Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Tanggung jawab


__ADS_3

Mama Gista datang berkunjung ke apartemen Gista. Sudah sejak tadi handphone Gista dihubungi tapi tidak ada jawaban. Mama Gista memutuskan untuk masuk saja ke dalam apartemen anak semata wayangnya dan menunggu di dalam.


Mama Gista sudah biasa mengunjungi apartemen anaknya. Namun, biasanya Ia akan memberitau Gista sehingga Gista mengosongkan jadwal dan leluasa menemani mamanya. Mama Gista saat ini menetap di luar kota karena menemani papa Gista yang sedang mengurus bisnis.


Begitu masuk ke apartemen anaknya, mama Gista dikagetkan dengan kondisi apartemen yang seperti kapal pecah. Sangat berantakan di semua sisi. Mama Gista memutuskan untuk membersihkannya. Saat hendak membuang semua sampah, mama Gista melihat sesuatu di tempat sampah. Ia memungutnya dan terdiam tak percaya.


Gista pulang ke apartemennya, Ia melihat ada alas kaki mamanya sehingga dipastikan mamanya ada di dalam.


"Halo mam." Sapa Gista sambil mengecup pipi mamanya.


Wajah mama Gista sangat serius dan tak mengukir senyum sama sekali saat anaknya datang dan menyapanya.


"Kenapa mam? Berantakan yah tadi? Sorry mam, akhir-akhir ini Gista gak enak badan jadi gak beres-beres apartemen." Ucap Gista.


"Gista, jelasin ini apa?" Ucap mama Gista serius. Ia menunjukkan testpack yang ditemukannya di tempat sampah tadi saat hendak membuang sampah. Gista kaget.


Selama ini, mama dan papa Gista tidak tau bagaimana kelakuan anaknya diluaran. Selama ini Gista selalu menunjukkan bahwa dirinya adalah anak yang baik dan mudah diatur serta mandiri. Dengan menunjukkan sisi tersebut Ia bisa dengan bebas mendapat ijin untuk tinggal sendiri tanpa harus dikekang kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya berpikir bahwa Gista adalah gadis yang bisa menjaga dirinya. Terbukti selama ini walaupun Ia bekerja sebagai model, mama papanya tidak pernah mendapati ada masalah yang dibuat karena ulah Gista.


"Eemmhh itu eemhh.. Gista bisa jelasin ma. Dengerin Gista dulu." Jawab Gista tergagap karena belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan mendadak mamanya.


"Jawab, siapa yang ngehamili kamu? SIAPA GISTA?" mama Gista murka.


"Itu emmmhhh... itu..." Gista bingung hendak menjawab. Jika Ia jujur bahwa ayah dari bayinya seumuran dengan mamanya pasti mama Gista akan makin murka. Ia tidak mungkin jujur bahwa ayah dari bayi ini adalah Om Faisal. Walaupun Om Faisal sudah tau dan akan bertanggung jawab, tetap saja Gista tidak berpikir akan dinikahkan oleh pria yang sudah sangat berumur.


"JAWAB GISTA!!" Bentak mama Gista.


"Yoga Ma, I i iya Yoga ayah dari bayi ini. Kami kan akan menikah, ternyata kami kebablasan ma." Jawab Gista berbohong.


Mama Gista tak sanggup menahan emosinya. Ia segera menelpon mama Yoga dan segera datang ke rumahnya. Gista yang kebingungan terpaksa mengikuti mamanya yang sedang emosi menuju rumah orang tua Yoga.


***


"Kenapa kak kok mukanya ditekuk banget?" Tanya Ika pada kekasihnya.


"Aku galau sayang. Udah banyak lamaran kerja yang aku input tapi belum ada balasan. Yang kemarin di bandung juga gagal saat tahap wawancara."


"Sabar yah kak. Jangan sedih dulu. Aku yakin kakak pasti bisa sukses nantinya."


"Tapi aku jadi malu banget sayang. Junior yang barengan lulusnya aja udah pada dapat panggilan kerja kemana-mana."


"Emhhh, ambil positifnya aja kak. Mungkin kakak belum boleh jauh-jauh dari Ika." Ucap Ika merayu pacarnya agar tidak sedih.


"Jadi gini rasanya dirayu yah. Jadi mood lagi." Eric tersenyum mendengar rayuan Ika.


"Nah gitu dong, senyum kak."


"Apa aku buka usaha aja yah sayang?"


"Emang kakak mau usaha apa? Passion kakak di bidang apa?"


"Motor, otomotif."


