
Yoga berkali-kali merasa cemas. Ia berusaha menepis semua perasaan khawatirnya setelah Anya menjawab bahwa kondisinya baik-baik saja. Entah kenapa hari ini Ia tidak fokus dengan pekerjaannya. Di fikirannya hanya Anya, Anya dan Anya.
"Apa mungkin gue terlalu kangen sama Anya?" Batin Yoga.
Dengan terpaksa Yoga menyelesaikan semua pekerjaan.
Sepulang kerja, Yoga berusaha menghubungi Anya kembali. Namun tak ada jawaban. Ia menelpon beberapa kali tapi tak kunjung dijawab oleh Anya. Yoga semakin cemas, Ia mengirim pesan singkat pada Anya menanyakan perihal keadaannya.
Sesampainya di apartemen, pikiran Yoga kalut. Hingga malam Ia menanti jawaban Anya namun tak kunjung mendapat balasan pesan singkatnya. Yoga hingga lupa belum makan malam karena tidak terasa lapar efek mencemaskan kondisi Anya. Yoga memejamkan mata di sofa sembari tangan kanannya menggenggam ponsel.
Tak lama ponsel Yoga berbunyi menandakan pesan masuk. Pesan dari seseorang yang Ia nantikan. Anya.
"Maaf sayang, lagi banyak kerjaan makanya baru sempet kabarin." Jawab Anya sedikit membuat Yoga lega karena benar tidak terjadi apa-apa pada Anya.
Walaupun kenyataannya Anya sedang terbaring di rumah sakit, namun Ia memilih tidak memberitau Yoga. Tentunya karena Anya tidak ingin kekasih hatinya khawatir.
***
Setelah berhari-hari membeli lingerie, Gina masih selalu gagal memberi kejutan untuk Boy, suaminya. Ada saja yang menggagalkan rencana Gina. Awalnya karena Boy yang dinas malam, hingga Gina yang sedang kedatangan tamu bulanan.
Gina menghela nafas pelan saat sedang mematut diri di depan cermin. Tangan Gina sibuk memoles wajahnya namun pikirannya melayang mimikirkan cara melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Gina, kamu mikirin apa? Itu pipinya sampai merah sebelah." Panggil Boy saat melihat tingkah istrinya yang terus memoleskan blush on di pipi kanan hingga merona sebelah.
"Ya ampun, kok sampe tebel begini." Sontak Gina kaget melihat tampilan di depan cermin.
"Lagi mikirin apa, sayang?" Tanya Boy.
"Emmhh, enggak kok sayang." Jawab Gina menghindari jawaban jujur karena pasti membuat Gina malu jika menceritakan semua yang ada di pikirannya.
"Jangan banyak pikiran. Mesti jaga kesehatan." Ucap Boy perhatian sambil mengelus rambut Gina yang sibuk menghapus make up di pipi secara perlahan.
"Eehh, sayang." Panggil Gina.
"Iya?"
"Kamu nanti malem ada dinas?" Tanya Gina.
"Kayaknya enggak. Aku nanti pulang sore. Kamu mau titip sesuatu?"
"Yeeesss.." Sorai Gina dalam hati.
"Eemmh, enggak kok, gak titip apa-apa. Aku juga pulang sore nanti." Jawab Gina.
Kedua pasangan suami istri itu berangkat masing-masing menuju tempat kerja. Di perjalanan Gina senyum-senyum sendiri. "Hari ini harus berhasil. Semangat Gina!" Gumam Gina.
Gina tak hentinya membayangkan apa yang terjadi nanti malam. Ia tak sabar.
Sore hari, Gina sengaja pulang lebih awal. Ia membersihkan diri terlebih dulu sembari membersihkan rumah. Tak lama Boy datang dan membawa bungkusan makanan.
__ADS_1
"Loh sayang, kan aku gak nitip apa-apa." Ucap Gina.
"Dirumah gak ada apa-apa sayang, nanti bisa kelaparan malam-malam kita berdua." Jawab Boy sambil merapikan belanjaan dan menata makanan di meja makan. Gina refleks membantu Boy.
"Makasih." Ucap Boy lembut.
"Sama-sama." Jawab Gina malu-malu.
"Kalau udah lapar kamu makan duluan gak papa. Aku mau mandi dulu."
"Enggak, aku belum terlalu laper kok."
Boy menuju kamar dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Gina berpikir untuk mulai melancarkan aksinya. Ia mengganti pakaian yang dikenakan dengan lingerie yang dibelinya tempo hari. Tak lupa Gina menyemprotkan parfum di seluruh tubuh, terakhir Gina menggerai rambut yang tadi sempat Ia ikat.
