
Yoga kembali ke ibukota dengan senyum sumringah. Walau sudah muncul rasa rindu, namun Ia sangat bahagia bisa menghabiskan waktu dengan Anya. Keduanya menikmati momen bersama sebagai pasangan setelah kesibukan masing-masing yang membuat jenuh di akhir minggu. Kini, waktunya sepasang kekasih itu menjalani realita kehidupan. Berjauhan kembali dan memupuk rasa rindu hingga tak terbendung dan membuat pertemuan menjadi obat mujarab.
"Sudah sampai kantor sayang?" Tanya Anya menelpon Yoga di pagi hari. Yoga sengaja pulang pagi hari ke ibu kota, berganti pakaian sebentar dan langsung menuju kantor. Sebenarnya Ia bisa pulang semalam, tapi karena tidak ingin Anya khawatir, Ia menuruti keinginan kekasihnya untuk pulang di pagi hari.
"Sudah sayang. Kamu lagi dimana?"
"Baru sampai juga. Gak telat kan?"
"Enggak kok. Ini baru selesai absen. Sayang.."
"Apa? Ada yang ketinggalan kah?" Tanya Anya bingung.
"Ada.."
"Haaah? Apa yang ketinggalan? Di hotel kamu nginep kemarin? Coba sih nanti aku tanyain reseptionistnya pas pulang kerja."
"Bukan sayang."
"Bukan di hotel? Terus ketinggalan dimana sayang?"
"Yang ketinggalan itu hati aku. Ketinggalan di sana. Kan hati aku udah jadi punya kamu." Ucap Yoga gombal dengan nada manja.
"Iiiihhh sayang iiih. Aku udah panik-panik coba." Anya mendengus.
"Serius sayang. Hati aku ketinggalan disana. Gak pengen back to reality kalau kita jauhan. Pengen banget bisa tiap hari bareng." Ucap Yoga kembali.
"Sabar ya sayang."
"Iya aku sabar kok. Aku sabar sampai kamu ngerasa yakin aku layak untuk selalu jagain kamu. Makasih sayang, selalu sabar dan rela kasih aku kesempatan untuk berubah jadi lebih baik."
"Sama-sama sayang."
"Makasih udah nerima aku, yang sudah tua tapi kelakuan masih kayak bocah."
"Hahaha.. Iya juga sih. Bener banget tuh. Kadang orang gak percaya liat kakak umurnya udah kepala 3. Tingkahnya kayak bocah banget sih."
"Iya iya sayang. Makanya perlahan aku pengen berubah. Aku tuh jadi bocah gini karena takut kehilangan sayang. Gak boleh ada yang milikin sayang selain aku."
"Hmmm, mulai deh posesif lebaynya."
"Iya sayang. Aku berusaha gak posesif. Aku percaya kalau kamu gak akan ngelirik cowok lain."
"Nah gitu dong. Percaya! Bukannya malah nuduh-nuduh, kan kesannya kayak aku cewek gimana."
"Maaf ya sayang. Pasti aku udah nyakitin banget karena ucapanku dulu."
"Iya sayang, gak papa. Aku udah lupain masalah itu."
"I love you Anya." Yoga merasa tenang walaupun rasa bersalah bersemayam di hatinya.
__ADS_1
***
Setelah beberapa hari berlalu, Sonya dan Ezza diperbolehkan membawa bayinya pulang. Sewaktu pulang, sudah ada mama Meli dan mama Ezza yang menunggu kepulangan cucu mereka.
"Sayaaaanggg.." Kedua nenek sangat excited melihat Sonya datang dengan menggendong bayi diikuti Ezza yang membawa tas jinjing berisi perlengkapan bayi.
"Yah lagi bobok. Gemes banget sih cucu nenek nih." Ucap mama Meli.
"Lucu yah mbak, gemes banget. Mirip Sonya banget bibirnya, cantik." Ucap Mama Ezza ke mama Meli.
"Kolaborasi mbak, hidungnya kayak nak Ezza. Mancung."
Kedua nenek itu kembali mengobrol di ruang tengah, sementara Sonya dan Ezza berbenah sebentar untuk menyiapkan kamar tidur sang buah hati.
"Mau dikasih nama siapa sayang?" Sonya membuka obrolan setelah keduanya berdiam memandangi bayi cantik yang sedari tadi terlelap dengan pulas.
"Aku kepikiran nama Ziana sayang."
"Ziana? Hmmm, panggilannya Zia. Lucu sayang. Artinya apa Ziana itu?"
"Artinya kuat dan tangguh sayang. Dia anak yang kuat dan tangguh. Sejak bayi sudah berjuang dan bertahan. Gimana sayang?"
Sonya berpikir sejenak.
"Bagus sayang, aku suka." Sonya tersenyum. Ia melihat bayinya dan mecium pipi bayi kecilnya.
"Halo baby Zia. Welcome home sayang. Semoga kelak kamu selalu sehat dan bahagia, tumbuh berkembang di rumah ini bersama mama dan papa yang senantiasa menyayangimu." Ucap Sonya pelan seraya berbisik pada Zia, namun tetap bisa didengar oleh Ezza. Ezza tersenyum mendengarnya. Ezza menyadari, dibalik ujian beberapa waktu lalu. Kini kebahagiaan hadir membersamai keluarga kecilnya.
