
Anya sampai di rumahnya sangat malam. Ia berdiam diri di kamar. Sonya yang mengetahui apa yang menimpa adiknya dari Boy, mengetuk pintu kamar Anya. Sonya masuk ke kamar Anya dan melihat Anya berbalut selimut hingga menutupi wajahnya.
"Anya, are you okay?"
Anya mengeluarkan tangannya dari selimut, menyatukan telunjuk dan ibu jari membentuk huruf O.
"Terus gimana kondisi Yoga?" Sonya duduk di tepi ranjang. Ia mendengar Anya menghela nafas panjang. Anya membuka selimutnya.
"Kak Yoga belum sadar karena efek bius. Untungnya luka tusuknya gak begitu dalam Kak."
"Syukurlah kalau begitu. Kamu pasti ketakutan banget yah." Sonya mengelus lembut rambut adiknya.
"Banget Kak. Apalagi liat Kak Yoga berdarah-darah. Anya nyesel Kak. Itu semua karena Anya."
Sonya menggeleng.
"Enggak Anya, ini bukan karena kamu. Semua ini musibah dek. Kamu gak boleh nyalahin diri kamu sendiri gini. Gak mungkin kamu pengen Yoga terluka kan."
Anya membenarkan ucapan Sonya bahwa dia tidak ingin Yoga terluka sedikitpun.
"Tapi tadi itu kita tengkar Kak. Anya gak mau dengerin penjelasan Kak Yoga. Anya ninggalin dia gitu aja. Coba kalau kita gak tengkar mungkin gak akan ada kejadian seperti ini." Anya kembali terisak.
"Intinya jangan nyalahin diri sendiri dek. Dengan ada atau tidaknya pertengkaran kalian, itu bukan penyebab kejadian ini. Jangan mencari kambing hitam atas masalah apapun. Hadapi masalah ini, selesaikan urusan kalian setelah Yoga sehat nanti. Bukan malah menyalahkan diri sendiri begini. Semangaaat dong adiknya kakak yang paling cantik." Sonya memeluk adiknya yang terisak. Ia tau perasaan adiknya sangat rapuh, semenjak mama kehilangan ayah, ada ketakutan dalam diri Anya kehilangan seseorang. Setelah melihat kejadian tadi pasti hal itu berdampak pada perasaan Anya. Semoga kejadian tadi membawa dampak yang positif bagi Anya, untuk menjaga orang yang Ia sayang.
***
Keesokan harinya Anya pergi ke kantor polisi setelah menelpon Boy mengenai kelanjutan masalah tersebut. Boy menyampaikan bahwa Ia berhasil menangkap pelakunya. Tanpa pikir panjang Anya bergegas ke kantor polisi. Sesampainya di kantor polisi Anya melihat Oki.
"Ki, lu gak balik semalem?"
"Enggak Nya, nanggung. Semalem gue ngobrol sama Kak Boy mengenai dalang semua ini. Preman-preman itu sudah ngaku kalau sebenarnya ada yang bayar mereka buat nyakitin kamu."
"Haaah serius? Siapa Ki? Apa jangan-jangan cewek yang sama Kak Yoga kemarin yah?"
"Cewek siapa Nya?"
"Bukan yah. Sorry sorry kayaknya gue asal nuduh orang." Anya memikirkan ulang sepertinya tidak mungkin juga wanita kemarin pelakunya. Wanita itu bahkan belum melihat wajah Anya sama sekali. Bagaimana mungkin bisa menyuruh orang mengikutinya secepat itu.
"Duduk sini dulu Nya." Oki menyuruh Anya duduk di kursi depan ruang penyidikan.
"Terus siapa dalangnya, Ki?" Anya penasaran.
"Dalangnya masih proses pencarian. Dia ada di luar kota."
"Iya.. Tapi dia siapa Ki? Ada masalah apa sama gue?"
"Gue minta maaf banget Nya, gue yang salah. Lu boleh benci gue sesuka hati lu." Oki menundukkan wajahnya tak bisa menatap sahabatnya itu.
"Ki, plis siapa orangnya. Kenapa lu sampe minta maaf?"
Oki tetap terdiam. Anya terpikir satu nama.
"Jangan-jangan, Lusi?"
Oki mengangguk pasrah.
"Kok bisa, Ki?"