Dengan hati berdebar Gina menunggu Boy di kamar mandi. Tak berselang lama, Boy keluar kamar mandi dengan lilitan handuk dibagian bawah dan bertelanjang dada. Mata Boy terbelalak melihat pemandangan di depannya. Ia melihat Gina yang sangat berbeda dari biasa. Gina dengan balutan lingerie yang menerawang seakan menantang kejantanan Boy. Boy berusaha sadar, namun naluri lelaki Boy lebih menguasainya.
Gina berjalan mendekati Boy yang mematung memperhatikan penampilan Gina dari atas hingga ujung kaki. Gina semakin mendekat hingga tidak ada jarak diantara tubuh kedua manusia tersebut. Gina mengalungkan lengan ke leher Boy, nafas keduanya menderu satu sama lain dan detak jantung semakin kencang.
"Cup." Gina mengecup bibir Boy yang masih mengatup.
"Cup." Gina kembali mengecup bibir Boy memberi tanda bahwa Gina siap memberikan semua yang dibutuhkan Boy.
Boy tak kuasa menahan hasratnya. Ia memeluk istrinya dan membalas kecupan Gina dengan ci*man yang membara. Gina membalas ci*man tersebut. Kedua pasangan suami istri tersebut saling berpagutan. Tanpa disadari lilitan handuk Boy terlepas, menunjukkan bagian pribadi Boy yang membuat Gina kaget. Awalnya Gina ingin mundur, namun Ia tau tidak akan mudah karena Ia yang menggoda Boy. Gina berusaha memberanikan diri dan menikmati tiap jengkal sentuhan dari suaminya.
"Masih sakit?" Tanya Boy dengan wajah sumringah.
"Masih." Jawab Gina manja sambil memeluk Boy di balik selimut.
"Kok minta maaf sih sayang, aku yang harusnya minta maaf. Baru ngasih semuanya sekarang, padahal kita udah nikah berapa bulan." Ucap Gina.
"Gak masalah kok. Tapi kalau mulai sekarang, jangan lama-lama ngasih jatahnya yah. Aku gak bakalan kuat nahan setelah tau rasanya." Ucap Boy dengan wajah bersemu merah.
"Iiih sayaaangg, nakal yah sekarang."
"Biariiiin. Kan sama istri sendiri." Jawab Boy sambil membenamkan kepala ke dalam selimut menjelajahi tubuh Gina. Gina kegelian dengan ulah Boy. Keduanya tertawa bersama dan berujung ci*man pelukan.
***
Pagi hari Anya terbangun, badannya terasa lebih segar. Ia melihat sekeliling kamar, nampak Adit yang sedang terjaga. Ada perasaan bersalah pada Adit bersarang di hati Anya. Ia merasa tidak enak merepotkan Adit yang menjaganya saat Ia sakit. Tak ingin membuat Adit terbangun, Anya mengendap perlahan menuju kamar mandi sambil tertatih memegang selang infus.
Saat selesai berurusan dengan kamar mandi, Anya melihat pemandangan dari jendela kamarnya. Matahari sudah mulai nampak, Anya membuka jendela sedikit untuk menghirup udara segar pagi hari di Kota Bandung. Pandangan Anya beralih melihat Adit yang menelungkup di sofa nampak kedinginan karena Anya membuka jendela. Anya tersenyum kecil melihat Adit yang seperti anak kecil saat tertidur. Anya mengambil selimut dan menyelimuti Adit.
Sembari menghabiskan waktu, Anya membuka laptop yang dibawanya dan menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Beberapa jam kemudian perawat datang mengecek kondisi Anya yang sudah cukup baik. Anya tinggal menunggu visit dokter agar bisa pulang.
Adit terbangun mendengar percakapan antara Anya dan perawat. Ia bergegas menghampiri keduanya dan menanyakan kondisi Anya.
"Bagaimana sus kondisinya?" Tanya Adit.
__ADS_1
"Sudah baik kok pak kondisi istrinya." Jawab perawat yang sudah cukup berumur itu ingin menggoda Adit. Anya dan Adit tersentak mendengar ucapan perawat tersebut.
"Kami bukan suami istri sus." Jawab Anya canggung.
"Ooh belum nikah. Masih pacaran?" Tanya perawat itu kembali tanpa canggung.
"Aduuuhh bukan juga sus. Kami cuma teman." Jawab Adit sambil menggaruk kepala belakangnya walaupun tidak terasa gatal.