"Buka bengkel aja kak. Ya tapi modalnya pasti besar kak." Ucap Ika.


"Iya bener juga. Beli peralatan untuk bengkel pasti mahal banget, belum sewa tempatnya, bayar pegawainya. Aku ada sih tabungan, tapi belum cukup."


"Coba aku bisa bantu, tapi aku juga gak ada uang sebanyak itu pastinya kak." Ucap Ika.


"Eeh aku gak berharap bantuan uang kok sayang. Aku harus usaha sendiri. Pokoknya aku gak akan pantang menyerah nyari kerja dan nantinya bisa nabung untuk bikin bengkel sendiri."


"Semangat yah kak. Semoga impian kakak bisa terwujud."


"Kamu sendiri nantinya rencana setelah lulus gimana? Jadi mau S2?"


"Iya pasti mau kak lanjut S2. Tapi kan ngumpulin modal kuliah S2 nya dulu. Ya mau gak mau mesti kerja dulu juga biar gak ngerepotin orangtua."


"Semoga bisa tercapai semua keinginan kamu. Kamu cewek yang hebat, kakak yakin semua pasti bisa kamu capai."

__ADS_1


"Makasih ya kak." Ucap Ika tersipu.


"Sama-sama. Oiya, gimana kondisi Mela?"


"Baik kak. So far kalau dia bener-bener galau pasti hubungin Ika ataupun Anya. Kita gak ngebolehin dia sedih sendirian. Kapan hari dia pernah sampe mabuk soalnya kak karena sedih banget."


"Hah? Mela mabuk?" Eric kaget.


"Iya kak, mabuk dan sendiri. Bahaya gak tuh. Untung ada sepupunya Anya yang liat Mela, jadi Mela bisa pulang dalam keadaan utuh gak kekurangan satu apapun."


"Waah nekat juga ternyata si Mela."


"Iya itu pasti karena dia patah hati banget kak. Apalagi hubungan mereka udah serius banget, udah cocok juga. Pasti sulit buat Mela buat buka hati lagi." Eric mengangguk mendengar penjelasan Ika.


"Hmmm, semisal kamu kehilangan aku, kamu galau juga kayak Mela?"


"Iya tergantung. Kalau kehilangannya karena kakak selingkuh ya ngapain Ika galauin."


"Gak mungkin lah aku selingkuhin kamu sayang. Dapetinnya aja susah banget."


"Iya kan gak tau, pokoknya semoga kakak gak bosenan. Gak main-main sama Ika."


"Aku tuh gak main-main sama kamu sayangku. Aku serius. Coba aku udah kerja, mandiri dan settle. Udah pasti langsung aku lamar kamu sekarang juga."


Ika tersipu mendengarnya.


"Iih, Ika gak mau nikah dulu. Mau kerja buat bahagiain orangtua." Ucap Ika sok jual mahal, padahal hatinya sangat senang jika memang Eric benar-benar serius padanya.


"Iya gak papa kan kalau nikah dan tetep kerja."


"Iya liat nanti aja. Pokoknya Ika harus lulus dulu biar gak ada beban kalau nikah."


"Emang kapan ambil skripsinya sayang?"


"Semester depan. Tapi Ika udah buat proposal kok kak. Kalau diterima bisa langsung sidang proposal. Semester depan langsung gas pol penelitian aja."


"Semangat sayang. Aku support kamu. Kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan bilang ke aku. Aku juga pengen jadi pacar yang berguna."


"Sama-sama. Aku seneng kalau kamu bahagia." Ucap Eric tersenyum yang dibalas dengan senyuman juga oleh Ika.


***


Mama Gista segera mengetuk pintu rumah orang tua Yoga. Nampak mukanya menahan emosi. Pintu terbuka.


"Loh jeng, cepet amat sudah sampai. Ayok silakan masuk."


Mama Gista masuk tanpa ekspresi senyum sedikitpun. Gista mengekor di belakangnya.


"Mau minum apa?"


"Gak usah repot-repot. Jadi gini ya jeng, kedatangan saya kesini mau minta pertanggungjawaban. Anak saya Gista, hamil. Dan dia bilang kalau ayah dari bayinya adalah Yoga." Jelas Mama Gista tanpa basa basi. Disaat seperti ini, sudah tidak penting lagi bertele-tele. Baginya kehormatan keluarga adalah yang utama. Ia akan sangat malu jika semua keluarga besarnya tau Gista hamil diluar nikah dan tidak mendapat pertanggungjawaban.