"Gue bener-bener minta maaf Nya. Saat gue ke Jogja tempo hari gue mutusin Lusi, karena dia ke gap sama laki-laki lain. Pas gue mutusin dia nolak buat gue putusin dan ngancem kalau bakal nyakitin lu. Gue awalnya takut sama ancaman dia, makanya sepulang dari Jogja gue nelpon lu waktu itu. Tapi setelah gue pikir-pikir gimana caranya Lusi tau tentang lu, ketemu aja gak pernah, akhirnya lama-lama gue kira ancaman dia cuma omong kosong. Gue gak nyangka dia bakal senekat ini Nya. Maafin gue. Maaf banget. Andai gue gak nerima pacaran sama dia dulu. Aarrggghhh, cewek sial*n!" Ucap Oki sambil terus menunduk.
"Iya Ki. Tapi kenapa dia pengen nyakitin gue? Kita bahkan gak ada hubungan apapun Ki."
Oki menggeleng.
"Gue juga gak paham Nya. Dia selalu cemburu sama kedekatan kita. Sampe bagaimanapun gue jelasin dia bakal jadiin kedekatan kita sebagai masalah lagi."
"Gue maafin lu, Ki. Tapi sekarang masalahnya Kak Yoga juga jadi korban dari semua masalah ini. Gue harap lu juga minta maaf ke Kak Yoga karena dia sampe terluka begitu."
"Pasti Nya, gue akan minta maaf ke Kak Yoga apapun konsekuensinya."
"Udah jangan sedih lagi. Bukan kamu yang harusnya merasa bersalah atas semua ini. Tapi si Lusi itu yang harus membayar semuanya. Mending lu pulang dulu terus istirahat Ki. Tuh udah kusut banget mukanya." Ledek Anya berusaha menghibur Oki.
"Lu mau kemana sekarang?"
"Gue ngobrol sama Kak Boy dulu abis itu mau ke rumah sakit liat kondisi Kak Yoga."
"Ati-ati Nya."
"Iya Ki, udah buruan pulang gih. Lu juga ati-ati."
Sebenarnya ada perasaan sakit di hati Anya. Bisa-bisanya pacar sahabatnya melakukan hal seperti ini padanya. Cemburu macam apa yang membuat seseorang seperti kerasukan begitu. Padahal kelakuannya sendiri dibelakang Oki juga sering dengan laki-laki lain, tapi justru dia menyalahkan persahabatan Anya dengan Oki. Anya ingin menunjukkan emosinya, tapi tidak tega dengan Oki. Karena ini bukan sepenuhnya kesalahan Oki, apalagi Oki juga sudah berusaha menyelamatkannya kemarin.
Hati Anya makin teriris dan emosi saat mengingat kondisi Yoga yang masih terbaring di rumah sakit.
__ADS_1
***
Sisil yang khawatir dengan kondisi Oki memilih menelponnya. Sejak kemarin Oki tidak membalas pesan singkatnya.
"Halo, Kak."
"Halo, Sisil."
"Kakak lagi dimana?"
"Kakak barusan pulang. Baru sampai kosan."
"Loh semalem gak pulang Kak? Nginep dimana?"
"Di kantor polisi."
"HAAAH? Serius Kak?"
"Serius."
"Kakak kenapa? Ada masalah apa sampai bisa nginep di kantor polisi?"
"Bukan Kakak kok. Kemarin ada preman-preman yang ngehadang Anya di jalan dan mau nyakitin dia. Semua udah ketangkep untungnya."
"Terus kondisi Kak Anya gimana Kak? Pasti shock banget yah."
"Anya untungnya gak kenapa-kenapa. Tapi pacarnya yang ketusuk sama preman-preman itu."
"Apaaa? Ya ampun Kak, kok bisa sampai seperti itu. Kasian banget Kak Anya. Pasti sedih banget."
Oki merasa kagum dengan Sisil. Ia justru khawatir dengan kondisi Anya, padahal Ia tidak terlalu mengenal Anya. Berbeda dengan Lusi yang justru menjadi dalang untuk menyakiti Anya. Sungguh dua karakter yang bertolak belakang.
"Terus Kakak kondisinya gimana?"
"Kakak gak papa. Cuma beberapa luka pukul tapi gak begitu sakit kok."
"Gak sakit gimana? Kena pukul preman kok gak papa. Kakak tunggu Sisil biar beliin makan sama obat."
