Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Tua Bangka


__ADS_3

Andre kembali ke kantor setelah pulang dari cafe untuk bertemu kliennya. Ia masih teringat kejadian yang terjadi di cafe tadi. Ia tidak menyangka Selly yang Ia kenal sudah menikah dan memiliki anak.


Tok tok tok..


Seseorang mengetuk pintu ruangan Andre. Pegawai tersebut masuk ke ruangan, Ia menyampaikan perkembangan dari kasus perceraian ibunya. Kasus tersebut dimenangkan oleh ibunya. Om Faisal, ayahnya harus menanggung penyesalan karena berani bermain api dari istrinya yang selama ini memiliki kekayaan yang digunakan Om Faisal. Walaupun ayahnya tidak melarat, akan tetapi kehidupannya tidak akan sama. Om Faisal tidak akan bisa berfoya-foya seperti sedia kala. Memang masih ada aset yang dimilikinya, namun Ia sudah tidak menjabat sebagai direktur perusahaan lagi. Jadi, sudah bisa dipastikan kehidupannya tidak akan semewah dulu.


Om Faisal sudah kehilangan istri dan juga kemewahannya. Terlebih lagi Ia mencoba menghubungi Gista, namun tidak ada jawaban. Tentunya Om Faisal membutuhkan penghiburan, namun Gista justru menghilang begitu saja saat tau bahwa Om Faisal tidak bisa menjadi ATM berjalannya lagi.


Selain perihal perceraian ibunya, pegawai tersebut menyampaikan informasi perihal wanita yang ingin Andre ketahui informasinya.


"Selly Septiani, sudah menikah 3 tahun lalu Pak. Sebelum menikah, Nona Selly resign dari pekerjaannya dan tiba-tiba menikah karena dijodohkan. Nona Selly mempunyai seorang putri, usianya 3 tahun." Terang pegawai tersebut.


"Jadi dia benar sudah menikah?" Gumam Andre.


"Namun, pernikahannya bertahan beberapa bulan dan bercerai."


"Jadi dia sudah bercerai? Apa ada informasi penyebab perceraiannya?"


"Tidak ada Pak, penyebabnya hanya ketidakcocokan saja."


"Yasudah, terima kasih untuk informasinya."


"Baik Pak, permisi." Pegawai itu pamit keluar dari ruangan Andre.


Andre merenungi dirinya. Setelah 3 tahun akhirnya Ia bisa bertemu dengan Selly. Wanita yang pernah menjadi bagian hidupnya.


Beberapa tahun lalu, Ia tahu bahwa Selly hanya bermain-main dengannya. Andre tau bahwa Selly menjadikannya selingkuhan dari pacarnya. Namun, Selly tidak tau bahwa sebenarnya Ia juga menjadi selingkuhan. Andre memiliki pacar yang sampai sekarang masih menjadi pacarnya. Tujuan awal Andre memang hanyalah untuk bersenang-senang. Ia yakin dulunya Selly menjalin hubungan dengannya juga hanya main-main dan bersenang-senang.


Namun, semua anggapan Andre berubah saat melihat Selly memutuskan pacarnya dan memilih menjalin hubungan dengannya. Andre tetap menjalin hubungan dengan pacarnya dan juga Selly. Awalnya Andre pikir, Selly sama saja seperti wanita yang sudah menggadaikan kehormatannya. Sampai suatu malam, Ia mengetahui bahwa Selly masih suci. Dialah orang pertama yang merenggut kesucian Selly. Rasa bersalah Andre menyeruak. Timbul keinginan untuk serius dengan Selly. Ia mencoba mencari cara untuk memutuskan pacarnya. Tetapi, justru sebelum Andre berusaha keras, Selly telah pergi meninggalkannya tanpa jejak.


Selly meninggalkan semua kehidupannya dan pergi entah kemana. Hingga Andre berpikir bahwa Selly memang hanya ingin bersenang-senang dengannya tanpa ada niatan serius. Andre mencoba menata hatinya kembali. Sejujurnya setelah mengetahui bahwa Selly menyerahkan kesuciannya untuknya, Ia sangat ingin memiliki Selly seutuhnya. Ia selalu merasa rindu pada Selly. Ia tidak yakin apakah itu cinta. Namun yang jelas, Ia rela meninggalkan pacarnya demi Selly.


Setelah mengetahui Selly menikah 3 tahun lalu, Andre mengira bahwa Selly pergi meninggalkannya karena harus menerima perjodohan orangtuanya.


