Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Bidadari


__ADS_3

Siang hari Anya pergi ke kantor Yoga. Ia ingin mendapat penjelasan tentang kehadiran Gista di apartemen Yoga di pagi hari. Anya mencoba tenang walaupun ada perasaan kesal dan cemburu. Bagaimana tidak, Yoga sedari tadi tidak menghubunginya sama sekali padahal sudah jelas-jelas Ia sedang bersama Gista.


Anya sampai di depan kantor Yoga. Ia segera menelpon Yoga mengabarkan bahwa Ia ada di depan.


"Kak, aku di depan kantor kakak."


"Loh, bentar ya sayang. Aku masih di ruangan kepala. Sebentar lagi selesai."


"Ooh oke. Anya tungguin di mobil."


Anya menunggu Yoga dengan sabar. Ia memilih memainkan ponselnya untuk mengusir rasa bosannya. Ia urung turun dari mobil karena menunggu di dalam membuatnya tidak nyaman. Tak berselang lama Yoga menghampiri Anya.


"Sayang, maaf ya agak lama tadi." Ucap Yoga sambil masuk ke dalam mobil Anya dan duduk di kursi penumpang.


"Iya gak papa." Anya menjawab datar.


"Kenapa sayang? Kok kayaknya ada yang kamu pikirin?"


"Gak ada yang pengen kakak jelasin sama Anya?" Pancing Anya. Ia tidak ingin menjelaskan alasannya agar melihat seberapa peka Yoga dan seberapa terbuka Yoga tentang segala hal guna menjaga perasaan Anya.


"Jelasin apa sayang?" Tanya Yoga kebingungan.


"Iya apa gitu. Coba pikirin dulu deh. Seharian ini ada sesuatu yang pengen jelasin sama Anya atau enggak?" Anya mulai sedikit kesal.


Yoga mencoba mengingat-ingat yang terjadi hari ini. Ia mengurutkan kegiatannya sejak bangun tidur. Ia baru ingat kalau saat sedang siap-siap bekerja ada Gista yang datang ke apartemennya. "Apa mungkin Anya tau Gista ke apartemen? Tapi gimana bisa tau? Aah gak mungkin deh kayaknya Anya tau." Batin Yoga. "Jujur gak yah kalau Gista datang tadi pagi. Apa diem aja ya pura-pura gak inget, biar gak ribut, lagian kan gue gak ngapa-ngapain sama Gista. Tapi kalau ketauan gak jujur, yang ada nanti malah bisa perang dunia." Pikir Yoga masih dengan kebingungan.


"Kak? Woooii. Kok malah ngelamun?"


"Eeh sorry-sorry. Kenapa tadi?"


"Iya aku nanya ada yang mau kakak jelasin sama Anya enggak?"


"Hemm, Anya. Aku mau bilang sesuatu. Tapi jangan salah paham dulu."


"Oke, jelasin dulu. Nanti baru aku pikirin."


"Jadi, tadi pagi Gista ke apartemen. Aku kaget karena dia kondisinya lebam gitu. Awalnya aku usir dia, tapi dia ngancem akan cerita ke mama. Aku terpaksa ngobatin lukanya dan setelah itu aku suruh dia pulang. Aku gak ngapa-ngapain kok. Suer!" Yoga mengangkat jarinya membentuk huruf V.


"Jadi bener Gista ke rumah kakak? Terus kenapa dia bisa sampai angkat telpon Anya di hape kakak?"


Yoga kaget tidak menyangka karena tidak tau ulah Gista yang berani mengangkat telpon Anya.


"Sorry sayang, aku gak tau kalau kamu tadi telpon. Mungkin waktu aku ambil kotak obat." Jelas Yoga.


"Ooh gitu. Lalu kenapa kakak gak hubungi Anya sampai sekarang?" Anya memicingkan mata.


"Tadi aku kira kamu sibuk. Kamu sendiri yang bilang kalau ada Mela dan Ika di rumah. Makanya aku gak enak kalau hubungi kamu terus. Sampai kantor juga banyak kerjaan tadi, ini aja baru selesai ketemu kepala."


"Iya udah deh. Semua udah jelas kalau gitu."


"Kamu gak marah kan sayang?" Yoga panik melihat Anya dengan ekspresi datar.


"Enggak, gak marah. Anya cuma nyari penjelasan aja. Makanya kesini." Yoga keheranan.