Perawat itu selesai memeriksa Anya dan keluar kamar, menyisakan Anya dan Adit dengan mode canggung.
"Aku ke kamar mandi dulu ya." Pamit Adit mengakhiri suasana hening.
Di kamar mandi, Adit menatap dirinya di cermin. Ia membenahi penampilannya dengan mencuci wajah dan menyikat gigi. Adit merasa jantungnya berdegup setelah mendengar ucapan perawat tadi.
"Istri.." Gumam Adit. Adit tak menyangkal, sebagai seorang lelaki, pesona Anya tentu tak terelakkan. Tidak mungkin Ia menolak Anya sebagai sosok idaman seorang istri. Anya wanita yang mandiri, namun ada sisi manja di dirinya. Adit benar-benar di buat salah tingkah oleh ucapan perawat tadi. Sebelum terbuai, Adit kembali ingat bahwa Anya sudah memiliki kekasih. Tentunya Ia tidak ingin menjadi lelaki yang merebut pacar orang lain. Adit tidak ingin menyakiti orang lain karena Ia sadar betul rasa sakitnya di sakiti oleh pasangan sendiri.
Setelah dirasa cukup tenang, Adit keluar kamar mandi menemui Anya.
"Di rumah sakit itu istirahat, jangan mikirin kerja dulu." Ucap Adit menghampiri Anya yang sibuk di depan laptop.
"Yah kan biar gak numpuk kak. Anya juga udah enakan kok." Jawab Anya nyengir.
"Sarapan dulu, terus minum obat." Adit membawa baki berisi makanan yang masih lengkap belum terjamah oleh Anya.
"Makanannya hambar kak." Jawab Anya sambil mode anak kecil tapi tetep memakan makanan sarapan dari rumah sakit.
"Kan biar cepet sembuh, nanti kalau udah sehat bisa makan yang gak hambar sepuasnya." Jawab Adit menenangkan.
"Iya kak. Anya nurut deh." Anya melahap makanannya demi kesehatan.
Adit tersenyum melihat Anya yang pasrah dengan sarapannya.
***
Malam ini Mela dan Iqbal ada janji untuk kencan. Keduanya sepakat untuk menonton film di bioskop bersama. Film action menjadi pilihan keduanya, tentunya Mela memilih film action demi menghindari film percintaan yang nanti bisa membawa kebaperan bagi kedua manusia tersebut.
"Beli popcorn dulu yuk." Ajak Iqbal sesampainya di bioskop.
"Boleh."
Keduanya berjalan beriringan menuju tempat jual popcorn. Karena merasa tidak nyaman, Mela berjalan melambat agar Iqbal mendahuluinya. Saat Iqbal sedang memilih pesanan, ada beberapa wanita saling berbisik menatap bergantian ke arah Iqbal, ada yang tersenyum-senyum dan beberapa yang lain saling menggoda. Iqbal memang cukup tampan apalagi dengan setelan santai yang sekarang dikenakan, sangat berbeda dengan tampilan rapi yang biasanya dikenakan sehari-hari. Mela menatap bagian belakang Iqbal yang sibuk memesan, tampilan Iqbal menggunakan celana pendek, kaos navy dengan topi membuatnya nampak muda dan stylish. Mela menjadi sedikit terganggu dengan tatapan wanita-wanita itu ke arah Iqbal.
Mela mendekat menuju Iqbal agar para wanita itu berhenti menatap ke arah Iqbal. Dan benar saja, wanita-wanita itu segera mengakhiri pergibahan mereka. Mela tersenyum puas karena berhasil membuat wanita yang menatap Iqbal terhempas jauh.
Sembari menunggu pintu theater terbuka, Mela dan Iqbal mencari kursi untuk duduk dan mengobrol. Entah kenapa hari ini Mela merasa Iqbal benar-benar berkharisma. Tak henti jantung Mela berdegup saat menatap Iqbal. Namun, Mela tidak ingin terlalu kentara, Ia berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya dekat dengan Iqbal.
Saat masuk ke theater, Mela lebih dibuat berdegup karena Iqbal dengan sigap menggandeng tangan Mela agar tidak tersandung. Jantung Mela berdegup semakin kencang.
"Kenapa sama gue. Kenapa gue deg-degan banget." Batin Mela.
__ADS_1
Sepanjang film, Mela tak konsen. Ia terus menatap Iqbal di sebelahnya. Hati Mela terasa tenang, lelaki di sebelahnya menaruh hati padanya. Tak sadar Mela tersenyum karena pikiran sendiri.