
Yoga merasa ada yang tidak beres dengan kedua pengendara sepeda motor itu. Yoga menginjak pedal gas lebih kencang agar tidak kehilangan jejak mobil Anya. Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada kekasihnya.
Mobil Anya melaju ke jalanan yang cukup sepi, dijalanan tersebut kedua pengendara sepeda motor itu langsung menyalip mobil Anya dan berhenti mendadak di depan mobil. Anya kaget dan langsung menginjak pedal rem mendadak. "Apaan sih nih orang, ngaco banget." Gerutu Anya.
Anya hendak memundurkan mobilnya agar bisa menghindari motor yang berada tepat di tengah jalan. Saat sedang memundurkan kedua pengendara itu turun dengan pisau yang ada di tangannya. Ia menggedor kaca mobil Anya dengan kasar.
"TURUUUUNNN!!!! TURUUUNNN!!!!" Mereka mencoba membuka handle pintu yang tertutup. Anya panik, jantungnya berdegup kencang.
Kedua laki-laki berbadan kekar itu terus menggedor kaca mobil Anya.
"TURUUN LOOOO!!! CEPET TURUUNN!!!" Mereka terus berteriak. Anya ketakutan dan kebingungan. Ia hendak memundurkan mobilnya tapi takut nantinya membuat kedua laki-laki di sampingnya tertabrak, yang ada malah akan makin memperpanjang masalah.
"Apa tadi gue nyerempet orang yah? Perasaan enggak deh." Batin Anya. Anya bingung harus berbuat apa. Ia memutuskan membuka kaca mobilnya sedikit agar suaranya bisa terdengar.
"Ada apa yah Pak?"
"TURUUN DULU LO SINI!!"
"Iya ada masalah apa Pak? Bicara dulu ada masalah apa ini?"
"GUE BILANG TURUN, TURUN LO!! ATAU GUE PECAHIN NIH KACA MOBIL LU!!" Ancam kedua lelaki itu.
***
Oki ke kampus siang hari karena Sisil membutuhkan tanda tangannya guna mengumpulkan tugas besarnya.
"Makasih yah Kak, udah ngerepotin banget. Kemarin kelupaan minta tanda tangan. Eeh gak taunya mesti dikumpul sore ini."
"Iya gak papa. Kakak juga lagi free hari ini."
Sisil tersenyum.
"Kalau gitu nanti Sisil traktir yah Kak. Sebagai ucapan terima kasih."
"Gak usah repot-repot. Tanda tangan tugas kamu kan emang udah tanggung jawab Kakak. Kakak digaji sebagai asisten ya gunanya untuk itu juga."
"Tapi Sisil tetep gak enak Kak. Selalu ngerepotin Kakak."
"Kalau gitu, kita makan bareng aja. Gak usah kamu traktir. Kakak yang traktir."
"Yaaah kok gitu. Malah makin dobel dong ngerepotinnya." Sisil memanyunkan bibirnya.
"Enggak ngerepotin kok."
"Split bill aja gimana? Win win solution. Yah yah pliiiss?" Sisil menyatukan telapak tangannya sambil memohon.
"Iya deh terserah kamu. Tapi lain kali gak boleh nolak loh yah." Oki tersenyum.
"Siap."
"Terus kamu ngumpulin tugas jam berapa?"
"Jam 2 Kak. Jadi masih nungguin dulu."
"Yaudah kakak temenin nunggu."
Kedua mahasiswa itu menunggu di gasebo kampus. Saat asik mengobrol, Oki melihat Anya di kejauhan. Anya berjalan sambil melamun. Oki urung menyapanya karena sedang mengobrol dengan Sisil. Saat melihat ke sudut parkiran Oki melihat ada dua laki-laki yang memperhatikan Anya dari kejauhan.
Cukup lama Anya menyelesaikan urusannya, Ia bergegas menuju parkiran. Oki hendak menyusul untuk mengobrol karena Sisil juga tengah menemui dosen untuk mengumpulkan tugasnya. Oki melihat Anya menelpon dan segera masuk ke dalam mobilnya. Anehnya, kedua laki-laki yang tadi melihat Anya sejak Ia datang masih ada. Mereka segera mengendarai sepeda motornya begitu tau Anya mengemudikan mobilnya. Oki menyadari ada hal yang tidak beres dengan temannya.
