
"Halo, lagi dimana?"
"Lagi di kantor. Kak Boy lagi apa?" Tanya Gina di sambungan telpon.
"Lagi di kantor. Abis ini aku jemput pulang ya."
"Gak usah kak."
"Loh kenapa emang?"
"Emmmhh, aku ada janji makan malem sama Agam kak. Aku bakal selesaiin semua urusan aku sama dia supaya kita bisa menjalani hubungan dengan tenang." Jelas Gina.
"Ketemu dimana? Aku temenin ya."
"Emh, gak usah kak. Gina sendiri aja gak papa. Ketemunya di resto hotel grandmercure." Jelas Gina kembali.
"Iya udah kalau gitu kabarin kalau ada apa-apa."
"Iya kak, ya udah aku berangkat dulu ya. Byeee"
Sambungan telpon terputus.
Gina segera menuju hotel. Boy melanjutkan pekerjaannya namun tetap saja pikirannya tidak bisa fokus. Ia ingat bagaimana pandangan Agam pada Gina kemarin saat mereka bertemu tak sengaja. Tatapan yang sangat tidak wajar dan seperti ada sesuatu yang diinginkan.
Pikiran Boy semakin gusar, Ia segera berkemas dan keluar dari ruangannya. Ia berjalan dengan tergesa untuk menyusul Gina. Hingga tidak sadar melewati calon kakak iparnya, Yoga.
"Mau kemana bro?" Sapa Yoga saat melihat Boy yang tergesa.
"Sorry bro, gue buru-buru. Gina ketemu sama mantannya, Agam. Tapi feeling gue gak enak."
"Gak enak gimana?" Tanya Yoga bingung.
"Entahlah, gue ngerasa ada yang gak beres sama tuh cowok. Gue pernah gak sengaja ketemu, dan tatapannya ke Gina itu gak wajar. Gue mau susulin Gina di hotel grandmercure." Jelas Boy.
"Mereka janjian di hotel?" Boy mengangguk.
"Gina bilang di restonya. Yaudah gue cabut dulu." Pamit Boy.
"Tunggu! Gue ikut." Yoga segera menyusul Boy yang berjalan cepat.
Kedua polisi itu mengendarai kendaraan dengan kencang menuju hotel grandmercure untuk memastikan kondisi Gina baik-baik saja. Keduanya sampai di tujuan dan segera memarkir mobilnya lalu masuk ke loby hotel. Keduanya mencari letak resto dan segera mencari sosok yang sangat dikenalnya. Tapi sosok itu tidak nampak di pandangan mereka. Saat berbalik Boy mendapati Gina yang dibopong oleh Agam menuju lift. Boy berlari namun terlambat, pintu lift sudah tertutup.
"Gimana bro?" Tanya Yoga.
"Brengsek!" Boy segera menuju resepsionis dan menanyakan nomor kamar yang dipesan oleh Agam. Resepsionis menolak memberitau informasi tersebut. Boy yang sudah dipuncak emosi segera menunjukkan identitasnya bahwa Ia polisi. Pegawai hotel terlibat bingung dan segera mencari informasi yang dibutuhkan Boy. Tak tanggung-tanggung, Boy meminta kunci cadangan untuk membuka kamar karena ada kecurigaan kejahatan yang dilakukan di kamar tersebut.
Boy dan Yoga berlari menuju kamar yang dipesan oleh Agam. Mereka berlari menaiki tangga karena lamanya pintu lift terbuka.
BRUUUAAAAKKKKKKK..
Pintu kamar hotel terbuka. Agam kaget dengan kehadiran Boy dan Yoga. Terlihat Gina tidak sadar dengan pakaian atasnya yang sudah terbuka namun belum seluruhnya. Boy melayangkan tinjunya pada wajah Agam.
"Brengseeekkkk!!" Buuuggghhh buuuggghhhh..
Yoga membenahi pakaian Gina dan menggendongnya keluar. Tak lama rekan sesama polisi mereka datang dan menangkap Agam yang sudah babak belur dihajar oleh Boy.
"Gue pastiin lu bakal menderita di penjara." Agam memandangi Boy yang tersulut emosi dengan pandangan sinisnya.
"Tubuh Gina sudah jadi milik gue. Gue yakin dia gak akan mau nikah sama lu." Agam tak jera dan mencoba memprovokasi Boy.