"Biasanya kalau cewek normal itu bakalan ngambek-ngambek loh, yang. Terus ninggalin cowoknya gitu. Akhirnya cowoknya mesti ngerayu dulu supaya ceweknya gak ngambek."


"Jadi maksud kakak, Anya bukan cewek normal?"


"Bu bukan gitu maksudku sayang. Maksudku kamu yakin gak ngambek? Gak kesel gitu? Harus aku rayu, aku peluk-peluk, aku cium-cium gitu." Ucap Yoga gelagapan tapi tetep dengan ulah nakalnya.


"Yeee itu mah maunya kakak aja, peluk-peluk cium-cium. Anya gak perlu kok digituin, terima kasih loh atas tawarannya tapi gak perlu repot-repot." Anya terkekeh.


"Yaaah, penonton kecewa, padahal aku gak repot loh sayang. Aku ikhlas pake banget loh ngerayu kamu. Mau dicontohin? Siapa tau tertarik mau dirayu." Yoga mendekatkan diri hendak memeluk Anya.


"Iiih kakak, jangan disini aah. Malu di parkiran. Ntar dikira yang aneh-aneh sama orang."


"Jadi kalau berdua aja boleh ya?" Goda Yoga.

__ADS_1


"Iiih kakak nih makin genit banget sih."


"Ya kan genitnya sama kamu doang sayang. Kalau berduaan doang boleh yah peluk-peluk kamu?"


"Iya iya boleh. Tapi gak lebih loh yah. Kalau mau lebih, mesti nikah dulu."


"Ayoookk, aku siap kalau nikah sekarang." Ucap Yoga semangat.


"Iih kakak nih, ya gak sekarang juga. Anya kan masih kuliah."


"Yaaah, padahal aku udah siap banget loh. Udah gak nahan juga sayang." Goda Yoga membuat Anya cemberut.


"Saaayaaangg, jorok aah pikirannya selalu yang aneh-aneh."


"Aku gak nahan mau dimasakin kamu sayang. Yeee, itu sih pikiran kamu aja. Emang kamu ngiranya mikirin apa hayoo?" Yoga semakin menggoda Anya membuat muka gadis cantik itu merah padam karena malu. Bagi Anya sangat tabu membicarakan hal sensitif dengan laki-laki disampingnya. Terlebih ingatan tentang ciuman pertamanya tiba-tiba hadir, membuat jantungnya berdegup kencang.


"Enggak apa-apa. Udah deh kak, kalau godain Anya lagi ntar malah ngambek beneran loh ya."


"Iya iya gak godain lagi."


"Sippp pinter. Gitu dong pak polisi, harus pinter dan peka."


"Iya sayang." Yoga memilih patuh.


"Dan satu lagi, harus jujur juga. Oke? Awas aja sampe ketauan bohong." Anya memicingkan matanya.


"Enggak sayang, aku jujur kok sama kamu. Ngapain bohongin kamu, gak ada untungnya. Ntar malah bisa gak dapet jatah."


"Kakaaaakkk!"


"Iya iya sorry sorry. Orang cuma bercanda loh, yang."


"Gak aneh-aneh bercandanya."


Mereka berdua akhirnya memutuskan makan siang bersama dan setelah itu kembali melakukan aktivitas masing-masing.


Weekend tiba, namun Sonya ada janji untuk melihat gaun pengantin. Weekend ini akan menjadi sibuk bagi Sonya dan Ezza karena mereka banyak jadwal untuk mengurus persiapan pernikahan. Yang pertama mereka urus hari ini adalah pakaian pernikahan, dimulai dengan gaun yang akan dikenakan Sonya.


Awalnya mereka berkeinginan untuk pinjam gaun saja, namun Ezza menyuruh Sonya untuk membuat gaun yang sederhana agar bisa menjadi kenang-kenangan untuk mereka nantinya. Sonya pun menuruti usul Ezza karena pikirnya gaun pernikahan bisa digunakan nantinya jika ingin Ia kenakan untuk foto saat anniversary.


Ezza menemani Sonya menuju butik untuk memilih model dan bahan kain yang diinginkan. Mereka sampai di butik tersebut dan disambut dengan pegawai disana. Pegawai disana menyuruh Ezza dan Sonya menunggu beberapa saat karena owner sekaligus designer sedang on the way menuju butik.


Owner butik pun akhirnya sampai, Ia memohon maaf karena keterlambatan dan membuat Ezza serta Sonya menunggu.


