
Mela berhasil mengurus rencana magang di perusahaan milik pamannya. Ia ditempatkan di proyek pembangunan paviliun rumah sakit. Mela pagi hari datang untuk mengecek lokasi proyek. Ia sampai di rumah sakit dan hendak memarkir mobilnya. Saat akan memasukkan mobilnya tiba-tiba seseorang menyerobot parkir di tempat tersebut. Mela tersulut emosi. Mela turun dan mengetuk kaca mobil dan menyuruh orang tersebut turun.
"Lu gak punya mata? Gak liat gue mau parkir disini? Bahaya tau asal nyerobot begitu." Protes Mela.
Lelaki itu melihat Mela dari atas bawah.
"Lu kayaknya bukan dokter disini?"
"Iya emang kenapa?" Mela masih dengan nada nyolotnya. Laki-laki tersebut memakai jas dokter. Jadi sudah pasti dia dokter yang bekerja di rumah sakit ini.
"Tuh liat." Lelaki itu menunjuk sebuah tulisan yang berbunyi "Parkir khusus dokter."
"Iya tapi gue kan kerja disini." Mela berkilah.
"Kerja? Dokter bukan?"
"I iya bukan."
"Jadi, silakan parkir disana." Lelaki itu menunjuk tempat parkir lain yang memang untuk pekerja lain.
"Dokter aja belagu." Mela beranjak masuk ke mobil dan mengegas dengan kencang mobilnya.
Mela melalui setengah hari magangnya dengan baik, apalagi ada Ezza, dosennya yang juga membantu Mela tentang pengerjaan proyek. Saat istirahat makan siang Mela hendak makan siang dengan Ezza. Ezza mengajak Mela karena melihatnya sendirian dan masih kebingungan dengan letak cafetaria. Ezza juga sudah menceritakan pada Sonya bahwa ada mahasiswinya yang magang di proyek.
"Disini cafetarianya Mel." Ezza memberitau letak cafetaria rumah sakit.
"Ooh iya pak. Terima kasih."
Mereka berjalan beriringan menuju cafetaria. Disisi lain ada Sonya dan Iqbal juga menuju cafetaria.
"Kak Sonya.." Sapa Mela.
"Eeh Mela." Sonya menghampiri Mela dan Ezza.
"Kamu kenal? Ini mahasiswi magang yang aku ceritain." Ezza menjelaskan pada Sonya.
"Kenal, dia kan temannya Anya."
"Oo pantesan."
"Lu kan dokter rese tadi pagi." Mela melihat Iqbal. Iqbal cuek bebek.
"Yee, situ aja yang gak bisa baca. Ternyata masih anak kuliahan."
"Kenapa emang?" Tanya Sonya penasaran.
"Tadi dia nyerobot tempat parkirnya Mela kak." Mela mengadu.
"Enggak ya, orang itu tempat parkir dokter. Kan sudah ada tulisannya." Iqbal membela diri.
"Yaelah Bal, mesti gara-gara lu telat lagi ya."
Iqbal nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf yah Mel, Iqbal udah biasa telat, jadi suka bingung cari tempat parkir. Oiya, Iqbal ini sepupunya Anya."
"Iya kak, gak papa. Mela juga salah tadi gak baca tempat parkir. Tadi cuma takut tiba-tiba nabrak aja. Kan bahaya." Iqbal terheran melihat sikap Mela. Ternyata dia adalah wanita yang mau mengakui kesalahan, Iqbal mengira Mela akan bersikeras menyalahkannya.
"Yaudah kalau gitu ayok makan bareng." Sambung Sonya. Mereka berempat makan siang bersama di cafetaria.
***
Yoga senang sudah bisa berbaikan dengan Anya. Rencana memberi hadiah kecil kepada Anya bisa dia lanjutkan. Dia sudah mengajak Anya makan malam dan Anya tidak menolak. Yoga berdandan rapi dengan kemeja lengan panjang dan celana panjang lengkap dengan sepatu. Ia berharap makan malam kali ini akan berkesan untuk Anya dan Anya akan terkejut dengan surprise darinya. Namun belum sampai memberikan surprise, Yoga justru sudah dibuat terkejut oleh Anya.
"Kok pakai baju santai?" Protes Yoga.
