Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Keberanian Gista


__ADS_3

Hari ini Anya tidak pergi ke kampus. Dia hanya cukup menanti email balasan dari dosennya tentang proposal yang Ia kirimkan kemarin. Setelah mendapat balasan barulah Anya ke kampus untuk meminta tanda tangan jika tidak ada revisi dan Anya bisa mengajukan sidang proposalnya.


Menjelang siang Anya bersiap-siap akan pergi menemui Yoga di lemdiklat. Ia berdandan casual seperti biasanya namun, masih nampak cantik dan menarik. Anya segera mengendarai si putih sesuai dengan maps yang sudah dikirimkan Yoga terlebih dahulu.


Anya sampai di lemdiklat. Ia melihat Yoga dan beberapa temannya sedang melatih junior. Terlihat Eka juga di barisan junior yang dilatih oleh Yoga dan rekan kerjanya. Mata Eka dan Anya bertemu, Anya refleks melempar senyum pada Eka. Yoga yang melihatnya menjadi geram.


Anya menunggu Yoga di tempat duduk, dari tempat Ia duduk terlihat jelas latihan masih dilakukan. Beberapa saat kemudian tiba waktunya istirahat makan siang. Yoga segera menghampiri Anya. Dengan sigap Anya memberikan sebotol air minum.


"Capek yah?" Tanya Anya sambil menyodorkan botol air. Yoga meminum air di botol tersebut dan duduk di sebelah Anya.


"Capek sih gak terlalu, kalau panas banget iya." Jawab Yoga jutek.


"Kalau panas neduh dulu aja kak." Jawab Anya dengan polosnya.


"Hatinya yang panas, jadi gak ngaruh walaupun neduh." Yoga masih dengan mode jutek.


"Lah kenapa hatinya panas kak?" Anya mengernyitkan dahi tidak memahami yang terjadi.


"Abis tadi ada yang senyum-senyum sama cowok lain. Niatnya kesini nemuin pacarnya apa nemuin mantan gebetannya."


"Hmmm mulai deh cemburu-cemburu gak jelas. Orang Anya sama Eka berteman Kak. Eka orang yang baik banget. Anya harap dia bahagia dan nemuin cewek yang baik untuk dia."


"Baik banget karena ada maunya." Yoga masih tetap jutek.


"Iiih beneran baik Kak. Dia ngedukung pilihan Anya membuka hati buat kakak."


"Oiya, kapan kamu cerita sama dia emang?" Yoga mulai penasaran.


"Penasaran yah?" Ledek Anya.


"Iya penasaran, udah cepet cerita." Desak Yoga.


"Jadi waktu aku ketemu sama Eka dulu itu, yang kakak marah-marah gak jelas tuh. Aku bilang ke Eka tentang kita Kak. Aku ketemu sama Eka buat jelasin semuanya, supaya Anya gak kasih harapan buat Eka. Dia berhak dapat yang lebih baik yang bisa membuka hati buat dia. Tapi Eka adalah cowok yang baik, Anya tetap mau berteman sama dia."


Yoga terheran dengan penuturan Anya.


"Makanya waktu itu kamu bilang nyesel cerita ke Eka?"


Anya mengangguk.


"Aku cerita mau buka hati buat kakak, eeh malah kakak marah-marah gak jelas." Gantian Anya yang sedikit ngambek mengingat momen itu.


"Maaf ya sayang. Aku kalau cemburu kayaknya berlebihan banget yah."


"Tuh tau. Kalau udah komitmen harusnya saling percaya Kak." Anya cemberut membuat Yoga gemas. Yoga tersenyum dan mengusap rambut Anya lembut.


"Aku percaya sama kamu, tapi gak percaya sama laki-laki di luar sana."


"Terserah kakak deh."


"Eeh, kakak nanti malem mau temenin Anya gak?" sambung Anya.


"Mau kemana?"


"Anya mau ke mall, cari celana kain buat kalau nantinya presentasi proposal. Mumpung ada waktu bebas siap-siapin dulu keperluannya."


"Harus nanti malam banget yah?" Yoga mengingat janji makan malam yang Mama Inneke janjikan kemarin.


"Iya kalau kakak gak bisa ya gak papa. Anya bisa sendiri kok. Atau kalau emang males nyari, Anya bisa pinjem rok kain Kak Sonya waktu nanti presentasi. Yang ketat dulu itu Kak, yang pas Anya pake waktu kita pertama ketemu."