Ezza dan Sonya sudah memilih beberapa model gaun yang ada di katalog. Setelah itu Sonya mencoba beberapa model gaun yang ada di sana. Nantinya model gaun yang dipilih bisa dijadikan contoh untuk potongan model gaun yang diinginkan calon pengantin. Ataupun jika ingin model yang sedikit berbeda, nantinya bisa dipermak agar tidak terlalu sama dengan contohnya.


Sonya mencoba gaun pertama. Gaun pertama sudah membuat Ezza terpukau dengan kecantikan Sonya. Sonya menggunakan gaun putih dengan bahan brocad. Potongan gaun berbentuk duyung dilengkapi dengan payet-payet dibagian dada. Potongan bagian dada yang rendah, membuat dada Sonya yang berisi menjadi sangat pas dengan gaun tersebut.


"Waah cantik sekali calon pengantinnya." Puji salah satu pegawai yang takjub dengan penampilan Sonya.


Sonya bersemu merah menerima pujian. Selain itu Ia juga sedikit malu dengan Ezza yang memandanginya sejak tadi seperti hendak menerkam.


"Jelek ya?" Tanya Sonya pada Ezza.


"Eeh enggak kok sayang. Cantik, cantik banget malahan."


"Jadi mau pilih model ini aja?"


Ezza menggeleng.


"Jangan sayang, aku gak rela itu jadi tontonan orang-orang." Ezza menunjuk bagian dada Sonya yang memang terekspose.


"Terlalu seksi sayang, jangan." Lanjut Ezza.


"Yaudah kalau gitu aku ganti lagi gaun yang lain."


Tirai ditutup oleh pegawai, lalu Sonya dibantu dengan pegawai lain mengganti gaunnya.

__ADS_1


Gaun kedua masih dengan potongan yang sama. Namun, bagian atas berbentuk sabrina dan lengan panjang. Sedikit tertutup dibanding model yang pertama tadi. Akan tetapi kecantikan Sonya tetap terpancar dan Ia terlihat bak ratu. Saat tirai di buka, Ezza tercengang kembali. Ezza mengagumi kecantikan Sonya. Siapa sangka, Ia merasa menjadi laki-laki yang sangat beruntung mendapatkan Sonya.


Sonya dimata Ezza adalah wanita dewasa yang pekerja keras. Setiap ada yang tidak cocok dengan pola pikirnya, dia berani untuk bicara. Namun, siapa sangka bahwa Sonya adalah wanita yang lembut, yang selalu mau berkorban untuk orang yang disayanginya. Ezza sangat merasa beruntung menjadi orang pilihan yang dapat merasakan kasih sayang Sonya.


Ezza menatap lekat calon istrinya di depannya. Tampilannya memang cantik tanpa cela. Bagaimana bisa bidadari hadir di bumi tanpa sayap. Ezza tersenyum dan setuju dengan gaun yang sekarang digunakan karena tidak terlalu terbuka dibagian dadanya. Ezza benar-benar tidak ingin orang lain melihat hal yang hanya untuknya. Sonya juga menurut dengan keputusan Ezza.


Setelah mencoba gaun ketiga, Sonya dan Ezza sepakat memilih model gaun yang kedua. Sonya melakukan pengukuran ulang dan memilih kain yang akan digunakan.


Sonya dan Ezza selesai dengan urusan pergaunan. Hal tersebut membuat mereka berdua lapar. Mereka memutuskan makan terlebih dahulu sebelum menyelesaikan urusan yang lain.


"Sayang, aku jadi kepikiran deh."


"Kepikiran apa sayang?"


"Kalau aku makan banyak gini, takutnya gaunnya nanti gak cukup waktu hari pernikahan. Aku perlu diet kayaknya deh."


"Diet? Buat apa sayang? Kamu kurus banget malahan, mesti makan yang banyak."


"Tapi aku takutnya nanti jadi gemuk dan gaunnya gak cukup sayang."


"Nanti mendekati hari pernikahan kan pasti di fitting lagi sayang. Jangan dijadiin beban pikiran yah." Ucap Ezza menenangkan.


"Sayang, kalau misalnya aku nanti jadi gendut, kucel gitu. Apa kamu masih sayang?"


"Iya sayang dong. Emang kamu gendut dan kucel kenapa?"


