Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Memperbaiki masa lalu


__ADS_3

Pagi hari Sonya sudah di depan ruangan bayi. Ia tidak tega membangunkan Ezza di sampingnya. Ia beranjak perlahan dan mengendap untuk keluar kamar dan melihat kondisi bayi mungilnya.


Sudah hampir seminggu pasca melahirkan, namun Sonya belum dapat menggendong bayinya. Bukan Sonya jika tidak gigih. Ia berusaha sekuat tenaga untuk memberikan asi. Afirmasi positif selalu Ia terapkan demi perkembangan bayi kecilnya. Ditambah dengan kasih sayang dan perhatian Ezza yang membuatnya kuat.


Sonya merasa ini semua ujian yang kelak bisa membuat keluarga kecilnya semakin berwarna. Benar saja, setiap hari perkembangan bayi Sonya selalu baik. Berat badan terus meningkat, dan bisa secepatnya keluar dari ruangan inkubator. Sonya semakin optimis bisa pulang bersama.


Kondisi Sonya sudah semakin baik. Ia bisa berjalan dengan lancar tanpa perduli nyeri sedikit yang dirasakan. Sonya tidak ingin manja. Jika menuruti rasa sakit maka rindu terhadap bayinya akan semakin membuncah.


"Sayaaang.. Aku cariin ternyata disini. Hampir minta tolong suster cariin kamu." Ezza terengah mendekati Sonya yang memandangi bayi kecil sedang tertidur.


"Abis ngasih asi sayang. Kasian tadi kamu tidur. Jadi nganter sendiri sekalian jalan-jalan. Badanku juga sudah enak kok. Gak usah khawatir."


"Gimana gak khawatir. Aku bangun-bangun istriku sudah gak ada di depan mata." Sonya tersenyum.


"Maaf sayang. Tadi soalnya sakit banget jadi mompa asi. Pas tau dapet banyak rasanya gak sabar pengen di kasih ke dedek biar cepet gede."


"Iya sayangku. Lain kali bangunin aja gak papa. Biar aku temenin. Kamu kan abis lahiran, jadi mesti extra penjagaan suami."


"Makasih sayang. Karena kamu aku jadi kuat buat anak kita."


"Sama-sama. Semoga kita bisa pulang bersama bertiga."


"Amin. Kata dokter tadi aku udah bisa pulang besok. Semoga bayi kita juga ikut pulang." Ucap Sonya sambil memandangi bayi yang beberapa minggu lalu masih hadir di rahimnya.


"Sekarang kamu sarapan dulu yuk. Pasti laper karena asinya keluar banyak."


Sonya tersenyum, Ia mengalihkan pandangan menatap Ezza.


"Kenapa sayang? Kok senyam senyum?" Tanya Ezza kebingungan.


"Sayang pengertian banget. Kok tau kalau asi abis keluar rasanya kelaparan banget."


"Tau dong. Kan aku suami dan ayah siaga." Ucap Ezza sombong.


"Emmhhh, tapi kurang siaga aah."


"Haaah? Kurang siaga gimana sayang? Apa yang kurang?"


"Emmhh kalau cuma nyuruh makan doang mah percuma sayang. Yang bener tuh dibeliin makanan kesukaan tanpa diminta, terus disuapin, terus dipijitin, terus disayang-sayang, terus.."


"Iya iyaaa.. Udah ayoook cepet makan dulu. Nanti aku turutin semua request istri tersayangku ini."


"Yeaaayy." Sonya bersorai kegirangan.


***


"Mau apa lagi kesini?" Selly memasang wajah jutek mendapati Andre di depan rumah sakit menunggunya pulang.


"Mau anterin kamu pulang."

__ADS_1


"Gak perlu, aku bisa pulang sendiri."


"Selly, please."


"Andre, please. Stop ngelakuin hal gak berguna gini."


"Aku gak akan nyerah, kalau kamu sekarang nolak aku, besok aku bakal balik lagi."


Selly mulai kesal mendengar ucapan Andre yang sangat gigih.