"Gak usah, kemarin udah di periksa di rumah sakit dan dikasih obat kok."
"Kalau gitu Sisil bawain makanan. Kakak pasti belum makan kan?"
Oki menyadari bahwa Ia memang belum mengisi perutnya sejak kemarin.
"Pokoknya tunggu Sisil." Sisil menutup telfonnya dan bergegas membeli makanan untuk Oki.
"Sakit banget yah Kak?"
"Sakit ternyata kalau buat ngunyah." Ucap Oki sambil nyengir.
"Pelan-pelan aja Kak. Yang penting jangan sampai kosong perutnya biar gak sampai sakit."
"Khawatir banget kayaknya." Goda Oki membuat wajah Sisil bersemu.
"Iih apaan sih Kak. Yaudah Sisil pulang nih."
"Eeh jangan dulu dong. Temenin makan dulu." Ucap Oki dengan sedikit manja.
"Iih apaan coba dimanja-manjain gitu." Sisil tertawa melihat ulah Oki.
"Ya biar ditemenin makan dulu."
"Iya iya aku temenin. Abis itu minum obat, istirahat."
"Siap."
***
Anya bahagia ketika melihat Yoga sudah sadar. Setelah dokter memeriksanya kondisi pasca operasinya juga baik. Hanya butuh banyak istirahat, nantinya beberapa hari ke depan Yoga sudah bisa pulang. Anya tersenyum lega mendengar penjelasan dokter.
"Kakak mau makan? Anya suapin yah."
"Iya boleh." Yoga mengangguk.
Anya membuka bubur yang disediakan. Ia menyuapi Yoga sedikit demi sedikit. Setelah selesai makan, Anya membantu Yoga untuk minum obatnya.
"Nya.."
"Iya Kak?"
"Aku mau jelasin cewek yang kemarin datang ke apartemenku." Ucap Yoga.
Anya tersenyum.
__ADS_1
"Jelasinnya nanti kalau Kakak udah sehat, sekarang Kakak istirahat dulu." Anya membantu Yoga merebahkan dirinya.
Saat berusaha untuk tidur, tidak lama pintu kamar terbuka. Gista masuk dengan setengah berlari menghampiri Yoga. Yoga dan Anya kaget dengan kehadiran Gista. Gista memeluk Yoga yang sedang berbaring.
"Are you okay?" Tanya Gista sambil memegang pipi Yoga.
"I'm okay." Yoga menggeser kepalanya untuk menghindari tangan Gista. Anya yang melihat hal ini sedikit geram.
"Maaf tante, Kak Yoganya mau istirahat karena abis minum obat." Ucap Anya.
"Tante? Apa?" Gista shock dengan panggilan dari Anya.
"Loh emang bukan tantenya Kak Yoga? Sorry, aku kira tantenya pacar aku." Ucap Anya sambil bergelayut di tangan Yoga yang tidak terpasang selang infus. Yoga tersenyum mendengar ucapan Anya, apalagi Anya memasang wajah polosnya. Gista menarik nafas panjang menahan emosinya.
"Aku bukan tantenya Yoga. Aku dan Yoga itu.."
"Temen sekolah yah? Terus kakak sekarang udah nikah ya? Udah berapa anaknya Kak? Kalau aku sama Kak Yoga masih planning buat nikah, doain yah." Anya memotong omongan Gista, sambil tersenyum tanpa dosa.
"Denger yah, gue sama Yoga itu dijodohin. Ngerti?" Gista tersulut emosi oleh ulah Anya.
"Apa? Dijodohin?" Ucap Anya sambil pura-pura kaget.
"Dijodohin kan belum tentu jodoh dan jadi ke pelaminan Kak. Oiya, kakak aku juga pernah dijodohin tuh. Tapi endingnya tetep batal karena sudah ada orang lain yang dia sayang. So, sekarang bisa simpulkan sendiri gimana nasib perjodohan ini kan." Ucap Anya tegas.
"Gue gak akan biarin perjodohan ini batal. Jadi lu si anak bauk kencur mending lu yang tinggalin Yoga."
"Kakak lucu iih, masa orang pacaran dan saling sayang malah disuruh putus."
"Udah jangan ribut, ini rumah sakit." Yoga menengahi.
"Sekarang mending kamu pulang, Gista." Titah Yoga.