Oki segera berlari ke sepeda motornya dan melaju mengikuti Anya. Ia terhenti di depan bangunan apartemen saat mobil Anya memasuki basement. Oki berhenti tak jauh dari kedua laki-laki yang mengikuti Anya itu berhenti. "Bener feeling gue, mereka ngikuti Anya dari tadi." Gumam Oki.
Tak lama mobil Anya melaju kencang meninggalkan apartemen. Oki yang sedang mengabari Sisil untuk membatalkan makan bersama sedikit panik untuk mengakhiri panggilannya. Ia menyalakan mesin dan tertinggal cukup jauh sehingga harus memacu motornya dengan lebih kencang.
***
Anya turun dari mobil dengan ketakutan.
"A a da apa yah Pak?" Tanya Anya terbata-bata.
__ADS_1
"LU YANG NAMANYA ANYA KAN?" Teriak salah satu lelaki yang membawa pisau.
"I iya Pak. Kenapa yah?" Anya semakin panik.
Tiba-tiba laki-laki yang tidak membawa pisau memegang tangan Anya ke belakang. Tangannya yang kekar dan dipenuhi tatto tidak terganggu dengan upaya Anya melepaskan tangannya.
"LEPASIIINNN.. LEPASIIIIINNNNN!!!! SIAPA KALIAAANNNN.. LEPASIN!!!" Anya berteriak ketakutan.
"Kita bakalan lepasin kalau urusan kita udah selesai." Laki-laki itu mengarahkan pisau ke wajah Anya. Anya refleks berteriak.
"TOLOOOONGGGG!!" Teriak Anya sambil menangis ketakutan.
Mulutnya segera dibekap oleh laki-laki yang membawa pisau.
"Diem lu. Kita cuma mau ngasih pelajaran. Kalau lu diem, sakitnya gak parah banget. Ngerti lu." Ia mengarahkan pisau hendak menyayat wajah Anya.
BUUUUGGGGHHHHHHH...
Sebuah tendangan melayang ke badan laki-laki pembawa pisau tersebut. Laki-laki itu tersungkur dan memegang pinggangnya yang terasa sakit. Yoga meninju kepala laki-laki yang memegang tangan Anya hingga genggamannya terlepas.
"Kamu gak papa?" Yoga menghapus air mata Anya.
"I iya Kak, gak papa."
"Kamu pergi ke mobil dulu." Titah Yoga.
Laki-laki yang memegang pisau kembali bangkit dan melawan Yoga. Terjadi baku hantam yang sengit. Keduanya melawan Yoga secara bersamaan. Beberapa kali Yoga terkena pukulan, namun Ia masih mampu bangkit. Tak berselang lama ada sepeda motor dengan kecepatan tinggi berjalan menuju arah pertarungan. Pengemudi turun dan membuka helm, Oki. Oki menghajar salah satu dari lelaki tersebut. Sedangkan Yoga menghajar lelaki yang membawa pisau. Beberapa kali Yoga hampir terkena pisau. Namun dengan sigap Yoga menghindar.
Tak berselang lama ada suara sirine mendekat. Anya yang sedari tadi bersembunyi, sempat menelpon polisi dan menelpon Boy untuk membantu Yoga. Kedua laki-laki berbadan kekar itu panik dan segera menaiki motornya. Saat hendak naik, lelaki yang membawa pisau berlari ke arah Yoga yang hendak melihat kondisi Anya. Ia menusukkan pisaunya ke punggung Yoga dan berlari ke arah sepeda motornya bergegas pergi.
Anya histeris. Airmatanya tak terbendung. Anya lari menuju Yoga yang sudah lemas dan terjatuh.
"KAAAKKKK.. BANGUUUN KAK, BANGUN.." Anya menepuk pipi Yoga. Mata Yoga sudah tak kuat terbuka.
"TOLOOONGGG!! TOLOOOONGGGG!!!" Anya menangis tersedu-sedu.
***
Mela berangkat ke proyek dengan perasaan sumringah. Semalam Ia menghabiskan waktu dengan menelpon Vico. Mereka melepas rindu walau hanya mendengar suara satu sama lain. Ternyata hal tersebut membuatnya sangat bahagia. Baginya pejuang LDR tidak terlalu menyedihkan asal Ia terus memupuk rasa percaya dan rasa cinta satu sama lain.
