Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Pertikaian


__ADS_3

Anya kaget dengan kehadiran Adit di depan pintu pagar.


"Kak Adit ngapain?" Tanya Anya.


"Nungguin kamu, ayok ke proyek bareng. Kamu belum sehat banget, jadi sementara jangan nyetir dulu."


"Tapi kak.."


"Gak ada tapi-tapian. Ayok masuk mobil aku."


Anya pasrah dengan permintaan Adit, apalagi jika Ia mengingat jasa Adit yang sudah rela merawatnya selama sakit.


Selama perjalanan, Anya menerawang ke luar kaca mobil. Pikiran Anya terus terpaku pada permintaan Yoga tentang menikah. Ia tau cepat atau lambat Yoga akan menanyakan kembali perihal pernikahan, dan Anya semakin pusing mencari alasan.


Anya bukan tidak mencintai Yoga, namun dalam lubuk hatinya masih ada keraguan untuk menikah dan mengubur dalam-dalam semua mimpi dan kebebasannya. Anya merasa belum cukup dewasa untuk mengesampingkan semua hal yang dirasa bisa membuatnya bahagia demi keutuhan rumah tangga. Kesiapan setiap orang tentulah berbeda. Ada wanita yang bahkan lebih muda dari Anya tapi siap untuk menikah dan menjalani kewajiban sebagai istri, namun tidak bagi Anya. Hatinya terus ragu jika mendengar kata pernikahan.


"Ngelamunin apaan Nya?" Tanya Adit yang sedari tadi memperhatikan Anya.


"Haaahh? Eehh enggak kok kak." Jawab Anya kaget mendengar kekepoan Adit.


"Yakin? Kok sampe serius gitu ngelamunnya. Kalau ada masalah, cerita aja gak papa. Siapa tau aku bisa kasih solusi."


"Emmhh iya kak. Emmhh, kak Adit, kira-kira di usia berapa, atau gini deh, kakak pas di usia berapa baru yakin untuk hubungan yang serius?" Tanya Anya kebingungan.


"Usia? Hubungan yang serius? Pernikahan maksudnya?"


"Iya sejenis itu lah kak."


"Kalau kamu tanya usia, aku juga gak tau persis di usia berapa. Karena semua keyakinan dan kesiapan itu tidak terpaku pada usia. Kalau aku bertemu seseorang yang buat yakin, pasti kesiapan dan keberanian itu juga timbul dengan sendirinya."


"Kalau kita yakin dengan orang itu, tapi belum timbul keberanian, gimana kak?"


"Semua perlu waktu, perlu sesuatu hal untuk membuat semua menjadi yakin. Intinya jangan pernah lari dari setiap proses kehidupan hanya karena takut resiko buruk di masa depan. Kita takut menikah karena takut ke depannya bisa bercerai, kalau berpikir begitu maka sudah dari dulu kita gak ada di dunia. Karena apa? Karena orang tua kita takut menikah. Tapi nyatanya mereka menikah dan mengambil resiko walaupun perceraian adalah resiko terburuk."


"Iya kak, benar apa yang kak Adit bilang."


"Memangnya kamu masih ragu buat nikah?" Tanya Adit dengan tatapan usil.


"Haaahh eehhh? Bukan Anya kok kak, temen Anya yang ragu." Jawab Anya berkilah.


"Iya iya deh temen. Tapi kok ragunya sampe kamu lamunin banget ya. Kayak kamu yang diajak nikah." Adit mengalah.


"Terus kakak sendiri gimana? Sudah ada yang bikin yakin buat hubungan serius lagi gak? Selain yang udah sold out dari masa lalu." Giliran Anya mencoba mengulik Adit.


"Hemmmm, ada sih yang buat aku pengen serius. Tapi ternyata gak bisa. Istilahnya, kalah sebelum berperang." Jawab Adit sambil tertawa kecil.


"Kenapa udah kalah kak? Jangan nyerah dong. Sebelum janur kuning melengkung, kakak mesti usaha. Eeh apa udah nikah cewek yang kakak maksud?"


"Belum sih, tapi memang gak ada harapan. Aku rasa hatinya gak terbuka untuk laki-laki lain." Senyum tipis penuh makna tersungging di bibir Adit.


Anya mengangguk memahami perasaan Adit.


"Sabar ya kak, Anya yakin akan ada wanita baik untuk kak Adit. Apalagi kakak juga orang yang baik banget."


"Makasih ya." Ucap Adit.


