Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Be Strong


__ADS_3

Anya sampai di Jakarta. Dan benar saja, Ia tertidur pulas selama perjalanan. Mobil yang dikemudikan Adit sudah keluar pintu tol. Ia membangunkan Anya lembut untuk meminta arah tujuan selanjutnya.


Anya terbangun dan kaget karena benar-benar tertidur.


"Sorry kak, Anya beneran ketiduran ya."


"Gak papa kok. Ini udah keluar tol. Kita mau ke arah mana?"


"Langsung ke rumah sakit aja yah kak. Kita lurus aja, nanti Anya kasih tau jalannya."


"Oke."


Mobil melaju menuju rumah sakit. Tak berselang lama, mobil Anya sudah masuk ke parkiran rumah sakit.


"Udah sampe. Ini kunci mobilnya." Adit menyerahkan kunci mobil Anya.


"Terus kakak gimana?" Anya merasa tidak enak.


"Gampang. Banyak kendaraan umum kok. Nanti bisa naik bis juga buat balik Bandung. Mau sekalian jalan-jalan di Ibu kota."


"Kalau gitu kakak bawa mobil Anya aja gak papa. Mau sekalian ke Bandung gak papa kok kak. Nanti Anya bisa naik bis atau kereta."


"Enggak Anya, beneran kakak pengen naik angkutan umum. Udah gak usah bingung. Sana cepetan masuk, gak usah banyak pikiran. Byeee.." Adit mengelus kepala Anya lembut dan meninggalkan Anya. Anya termenung dengan perlakuan Adit.


Tak berselang lama Anya berlari kecil menyusuri koridor rumah sakit. Ia mendapatkan informasi dari mama Meli sehingga tidak perlu mencari di resepsionis.


"Mamaaa.." Anya berhambur dalam pelukan mama Meli.


"Sayang.." mama Meli memeluk Anya erat.


"Gimana kondisi kak Sonya?"


Anya melihat mama Meli tajam berharap jawaban yang menenangkan hati. Namun, nihil.


"Sonya belum sadar."


Anya menghela nafas panjang.


"Lalu bayinya bagaimana ma?"


"Masih dalam perawatan. Ada Ezza yang memantau bayinya di ruang bayi."


"Kasian kak Ezza."


"Semoga semua ujian ini segera berakhir dan diganti dengan kebahagiaan yang berlipat." Doa mama Meli.

__ADS_1


"Kak Sonya belum bisa dijenguk ma?"


"Belum sayang, kita tunggu Sonya sadar ya. Semoga secepatnya."


Anya mengangguk dan memeluk erat mama Meli untuk memberi kekuatan. Dibalik ketegaran mama Meli, Anya paham bahwa hati ibu mana yang tidak sakit melihat kondisi anaknya sedang berjuang hidup dan mati. Anya paham mama Meli tidak mau membebani pikirannya dan menantunya. Oleh sebab itu, Ia selalu berusaha terlihat tegar.


***


Iqbal sengaja menyiapkan pesta kejutan untuk Mela yang sudah berhasil lulus. Ia menyewa cafe khusus untuk makan malam bersama. Tak lupa Ia mengirim gaun untuk dikenakan Mela.


"Kak, Mela gak biasa pake gaun." Bisik Mela yang sedari tadi menggenggam tangan Iqbal. Bukan karena so sweet tapi karena Ia takut jatuh efek memakai high heels yang cukup tinggi dan runcing.


"Gak papa sayang, ada aku yang jagain kamu. Kamu cantik banget malam ini." Ucap Iqbal menenangkan.


Mela memang terlihat cantik, Ia sangat berbeda dari kesehariannya. Walaupun sehari-hari Mela terkesan modis, namun Ia lebih sudah gaya yang boyish dan seksi. Ia lebih suka memakai tanktop dipadupadankan dengan kemeja. Sekalipun memakai high heels, Ia jarang memakai dipadupadankan dengan gaya feminin. Tidak pernah terlintas Ia harus memakai gaun dan highheels dengan gaya anggun seperti saat ini.


"Kok sepi banget disini?" Tanya Mela heran ketika memasuki cafe yang sangat sepi.


"Aku sengaja booking buat kita berdua. Khusus buat kekasihku yang berhasil lulus."


"Haaah? Kamu serius? Gak perlu kayak gitu sayang. Astagaaa kak Iqbal, Aku gak perlu perayaan yang semewah ini. Cukup kita makan bareng dimana, bahkan di pinggir jalan aku juga gak masalah. Yang penting itu bagaimana kita memaknai ini semua." Jelas Mela membuat Iqbal takjub.


"Biasanya wanita suka hal yang mewah." Jawab Iqbal.


"Masa depan kita?" Tanya Iqbal.


"Iya.." Jawab Mela enteng tanpa memahami kata-katanya sangat berarti untuk Iqbal.


"Memangnya kamu mau membangun masa depan sama aku?" Tanya Iqbal.


"Kalau gak mau ngapain kita capek-capek pacaran kak."