"Enggak enggak. Mending beli celana kain yang baru. Enggak pinjem-pinjem roknya Sonya. Roknya kurang bahan banget gitu. Kalau mau pake roknya di depan aku doang gak papa, kalau diliatin orang-orang aku gak rela."


"Yeee, ngapain juga aku pake rok begitu di depan kakak. Weeek." Anya menjulurkan lidahnya.


"Kalau besok kakak temenin nyari celananya gimana? Hari ini aku ada janji makan malam sama mama papa."


"Ooh gitu. Iya udah gak papa kak." Yoga mencoba tersenyum, hatinya merasa bersalah karena harus menolak ajakan Anya demi menuruti perintah mamanya.


***


Sonya berjalan menuju ruang prakteknya, Ia berpapasan dengan Iqbal.


"Dari mana lu?" Sapa Sonya.


"Abis visite."


"Gimana kondisi Airelle? Sudah boleh pulang?" Tanya Sonya.


"Udah, dia udah sehat sih. Oiya ada yang mau gue omongin soal Airelle." Iqbal memperkecil volume suaranya.


"Apaan?" Sonya mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Kayaknya Airelle itu bukan anaknya Ezza deh."


"Haaah? Tau dari mana lu? Jangan ngarang."


"Gue gak ngarang."


"Tapi gak mungkin deh. Masa dia bohong sama gue."


"Iya gue juga belum yakin, nanti coba gue periksa lagi deh."


Saat hendak melanjutkan obrolannya, ada perawat yang menemui Sonya menginformasikan bahwa sudah waktunya praktek karena banyak pasien menanti. Terpaksa Sonya urung membahas tentang Airelle. Selama praktek pikiran Sonya melayang kemana-mana. "Masa bener yang diomongin Iqbal. Aaah gak mungkin deh, waktu itu dia bilang ke mama kalau punya anak kok." Gumam Sonya.


"Iya kenapa Dok?" Perawat disamping Sonya bertanya dengan penasaran mengira Sonya sedang bicara padanya.


"Eeh enggak enggak, gak papa kok. Tadi cuma lagi mikir."


Sonya kembali mengingat saat Ezza bertemu mamanya.


#Throwback On..


Ezza masuk ke rumah Sonya, Ia mengikuti Sonya menuju ruang tamu. Tak berselang lama Mama Meli datang menghampiri. Ezza menyalami punggung tangan Mama Meli.


"Malam tante, saya Ezza, teman dekatnya Sonya." Ezza memperkenalkan dirinya.


"Silakan duduk nak Ezza."


"Terima kasih."


Ezza duduk di sofa ruang tamu. Terlihat raut wajahnya sedikit grogi.


"Nak Ezza kerja dimana?"


"Saya dosen tante." Jawab Ezza.


"Dia dosennya Anya, Ma." Sonya menimpali.


"Sudah lama deket sama Sonya?"


"Emmh, belum lama tante. Kami masih proses untuk mengenal satu sama lain."


Sonya masuk ke dalam, untuk membuatkan minuman untuk Ezza.


Ezza terdiam sejenak.


"Iya tante, saya sudah pernah menikah."


"Tante tidak mempermasalahkan status nak Ezza. Selama Sonya bahagia, tentu tante mendukung. Hanya tante harap, tidak ada masalah yang nantinya akan timbul dari masa lalu nak Ezza."


"Saya dan mantan istri berpisah secara baik-baik tante. Untuk alasan perpisahan tidak bisa saya ceritakan karena saya tidak ingin membuka aib masa lalu kami tentunya."


"Iya tidak apa-apa. Tante tidak ingin tau juga tentang masa lalu nak Ezza. Hanya saja tante tidsk mau Sonya terluka kalau nantinya masalah di masa lalu nak Ezza belum tuntas."


"Kami sudah menerima perpisahan dengan ikhlas tante. Selama 3 tahun kami berpisah juga tidak ada masalah apapun."


"Apa ada anak dalam pernikahan yang lalu?"


"Ada tante, seorang putri. Dia tinggal bersama ibunya." Sonya berhenti melangkah mendengar ucapan Ezza sambil membawa minuman untuk Ezza. Setelah perbincangan Mama Meli dan Ezza sudah tidak mengenai masa lalu Ezza, barulah Sonya masuk mengantarkan minuman.