Anya melihat dandanan Yoga dari atas sampai bawah, berulang kali.
"Kakak abis pulang kondangan? Rapi banget."
Anya yang berdiri di depan Yoga, hanya menggunakan kaos oblong pink dan celana legging hitam, ditambah sandal jepit dan tas selempang kecil. Polesan make up juga tidak nampak di wajah Anya, hanya sedikit lipbalm yang Ia oleskan tipis di bibirnya.
"Bukan aku yang kerapian, tapi kamu yang terlalu santai. Kan kita mau makan malam Anya." Protes Yoga kembali.
"Emang mau makan malam dimana kak? Kok mesti dandan begitu?"
"Yah ada lah, kamu mau ganti baju atau mau malu karena saltum disana?"
"Iiih males kak kalau harus make up lagi. Anya udah cuci muka tadi."
"Ya terus mau malu karena saltum berarti?"
"Iiih kelamaan kak kalau dandan. Anya udah laper nih."
"Ya terus gimana? Kamu yakin mau saltum begini? Gak malu?"
"Emmh, gak malu kalau kita makannya di pinggir jalan aja. Gak usah ke resto yang aneh-aneh sampe bikin aku malu karena saltum. Gimana?"
"Yah, tapi aku kan udah booking tempat disana Anya." Yoga mulai gemas.
"Tapi Anya udah laper kak. Anya mau makan pecel lele aja. Yah yah? Pliiisss?" Anya memanyunkan bibirnya dan menyatukan telapak tangannya memohon pada Yoga.
"Ya tapi kakak udah.. aah yaudahlah. Ayok deh." Yoga memilih mengalah mengingat mereka baru saja baikan. Mereka mencari warung pinggir jalan dan menikmati pecel lele. Yoga sedikit kecewa karena rencana kejutannya harus Ia batalkan kembali. Ia melipat lengan bajunya dengan terpaksa dan menyantap makanan di depannya. Mereka berdua sudah menghabiskan dua porsi pecel lele. Anya merasa kenyang dan tersenyum puas.
"Makasih yah Kak. Anya kenyang." Anya tersenyum riang.
"Iya sama-sama." Yoga masih merasa kecewa karena rencananya yang gagal.
"Yaah kok masih cemberut kak?"
"Gak kok. Cuma sayang aja, kakak udah booking di resto itu padahal."
__ADS_1
"Iya maaf deh kak."
"Enggak papa Anya. Kakak cuma niatnya tadi bikin kamu senang aja makan di sana."
"Tapi Anya juga seneng kok makan disini. Yang penting kan sama siapanya, bukan dimana makannya."
Yoga mencerna kata-kata Anya.
"Jadi kamu seneng makan sama aku?"
"Hah? Emang aku ngomong gitu yah?"
"Iya kamu tadi kan ngomong yang penting itu sama siapanya, dan kamu seneng makan disini. Berarti seneng makan disini karena sama aku kan?"
"Tuh kan, mesti kepedean. Udah aah ayok keluar. Kasian udah banyak orang yang mau gantian makan."
"Mau kemana sekarang?"
"Mau ke taman kota." Jawab Anya cepat.
"Mau ngapain Anya kesana?"
"Iiihhh gak papa aah. Ayok kesana."
Yoga benar-benar tidak menyangka, rencananya hari ini gagal total. Bahkan dengan dandanannya yang rapi Ia harus pergi ke taman kota untuk menuruti keinginan Anya.
Mereka berdua sampai di taman kota. Taman kota cukup ramai malam ini. Banyak muda-mudi dan orang tua yang mengajak anaknya untuk sekedar jalan-jalan.
"Makan jagung bakar yuk kak." Anya menarik tangan Yoga. Yoga pasrah mengikutinya.
"Tadi kan sudah makan Anya, kakak masih kenyang."
"Kan ini cemilan kak. Yaudah kalau gitu satu berdua yah." Yoga mengangguk pasrah. Entah kenapa Ia merasa Anya hari ini berbeda. Lebih cerewet dan menunjukkan keinginannya. Ia terlihat seperti wanita seumurannya pada umumnya. Tidak seperti biasanya yang cenderung bersikap lebih dewasa, malam ini Ia benar-benar menunjukkan sisi lain dari dirinya. Sekarang mereka berdua duduk di kursi taman menikmati malam.