"Apa mungkin kamu terpaksa menerima perjodohan itu Selly?" Gumam Andre.


"Aku bener-bener pengen ketemu dan ngobrol sama kamu, Sel." Andre mengusap kasar wajahnya. Bayangan wajah Selly yang masih sama seperti 3 tahun lalu menghantuinya.


Lamunan Andre dibuyarkan dengan kehadiran pacar seksinya yang masuk ke ruangannya.


"Halo sayang, aku kangen." Wanita seksi itu memeluk dan mengecup Andre.


"Iya sayang, aku juga."


Sudah cukup lama Andre berpacaran dengan Jessica, saat Andre menyelingkuhinya dengan Selly, Jessica tidak tau. Untung saat itu Andre belum sempat meminta putus. Awalnya Andre berpacaran dengan Jessica hanya ingin menghilangkan rasa kesepian, namun sekarang lebih karena kebutuhan biologisnya. Jessica sangat seksi dan selalu memenuhi kebutuhan Andre. Andre bertahan dan terbiasa dengan service yang diberikan Jessica. Walaupun untuk hubungan yang serius, Andre sedikit ragu dengan Jessica.


Andre memang lelaki brengs*k, namun dia juga tidak ingin menikah dengan wanita yang seperti Jessica. Lebih tepatnya Andre masih belum ingin menikah, bahkan wanita sebaik Sonya belum membuat Andre ingin menikah. Semua karena rasa bersalahnya pada Selly telah merenggut kesuciannya. Berbeda dengan Jessica yang memang sudah fasih melakukannya bahkan sebelum dengan Andre. Hal itulah yang membuat Andre berpikir berulang kali untuk serius dengan Jessica. Rasa bersalah pada Selly membuat Andre belum bisa menjalani hubungan serius dengan siapapun.


Setelah tidak sengaja bertemu dengan Selly tadi, rasa penasaran Andre kembali muncul. Apa yang terjadi pada Selly selama ini. Rasa hambar terhadap Jessica kembali hadir, ingin rasanya Ia mengejar Selly dan berhubungan dengan Selly seperti beberapa tahun lalu.

__ADS_1


***


Melihat Sonya yang kemarin pergi kencan dengan pacarnya, Anya tidak mau kalah. Ia memutuskan untuk pergi berkencan dengan Yoga hari ini, setelah kemarin harus mengabaikan Yoga karena Ia lekas pergi ke kosan Ika mengingat Mela yang sedang sedih dan butuh teman.


Untuk membalas semua rasa bersalahnya, Anya berniat memberi surprise pada pacar pertamanya itu. Pagi hari Anya sudah berdandan rapi dan cantik. Ia berangkat menuju apartemen Yoga. Sebelumnya tak lupa Ia membeli makanan untuk sarapan mereka berdua.


Tak butuh waktu lama, karena jalanan masih lengang, Anya sampai di apartemen Yoga. Ia segera naik dan menekan tombol bel. Cukup lama Anya menunggu namun tidak ada jawaban dari dalam. Terpaksa Ia menelpon Yoga agar dibukakan pintu. Untungnya telpon terangkat. Benar saja, Yoga baru sadar dari tidurnya.


"Haloo.." Suara Yoga terdengar lirih khas orang baru bangun tidur.


"Sayang, baru bangun?"


"Iya sayang. Abis kemarin ditinggalin sendiri gak ditemenin jadi ya nonton netplix sampe tengah malem."


"Oooh gitu. Kalau dikasih surprise mau gak?"


"Surprise apaan?" Yoga beranjak duduk dan mengucek matanya agar bisa menghilangkan rasa ngantuknya.


"Emmhh, kakak bangun dulu. Keluar kamar, terus buka pintu depan."


Yoga menuruti perintah Anya, Ia berjalan dengan gontai karena belum sepenuhnya sadar. Sembari berjalan Yoga juga menguap karena masih sangat mengantuk. Yoga sampai di depan pintu, Ia membuka pintu.


"Surpriseeee!!!" Anya mengangkat kedua tangannya. Yoga terkaget, sontak kantuknya menguap.


"Loh sayang, kok bisa pagi-pagi udah disini."


"Namanya juga surprise. Aku gak tega sayang kemarin kayak jomblo. Lagian Ika sama Mela nanti mau keluar, aku gak bisa ikut karena kepengen kencan sama pacar tersayang."