"Terus kamu balik kesini untuk apa? Jawaban aku tetep sama walaupun seribu kali kamu kesini." Ucap Selly tegas.


"Aku bakal coba lebih dari seribu kali." Selly tak mengindahkan. Ia segera berlalu menuju taxi online yang sudah dipesan.


Tanpa disadari Selly sepanjang perjalanan pulang Andre mengikutinya.


"Makasih ya pak." Ucap Selly sambil menutup pintu taxi. Selly dibuat kaget dengan kehadiran Andre yang mengikutinya.


"Andre, aku capek banget. Mau istirahat. Stop ganggu aku gini. Ini juga udah malem, Airelle udah tidur. Gak ada alasan lain lagi buat kamu kesini." Selly berbalik badan meninggalkan Andre.


Andre menarik tangan Selly sehingga tubuh Selly masuk dalam dekapan peluk Andre. Andre memeluk Selly erat.


"Andreee, apa-apaan sih. Lepasin." Selly memberontak.


"Please biarin aku seperti ini sebentar. Tiga menit, hanya tiga menit." Andre memohon.


Selly hanya bisa pasrah. Jantung Selly berdegup merasakan hangat pelukan Andre yang dulu sangat dirindukan. Namun perlahan rindu itu menjadi rasa jengkel dan kebencian karena semua kesulitan yang Ia rasakan seorang diri tanpa sosok Andre disampingnya.


Selly terdiam membiarkan Andre melanjutkan ucapannya.


"Mama papa cerai karena papa selingkuh. Mama sakit dan sekarang sedang dirawat dirumah sakit tempat kamu kerja."


"Jadi kamu disana karena mama kamu sakit?" Tanya Selly memastikan bahwa Andre tidak mungkin melakukan hal yang jauh untuk dirinya. Ia tidak ingin terlalu percaya diri dan jatuh untuk kedua kali.


Andre menggeleng.


"Aku sudah ke rumah sakit tadi saat jam makan siang. Aku baru sadar betapa beratnya menjadi seorang wanita. Mama baru cerita bagaimana Ia harus mengalah pada papa agar tetap harmonis, mental dan hati mama tersakiti secara tidak langsung."


"Semua cerita mama, secara tidak langsung mengingatkan aku tentang semua yang aku perbuat pada kamu Sel. Kita dulu berawal dari kesalahan. Selingkuh dari pasangan masing-masing. Tapi sekarang, semua sudah lama berlalu. Aku ingin memperbaiki sebelum terlambat. Biar aku jadi tempat berbagi keluh kesahmu, Sel. Kita mulai semua dari awal, tanpa ada orang ketiga ataupun menjadi orang ketiga. Hanya tentang kita dan keluarga kecil kita nantinya."


Selly sungguh tak menyangka semua terlontar dari mulut Andre. Ingin rasanya Ia membalas pelukan Andre dan memberinya kesempatan. Namun, ketakutan masa lalu yang berat membuat Selly enggan.


"Sudah tiga menit lebih Ndre. Tolong lepasin." Pinta Selly berusaha tidak menggubris ucapan Andre.


Andre melepaskan pelukan dengan enggan.


"Makasih Sel. Setidaknya aku lega bisa cerita ini semua. Jika kamu merasa hari kamu berat, pelukan aku selalu terbuka untuk kamu."


Selly mengangguk dan berbalik meninggalkan Andre. Semakin lama Ia bersama Andre, Ia merasa pertahanannya akan makin mudah goyah.

__ADS_1


"Aku tau kamu masih sayang sama aku Sel. Aku juga sayang sama kamu." Teriak Andre memuat Selly kaget karena takut ada yang mendengar apalagi Airelle.


"Kamu ini ngomong apaan sih. Gimana kalau Airelle denger. Balik cepetan." Perintah Selly kesal sambil mendorong tubuh Andre menuju mobil.


"Aku bilang, Andre sayang Selly. Selalu sayang Selly."


"Ndre, please jangan gini. Cukup." Mata Selly mulai berembun menahan semua sesak di dada. Sungguh berat berpura-pura tidak pernah terjadi apapun di hatinya.