#Flashback Off..


"Sepertinya gak mungkin itu bukan anak Ezza, dia bilang ke mama kalau punya seorang putri kok." Batin Sonya. Sedari tadi Ia masih kepikiran tentang ucapan Iqbal. "Kalaupun dia bohong, untuk apa." Batin Sonya kembali.


***


Yoga pulang ke rumah. Terlihat kondisi rumah sudah ramai, ada mobil yang terparkir di depan. Yoga masuk ke rumah, Mama Inneke langsung menyambutnya. Ia menggandeng Yoga ke ruang keluarga dan memperkenalkan pada teman Mama Inneke.


"Kenalin, ini anak pertama saya. Yoga namanya."


Yoga menyalami punggung tangan teman Mama Inneke.


"Yoga, ini temen mama, namanya tante Melanie. Nah kalau itu anaknya, seumuran sama kamu. Namanya Gista. Cantik ya." Gista tersenyum sumringah melihat Yoga. Yoga hanya tersenyum kaku.


"Aku ke kamar ya Ma."


"Loh jangan, kamu temenin Gista ngobrol dulu yah."


Yoga dengan terpaksa duduk di sofa berhadapan dengan Gista. Gista memberanikan diri menyapa Yoga.


"Halo, kamu Yoga yah. Aku Gista."


"Iya halo." Yoga menjawab kaku.

__ADS_1


"Kamu polisi?" Gista melihat seragam yang digunakan Yoga.


"Iya."


Gista mencoba menggoda Yoga. Ia menyibakkan rambut panjangnya ke belakang telinganya. Namun Yoga acuh tak acuh. Ia mencoba membuang mukanya.


Gista memiliki perawakan yang tinggi dan kurus. Ia seorang model, sehingga sudah biasa untuknya menggunakan make up yang cukup tebal. Ia menggunakan dress diatas lutut berwarna merah. Memperlihatkan lekukan tubuhnya. Bagian depannya terlihat tertutup, namun bagian belakang dressnya mengekspose bagian punggungnya. Yoga mengikuti makan malam dengan terpaksa. Raut wajahnya nampak tidak nyaman. Apalagi saat Mama Inneke mulai membahas agar Gista bisa dekat dengan Yoga.


Makan malam sudah berakhir. Mama Inneke dan temannya menikmati teh di ruang keluarga sambil bercanda tawa. Yoga hendak menuju kamar, namun di tahan oleh Mama Inneke.


"Yoga, kamu temenin Gista dong. Kan kasian dia gak nyambung kalau ngobrol sama orangtua."


Yoga kembali duduk di depan Gista. Ia tidak berkeinginan sekalipun membuka obrolan dengannya. Ia yakin dengan bersikap seperti ini bisa membuat Gista paham kalau Ia tidak tertarik padanya.


"Oiya, kamu denger soal kita dijodohin tadi?" Gista membuka obrolan.


"Itu kalau cocok, kalau gak cocok bisa dibatalin." Yoga menjawab cuek.


"Tapi aku setuju kok sama perjodohan ini." Yoga kaget dengan penuturan Gista.


"Lu gak liat kalau gue gak tertarik sama lu?" Yoga sedikit berbisik pada Gista.


"Tau kok. Tapi menurutku, itu yang bikin menarik dari kamu. Bikin penasaran." Yoga gak habis pikir dengan Gista.


"Gue gak bisa terima perjodohan ini, karena gue udah punya pacar. Jadi gue harap lu juga berhenti untuk main-main."


"Kalau kamu punya pacar, tapi mama kamu mau jodohin kamu. Artinya mama kamu gak setuju dong."


"Enggak gitu, mama cuma belum kenal cewek gue."


"Kalau kamu belum ngenalin cewek kamu ke mama kamu, apa jangan-jangan kamu yang belum siap serius sama pacar kamu." Gista tersenyum.


"Enggak gitu juga. Pokoknya gue gak bisa terima perjodohan ini." Yoga mulai kesal.


