
Pagi hari Sonya bangun dengan posisi memeluk suaminya. Sonya membuka mata dan melihat Ezza masih terpejam. Sambil senyum-senyum sendiri, Sonya memandangi suaminya. Tak lama Ezza mulai membuka mata, Sonya yang salah tingkah mencoba menutup mata karena sangat malu mengingat kejadian semalam. Ezza tau kalau Sonya sebenarnya sudah bangun.
"Bangun sayang. Aku tau kok kamu udah bangun."
Sonya membuka matanya dan tersenyum malu.
"Selamat pagi, istriku." Ezza mengecup kening istrinya. Pipi Sonya memerah.
"Aaakkhhh!!!" Teriak Sonya.
"Kenapa sayang?" Ezza panik.
"Kebelet pipis." Jawab Sonya sambil nyengir.
"Yaudah sana ke kamar mandi."
"Tapi aku gak pake baju sayang, malu."
"Bentar aku ambilin." Ezza memakai celana pendek yang ada dibawah ranjang dan mengambil baju ganti untuk Sonya. Sonya sudah memakai dress sambil duduk.
"Aaaakkkhhhh!!!" Teriak Sonya kembali saat hendak beranjak.
"Kenapa lagi sayang?" Ezza menoleh.
"Sakit yang." Jawab Sonya sambil meringis.
"Apanya yang sakit?"
"Ituuu..." Jawab Sonya sambil menunjuk ke bawah.
Ezza tersenyum. Ia menggendong istrinya ke kamar mandi agar tidak merasa kesakitan. Ezza mendudukan istrinya di toilet.
"Keluar dulu sayang, aku malu."
"Kalau udah, bilang ya."
Di kamar mandi Sonya merasa sakit di bagian sensitifnya. Ia hanya bisa meringis.
"Ternyata begini rasanya malam pertama." Batinnya. "Gimana kalau ngelahirin bayi. Makin lebih lebih sakit dong." batin Sonya sambil merinding.
Sonya menyelesaikan urusannya di kamar mandi dan Ezza menggendongnya kembali ke ranjang.
"Hari ini kita di kamar aja yah. Kamu pasti gak bisa jalan kemana-mana kan?" Tanya Ezza.
"Bisa kok sayang, tunggu bentaran. Ini sakitnya udah mulai berkurang. Cuma agak perih sedikit."
Ezza berlutut di depan Sonya yang sedang duduk di tepi ranjang dengan kaki menggantung.
"Maaf ya sayang. Aku udah bikin kamu kesakitan." Ezza menggenggam tangan Sonya.
"Kenapa harus minta maaf sayang. Aku gak papa kok."
"Tapi karena aku, kamu jadi kesakitan gini."
"Sayang, aku kan istri kamu. Sudah jadi kewajiban aku memberi kamu hal itu. Malah aku yang gak rela kamu ngelakuin sama cewek lain."
Ezza mencium kedua tangan Sonya bergantian lalu menatap istrinya kembali.
"Kenapa?" Tanya Sonya melihat suaminya yang menatapnya penuh makna.
"Jadi pengen lagi, yang." Jawab Ezza sambil nyengir.
"Waduuuh. Sabar dulu yah sayang. Masih perih. Nanti malam yah." Sonya memanyunkan bibirnya.
"Iya sayang, aku juga gak tega kalau kamu kesakitan gitu." Ezza memeluk istrinya dengan erat. Keduanya bahagia sudah terikat dalam jalinan yang sah. Cinta mereka disatukan dalam ikatan yang suci.
***
Setelah bangun kesiangan karena kecapekan dengan acara pernikahan kakaknya, Anya terpaksa mengemudi dengan ngebut.
"Alamat kesiangan nih ketemu dosen." Batin Anya.
Saat sedang menerobos macet, handphone Anya berdering.
"Halo Ki, ada apa?" Jawab Anya sambil menghidupkan mode loudspeaker yang terhubung pada monitor tv di mobilnya.
"Lagi di mana Nya?"
"Di jalan, gue kejebak macet nih. Padahal udah janjian sama dosen. Lu dimana?"
"Gue udah di kampus. Tadi mau ada kelas tapi kosong. Eeh Nya, ntar kalau lu udah sampe kampus gue mau nanya-nanya ya. Gue tungguin di kantin."
"Iya tunggu abis gue kelar ketemu dosen dulu ya. Gak papa kan?"