***

__ADS_1


"Pagi brooo." Sapa Boy pada Yoga dengan semangat 45.


"Pagi.. Semangat amat lu." Jawab Yoga syirik.


"Semangat dong. Kan si joni abis dapet jatah. Jadi seger buger."


"Iya dah percaya yang udah nikah." Yoga sewot.


"Makanya cepetan nikah bro, biar si joni gak kesepian." Goda Boy.


"Sial luuu. Emangnya gue pengen nikah cuma buat joni. Gue bukan cowok murahan." Jawab Yoga mempertahankan harga diri.


"Oke deh, percaya deh si cowok mahal." Boy berlalu sambil cekikikan. Nampak suasana hati yang sumringah dari Boy karena semua pegawai yang dilalui disapa tanpa pandang bulu. Sangat berbeda dengan Yoga yang bergegas ke ruangan dan hanya menyunggingkan senyum terpaksa pada pegawai lain yang berpapasan dengannya.


"Sial amat si Boy, berani-beraninya dia manas-manasin gue. Emangnya gue mau nikah cuma buat joni." Gumam Yoga kesal.


Sepanjang hari Yoga tidak fokus dengan pekerjaannya. Pikiran tertuju pada percakapan dengan Anya kemarin dimana Anya masih merasa belum yakin dengan pernikahan.


"Kapan kamu siap dan yakin menikah dengan aku Nya?" Batin Yoga.


Tak sanggup menahan kerinduan, Yoga memilih langsung bertolak menuju Bandung menemui Anya.


***


Yoga sampai di Bandung dengan cepat karena jalanan cukup lancar. Ia segera menuju proyek karena yakin Anya belum pulang. Yoga berencana memberi surprise pada Anya, Ia ingin meminta maaf dan tidak membicarakan pernikahan sehingga membuat Anya tertekan.


Yoga sampai dan segera turun dari mobil. Wajahnya sumringah melihat Anya dari kejauhan, namun betapa kaget Yoga karena Anya sedang bersenda gurau dengan laki-laki lain.


"Itu kan temen kerja Anya, tapi kenapa akrab banget." Gumam Yoga yang mulai terbakar api cemburu.


"Anyaaaa.." Sapa Yoga memotong pembicaraan Anya dan Adit yang kompak menoleh ke arah sumber suara.


"Kak Yoga." Anya kaget sekaligus senang dengan kedatangan kekasih hati.


Tatapan Yoga tajam pada keduanya. Tapi Yoga berusaha menahan diri.


"Belum balik?" Tanya Yoga.


"Belum kak, ini mau balik masih ngobrolin laporan bentar." Jawab Anya.


"Haloo." Sapa Adit pada Yoga. Yoga membalasnya dengan senyum kaku dan tatapan tajam mengancam Adit.


"Kalau udah selesai, ayok sekalian aku anter pulang."


"Iya bentar kak, Anya beresin barang Anya dulu."


Anya masuk menuju kantor mengambil barang-barang, menyisakan Adit dan Yoga yang sama-sama terdiam namun dengan suasana yang cukup mencekam.


"Ayookk.. Kak Adit, Anya balik dulu ya. Byeee.." Pamit Anya.


Sesampainya di mobil wajah Yoga semakin kesal. Ia tak menyangka sangat sakit melihat kekasihnya yang menolak menikah tapi justru asyik mengobrol dengan laki-laki lain, walaupun Ia sadar laki-laki itu rekan kerja Anya, tapi api cemburu sudah membakar hati Yoga. Perasaan Yoga kalut bercampur kesal.


"Surprise banget kak, kakak tiba-tiba di Bandung." Ucap Anya sambil memakai seatbelt.


"Aku juga surprise liat kamu sama cowok itu tadi, akrab banget!" Sindir Yoga membuat Anya terhenyak. Suasana di mobil menjadi kaku, Anya sadar Yoga sedang cemburu. Sedangkan Yoga menunggu Anya sadar kalau yang Ia lakukan membuat perasaan Yoga cemburu.


Sepanjang perjalanan Yoga dan Anya hanya terdiam. Keduanya menyadari suasana hati yang buruk dari masing-masing. Suasana yang nampak asing bagai dua orang yang tidak sedang melepas rindu.

__ADS_1


"Udah sampai." Ucap Yoga saat sampai di depan tempat tinggal Anya.


"Makasih."


"Kita perlu ngobrol."


Yoga mengikuti Anya masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Apa cowok itu alasan kamu belum siap nikah sama aku?" tanya Yoga membuat Anya kaget.