Iqbal bersemu. Bisa-bisanya Ia dibuat klepek-klepek oleh gadis yang jauh usia dibawahnya. Tapi perbedaan usia yang jauh tidak membuat Mela selalu childish. Ada kalanya Mela nampak lebih dewasa dalam pemikiran dan tingkah laku dibanding Iqbal. Semakin lama Iqbal semakin terjerat pesona Mela. Ia tidak ingin melepas gadis kecilnya.


Pasangan kekasih baru itu menikmati makan malam bersama dengan nuansa yang romantis.


"Mela tetap makasih banget sama kakak. Makasih udah nyiapin ini semua buat Mela. Lain kali Mela gak masalah kalau yang sederhana aja." Ucap Mela sambil mengelus tangan Iqbal yang sedari tadi menggenggam tangannya.


"Sama-sama sayang. Aku seneng nyiapin ini semua buat kamu. Oiya, ini hadiah buat kelulusan." Iqbal mengeluarkan kotak kado yang sudah disiapkan. Sebuah kotak kado berwarna pink ukuran sedang.


"Apa ini kak?"


"Buka aja."


Mela membuka kotak kado tersebut. Ia semakin terperangah. Sebuah jam tangan yang tentunya cukup mahal.

__ADS_1


Mela menutup kembali kotak tersebut. Ia mengembalikan pada Iqbal.


"Mela gak bisa nerima ini kak. Mela cuma lulus aja, gak perlu hadiah semahal ini."


"Ini gak mahal sayang, aku memang pengen ngasih ini ke kamu."


"Tapi kak, yang kakak kasih ke Mela itu udah sangat banyak. Nih, handphone aja belum lunas Mela cicil ke kakak. Eehh, sekarang ada lagi hadiah mahal lainnya. Mela makin bingung nanti kak."


"Kenapa mesti bingung. Aku sayang sama kamu, aku pengen ngasih apapun yang bisa aku kasih buat kamu Mela."


"Iya Mela tau kak. Tapi kita masih pacaran, baru pacaran bahkan. Bukan tanggung jawab kakak untuk ngasih ini semua buat Mela. Kecuali kalau kita udah nikah, baru deh Mela akan selalu nerima semua pemberian kakak."


"Kalau gitu, kita nikah aja. Gimana?"


"Iihh, kakak nih. Mela serius. Intinya Mela gak bisa nerima ini semua. Makan malam mewah ini udah hadiah yang cukup buat kelulusan Mela."


Iqbal menyudahi perdebatan dengan Mela. Ia menyimpan kembali jam tangan yang sejak awal ingin Ia hadiahkan untuk Mela. Memang bagi Iqbal, semua yang diberikan pada Mela tidak bernilai fantastis. Tapi berbeda dengan Mela, dia mahasiswi yang baru saja lulus kuliah. Ia sedang ingin memulai meniti karir. Tentu Ia tau bahwa yang Iqbal berikan padanya cukup mewah bagi kehidupannya.


***


Ezza terus memandangi bayi mungilnya yang berjuang dengan alat-alat yang terpasang di badannya. Bagaimana mungkin bayi semungil itu harus berjuang sekeras itu? Hati Ezza semakin teriris mengingat kondisi Sonya yang belum sadar. Dari hati kecilnya terbesit ketakutan ditinggalkan oleh kedua malaikat hidupnya. Tanpa terasa air mata menetes di pipi Ezza. Dengan segera Ezza mengusap pipinya agar tidak ada orang yang tau kesedihan mendalam yang dirasakan.


"Kak, be strong." Anya datang dari belakang Ezza sedikit mengagetkan Ezza.


"Hai, apa kabar dek? Iya, kakak berusaha kuat."


"Anya baik kak. Anya yakin kak Sonya wanita yang kuat. Ponakan Anya juga bayi yang kuat. Mereka segera pulih." Ucap Anya memberi semangat.


"Makasih ya dek. Kamu benar, Sonya wanita yang kuat. Ia pasti melahirkan bayi yang kuat juga. Mereka sedang berjuang, jadi aku disini juga gak boleh lemah dan menyerah."


Anya tersenyum mendengar kata-kata Ezza.


"Makanya kakak jangan nangis terus." Goda Anya.


"Siapa yang nangis?" Jawab Ezza salah tingkah.


"Itu masih ada bekas air matanya."


Ezza buru-buru menyeka air matanya.


"Anya salut sama kak Ezza. Sungguh cinta kakak Ezza pada kak Sonya sangat besar. Kak Sonya wanita yang beruntung."


"Kamu salah dek, aku laki-laki yang beruntung bisa dicintai wanita sehebat Sonya. Semua pengorbanannya membuatku yakin bahwa aku tidak boleh seujung jari pun menyakiti Sonya. Sonya wanita paling istimewa dan aku ingin bisa membahagiakannya di sisa umurku."


Anya makin kagum. Sungguh hubungan pernikahan kakaknya sangat membuat orang lain iri.

__ADS_1


__ADS_2