Buuuggghhh..
Boy kembali meninju Agam yang tidak bisa membalas karena tangannya sudah diborgol.
***
"Apa? Kok bisa kak. Terus Gina kondisinya gimana?" Tanya Anya yang menelpon Yoga.
"Gina baik kok, ini baru sadar dia. Untung belum sampai terjadi hal yang tidak diinginkan."
"Ya ampun, tega banget sih cowok itu kak. Kasian Gina."
"Yaudah, nanti aku telpon lagi ya sayang. Aku urus pelakunya dulu."
"Iya sayang. Jangan emosi ya sayang. Byee."
"Bye."
__ADS_1
Anya kaget dengan informasi yang Yoga sampaikan. Ia tak menyangka tega sekali mantan pacar adik Yoga melakukan hal keterlaluan seperti itu. Hal itu bukanlah cinta, semua yang dilakukannya hanya berdasarkan nafsu semata. Jika mantan Gina masih mencintainya, Ia akan bahagia jika melihat Gina bahagia. Bukan justru berusaha menjerat Gina dengan cara yang sangat licik.
Di kantor polisi..
Gina yang tadinya berada di mobil mulai tersadar dan ingat apa yang terjadi. Ia tidak sanggup menahan air matanya. Gina menangis sejadinya di pelukan kakaknya. Ia merasa sangat malu pada Boy. Gina merasa dirinya kini sudah sangat kotor. Bahkan untuk menatap Boy saja Gina tidak sanggup.
Setelah cukup tenang, Gina masuk ke kantor polisi untuk membuat keterangan. Sepanjang jalan Ia hanya menunduk dalam pelukan Yoga.
"Gina, bisa kita bicara?" Boy mencoba membuka obrolan setelah Gina selesai membuat keterangan. Gina mengangguk.
"Are you okay?" Tanya Yoga.
"Yes." Gina memberi senyum tipis.
Gina dan Boy kini berada diruangan Boy.
"Maafin aku kak. Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini." Gina menunduk sambil menahan tangisnya. Boy kaget dengan ucapan yang keluar dari mulut wanita yang dicintainya.
"Kamu gak salah. Cowok brengsek itu yang salah." Boy berusaha menahan emosinya.
"Tapi tetap saja kak. Aku gagal menjaga diri aku sendiri. Di mata kakak, aku pasti sangat menjijikan." Tangis Gina akhirnya pecah kala mengingat kejadian yang tadi dialaminya. Ia memang belum sampai diperk*sa oleh Agam, namun tetap saja ada rasa trauma dan seperti ditelanj*ngi oleh Agam.
"Siapa yang bilang gitu. Aku gak pernah berpikir seperti itu. Justru kejadian ini bikin aku selalu pengen menjaga kamu dari orang brengsek seperti orang itu. Plis jangan bilang gitu lagi." Boy bersimpuh dan memegang tangan Gina perlahan yang terus menangis. Boy mengusap pipi Gina lembut.
"Aku sayang kamu, Gina. Apapun yang terjadi sama kamu, aku akan selalu terima kamu apa adanya." Lanjut Boy membuat tangis Gina semakin menjadi. Boy memeluk Gina dan membiarkan semua tangis wanita yang dicintainya itu lepas agar membuatnya tenang.
"Makasih ya kak buat semuanya. Kalau kakak gak datang, Gina gak tau apa yang bakalan terjadi." Ucap Gina sesenggukan.
"Sama-sama. Aku akan selalu jagain kamu, sayangku." Boy mengusap rambut Gina lembut.
Setelah cukup tenang, Gina pulang ke rumah diantar oleh Yoga.
***
"Bisa ikut gak sayang?" Tanya Ezza.
"Weekend ini ya sayang?"
Tanya Sonya balik.
"Iya sayang, semua dosen bawa istri atau suami masing-masing. Makanya aku pengen ajak kamu, biar bisa sekalian kenalan."
"Pasti nyambung lah, kamu kan pinter sayang." Puji Ezza.
"Iih sayang, jadi malu."
"Sayang, kamu sudah selesai palang merahnya?" Tanya Ezza sambil memasang wajah manja.
"Sudah sayang." Sonya tersipu.
"Yeeesss, akhirnya gak perlu puasa lagi." Ezza kegirangan.