"Ya misalnya sayang. Misalnya nih aku hamil, kan badan jadinya melar dan gendut. Terus setelah lahiran pasti kan capek ngurus bayi, akhirnya kucel. Kamu bakal gimana sayang?" Ezza tersenyum mendengar pertanyaan Sonya. Ia sadar calon istrinya ini punya ketakutan menghadapi kehidupan pernikahannya nanti. Tentunya Ezza bertanggung jawab meyakinkan semuanya agar hati Sonya tidak galau.


"Ya enggak dong sayang. Menurut aku fisik kamu gak ngaruh nantinya."


"Tapi buat cowok kan, fisik cewek itu penting sayang."


"Iya bener, emang fisik cewek itu bagi cowok jadi suatu ketertarikan yang utama. Aku pun gak munafik melihat kamu yang sangat cantik awal kita bertemu."


"Tuh kan, kalau nantinya aku gendut terus kucel. Kamu jadi gak tertarik lagi dong."


"Ya enggak dong sayang. Setelah nikah, aku wajib menyayangi dan menjaga kamu. Aku bakal selalu menyayangi kamu apapun kondisi kamu. Apalagi kalau kamu mengandung anak kita nanti, bertaruh nyawa melahirkan anak kita, jelas gak akan aku sia-siakan wanita yang mulia seperti itu. Kalaupun kamu nanti merasa kucel, gak terawat, berarti ya tanggung jawab aku buat ngerawat kamu lagi. Masa sebelum nikah sama aku cantiknya kayak bidadari gini, setelah nikah aku bikin kucel. Ya aku harus kerja keras supaya istriku tersayang bisa tetep terawat."


"Iya tapi punya bayi kan pasti sibuk 24 jam sayang. Jadi ya mana ada waktu ngerawat diri jadinya."


"Ya bisa-bisa aja. Kita punya anak berdua, ngerawat anak berdua. Gak aku biarin hanya kamu sendiri yang ngerawat anak 24 jam. Aku akan selalu ada sebagai partner kamu sayang. Aku akan berusaha buat kamu bahagia." Ezza menggenggam tangan Sonya.


"Sayang.. Kamu tau gak?"


"Tau apa?"


"Aku jadi ngerasa, waktu tiga bulan lagi itu kelamaan." Sonya tersenyum tersipu.


"Pengen cepet-cepet ya sayang?" Goda Ezza.


Sonya mengangguk. Mereka terbahak.


"Eeh tapi ya sayang, kalau seandainya kita nikah nih, terus kita belum dikasih kepercayaan anak, gimana?"


"Iya kita usaha aja sayang. Kita periksa sama-sama. Tapi kalau memang belum waktunya, ya kita sabar sambil nikmatin waktu pacaran aja."


"Kamu gak akan nyalahin aku kah? Takutnya aku wanita yang gak subur di mata kamu."


"Emmhh, menurutku bisa hamil itu kan tergantung keduanya sayang. Stigma masyarakat memang kadang kalau pasangan gak hamil-hamil yang disalahin istrinya, gak subur lah, mandul lah. Padahal kita juga gak tau kualitas laki-lakinya gimana. Makanya kalau nanti sampai batas usaha kita yang wajar memang tidak berhasil, aku juga akan dengan sadar diri akan ikut berusaha. Aku gak akan malu memeriksakan diri juga. Demi usaha kita berdua tentunya."


"Aakkkkhhh, kok bisa sih aku punya calon suami sehebat ini." Sonya bertopang dagu menikmati pemandangan di depannya, calon suaminya yang tampan.


"Jangan lama-lama liatinnya. Nanti terpesona beneran loh. Tapi aku berharap yah sayang, segala permasalahan rumah tangga tidak mengalahkan rasa cinta satu sama lain. Jangan sampai cinta kita kalah dengan permasalahan rumah tangga yang nantinya pasti menerpa silih berganti."


"Iya sayang. Asal sama kamu, aku yakin." Ucap Sonya mantap.


Sonya teringat bagaimana saat masih belum mengenal Ezza dia tidak terlintas ingin menikah. Bahkan Ia tak yakin di masa depan akan menikah dengan seorang laki-laki impiannya. Ia merasa tidak akan pernah jatuh cinta. Tapi siapa sangka, semuanya sirna saat pertama kali bertemu Ezza. Dunianya berubah. Hidupnya lebih berwarna dan indah. Membuatnya tau bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Ia merasa sangat beruntung, tanpa sekalipun memiliki pengalaman mengenal cinta, sekarang Ia bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai dan mencintai secara bersamaan. Benar yang Ezza katakan, jangan sampai masalah apapun mengalahkan penyatuan cinta mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2