"Emmh tapi kayaknya gak berlaku buat aku. Aku tertarik sama kamu. Jadi, mulai sekarang aku bakal berusaha supaya perjodohan ini tetap berlanjut. Aku bakal berusaha buat rebut hati kamu dari cewek kamu yang belum berani kamu seriusin itu." Gista tersenyum dengan memasang wajah percaya diri. Dengan wajahnya yang cantik menawan tentunya sudah banyak lelaki yang termakan rayuannya. Namun, berbeda dengan Yoga. Hatinya sudah tertambat pada Anya. Rayuan seperti apapun yang dilakukan Gista tidak menggoyahkan hatinya. Hanya saja Ia takut jika Anya tahu dan lebih memilih mengakhiri hubungannya. Yoga galau haruskah Ia jujur dengan Anya perihal Gista, atau dia diam saja dan berusaha mengatasi semuanya sendiri. Hal ini membuat Yoga bingung.


Gista dan keluarganya akhirnya pulang. Yoga menemui mamanya di ruang keluarga, Ia berharap dengan berbicara pada mamanya bisa menggagalkan rencana Gista untuk mendekatinya.


"Ma, Yoga serius gak bisa dijodohin sama Gista."


"Mama kan gak maksa, kalian penjejakan aja dulu."


"Ya gak bisa Ma, Yoga udah punya pacar."


"Iya terus pacar kamu mana? Kenalin dulu ke mama. Mama mau liat seberapa serius dia sama kamu. Kapan rencana nikahnya."


"Ma, kami belum ada rencana nikah. Masih belum memungkinkan juga."


"Belum memungkinkan gimana maksud kamu?"


"Iya belum memungkinkan untuk menikah Ma. Kita belum ada pembicaraan ke arah sana."


"Ya makanya kenalin ke mama, biar mama yang omongin."


"Belum bisa sekarang Ma."


"Iya belum bisanya itu kenapa Yoga? Dia lagi di luar negeri?"


Yoga menggeleng.


"Dia enggak di luar negeri Ma, tapi dia.."


"Dia apa?"


"Dia masih kuliah semester akhir Ma. Kalau aku kenalin ke mama, terus mama bahas pernikahan, takutnya bikin dia gak nyaman. Cepat atau lambat Yoga akan kenalin dia ke mama. Tapi gak sekarang Ma."


"Yoga, kamu sadar dengan pilihan kamu? Kamu mau nunggu dia sampai usia berapa? Dia masih anak kecil, mama gak habis pikir sama kamu."


"Yoga cowok Ma, menikah bukan hal yang harus di desak untuk disegerakan karena omongan tetangga. Yoga ingin menikah karena kami sama-sama siap untuk membina rumah tangga."


"Tapi mau sampai kapan Yoga, sekarang dia belum lulus, masih harus nunggu dia lulus. Nantinya nunggu dia dapat kerja. Sampai kapan Yoga. Yang ada waktu kamu terbuang percuma."


"Enggak begitu Ma, nantinya kalau kami sudah saling mengenal dan memahami satu sama lain, Yoga pasti akan mengajaknya ke jenjang yang lebih serius. Kami cuma butuh waktu Ma."


"Enggak, mama gak bisa kalau anak mama harus nunggu tanpa kejelasan yang pasti. Mama maunya kamu tetep penjejakan sama Gista. Jodoh gak ada yang tau Yoga. Setidaknya kamu juga memberi kesempatan pada Gista agar dia bisa membuktikan bahwa dia perempuan yang hebat dan bisa merebut hati kamu." Jawab Mama Inneke santai. Yoga dibuat bingung dengan tingkah wanita paruh baya yang melahirkannya ke dunia.


Permintaan Mama Inneke sulit untuk Ia penuhi. Yoga berpikir, untuk waktu dekat tidak mungkin Ia mengajak Anya bertemu mamanya. Nanti yang ada malah Anya dipaksa menikah. Pastinya nanti bisa berujung pada kandasnya hubungan mereka. Yoga sangat paham bahwa Anya belum kepikiran untuk menikah. Tapi untuk dekat dengan Gista dia juga gak mau, dia sama sekali tidak tertarik dengan Gista. Yoga masuk ke kamar, menghempaskan diri ke kasur dan mengusap wajahnya kasar.


-------------‐----------------------------------


Halo readers.. Terima kasih banyak untuk support buat author yang masih butiran debu ini. Author akan selalu berusaha sebaik mungkin dalam menulis agar menghasilkan karya yang bisa menghibur semua. Author juga berterima kasih atas semua like dan comment, comment yang kalian semua sangat bermanfaat dan membuat author lebih semangat lagi dalam berkarya. 🥰🥰🥰😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2