"Iya gak papa. Gue tungguin."
"Emang mau nanya apaan sih? Sekarang aja, gue kepo."
__ADS_1
"Ntar aja. Sekalian gue ceritain. Oke?"
"Oke deh. Bye. Gue nyetir dulu."
"Bye."
Anya sampai di kampus dan telat beberapa menit. Untungnya dosen pembimbing Anya memahami bahwa Ia kemarin baru ada acara pernikahan kakaknya, sehingga masih bisa dimaklumi.
Asistensi tugas akhir Anya berjalan lancar. Ia sudah mendapatkan hasil dari penelitiannya dan disetujui dosennya. Ia bisa mengerjakan sisa dari laporannya dan bab penutup kemudian bisa dilanjutkan dengan sidang akhir. Hati Anya berbunga-bunga. Perjuangan dan konsistensinya mengatur waktu selama ini berbuah hasil.
Awalnya Ia ragu dengan mengatur waktu antara kuliah dan pacaran. Namun, dengan pengertian dari pacarnya dan sikap disiplin Anya, Ia berhasil untuk melakukan semua sesuai dengan rencananya. Ia berharap semua ini bisa membuat mamanya bangga.
Setelah hampir satu jam diruangan dosen, Anya segera turun dari gedung untuk menuju ke kantin. Ia celingukan mencari Oki yang tadi sedang menunggunya.
"Sendiri aja?" Sapa Anya sambil menepuk pundak Oki.
"Enggak, tadi sama Doni."
"Terus Doninya mana?"
"Kuliah, dia ada mata kuliah yang ngulang."
"Ooooh.." Jawab Anya singkat sambil duduk di depan Oki.
"Jadi lu mau nanya apaan tadi, Ki?"
"Gue mau minta saran dari lu, Nya. Gue lagi galau."
"Galau kenapa? Marahan sama Sisil?" Selidik Anya. Oki menggeleng.
"Terus kenapa?"
"Jadi gini. Gue kan sempet ketemu orangtuanya Sisil waktu mereka kesini. Mereka nanya apa gue serius sama Sisil."
"Terus?" Anya fokus mendengarkan.
"Terus gue jawab serius dong. Nah masalahnya, tiba-tiba orang tuanya nyuruh kita nikah dong. Kalau emang belum siap, seenggaknya tunangan dulu."
"Serius lu?"
Oki mengangguk dengan tatapan memelas.
"Lu kok kayak gak seneng gitu? Lu gak sreg sama Sisil?"
"Bukan masalah gak sregnya. Gue jujur aja belum siap nikah Nya. Gue lulus aja belum. Kalau gue nikah, Sisil mau makan apaan. Dari gaji asisten? Mana cukup Nya."
"Bukan gue gak yakin sama Sisil. Tapi guenya yang gak yakin sama diri gue sendiri kalau gue mampu nikah disaat sekarang. Orang tua gue juga pasti kaget Nya kalau tiba-tiba gue mau nikah."
"Terus Sisil tau kalau lu disuruh orang tuanya nikahin dia?"
"Gue gak tau Sisil tau apa enggaknya. Yang jelas waktu orangtuanya ngomong ke gue, posisi lagi gue sendiri. Sisil lagi beli sesuatu waktu itu."
"Menurut gue nih Ki, lu terus terang ke Sisil. Mau gimanapun hubungan ini kan kalian yang jalanin. Kita juga gak tau kesiapan Sisil. Belum tentu dia siap nikah dalam waktu dekat juga. Kalau memang dia belum siap dan banyak planning masa depan, dia bisa bantu lu buat jelasin ke orangtuanya."
"Iya sih Nya. Tapi kalau ternyata dia siap-siap aja buat nikah, gimana?"
"Iya kalau dia siap, lu bicarain lagi penyebab lu gak siapnya. Kadang nikah itu bukan solusi semuanya Ki. Justru dengan menikah, akan banyak masalah lagi ke depannya. Makanya untuk menikah harus benar-benar dengan persiapan yang matang."
"Bener banget Nya. Gue juga bukan tipe yang bakal gantungin Sisil. Tapi bukan berarti harus nikah dalam waktu dekat juga. Gue paham kekhawatiran orang tua Sisil. Mereka pasti gak tenang anak perempuannya jauh, pacar-pacaran tanpa kejelasan."