"Terus aku disuruh disini aja nih? Gak ditawarin masuk gitu?" Anya mengangkat bungkusan makanan ditangannya.


"Eeh iya iya sayang. Yukk masuk."


Anya masuk ke apartemen. Ia meletakkan bungkusan makanan di dapur.


"Aku ke kamar mandi dulu yah sayang." Ijin Yoga.


Anya duduk di sofa depan tv dan bermain handphone menunggu Yoga di dalam kamar mandi. Tak berselang lama Yoga keluar sudah dalam kondisi sehabis mandi. Anya refleks menoleh ke arah kamar mandi, nampak Yoga keluar dengan rambutnya sedikit basah dengan handuk yang menutupi pundaknya, tanpa mengenakan pakaian hanya menggunakan celana pendek yang tadi Ia kenakan. Perut sixpack dan dada yang bidang terlihat jelas, membuat Anya terpaku. Anya hendak mengalihkan pandangan, tapi pemandangan yang tak biasa terus memaksanya melihatnya.


"Ehemmm.. Kedip sayang." Goda Yoga.


Anya salah tingkah, pipinya bersemu merah. Pagi hari yang cerah dengan cuaca yang sejuk membuatnya tetap merasa panas dan gerah.


"Iiih apaan sayang. Sana cepet pake baju. Malu iih."


"Malu kenapa? Kalau cowok kan biasa gak pake baju begini."


"Ya tapi kan ada aku. Masa gak malu telanj*ng kayak gitu." Sungut Anya.


"Aku yang malu apa kamu yang mau?" Yoga mendekatkan diri pada Anya. Aroma sabun yang beraroma maskulin tercium oleh Anya. Tercium juga aroma mint pasta gigi dari bibir Yoga. Anya berusaha sekuat tenaga tidak menunjukkan gelagat tergoda dengan pemandangan yang tepat di depannya.

__ADS_1


"Bisa turun harga diri." Batin Anya.


"Udah sana pake baju." Anya mendorong Yoga dan tak sengaja memegang dada Yoga yang kekar.


"Tuh kan pegang pegang." Goda Yoga lagi.


"Iiih kakak kan, ngeselin mesti." Anya memukul dada Yoga. Yoga tak tinggal diam, Ia memegang pergelangan tangan Anya, membuat badan Anya menempel di dada Yoga. Jantung Anya berdebar kencang. Otaknya berfikir untuk segera menjauh, namun tubuhnya tak kuasa untuk menjauh.


Tubuhnya justru mengikuti intuisi untuk tetap dekat dengan kekasihnya itu. Yoga mengecup bibir Anya, kali ini Anya sudah lebih tenang dari pada pengalaman pertamanya. Anya memejamkan mata tanda bahwa Ia menanti ciuman Yoga. Yoga dengan cepat mencium bibir Anya yang manis dan bagaikan candu baginya. Tangan Anya memeluk Yoga. Di tengah ciuman, Anya tersentak. Ia mengakhiri dengan tiba-tiba membuat Yoga kaget.


"Kakak, pake baju dulu. Nanti masuk angin."


"Iya bentar."


Sebenarnya pikiran nakal Anya tiba-tiba hadir, apalagi dengan keadaan Yoga yang bertelanjang dada. Untungnya logika Anya segera tersadar bahwa Ia harus menjaga diri dan kehormatannya. Sekalipun Ia sangat mencintai Yoga sekarang, Ia tidak ingin menjadi wanita bodoh yang menyerahkan kesuciannya sebelum adanya ikatan pernikahan.


Yoga masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya. Ia bertanya-tanya apa yang menyebabkan Anya menyudahi ciuman dengannya secara tiba-tiba. "Apa mungkin Anya terangs*ng?" Batin Yoga. Yoga berdiri di depan cermin untuk merapikan tampilannya. Ia memegang bibirnya dan tersenyum. Ingatannya tentang kejadian tadi masih sangat terekam. Tangan Anya yang membelai punggungnya, hingga akhirnya Ia tersentak. Mungkin jika Anya tidak mengakhiri, Ia juga akan lepas kendali.


Yoga keluar kamar dan menemui Anya. Ia berusaha menepis pikiran liarnya. Begitupun Anya yang juga bergelut dengan pikiran nakalnya apalagi Ia sudah melihat badan kekar Yoga. Mereka berdua memutuskan untuk sarapan dan setelah itu berjalan-jalan keluar agar tidak terbawa suasana kembali.