"Maksud kakak apa? Kenapa jadi nyangkut pautin Kak Adit sama hubungan kita."


"Ya terus? Pasti ada alasan yang membuat kamu gak yakin sama aku. Apa karena cowok itu?" Tanya Yoga dengan nada sedikit tinggi karena dipenuhi kecemburuan.


"Aku sama kak Adit gak ada hubungan apapun. Kita berdua cuma rekan kerja." Jawab Anya mencoba sabar menjelaskan.


"Alasan. Kalau cuma rekan kerja kok sampai ketawa-ketawa begitu. Udah mulai nyaman karena bareng terus?"


"Terus maksud kakak, Anya gak boleh ketawa gitu? Toh memang kenyataannya Anya gak ada apa-apa kak. Kakak cuma cemburu gak beralasan."


"Aku cemburu karena ada alasannya. Laki-laki mana yang gak cemburu pacarnya dekat dan ketawa-ketawa bareng laki-laki lain. Aku juga laki-laki normal." Yoga semakin meninggi.


"Stop kak! Anya sudah capek jelasin sama kakak. Percuma ngomong sama kakak kalau kakak pun gak mau dengerin Anya. Yang ada dipikiran kakak cuma asumsi Anya ada hubungan sama kak Adit. Anya jelasin apapun juga gak akan bikin kakak percaya. Buat apa kakak pacaran sama Anya kalau kakak gak bisa percaya sama Anya?" Jawab Anya tak sanggup menahan emosi.


"Oooh jadi gitu, jadi menurut kamu hubungan ini sudah gak penting. Karena cowok itu? Waaah gak nyangka aku, kayaknya sudah makin dekat banget kalian ya, udah ngapain aja emang sampai lebih milih ninggalin aku demi dia?" Ucap Yoga semakin tak karuan karena emosi.


PLAAAAKKKKK!!! Tamparan mendarat di pipi Yoga. Air mata menetes di pipi Anya karena menahan emosi dan sakit akibat ucapan Yoga yang sangat merendahkan harga diri Anya.


"PERGI DARI SINI, KAK ! Anya gak mau liat muka kakak lagi." Perintah Anya. Ia sangat sakit hati mendengar Yoga yang meragukannya bahkan berpikir Ia sudah melakukan hal macam-macam dengan Adit.


Yoga tersadar dengan ucapannya. Ia menarik lengan Anya yang berbalik meninggalkan Yoga seorang diri.


"Anya maafin aku, aku kebawa emosi." Ucap Yoga menyadari ucapan kasarnya.


"Lepasin kak. Maafin Anya, tapi mending kakak pulang sekarang." Anya menarik tangan agar terlepas dari genggaman Yoga. Sembari masuk ke kamar Anya menyeka air mata.


Yoga terdiam menyesali kebodohan yang baru Ia lakukan. Bagaimana mungkin kecemburuan masih saja membuatnya buta. Harusnya sejak awal Yoga sadar bahwa Anya tidak akan berselingkuh. Bahkan sejak awal hubungan mereka, banyak lelaki mendekati Anya, Anya juga tetap setia pada Yoga. Namun kini hanya karena melihat Anya dengan laki-laki lain, kecemburuan kembali membuat Yoga buta. Bahkan saat Anya menjelaskan dengan sabar dan lembut, Yoga tetap tak menggubris. Yoga mengusap kasar wajahnya.


"Bod*hhh." Gumam Yoga kesal pada diri sendiri.


Yoga berjalan gontai menuju mobil dan mencari penginapan. Ia tidak akan pulang ke Jakarta sebelum hubungan dengan Anya membaik.


"Maafin aku Anya, Aku sayang banget sama kamu." Gumam Yoga dengan bulir air mata tertahan di sudut mata.


***


Hai haiii.. Readers..


Author mau minta maaf kalau kemarin-kemarin lama gak update. Author ada pekerjaan mendesak yang tidak bisa ditunda dan terpaksa membuat author jadi menghilang bagaikan jinny ooh jinny karena author belum belajar ilmu membelah diri. 😭😭


Terima kasih buat readers semua yang senantiasa menunggu dan menanti novel "dikejar cinta pak polisi". Beribu-ribu terima kasih bangeeetttt buat semuanya. Comment dan kritik akan selalu author baca dan jadikan bahan evaluasi.🩷🩷


Semoga ke depannya author bisa lebih konsisten dalam menulis dan membuat karya yang menghibur readers semua. 💪💪


with love..


author

__ADS_1


__ADS_2