"Iiih sayang nih, masa puasa seminggu aja gak kuat."
"Kuat sih kuat yang, tapi kepala rasanya nyut-nyutan."
"Hmmm mesti deh ada-ada aja. Masa gitu aja sampe nyut-nyutan sih." Protes Sonya.
"Seriusan sayang. Kalau gak keluar jadinya nyut-nyutan, pusing gitu."
"Masa sih yang?" Ezza mengangguk dengan memasang wajah memelas.
"Uuuwwwhhh tatian tayangku." Sonya memegang pipi suaminya dan berbicara seperti anak kecil.
Ezza yang gemas segera melayangkan kecupan di bibir istrinya.
"Iiih sayang. Aku belum sikat gigi." Sonya segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Ya terus kenapa emang?" Tanya Ezza.
"Kan malu sayang, nanti kalau bau makanan gimana." Jawab Sonya malu-malu.
"Aku gak masalah sayang." Ezza segera memeluk pinggang Sonya dan mengecup bibir istrinya kembali. Ia menyibak rambut panjang Sonya yang menutupi leher jenjangnya. Ezza menyentuh leher Sonya yang membuat Sonya meremang. Sonya menutup matanya menunggu sesuatu yang lembab menyentuh bibirnya. Kedua pasangan muda itu kembali memadu kasih untuk kesekian kalinya dan menikmati indahnya sebagai pengantin baru.
"Sayang, aku galau karena kemarin mens. Semoga yang barusan bisa jadi dedek bayi." Ucap Sonya sambil menikmati pelukan suaminya dibalik punggungnya. Keduanya berbaring di ranjang dan bersembunyi dibalik selimut dengan kondisi polos.
"Gak papa sayang. Jangan jadiin itu beban pikiran buat kamu yah. Kita bisa nikmati momen-momen kita berdua dulu." Ezza menenangkan.
__ADS_1
"Tapi aku takut sayang, pasti orang-orang sekitar akan nanya. Sudah isi belum? Sudah hamil belum? Kok belum isi? Coba periksain kalau belum hamil. Pasti akan begitu nantinya kalau gak hamil-hamil." Cerocos Sonya.
"Kamu nikahnya sama mereka apa sama aku? Kalau nikahnya sama aku, ya gak perlu dengerin omongan orang-orang gak jelas itu. Mereka gak ada hak menghakimi kamu begitu. Kehamilan itu bukan kehendak kita sayang, yang bisa kita lakuin cuma usaha seperti yang barusan kita lakukan. Aku pastikan sekalipun kita belum dikasih kepercayaan berupa anak, rasa sayang aku sama kamu gak akan pernah berubah." Sonya tersipu malu mendengarnya.
"Makasih ya sayang."
"Kalau memang kita pada fase menginginkan anak, kita berusaha bareng-bareng sayang. Aku gak akan biarin kamu sendiri. Jika masalah kesehatan, kita periksakan bareng. Karena belum tentu semua masalah ada di kamu, kadang masalah pasangan gak kunjung hamil juga bisa dari suami. Jadi jangan sampai kamu kepikiran dan menyalahkan diri sendiri. Inget itu! Aku hanya mau kamu selalu bahagia dan sehat. Masa lupa sama apa yang aku bilang tentang itu semua." Ezza memeluk istrinya lebih erat membuat Sonya melayang bahagia. Ia merasa ketenangan dalam jiwanya. Memiliki dan dimiliki Ezza adalah kebahagiaan yang tak terkira baginya. Sosok Ezza yang dewasa dan selalu memprioritaskan dirinya tentu membuat Sonya merasa sangat beruntung.
Pikiran Sonya teringat pada mamanya. Bagaimana hancurnya mama Meli saat kehilangan sosok suami yang dicintainya untuk selamanya. Sonya mengerti perasaan sedih mamanya, karena saat ini membayangkannya saja sudah membuat Sonya ketakutan. Iya, kehidupan Sonya sudah bergantung pada Ezza. Ezza adalah rumah baginya. Tempat melepas lelah dan penatnya, tempat bermanja dan berkasih sayang. Bagi Sonya Ezza adalah sosok yang tidak akan pernah tergantikan. Dalam doanya Sonya berharap tidak pernah merasakan hidup tanpa Ezza disampingnya.
