tingkah pacarnya yang seperti anak kecil, namun memang masih anak kecil. Yoga ikut tertawa melihat Anya yang begitu terbahak dengan leluconnya.
__ADS_1
"Pak polisi jangan hukum aku yaaaa, jangan hukum aku dengan cintamuuuu." Anya melanjutkan gombalannya sambil terus tertawa.
"Udaaah Anya. Ayook jadi enggak ini makannya."
Anya berusaha menghentikan tertawanya.
"I ya iya kaaakk, aduuuh aduuuhh! Perut Anya sampe sakit kebanyakan ketawa." Anya menyeka air mata yang keluar saking terbahaknya Ia dengan gombalannya.
"Iya kamu juga aneh-aneh aja. Kamu gak kesambet setan kampus kan? Atau ini beneran Anya bukan sih?"
"Hahaha kakak, ini beneran Anya lah. Kan Anya cuma mau ilangin setress aja, biar lebih rileks gitu gak kaku mukanya. Kalau terlalu kaku nanti cepet tua dan keriput. Itu tuh di bawah mata kakak udah mulai keriput." Anya menunjuk bawah mata Yoga.
"Emang kenapa kalau udah keriput? Masih tetep ganteng kok."
"Iya deh iyaaa, ganteng. Tapi jangan lupa tanam benang yaaa nanti, biar kentcceeennnggg mukanya." Anya tertawa kembali setelah menggoda pacarnya.
"Udah sayangku, ayok berangkat." Yoga cuma bisa menggeleng meladeni keabsurdan kekasihnya.
"Okeee let's goooo.."
***
Ting tong.. Bel pintu berbunyi.
Sonya yang sedang duduk menghadap laptopnya segera beranjak membuka pintu, Ia menerima pesanan makanan yang dibelinya. Sonya sengaja pulang lebih awal dan membawa pekerjaan yang bisa dikerjakan untuk dikerjakan di rumah. Itu semua dilakukan karena Ia tahu statusnya kini sudah sebagai seorang istri. Ia ingin melayani suaminya dengan baik.
Setelah membayar makanan yang dibelinya, Sonya menyiapkan semuanya di meja makan. Ia puas melihat tatanan meja makan, walaupun ada perasaan sedih karena makanan yang dihidangkan bukanlah masakan dari tangannya sendiri. Namun, Ia menyadari bahwa Ia tidak memiliki waktu yang cukup untuk masak.
"Semoga Ezza gak kecewa." Gumam Sonya.
Sonya kemudian mandi dan berdandan tipis agar nampak segar. Tak lupa Ia menyemprotkan parfum di tubuhnya agar wangi saat suaminya memeluknya nanti. Setelah dirasa penampilannya sempurna untuk menyambut kedatangan suaminya, Sonya kembali ke tempat kerjanya dan mengerjakan pekerjaannya sembari menunggu kepulangan Ezza. Sonya mengecek ponselnya yang mendapat pesan singkat, nampak pesan dari Ezza yang memberi kabar bahwa Ia sedang perjalanan pulang. Sonya tersenyum sumringah membacanya.
30 menit berlalu, Ezza sampai di apartemen. Sonya menyambut kedatangannya dengan penampilan cantik dan menggoda. Sonya menggunakan lingerie untuk menyambut Ezza dan membuat Ezza terbelalak melihat sambutan Sonya.
"Sayaaang, kangen." Sonya segera menghambur menuju pelukan Ezza. Ezza pasrah menerima pelukan istrinya yang cantik dan sexy.
"Aku juga kangen sayang, makanya tadi langsung pulang."
Sonya mengangkat kepalanya tetap dengan pelukan eratnya. Ia memanyunkan bibirnya tanda ingin diberi kecupan oleh suaminya. Ezza mengecup bibir tipis istrinya yang nampak menggoda. Sonya tersenyum dibuatnya, Ia melepaskan pelukannya dan membiarkan Ezza istirahat serta membersihkan dirinya dahulu. Ezza masuk ke kamar tidur untuk menaruh barang-barangnya dan bersiap mandi. Ia melihat bahwa semua keperluannya sudah disiapkan oleh Sonya, mulai dari handuk hingga pakaian ganti sudah tersedia rapi di sudut kasur. Ezza kagum dan tersenyum dengan Sonya yang begitu sempurna sebagai sosok istri.
"Makasih ya sayang." Ezza memeluk Sonya dari belakang yang sedang fokus mengerjakan pekerjaannya kembali sambil menunggu Ezza mandi.
"Makasih buat apa sayang?" Sonya kebingungan.
"Makasih sudah melayani suamimu yang jauh dari kata sempurna ini." Ucap Ezza.
"Kata siapa jauh dari kata sempurna? Kamu suami yang hebat di mataku." Jawab Sonya. Ezza mengecup pipi Sonya dan mengeratkan pelukannya.
"Kamu ngerjain apa sayang? Masih banyak kerjaannya?" Tanya Ezza saat melihat pekerjaan di laptop Sonya.
"Aku bantuin Iqbal sayang. Dia pasti kewalahan handle laporan rumah sakit sendirian. Jadi bantu sedikit. Biasanya kalau belum nikah, aku sama Iqbal lembur di rumah sakit. Tapi sekarang aku bisa ngerjain di rumah sambil di peluk suami, jadi lebih semangat ngerjainnya." Jawab Sonya sambil senyum-senyum.
"Banyak banget sayang? Jangan kecapekan ya. Aku pengennya kamu gak capek-capek kerja. Gak tega lihatnya." Sonya berbalik badan mengadap Ezza namun tetap dalam pelukan suaminya.
"Sayang, pekerjaan jadi dokter ini memang keinginanku. Aku janji pekerjaan aku gak akan ganggu kewajiban aku sebagai istri untuk melayani kamu. Aku sudah ngurangi jadwal praktek kok. Aku juga usahain gak lembur supaya bisa selalu nyambut kamu pulang kerja." Jelas Sonya dengan wajah khawatir.
"Sayaaang, aku gak akan nyuruh kamu berhenti kerja kalau kamu enjoy dengan pekerjaan kamu. Yang terpenting buat aku sebagai suami adalah kebahagiaan dan kesehatan kamu. Aku mau kamu bahagia, kalau memang dengan bekerja membuat kamu bahagia, aku gak keberatan. Tapi aku juga mohon kamu jangan capek-capek, aku gak mau istriku yang cantik ini jatuh sakit." Ucap Ezza lembut membuat hati Sonya tenang.
"Makasih ya sayang udah ijinin aku kerja. Makasih udah ngertiin istrimu yang serba keterbatasan ini. Aku bahkan gak sempet masak, aku tadi beli makanan buat makan malem. Maaf ya."
__ADS_1
"Kenapa harus minta maaf sayang. Masak itu bukan kewajiban kamu sebagai istri, aku menikahi kamu sebagai istri, bukan buat jadi chef disini. Jadi gak perlu kamu paksain masak. Bahkan kamu titip makanan saat aku pulang kerja, aku juga gak keberatan sayang. Mulai sekarang, kita jalanin semua sama-sama sayang. Jangan ada sungkan satu sama lain, kita saling bantu dan melengkapi untuk keutuhan rumah tangga ini." Sonya tersenyum mendengar ucapan Ezza. Ia membalas senyuman Ezza lalu mengecup bibir suaminya.
"I love you, suamiku."