***


Gista sedang menjalani pemotretan di sebuah cafe. Entah kenapa sejak pagi, Ia merasa ada yang tidak beres dengan badannya. Puncaknya saat sedang berpose tiba-tiba badannya lemas dan..


Bruuuaaaakkkk..


Badan Gista tumbang, Ia pingsan. Semua kru pemotretan langsung panik dan membantu menggendong tubuh Gista ke ruang ganti. Mereka menunggu hingga Gista sadar. Manager baru Gista mengipasi badannya dan membalurinya dengan minyak. Tak berselang lama, Gista sadar. Namun, bukannya berterima kasih Ia justru marah pada manager barunya, karena merasa mual mencium bau minyak.


"Jangan pake minyak lagi. Gue enek sama baunya!" Bentak Gista.


"Huweeekkkk.." Gista berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Managernya ikut berlari mengejar Gista untuk mengecek kondisinya.


Selepas memuntahkan isi perutnya, Gista terlihat sangat pucat, badannya lemas. Bagaimana tidak, Ia tidak sarapan apapun tapi Ia sudah muntah sejak tadi pagi Ia bangun tidur.


"Kakak kenapa? Kok mual-mual? Kayak orang hamil aja." Ceplos manager barunya ingin menghibur Gista. Bukannya terhibur Gista malah teringat bahwa Ia sudah terlambat masa haidnya beberapa minggu. Terakhir Ia berhubungan dengan Om Faisal.


"Haaah, gak mungkin gue ngandung anaknya itu tua bangka. Gak, gak mungkin kan gue hamil. Gue kan selalu minum pil KB. Gila aja kalau gue hamil. Bisa hancur karir dan citra gue sebagai cewek baik-baik." Batin Gista.


Gista tak menggubris ucapan managernya. Ia segera meminta pemotretan ditunda karena sedang tidak enak badan. Gista juga menolak tawaran untuk diantarkan pulang managernya, Ia memilih pulang sendiri karena hendak membeli test pack.


Di jalan pulang, Gista mengenakan masker untuk menutupi wajahnya. Ia mampir ke apotik dan membeli test pack. Sesampainya di apartemen, Gista tak yakin ingin mencoba melakukan test kehamilan.


"Duuuh, gimana kalau positif. Masa iya gue ngandung anaknya tuh si tua bangka. Apa gue aborsi aja? Aaahhh sial banget kalau gue beneran hamil. Plis jangan pliiiss!! Semoga gue cuma masuk angin." Harap Gista.


Gista melakukan test kehamilan. Ia memejamkan mata dan membukanya perlahan takut jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Gista melihat hasil yang ada di test pack tersebut, muncul dua garis samar. Tangannya bergetar memandangi alat test kehamilan itu. "Enggak, gak mungkin." Gista mencoba menyangkal.


Ia mencoba test kembali dengan alat yang lain. Hasilnya pun sama saja, tetap dua garis samar yang muncul. Gista menangis di dalam kamar mandi, tubuhnya lemas tak berdaya. Mual kembali menyeruak dalam tubuhnya, sekian kali Ia kembali muntah. Tubuhnya makin pucat karena belum ada makanan yang masuk dalam tubuhnya. Jangankan ingin makan, mencium aroma makanan saja Ia sudah tidak kuat.

__ADS_1


Gista berbaring di kamarnya, membalut dirinya dengan selimut. Ia mencoba menghubungi Om Faisal untuk memberi tau yang terjadi padanya. Sayangnya telponnya tidak kunjung diangkat. Awalnya Gista sudah berpikir untuk menjauh dari Om Faisal, mengingat istrinya sudah melayangkan gugatan cerai. Dengan gugatan cerai yang diterima Om Faisal, secara tidak langsung Om Faisal tidak sekaya dulu lagi. Karena memang harta yang dimiliki selama ini bersumber dari istrinya. Gista berpikir bahwa Om Faisal sudah tidak bisa memenuhinya secara material, oleh karena itu, Ia ingin mencari mangsa lain. Tapi siapa sangka dirinya kini justru harus mengandung anak si tua bangka itu. Airmata Gista kembali meleleh merutuki kebodohan yang Ia lakukan.


"Pokoknya si tua bangka itu harus tanggung jawab. Dia harus bayar semua penderitaan ini." Gumam Gista sambil menangis dan kondisi yang lemas serta pucat.


__ADS_2