"Kalau soal itu ya tugas lu buat yakinin orang tuanya bahwa lu dan Sisil pacaran tapi gak yang macem-macem. Justru lu jagain Sisil dan saling mensupport satu sama lain. Gue yakin orangtuanya bisa ngerti kalau niat lu baik. Mereka juga pernah muda Ki." Ucap Anya.
Oki mengangguk-angguk mendengarkan petuah Anya.
"Thanks ya Nya. Gue bakal coba omongin ke Sisil. Semoga dia tetep mau jalanin sama gue walaupun gue belum ada niatan menikah dalam waktu dekat."
"Semoga semua lancar, gue doain hubungan kalian bisa sampe nikah. Soalnya jarang-jarang ada yang khilaf kelamaan." Goda Anya untuk menghibur kegalauan sahabatnya.
"Sial*n lu, emangnya kalau mau sama gue itu khilaf. Yang ada mau sama gue itu membawa berkah." Ucap Oki menyombongkan diri disusul gelak tawa keduanya.
"Skripsi lu gimana?"
"Udah selesai penelitiannya. Tinggal laporan sama bab akhir."
"Wuuiiih, gila. Cepet banget lu."
"Lu sendiri gimana? Udah dapet judul?"
"Sudah, gue udah dapet judul. Lagi nyusun bab 1,2,3 tapi tiap asistensi mesti revisi terus. Sampe puyeng gue jadinya."
"Gitu mau disuruh nikahin anak orang, makin puyeng gak tuh." Ucap Anya.
"Lah makanya. Bisa makin puyeng gue. Yang ada skripsi gak kelar-kelar nanti."
"Lu cari di perpus coba skripsi yang hampir sama topiknya. Kan bab 1,2 sama 3 nya bisa referensi dari sana."
"Iya yah, gue belum sempet nyari. Coba deh ntar gue cari di perpus."
__ADS_1
"Semangat Ki, lu bikin timeline biar tiap hari ada progres skripsinya. Ntar kalau lulus tepat waktu bisa makin cepet nikahnya."
"Gak hubungan. Nikahnya karena kesiapan, bukan karena udah lulus. Kalau gue udah lulus terus belum dapet kerja, penghasilan mencukupi, ya sama aja dong. Puyeng lagi jadinya."
"Iya udah gue doain yang terbaik pokoknya."
"Gimana nikahan kak Sonya kemarin? Sorry gak bisa dateng. Nganter orangtuanya Sisil ke bandara soalnya."
"Lancar kok. Gue yang jadi bingung manggil Pak Ezza jadi Pak atau Kak." Galau Anya.
"Hahaha pasti sungkan sungkan gimana ya. Kakak iparku adalah dosenku. Cocok tuh jadi judul sinetron."
"Iya sungkan banget. Gak bayangin lagi kalau gue ada mata kuliahnya, terus dia nikahin kakak gue. Waaahh, gak bakal gue restuin kalau gue gak dapet A."
"Hahaha gila lu. Adik ipar yang kejaaam."
Keduanya tergelak bersama. Tak terasa hari sudah semakin siang. Oki hendak makan siang dengan Sisil dan membicarakan semuanya. Sedangkan Anya memilih pergi ke kosan Ika untuk menghabiskan waktu mengobrol dengan sahabatnya.
***
Yoga dikagetkan dengan kehadiran adiknya di kantor.
"Ngapain lu? Nyariin gue?" Ucap Yoga yang melihat adiknya duduk di sofa ruang tunggu.
"Pede banget. Gina lagi nungguin Kak Boy. Mau makan siang bareng. Tadi Gina lagi deket sini, yaudah sekalian mampir deh."
Yoga mengernyitkan dahi.
"Kalian pacaran? Kakak gak setuju yah kalau kalian pacaran."
"Iih kakak, apaan coba. Gina tuh udah gede, bukan anak SMA yang bisa dilarang-larang deket sama siapa. Lagian Gina sama Kak Boy gak pacaran kok."
"Iya terus? Masih pdkt gitu?" Sindir Yoga.
"Kepo banget sih. Lagian Gina bebas mau berteman sama siapa aja. Mama papa aja gak pernah protes Gina temenan sama Kak Boy. Ini kok malah kakak yang protes. Aneh banget. Week!" Ledek Gina.
"Lu tuuuuh ya." Yoga geram dengan tingkah adik semata wayangnya.
Boy datang menghampiri Gina.