Sesampainya di proyek, semua staff tidak luput dari sapaan Mela. Hingga makan siang tiba, hati Mela tetap bahagia. Ia menuju cafetaria untuk makan dan bertemu Iqbal saat mengantri.
"Door.." Sapa Mela pada Iqbal yang sedang melamun sambil mengantri. Mela berada tepat dibelakang antrian Iqbal.
"Eeh sejak kapan disini?" Iqbal yang baru sadar kaget dengan kehadiran Mela dibelakangnya.
"Udah daritadi sih. Kakak sih ngelamun aja. Ngelamunin apaan?"
"Ngelamunin kerjaan. Gak ada lagi yang bisa dilamunin selain kerjaan. Pacar gue gak punya." Iqbal memasang wajah sendu.
"Uuhhh sabar yah Kak. Puk Puk." Ucap Mela sambil menepuk punggung Iqbal lembut.
"Emang seberat itu Kak kerja jadi dokter?" Sambung Mela.
"Kalau otaknya kayak Sonya mungkin gak berat. Kalau otaknya kayak gue mesti ekstra usaha pake banget. Saking ekstranya, rambut gue jadi korban." Iqbal menunjukkan bagian rambut bagian depannya yang sedikit menipis, namun masih bisa tertutup dengan model potongan rambutnya.
"Waaahh bahaya itu Kak. Mulai tipis karena banyakan mikir. Bisa jadi botak nanti, terus susah cari jodoh."
"Gue butuh healing kayaknya. Perawatan biar gak cepet botak."
Mela terkekeh.
Giliran Iqbal memesan makanan, mereka memesan bersama untuk mempersingkat waktu, lalu mencari meja yang kosong untuk makan bersama.
"Kakak kalau mau perawatan di salon langganan Mela aja. Biasanya ada kok bapak-bapak yang perawatan untuk numbuhin rambut lagi. Bahkan mereka udah botak loh Kak, terus bisa tumbuh."
"Iya deh, nanti gue cari waktu buat cuti. Susah banget nyari jadwal kosong."
"Sesibuk itu emang Kak? Weekend pun gak bisa?"
__ADS_1
"Kalau weekend gue ngurusin laporan rumah sakit."
"Ooh iya yah, rumah sakit ini punya keluarga kakak yah. Mela tau dari Anya kalau rumah sakit ini usaha keluarganya."
"Punya kakek lebih tepatnya. Sebenarnya sih yang ngelola harusnya papa dan tante Meli, mamanya Anya. Tapi tau sendiri hobinya tante Meli bukan di bidang kesehatan. Sekarang sih udah agak enak karena Sonya mau bantuin. Cuma Sonya maunya nyerahin semua keputusan final ke gue. Bagi dia pemimpin tetap laki-laki. Gila kan pemikirannya tuh anak."
"Iiih bagus dong Kak. Bayangin, sehebat dan secantik itu Kak Sonya masih meredam egonya banget dengan mengakui kalau pemimpin itu laki-laki. Padahal dia serba bisa. Aaahh pasti bahagia banget yang jadi suaminya nanti. Mela aja yang sama-sama ceweknya, kalau liat Kak Sonya itu bawaannya ngefans banget. Pinter dan cantik."
"Iya kamu bener, tapi kan.. Itu yang bikin gue cepet botak Mel. Mesti mikir lagi dan ambil keputusan sendiri." Curhat Iqbal.
Mela terkekeh melihat ekspresi Iqbal sambil manyun meratapi nasibnya.
"Yaudah cepetin bikin jadwal di salon langganan Mela. Sekalian healing sekalian perawatan rambut. Mumpung belum botak Kak, pasti bisa cepet lebat tuh rambut."
"Iya deh, nanti weekend gue jadwalin. Tapi lu mau temenin gue gak?"
"Iya deh gue temenin. Weekend buat pejuang LDR sama aja kayak jomblo."
"Gue traktir perawatan juga deh buat lu, biar gak galau."
"Haaah, seriusan Kak?"
Iqbal mengangguk.
"Aaakkkh makasih Kak." Iqbal tersenyum melihat Mela kegirangan.
***
Anya dan Oki sampai di rumah sakit. Mereka berlari menuju UGD melihat kondisi Yoga. Yoga membutuhkan operasi segera. Operasi dilakukan saat itu juga karena Yoga kehilangan banyak darah. Oki mendapat beberapa perawatan untuk luka bekas pukulan. Setelah itu mereka menuju depan ruang operasi menunggu Yoga yang sedang menjalani operasi di dalam.
