
Kelulusan tiga serangkai membuat Anya ikut bahagia atas pencapaian ketiga sahabat baik di kampusnya. Ia senang semuanya dapat lulus tepat waktu tanpa drama apapun. Ia serasa rindu membayangkan momen awal kuliah dan bersama dengan sahabatnya. Kini mereka berempat sudah di fase menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Semua akan mengejar mimpi masing-masing. Anya merasa sedih ketika kebersamaan itu sangat cepat. Anya segera memvideocall ketiga temannya yang masih di kampus.
"Halooooo gaesssss.." Sapa Anya sumringah.
"Anyaaaa..." Teriak ketiga terlihat sesak di layar handphone Anya.
"Selamat sayang-sayangkuuu. Gue seneng banget Aaaakkkhhh, kok gue jadi pengen nangis." Anya berusaha menahan air mata dari mata yang sudah terlihat basah.
"Makasih Anya. Thankyou supportnya." Jawab Mela tersenyum.
"Iya Anya sayang. Makasih yaaa." Jawab Ika juga. Oki ikut tersenyum.
"Maaf ya gaes gue belum bisa dateng. Gue udah kirim hadiah khusus buat kalian."
"Hadiah apaan?" Tanya Oki.
"Ada kok, abis ini sampe. Masih on the way hadiahnya."
Tak lama setelah panggilan terputus, ada kurir yang mengantarkan barang untuk tiga serangkai. Tiga serangkai menerima dan membuka hadiah di kantin. Setelah dibuka, ketiganya mendapat dompet dengan model yang berbeda. Terdapat ucapan dari Anya.
"Selamat ya sayangku semua udah lulus. Gue sengaja kasih dompet ini buat kalian. Konon katanya nih, dompet itu tempat buat nyimpen duit. Makanya gue kasih dompet supaya kalian siap buat nyimpen rejeki yang nanti bakal dikasih lebih buat kalian. Welcome to real life gaes. Gue harap kita semua sukses di masa depan dan bisa ketemu terus bercerita tentang kesuksesan kita semua. Love, Anya"
Ketiga sahabat itu tersenyum. Mereka menahan haru. Momen titip absen ataupun mengerjakan tugas bersama sudah menjadi kenangan bagi mereka semua.
***
Malam hari Sonya merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya. Kehamilannya kini menginjak 7 bulan. Dokter menyarankan agar Sonya beristirahat saja karena usia kehamilan Sonya rawan terjadi prematur.
Sonya berusaha menahan sakit di perutnya. Ia mengira bahwa sakit ini hanya karena efek makanan yang Ia makan kemarin. Sonya memilih berbaring di kasur dan mencoba memejamkan mata. Namun tetap saja Sonya tak bisa tertidur, yang ada Ia malah meringis menahan sakit yang tak terkira.
Saat mencoba bangkit, Ia dikejutkan dengan cucuran darah yang keluar hingga ke lantai.
Sayaaangg.. Tolong sayaaanggg.." Sonya berteriak dan lemas. Kakinya serasa tak mampu menopang tubuhnya.
Ezza yang kaget dengan teriakan Sonya terbangun dan bangkit. Ia terkejut melihat banyak darah dan wajah Sonya yang pucat dan lemas. Tanpa banyak bicara Ezza segera menggendong Sonya dan membawanya ke mobil. Dengan kecepatan tinggi Ezza segera melajukan mobil ke rumah sakit terdekat.
Sampai di rumah sakit, Ezza memberhentikan mobil di tempat emergency. Ia meminta tolong perawat di UGD untuk membawakan brankar melihat kondisi Sonya yang sangat lemas. Perawat dengan sigap membantu Ezza. Ezza memindahkan mobil ke tempat parkir dan berlari menuju UGD. Sonya sedang ditangani para dokter yang berjaga. Ezza juga dilarang masuk dan menunggu di ruang tunggu. Ezza menelpon mama Meli tentang kondisi Sonya.
Tak berselang lama mama Meli datang ke rumah sakit dengan nafas terengah-engah.
"Bagaimana kondisi Sonya?" Tanyanya begitu melihat Ezza.