"Masih bete kak gak jadi candle light dinner?" Goda Anya.
"Lumayan. Nih padahal kakak udah dandan rapi-rapi. Pengennya ngajak makan biar romantis. Tapi malah jadi nongkrong di taman kota." Yoga merapikan lipatan lengan kemejanya.
"Emang kalau begini gak romantis kak?"
"Menurutmu begini romantis? Bukannya cewek suka yang indah dan bagus gitu. Dikasih bunga, dikasih apa gitu baru itu namanya romantis."
Anya menggeleng.
"Menurut Anya begini udah romantis kok."
Yoga tersenyum.
"Kalau gitu lain kali bilang mau makan apa, biar kakak gak salah kostum." Anya tergelak.
"Makasih tapi kak, udah mau nurutin kerandoman Anya."
"Sama-sama. Masih ada keinginan lain lagi tuan putri?" Tanya Yoga sambil tersenyum memandang Anya.
"Apa? Mau kemana? Mau makan apa?"
"Emm, Anya mau.." Anya menghentikan ucapannya.
"Mau apa?"
"Mau.."
"Iya mau apaan?" Yoga mulai tidak sabar.
"Mau pacaran beneran sama kakak." Ucap Anya.
Yoga terbelalak.
"Se serius?" Anya mengangguk sambil tersenyum. Yoga refleks memeluk Anya. Anya menepisnya.
"Iiih kakak, ini kan di tempat umum. Dikira orang mau mesum nanti." Protes Anya.
"Iya iya sorry. Aku seneng banget dengernya."
"Seneng banget emang?"
"Iya Anya, seneng banget."
"Sekarang kamu sepenuhnya milik aku, jadi gak boleh macem-macem sama cowok lain."
"Yeee belum apa-apa udah keluar posesifnya. Inget Anya gak suka di posesifin."
"Iya iya. Pokoknya jangan macem-macem."
"Iya kak, Anya satu macem aja. Kakak doang." Yoga makin tersipu, Ia tak menyangka Anya mau membuka hati untuknya.
"Makasih yah Nya." Yoga menggenggam tangan Anya.
"Yaudah kita pulang sekarang kak. Besok kakak kan masih kerja pagi."
"Yuk." Yoga tidak melepaskan genggaman tangannya hingga sampai di parkiran mobil. Begitu mobil melajupun Ia kembali menggenggam tangan Anya.
***
Ika melihat jam di handphonenya dan betapa kagetnya saat melihat Ia terlambat. Semalam Ia begadang marathon drama korea. Berujung ketiduran menjelang subuh. Ika bersiap-siap menuju kampus. Tak lama handphonenya berdering. "Iiish siapa telpon saat urgent begini." Batin Ika. Ia meraih handphonenya di kasur dan mengangkat telpon dari Eric.
"Apaan sih kak?"
"Halo, weits sabar. Gue cuma mau nanya lu lagi dimana?"
"Lagi di kosan, siap-siap. Udah yah, ini gue bisa telat."
__ADS_1
"Yaudah buruan keluar, gue di depan kosan lu. Gue jamin lu gak bakal telat." Ika segera berlari keluar kosan dan benar saja sudah ada Eric duduk di atas motor sportnya. Ika tercengang.
"Udah ayok cepetan. Malah bengong."
"I iya kak. Ngebut yah kak."
"Siap, pegangan yang kenceng yah." Eric mengendarai motornya dengan kencang. Ika hanya bisa pasrah memeluk Eric dari belakang saking takutnya. Ia memejamkan matanya karena ketakutannya dengan laju kenjang motor Eric. Tak lama motor Eric tiba di depan gedung kuliah Ika.
Ika masih tetap memeluk Eric dan tak membuka mata. Beberapa menit berselang.
"Emang nyaman banget yah meluk gue?" Ucap Eric.
"Haah? Apaan kak?" Teriak Ika.
"Ini udah nyampe dari tadi dan lu masih betah melukin gue. Emang nyaman banget gitu badan gue buat dipeluk?" Ika membuka mata dan kaget Ia sudah sampe di depan kampus. Ia segera melepaskan pelukannya. Pipinya bersemu merah.
"Loh kok dilepas, dilanjut lagi juga gak nolak kok."