Tak berselang lama, Boy dan teman polisinya datang untuk meminta Anya dan Oki keterangan tentang kejadian tadi. Anya berusaha kuat, namun airmatanya tak terbendung lagi saat menceritakan kejadian tadi, apalagi saat Ia mengingat bagaimana Yoga tertusuk. Setelah meminta keterangan, Boy dan temannya kembali ke kantor. Sebelumnya Boy berpamitan pada Anya.
"Kondisi lu gimana, Nya?" Tanya Boy.
"Gue gak papa Kak. Tapi kondisi Kak Yoga gimana? Gue khawatir banget, ini semua karena gue Kak."
"Yoga orang yang kuat, lu mesti tenang dulu. Gue yakin Yoga bisa kembali sehat setelah perawatan intensif. Gue mesti balik ke kantor dulu ya buat nyelidikin siapa pelakunya."
"Iya Kak Boy, makasih banyak. Semoga pelakunya cepat ketangkep."
"Kak Boy, keluarga Kak Yoga gimana? Apa sudah dikabarin?" Sambung Anya.
"Sudah gue infokan ke Gina, adiknya." Anya mengangguk.
Anya duduk di kursi sebelah Oki.
"Makasih ya Ki, lu udah dateng bantu gue tadi."
"Sama-sama. Sekarang lu tenang dulu yah." Oki berusaha menenangkan Anya yang masih sedikit terisak.
Boy kembali ke kantor untuk melakukan penyelidikan. Tak butuh waktu lama pihak polisi sudah mengantongi identitas pelaku. Wajah pelaku tertangkap oleh CCTV apartemen saat menunggu Anya. Oki memberitaukan bahwa Ia melihat para pelaku menunggu Anya di depan apartemen. Beruntungnya mereka tersorot CCTV dan sempat membuka helm saat menunggu.
Para polisi melacak keberadaan pelaku dan berhasil ditemukan. Mereka langsung ditangkap dan dibawa ke kantor polisi untuk diinterograsi siapa yang menyuruh mereka menyerang Anya.
***
Kondisi Yoga sudah selesai operasi. Operasi berjalan lancar dan baik. Ia sudah dipindahkan di ruang rawat inap. Anya mendampingi Yoga di ruang rawat inap sambil menanti Yoga sadar. Yoga masih tidak sadarkan diri karena efek obat bius.
Untungnya dokter menginformasikan bahwa luka tusuk yang dialami Yoga tidak terlalu dalam. Sehingga penyembuhan bisa relatif cepat. Walaupun begitu, tetap saja Yoga membutuhkan istirahat dan tidak bisa bekerja terlalu keras dahulu sampai kondisinya benar-benar stabil.
Anya yang mendengar penuturan dokter merasa bersalah. "Coba gue mau ngobrol dan dengerin penjelasan Kak Yoga." Batin Anya meratapi penyesalannya. Anya duduk di kursi disamping brankar rumah sakit. Ia memegang tangan Yoga. Anya mengingat betapa berkorbannya Yoga untuk menyelamatkannya tadi. Coba kalau tidak ada Yoga, Ia tidak tau lagi akan seperti apa wajahnya yang akan disayat oleh preman-preman tadi. Anya begidik ngeri membayangkannya.
Oki masuk ke ruang inap, mengecek kondisi Anya. Ia pamit karena masih ada urusan dengan kantor polisi. Anya mengangguk, Ia berpikir bahwa urusan dengan kantor polisi hanya terkait penjelasannya tadi tentang kronologi kejadian.
Tak berselang lama, Mama Inneke dan keluarganya masuk ke ruang rawat inap. Anya sontak melepaskan genggaman tangannya. Anya melemparkan senyum pada keluarga Yoga. Mama Inneke kaget melihat kondisi Yoga. Ia meminta penjelasan kejadian kepada Anya. Anya menjelaskan kejadian tadi tanpa dilebih-lebihkan ataupun dikurang-kurangi.
"Jadi kamu pacarnya anak saya?" Tanya Mama Inneke dengan pandangan tajamnya kepada Anya.
"Iya tante." Jawab Anya sedikit grogi harus berhadapan dengan mama dari pacarnya.
__ADS_1