"Sayang, makasih sudah jadi suami yang baik. Aku harap selamanya pernikahan kita akan seindah ini."
"Sama-sama. Hubungan pernikahan ini akan selalu indah walaupun rambut kita sudah memutih, kulit kita sudah keriput nantinya." Jawab Ezza.
"Iih enggak mau ya. Aku bakal cat warna rambut kalau tanda-tanda memutih, kalau tanda-tanda keriput aku juga bakal perawatan langsung." Jawab Sonya sambil tertawa.
"Terus aku sendirian dong yang jadi tua."
"Kamu ikutan cat rambut sama perawatan sayang. Jadi awet muda." Jawab Sonya.
"Eehh, jangan deh gak jadi. Sayang gak boleh perawatan. Gak papa gak usah awet muda. Kalau awet muda nanti malah bahaya banyak mahasiswi yang ngejar-ngejar." Sambung Sonya.
"Ciieee, cemburu yaa." Goda Ezza.
"Bangeeet. Aku gak mau sayang sama yang lain. Kamu cuma milik aku seorang. Titik gak pake koma."
"Uuuwwwhh posesif banget istriku tersayang."
"Harus dong. Awas sampe sayang macem-macem. Aku potong-potong sampe gak ada sisa." Ancam Sonya.
"Aduuuh, ngilu sayang. Iya iya, aku gak akan macem-macem sama yang lain."
"Baguuus. Suami pinter."
***
Saat makan siang, Mela keluar untuk makan dengan Rendy demi menepati janji yang kemarin sudah Mela buat. Keduanya makan di resto dekat proyek. Mela merasa sedikit canggung dengan Rendy, karena bagaimanapun Mela menganggap Rendy adalah atasan kerjanya.
"Gak usah sungkan. Kalau diluar kamu bisa anggap aku temen." Ucap Rendy.
"Temen? Mana bisa." Batin Mela.
"I iya Pak. Eeeh, kak." Jawab Mela terbata-bata.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Rendy sambil membuka buku menu.
"Terserah bapak aja." Jawab Mela.
"Bapak?" Rendy mengernyitkan dahi.
"Eeeh maaf, terserah kakak aja maksudnya. Mela ngikut."
"Emhh, sop buntut mau?" Tawar Rendy.
"I iya boleh."
"Kalau gitu tunggu sini, aku pesenin dulu. Minumnya apa?"
"Es teh aja kak."
Rendy segera berdiri untuk memesan di meja kasir karena resto cukup ramai sehingga para waitress terlihat sibuk.
"Berapa kak? Aku ganti ya." Mela membuka dompetnya.
"Gak usah diganti Mela. Aku ikhlas kok." Rendy memegang tangan Mela agar berhenti melakukan aktivitasnya.
"Tapi aku yang gak enak kak. Aku tetep harus ganti." Mela kekeuh dengan keinginannya mengganti biaya makanannya.
"Emmhh, gini aja kalau gitu. Balikinnya dengan cara kita makan siang lagi lain kali. Bagaimana?" Ajak Rendy. Mela berpikir sejenak. Ia sangat tidak suka berhutang pada orang lain, apalagi soal materi. Bagi Mela berhutang harus tetap dibayar mau apapun keinginan pemberi hutang, asal tidak aneh dan menyinggung perasaan.
"Iya sudah kalau begitu kak. Lain kali Mela traktir kakak makan. Makasih ya kak untuk hari ini."
"Sama-sama. Sudah gak usah sungkan gitu. Aku pengennya justru kita berteman dengan baik, gak usah anggep aku atasan atau apapun. Anggap aja aku temen kamu. Bahkan kalau kamu mau curhat sama aku, aku siap kok." Jelas Rendy.
"Iya kak, terima kasih banyak." Mela tersenyum malu dan kaku.
"Kamu jangan tegang gitu dong. Kamu kan gak lagi ngadep dosen. Masa makan sama aku berasa kayak sidang skripsi." Ucap Rendy yang melihat wajah Mela yang sangat tegang karena makan bersamanya.
__ADS_1
"Enggak gitu kak. Saya cuma bingung aja mau bicarain apaan." Jawab Mela jujur.
"Iya kalau kamu mau curhat, aku akan siap dengerin." Ucap Rendy membuat Mela kebingungan.