"Iiih kakak, apaan sih. Bisa-bisanya gak ngomong kalau udah sampe. Cari kesempatan dalam kesempitan." Protes Ika.
"Gue udah bilang tadi, lu nya aja yang gak denger. Fokus banget melukin gue." Goda Eric.
"Iiih mesti deh. Dibilang gue gak tau kalau udah sampe. Makanya lain kali kasih tau yang bener dan jelas."
"Lain kali gak bakal gue kasih tau, biar dipeluk terus."
"Mesti deh ngeselin banget."
"Ngeselin apa ngangenin?"
"Ngeselinnnn. Tau aah, gue mau kuliah dulu. Bye."
Ika meninggalkan Eric begitu saja. Saat beberapa langkah, Ia berhenti dan berbalik menghampiri Eric.
"Makasih yah kak, kalau gak ada kakak mungkin gue udah telat." Ika tersenyum dan mengucapkan dengan tulus.
"Iya sama-sama. Udah sana masuk. Oiya, nanti gue jemput yah. Bye."
Eric melajukan motornya, belum sempat Ika menjawab mau atau tidaknya tapi Eric tidak menggubrisnya.
Sepulang kuliah benar saja, Eric sudah menunggu Ika. Ika menghampiri Eric.
"Kakak nih gak ada kerjaan lain apa? Skripsi kak skripsi."
"Iya, skripsi gue udah mau selesai kok. Tenang aja."
"Iya terus kapan selesainya?"
"Secepatnya. Kalau gue ngerjain skripsi tapi gak tau lu balik sama siapa, yang ada gak bisa tenang ngerjain skripsi."
"Lah kok bisa gitu? Apa hubungannya coba." Protes Ika yang tidak terima dirinya dijadikan alasan.
"Iya bisa pokoknya. Kalau liat lu pulang dengan selamat langsung bisa ngerjain skripsi. Beneran ini gak bohong."
"Iih iya deh terserah aja. Yang penting tuh skripsi dikerjain."
"Iya Ika, bawel iih."
Tiba-tiba perut Ika berbunyi.
"Laper buuk?" Goda Eric.
"Iya nih, baru inget belum sempat makan dari tadi. Gara-gara bangun kesiangan sih."
"Lah kenapa bisa kesiangan?"
"Semalem abis marathon drakor." Ucap Ika malu.
"Yaudah ayok naik. Kita cari makan dulu. Daripada nanti ada yang kelaparan di kosan. Kasian tetangga kosannya."
"Iiih emang kenapa coba tetangga gue. Gak bakal gue makan juga."
Ika dan Eric bergegas mencari makan. Eric tersenyum sumringah melihat Ika makan dengan lahapnya hingga belepotan. Tanpa sadar Eric membersihkan sudut bibir Ika dengan tangannya. Ika kaget dengan perlakuan Eric.
"Eeh gue bisa sendiri." Ika tersadar dan menepis tangan Eric. Jantungnya berdegup kencang.
"Sorry, sorry. Tadi belepotan jadi gue respect bersihin."
"I iya kak." Ika semakin salting.
"Lain kali jangan lupa makan, biar gak krucuk-krucuk perutnya."
"Iya kak, namanya juga darurat tadi itu."
"Sedarurat-daruratnya sedia roti jadi bisa buat ganjel. Kalau kebiasaan begitu nanti lama-lama bisa asam lambung."
"Iya iya kak. Kok sekarang jadi kakak yang bawel iih." Ika tertawa karena justru sekarang Eric yang menjadi bawel.
"Eeh iya yah, ketularan lu dah ini bawelnya. Makanya lain kali jangan bawel-bawel."
"Hmmm, terserah deh. Gue mau makan lagi aja. Laper."
Dalam sekejap makanan di hadapan Ika berpindah ke dalam perutnya.
"Sudah kenyang?" Tanya Eric.
Ika mengangguk dan tersenyum senang.
"Mau langsung balik?"
"Iya langsung balik aja kak. Mau nerusin drakor di kosan."
__ADS_1
"Hmm kita mampir beli roti dulu. Bahaya kalau udah drakoran bisa lupa makan soalnya. Jadi mending sedia roti."
"Iya iya bawel. Weekk." Ika menjulurkan lidahnya.