"Masih diperiksa dokter ma. Semoga sebentar lagi dokter memberikan info ma." Ezza menjawab dengan raut menahan tangis. Nampak kekhawatiran di wajahnya. Namun, Ia tetap ingin nampak kuat demi Sonya dan calon anaknya.
"Berdoa agar Sonya dan bayinya sehat selamat. Kita serahkan semua pada yang kuasa. Memang seperti itulah perjuangan ibu hamil nak." Mama Meli mencoba menguatkan Ezza walaupun hati kecilnya juga hancur berkeping-keping mendengar kondisi Sonya.
__ADS_1
Ezza mengangguk seolah tak sanggup berkata-kata lagi.
Hampir satu jam dokter melakukan tindakan untuk menyelamatkan Sonya. Dokter keluar dari UGD dan mencari keluarga Sonya. Ezza dan mama Meli segera menghampiri.
"Pasien mengalami perdarahan. Kandungan ibu Sonya tidak kuat pak. Besar kemungkinan akan terjadi persalinan lebih awal karena bayi sudah berada di jalan lahir. Kami akan melakukan operasi caesar secepatnya karena kondisi ibu Sonya sudah sangat lemah. Untuk bapak mohon diurus terlebih dahulu surat persetujuan dilakukan tindakan." Dokter tersebut berpamitan.
Ezza mencoba tegar dan mengurus semua adminitrasi yang dibutuhkan. Ia berdoa sepanjang langkah agar kedua orang yang dicintainya diberi kekuatan. Ia tak sanggup kehilangan keduanya.
Sonya sudah masuk ke ruang operasi dalam kondisi lemah. Tubuhnya kehilangan banyak darah. Para dokter melakukan operasi untuk menyelamatkan ibu dan anak.
2 jam berlalu. Waktu yang cukup lama untuk operasi caesar. Hal ini makin membuat Ezza dan Mama Meli tak henti berdoa dan berharap mukjizat. Dokter keluar ruangan.
"Bagaimana kondisi istri dan anak saya dok?"
"Kondisi pasien sudah melewati masa kritis. Tapi karena kehilangan banyak darah, istri bapak belum sadar. Kami akan terus memantau perkembangan pasien. Untuk anak bapak, kondisinya masih sangat lemah. Sementara masih kami pantau karena lahir dalam kondisi prematur dan berat badan yang kurang."
Hati Ezza serasa tercabik. Momen kelahiran yang harusnya membuatnya bahagia tiada terkira ternyata kini membuatnya terus berharap keajaiban. Sekuat hati ingin menyembunyikan air mata, semua tumpah begitu saja saat Ezza melihat kondisi bayinya yang berada di ruang perawatan khusus untuk bayi prematur. Bagaimana mungkin bayi mungil itu harus berjuang hidup tanpa dekapan kedua orang tuanya. Ingin rasa Ezza mendekapnya dan memberi kehangatan seorang ayah untuk bayinya. Bayi mungil yang sangat mirip ibunya. Ia sangat cantik.
Mama Meli mengusap punggung Ezza yang sedari tadi juga berdiri di samping Ezza yang terus menatap putri kecilnya dari jendela kaca ruang perawatan.
"Yang kuat Ezza. Kalian bertiga berjuang. Mama berdoa senantiasa untuk kalian." Ezza mengangguk.
"Terima kasih ma."
Ezza memandangi malaikat kecil yang bertahan hidup dengan bantuan alat. "Bertahan sayang, ayah janji akan membahagiakan kalian berdua. Temani ayah di dunia ini, putriku." Gumam Ezza.
***
"Anya.. Mau kemana? Kok kayak buru-buru?" Tanya Adit.
"Kak Adit. Anya mau pulang dulu ke Jakarta kak." Jawab Anya sambil melanjutkan menata barang.
"Ada apa memangnya?" Tanya Adit kembali.
"Kakak Anya abis lahiran dan sekarang belum sadar kak. Dia prematur dan sempat perdarahan hebat." Anya menutup bagasi mobil.
"Anya berangkat ya kak."