"Selly, kenapa?" Tanya Andre panik melihat mata Selly yang basah. Selly tak sanggup berkata-kata. Airmatanya tumpah. Ia seolah melepaskan semua sakit hati dimasa lalu. Isak tangisnya semakin kencang. Selly memukul dada Andre dengan kepalan tangannya untuk menghilangkan semua kekesalan.


"Kamu jahat Ndre. Bener-bener jahat. Aku nyesel pernah ketemu kamu. Aku nyesel." Racau Selly sambil terus menangis.


Andre memeluk Selly erat membiarkannya menangis sepuasnya.


"Maaf Selly. Maaf atas semua kebodohan dan keegoisanku di masa lalu. Maaf aku sudah menjadi lelaki brengsek di matamu. Aku ingin memperbaiki semua, bantu aku. Tegur aku, marahi aku kalau aku salah." Andre mengelus punggung dan rambut Selly menenangkan.


Beberapa saat tangis Selly reda. Menyisakan bengkak di mata Selly. Andre melepaskan pelukan.


"Are you okay beb?" Tanya Andre menyeka air mata Selly. Ia mencium kening Selly tanpa penolakan. Semua kekesalan sudah diluapkan lewat tangisan, sehingga tidak ada daya bagi Selly menerima perlakuan manis Andre.


Selly mengangguk menandakan kondisinya sudah tenang.


"Sel, mulai sekarang kamu gak sendiri lagi. Ada aku yang akan menjaga kamu dan putri kecil kita."


Selly terdiam, seolah tak percaya apa yang dilakukannya menandakan bahwa Ia memberikan kesempatan pada Andre. Ia mencoba melepaskan semua sakit hatinya. Selly mencoba berdamai dan memberikan Andre kesempatan bersama untuk menjadi pendamping dan ayah yang baik.


"Kamu balik gih. Aku mau istirahat."


"Iyaudah kamu istirahat. Kalau butuh apapun, telpon aku. Okay?"


Selly mengangguk.


"Sel.."


"Apa?"


"Makasih. Besok-besok aku gak akan biarin airmata kamu tumpah sebanyak hari ini. I love you." Andre mengelus pipi Selly.


"Byee.." Andre masuk ke dalam mobil dan membiarkan Selly masuk ke rumah terlebih dulu, lalu melajukan mobil.


***


Boy kembali tidur di ruang tv. Rencananya tidur di kamar tidur bersama Gina gagal kembali. Sejak hamil muda, Gina menjadi sangat sensitif terhadap apapun. Bahkan bau keringat Boy membuat Gina mual.


"Kamu bau matahari sayang. Aku mau mau.. huweeekkkkk..." Gina berlari ke kamar mandi. Begitulah respon Gina saat melihat Boy pulang ke rumah. Walaupun Boy sudah mandi dan harum, Gina selalu ogah di dekati karena aroma sabun dan shampoo Boy membuatnya tetap mual.


"Huffftt.. Kalau gini berasa bujang lagi. Tidur gak ada yang ngelonin. Jangankan kelon, deket dikit aja diusir. Nasib.. nasib.. Sabar ya joni." Gumam Boy sambil mengelus miliknya yang sedang on.


Boy berusaha memahami istrinya yang sedang hamil muda. Memang sangat tidak mudah, apalagi Ia mendengar hampir tiap malam Gina mual dan muntah. Ingin Boy membantunya, namun kehadiran Boy malah semakin membuat Gina mual. Tubuh Gina semakin hari semakin kurus, membuat Boy bingung harus berbuat apa.

__ADS_1


Boy memutuskan besok membawa Gina ke rumah orang tuanya. Ia tidak tega dengan keadaan Gina yang sehabis makan akan muntah, di dekati Boy juga mual. Tentu sulit untuk Gina saat hamil muda namun tidak ada yang merawatnya. Oleh karena itu, Boy ingin meminta bantuan mama mertua untuk merawat Gina.


__ADS_2