Gista terpaksa pergi dari rumah sakit dengan perasaan kesal. "Awas aja tuh cewek." Gumam Gista.
Gista keluar kamar inap Yoga. Anya yang tadinya tersenyum sumringah sambil bergelayut mesra pada Yoga langsung menarik tangannya dan memanyunkan bibirnya.
"Loh kok langsung ditarik." Yoga kaget.
"Udah sana tidur. Mimpiin tuh tante-tante sekalian." Anya memasang mode juteknya.
"Cemburu yah?" Yoga menggoda Anya.
"Biasa aja. Aku juga bisa nanti sama cowok lain."
"Eeeh gak boleh dong. Aaahhh aaahhh sakit." Yoga refleks bangun dari tidurnya tanpa sadar luka bekas operasinya masih terasa sakit. Anya panik melihatnya.
"Kakak gak papa? Udah jangan bangun dulu."
"Sakit nih, makanya jangan marah-marah dong. Kan ini lagi sakit." Yoga memasang wajah manjanya.
"Iya iya, marahnya Anya tahan sampe Kakak sembuh."
"Yah, bahaya dong. Bisa ada bom atom nanti. Serem."
"Nuklir sekalian." Jawab Anya sekenanya karena masih merasa jengkel.
"Jangan marah dong Anya sayang. Pliiisss maafin kakak. Kakak gak maksud boongin kamu, kakak cuma nyari momen yang tepat buat cerita."
"Iya tapi seharusnya kakak jujur sama Anya. Kita cari solusinya bareng-bareng. Kalau kayak gini bisa bikin salah paham Kak."
"Iya sayang, maafin aku plis." Yoga meraih tangan Anya.
"Iya aku maafin. Maafin Anya juga kemarin gak mau denger penjelasan Kakak, jadinya sampe kakak terluka kayak begini." Anya menatap Yoga sendu. Sudut matanya sedikit basah.
"Bukan salah kamu sayang. Udah tanggung jawab kakak buat ngelindungi kamu." Yoga membelai pipi Anya.
"Tapi tetep aja gak kayak gini caranya kak. Anya sampe takut bayangin hal yang buruk sama kakak."
"Anya gak mau kehilangan kakak." Sambung Anya yang membuat Yoga tersipu.
"Anya jadi tau sedihnya perasaan mama dulu Kak."
"Apapun kakak lakuin supaya kamu tau kalau kakak serius sama kamu Nya." Ucap Yoga.
"Anya tau kakak serius, aku percaya sama kakak. Tunggu Anya sampai bisa siap Kak. Tunggu Anya bisa yakin untuk memulai sesuatu yang serius sama Kakak." Yoga tersenyum mendengar penuturan Anya, hatinya bahagia mengetahui bahwa Anya juga berjuang untuk keseriusan hubungan mereka.
"Udah sekarang kakak istirahat, kata dokter kakak gak boleh kecapekan."
"Tapi kakak udah kuat kok, udah gak sakit lagi."
"Udah gak usah aneh-aneh. Cepet istirahat."
"Iya iya."
__ADS_1
Tak berselang lama Yoga tertidur karena efek obat yang memang membuat kantuk. Anya duduk di kursi samping brankar. Ia memandang Yoga dengan lembut. Hatinya sudah tenang melihat kondisi Yoga saat ini. Kejadian kemarin membuatnya mengerti betapa takutnya Ia kehilangan Yoga. Yoga, sosok lelaki yang bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk dia. Entah sejak kapan, hati Anya sudah dipenuhi oleh Yoga. Ia merasa hatinya seutuhnya menjadi milik Yoga. Ia akan menjaga Yoga sekuat dan semampunya, tak akan biarkan siapapun merebutnya.
Sekarang Anya tau, kebahagian bersama orang yang Ia sayang jauh lebih berharga daripada hanya meratapi ketakutan kehilangan orang tersebut dan tidak memberi kesempatan untuk saling menjaga. Semua harus Ia hadapi, perjalanannya dengan Yoga kedepan pasti tidak akan mudah. Apalagi Ia mengingat obrolannya dengan Mama Inneke kemarin. "Semangat Anya." Gumam Anya menyemangati dirinya sendiri. Anya merebahkan kepalanya di samping lengan Yoga memandangi Yoga yang sedang tertidur nyenyak.