"Kamu gak papa nyetir sendiri? Mana wajah kamu keliatan kalut begitu."
"Gak papa kok kak. Aman."
Anya masuk ke kursi kemudi. Ia memundurkan mobil perlahan.
Braaaakkkkkkk... Tanpa sengaja bagian belakang mobil Anya menyenggol dinding garasi.
__ADS_1
"Aaahh sial banget." Anya turun dan mengecek kondisi mobilnya.
"Kamu tunggu sini ya."
"Kenapa emang kak?"
"Udah gak usah banyak tanya."
Adit berlari kecil meninggalkan Anya yang masih penuh pertanyaan.
Anya masih meratapi mobil kesayangannya yang lecet karena ulah teledor. Anya berusaha mengurus lecet mobilnya nanti setelah melihat kondisi Sonya. Ia sangat khawatir dengan kakak semata wayangnya.
Tak lama Adit datang dengan tas ransel. Ia meraih kunci mobil Anya dan menggiring Anya masuk ke kursi penumpang. Anya masih kebingungan apa yang dilakukan Adit. Adit bergegas menuju kursi pengemudi dan meletakkan ranselnya di kursi belakang.
"Aku anterin kamu ke Jakarta. No debat. Gak mungkin aku biarin kamu yang lagi kalut gitu nyetir sendirian ke Jakarta." Ucap Adit. Ia memundurkan mobil dan mobil melaju melewati jalanan kota Bandung.
"Tapi kak, nanti kak Adit gimana di Jakarta? Anya yang jadi bingung mikirin baliknya kakak ke Bandung." Jawab Anya jujur.
"Aku bisa naik kereta nanti malam atau besok. Kalau memang mau nginep di Jakarta aku juga bisa tidur di hotel atau rumah temen. Intinya jangan mikirin aku nanti gimana di Jakarta."
"Iya tapi Anya makin sungkan sama kak Adit." Gumam Anya yang dapat didengar oleh Adit.
"Udah gak usah sungkan. Kamu bisa anggap ini pengorbanan kakak yang gak pengen adiknya kenapa-kenapa. Aku justru gak bisa tenang kalau kamu nyetir sendiri dengan kondisi begini." Mendengar perhatian Adit, hati Anya menjadi lega. Ia sedikit lupa dengan kepanikannya tadi setelah mendapat kabar dari mama Meli.
"Memangnya kakakmu hamil anak ke berapa?" Tanya Adit basa-basi.
"Kak Sonya hamil anak pertama. Masih 7 bulan dan kemarin perdarahan hebat. Sampai sekarang kakak belum sadar. Bahkan bayinya juga butuh perawatan karena berat badannya terlalu kecil. Aku takut terjadi apa-apa sama kak Sonya." Cerita Anya spontan begitu saja.
"Kakak kamu pasti akan sadar. Setiap ibu akan selalu berjuang demi anaknya. Aku yakin. Kamu juga harus yakin bahwa kakak kamu akan melewati masa sulitnya ini." Jawab Adit menenangkan.
"Iya kak, makasih. Rasanya Anya udah berkali-kali ngerepotin kakak."
"Aku gak merasa direpotin kok. Justru aku ngerasa senang." Adit tersenyum tulus yang terlihat sangat menawan.
"Beruntung banget cewek yang nanti dipilih sama kak Adit." Ucap Anya membuat Adit salah tingkah.
"Kamu tidur aja gak papa. Nanti kalau udah sampai Jakarta aku bangunin. Keliatan tuh wajah kamu capek banget."
"Hehe iya kak, kemarin lemburin laporan karena gak bisa tidur."
"Iya udah, meremin aja dulu. Nanti biar seger pas udah sampai Jakarta. Biar pak supir bertugas." Canda Adit mencairkan kegundahan Anya.
"Okeee.. Makasih pak supir." Anya tersenyum.
Anya memejamkan mata dan tertidur dalam perjalanan. Adit sesekali melirik ke arah Anya. Ia memandangi Anya yang tertidur.
__ADS_1
"Cantik.." Gumam Adit mengagumi kecantikan Anya walaupun dalam kondisi tertidur.