"Sorry yah nunggu lama. Hai Yog." Ucap Boy pada Gina dan segera menyapa Yoga yang juga ada didekat Gina.
"Mau kemana kalian?" Tanya Yoga.
"Makan siang bro." Jawab Boy.
"Gue ikut. Gak masalah kan kalau cuma temenan ngajak gue juga. Gue temen lu, kakaknya Gina juga."
Gina dan Boy saling menatap. Raut wajah sungkan terlihat di benak Boy. Mau tak mau Boy mengiyakan untuk makan siang mengajak kakak dan adik.
Sesampainya di restoran Boy yang asik ngobrol dengan Gina menjadi tidak nyaman. Bagaimana tidak, tatapan Yoga tidak lepas dari mereka berdua. Boy akhirnya memilih diam. Mereka bertiga makan dalam keheningan hingga seluruh makanan di piring pindah ke dalam perut masing-masing.
"Okeee! Jadi kalian bisa jelasin apa hubungan kalian berdua?" Yoga menatap tajam kepada kedua orang di depannya. Gina yang mendengar menjadi tersedak minuman yang sedang diseruputnya.
"Kakak, apaan sih kok nanya gitu." Bisik Gina dengan wajah kesal.
"Iya gue pingin tau hubungan kalian. Emang gak boleh tau."
"Kita cuma temenan kok. Iya kan Kak Boy?" Gina menatap Boy agar menyetujui ucapannya.
"I iya. Kita cuma temenan kok bro."
"Yakin? Gue gak yakin. Gue tau lu naksir adik gue." Ucap Yoga membuat Gina menoleh kembali ke arah Boy yang pipinya bersemu merah.
"Dan lu Gina. Gue gak pernah liat lu seniat ini sama cowok. Walaupun lu bilang cuma temenan, lu gak bakal rela nyamperin cowok itu sendirian." Gina terdiam. Kakaknya benar, Ia tidak semudah itu meluangkan waktunya untuk lelaki jika Ia tidak tertarik atau nyaman berada di dekat orang tersebut.
"Apa karena gue kalian berdua jadi ada di hubungan friendzone begini?"
"Bukan gitu kak." Gina bingung hendak menjawab.
"Lu bro, kalau lu emang suka sama adik gue. Ya harusnya lu perjuangin sekuat tenaga lu. Bukan nyerah gitu aja karena kakaknya gak nyetujui. Kalau lu emang beneran suka, lu harusnya serius sama adik gue. Kesannya disini gue kakak dan teman yang kejam banget. Asal kalian berdua tau, gue gak mau kalian pacaran-pacaran lalu putus dan merusak hubungan pertemanan dan persaudaraan gue."
"Iya bro sorry. Gina, yang kakakmu omongin benar. Aku memang suka sama kamu. Aku nyaman dekat sama kamu. Apa kamu mau menjalani hubungan yang serius denganku?" Gina terdiam sejenak mendengar pertanyaan Boy.
"Mau Gina seperti apapun, gak mungkin juga kita bisa menjalani hubungan yang serius sebelum Kak Yoga nikah." Ucap Gina tertunduk.
"Gue ngerti, itu yang pasti jadi beban lu. Gue akan bantu omongin ke mama papa. Asal satu syarat."
"Apa?" Tanya keduanya serempak.
"Kalian segera menikah, bukan pacaran-pacaran aja."
"IYA KAK." Jawab Gina mantap membuat Boy dan Yoga menatapnya kaget.
"Jadi kamu mau sama aku?" Boy kembali bertanya.
"Gak usah ditanyain lagi. Masa jawaban semangat gitu lu gak paham juga." Jelas Yoga membuat Boy senyum-senyum sendiri. Gina sendiri tidak berani menatap Boy sangking malunya. Tapi Ia sedikit lega. Kakaknya selama ini hanya ingin yang terbaik untuknya, Ia hanya ingin seseorang yang serius dengannya. Makanya Ia cukup keras saat Boy mendekatinya. Ia tidak mau adik semata wayangnya dimainkan oleh sahabatnya yang akan membuat hubungan persahabatannya akan menjadi buruk. Namun saat Boy mendekatinya, Gina juga tidak bisa menyembunyikan rasa nyamannya saat bersama dengan Boy. Sikapnya yang lembut dan pengertian membuat sikap kaku Gina menjadi mencair.
__ADS_1