***
Hari ini pekerjaan Andre sangat menumpuk di kantor. Banyak klien yang butuh dibantu penanganan terkait hukum. Nama Andre yang cukup mumpuni sebagai pengacara tentunya membuat banyak orang mempercayakan kasus hukum pada Andre. Andre pun selalu profesional dalam pekerjaannya. Ia tidak mau karena keserakahan bisa menghancurkan karirnya. Walaupun dulunya terkenal playboy, Andre tidak mau meremehkan masalah karir. Baginya, karir adalah hal nomor satu bagi lelaki. Karir yang baik dan cemerlang adalah kunci kesuksesan bagi laki-laki.
Andre selalu jujur pada semua kliennya. Sebesar apapun penghasilan, Andre tetap tidak mau membela yang salah lantas menjadi benar. Ia akan membela yang salah untuk meringankan hukuman. Karena Ia memegang teguh prinsip.
Klien Andre kali ini sudah terbukti bersalah, Ia melakukan korupsi di lingkungan kerja. Ia ketakutan dan berusaha menghilangkan bukti. Ia tidak mau mengakui kejahatannya dan berbohong agar Andre mau membelanya. Andre yang sudah berpengalaman membaca gelagat orang lain, tau dengan pasti bahwa kliennya berbohong.
Andre berusaha meyakinkan kliennya bahwa Ia tidak akan melanjutkan kasus berapapun yang dibayarkan, jika memang tidak mau mengakui yang sebenarnya dilakukan. Dengan bergetar klien Andre mengakui semuanya. Andre tersenyum puas. Semua rekan kerja Andre kagum karena kehebatan Andre yang tidak bisa mudah ditipu oleh klien. Dibalik kekaguman semua rekan kerja Andre, ada Namira, sesama pengacara yang baru saja bergabung di firma hukum Andre.
Namira tak henti-hentinya dibuat kagum pada Andre sejak awal Ia bergabung. Belum lagi desas desus di kantor bahwa Andre masih berstatus single, membuat Namira semakin bersemangat untuk bekerja setiap hari.
Sore hari Andre hendak pulang. Ia memasuki lift untuk turun ke lantai basement.
"Tunggu.." Teriak seorang wanita sambil berlari mengejar pintu lift agar tidak tertutup.
Andre menekan tombol untuk menahan pintu terbuka.
"Makasih." Jawab Namira sambil terengah. Andre membalas dengan senyuman.
Beberapa kali Namira mencuri pandang. Ia makin mengagumi sosok di dekatnya. Mereka hanya berdua di dalam lift, membuat Namira bisa dengan bebas menikmati kegantengan Andre.
__ADS_1
"Mau pulang?" Tanya Namira memecah keheningan. Andre dan Namira memiliki usia yang sama, mereka berbeda almamater kuliah namun sering bersama saat ada perkumpulan pengacara. Walaupun sering bersama dalam kegiatan, Namira tidak bisa sebebas itu untuk berbincang dengan Andre. Karena kepiawaian Andre dalam bekerja, banyak yang ingin berbincang dengan Andre saat berkumpul.
"Iya, kamu juga mau pulang?"
"Mau ngopi dulu, baru pulang. Kalau kamu?" Namira mencoba keberuntungan. Siapa tau jika beruntung Ia bisa ngopi bareng dengan Andre.
"Langsung pulang kayaknya. Mau ke tempat lain juga soalnya."
"Oohh." Jawab Namira menyembunyikan kekecewaan. Ia tidak mau bertanya lebih jauh karena memang tidak sedekat itu untuk mengetahui tujuan lain Andre.
Namira pasrah, momen berdua di lift tak berbuah hasil. Kepasrahan Namira disambut oleh dewi fortuna. Lift yang dinaiki keduanya macet dan tidak bergerak.
Andre bingung dan memencet tombol emergency. Namira yang kaget dengan goncangan lift antara bingung dan bahagia. Setidaknya waktu berdua dengan Andre bisa terjadi lebih lama.
"Are you okay?" Tanya Andre yang melihat Namira bengong.
"A akuuu.." Namira menjatuhkan badannya ke pelukan Andre.
"Namira, ka kamu kenapa?" Tanya Andre panik sembari memegang badan Namira. Namira bersorai dalam hati.
"Gak tau Ndre, kaki aku lemes banget. Maaf banget bikin kamu kaget." Namira masih berpura-pura lemas.
"Duduk di bawah dulu aja, atur nafas dulu ya."
"Sorrya ya Ndre. Aku gak pernah kejebak di lift, jadi agak kaget."
"Iya Mir, it's okay. Tenang, liftnya lagi diperbaiki, cuma ada masalah sedikit. Bentar lagi juga udah beres. Yang penting kita mesti tenang kalau lift lagi macet begini." Namira mengangguk.
"Makasih Ndre. Untung aku kejebak sama kamu. Gak bayangin kalau kejebak sendiri, mungkin aku udah pingsan karena panik dan bingung."
Andre tersenyum memberi semangat, tentu membuat Namira makin luluh.
"Kamu udah enakan?"
"Iya, sudah agak tenang." Jawab Namira.
Andre melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Menarik perhatian Namira.
"Janjian sama orang lain?" Tanya Namira.
"Iya ada janji, but it's okay." Jawab Andre.
"Pacar?" Tanya Namira berharap jawabannya adalah bukan.
"Bukan, janjian sama nyokap." Namira lega mendengar jawaban Andre.
"Ini malem minggu loh, kirain janjian sama pacar." Namira berusaha mencari celah mengorek informasi tentang status Andre.
"Pacar aku lagi kerja, ada shift malam. Jadi gak bisa malam mingguan." Jawab Andre tegas yang tanpa disadarinya membuat kepingan hati Namira remuk dan berceceran.
__ADS_1
"Andre sudah punya pacar." Batin Namira merasakan sakit dihatinya.