"APA? Biar saya telpon dulu Yoga, saya suruh datang kesini."


Tak berselang lama Yoga datang karena kaget mendengar apa yang diceritakan mamanya. Ia tak habis pikir bisa-bisanya wanita licik itu membuat cerita palsu di depan orangtuanya.


Yoga segera masuk ke rumah dan bertemu mamanya, Gista dan mama Gista.


"Nak Yoga, saya minta pertanggungjawaban kamu. Sebagai laki-laki kamu harusnya berani untuk bertanggung jawab dengan menikahi anak saya yang sudah kamu hamili." Jelas Mama Gista pada Yoga. Yoga menatap Gista geram. Gista hanya menunduk dan menempel pada mamanya.


"Maaf tante, tapi saya tidak pernah menyentuh anak tante. Kalau memang Gista hamil, itu berarti anak dari laki-laki lain." Jawab Yoga berusaha tenang. Mama Gista nampak kaget mendengar jawaban Yoga. Ia menoleh ke arah Gista yang ada disebelahnya. Gista kebingungan dan akhirnya pura-pura menangis.


"Tega kamu, Yoga. Setelah apa yang kamu lakukan, kamu bilang begini sekarang. Aku kecewa sama kamu. Biar aku rawat sendiri anak ini tanpa sosok ayahnya." Ucap Gista sambil menangis. Yoga semakin geram. Ia ingin murka namun masih menjaga mengingat ada mamanya disana. Ia tidak ingin membuat malu keluarganya.


"Pokoknya saya gak mau tau, kamu harus nikahi anak saya!" Tegas mama Gista.


"Maaf tante. Tapi saya benar-benar tidak melakukan apapun pada Gista. Apa perlu dibuktikan dengan tes DNA? Saya bisa menuntut atas kebohongan kalau ini semua tidak benar." Balas Yoga.

__ADS_1


Gista sedikit takut dengan ancaman Yoga. Tapi sudah kepalang tanggung. Ia tak mungkin mengubah semua ucapannya dan berdampak membuat malu keluarganya sendiri.


"Sampai hati kamu gak mengakui darah daging kamu sendiri sampai harus meminta tes DNA. Kamu kira aku wanita seperti apa yang mau melakukan hal itu dengan banyak pria. Aku melakukan semua sama kamu karena kamu bilang kita akan menikah. Aku sudah menyerahkan kesucian aku." Tangis Gista semakin kencang. Mamanya memeluknya dengan tetap sorot matanya tajam menatap Yoga.


"Nikahi Gista, Yoga!" Titah mama Yoga.


"Ma, gak bisa gitu dong. Aku bahkan gak pernah menyentuh dia, kenapa harus aku yang bertanggung jawab." Protes Yoga pada mamanya.


"Nak, Gista sudah bilang sendiri kalau kalian melakukannya. Kalau kamu takut mama dan papa marah karena kalian melakukannya, oke, mama dan papa gak akan marah. Asalkan kamu nikahi Gista. Dia juga punya harga diri, Nak. Kamu jangan lari dari tanggung jawab."


"Aku akan bertanggung jawab jika aku benar-benar melakukannya, Ma. Tapi faktanya, aku tidak pernah melakukan apapun sama wanita ini. Kalau mama bersikeras meminta aku dan Gista menikah. Kasih aku waktu sampai janin diperut dia bisa dilakukan tes DNA. Kalau terbukti bayi itu adalah anak aku, detik itu juga aku akan segera nikahin dia."


"Lalu kamu biarkan dia menanggung semua ini sendirian?" Tanya mama Gista tak terima.


"Maaf tante. Saya tidak bisa menikahi Gista tanpa ada bukti yang menunjukkan saya adalah ayah kandung bayi yang dikandung oleh Gista. Permisi." Yoga segera berlalu. Ia tidak ingin emosi meluap di dalam rumah. Ia keluar dari rumah dan bergegas naik ke mobilnya. Pikirannya kacau, namun Ia harus tetap tenang.


"Gue harus cari tau siapa ayah kandung bayi itu, sebelum gue yang harus jadi korban nikah dengan nenek sihir itu." Batin Yoga.


Sementara itu di rumah orangtua Yoga, mama Gista tidak terima dengan penghinaan yang Ia terima.


"Bisa-bisanya anak kamu lari dari tanggung jawab. Saya tidak terima dengan semua ini. Saya menyesal pernah menjodohkan Gista dengan Yoga. Saya pastikan keluarga kamu tidak bisa hidup tenang!" Mama Gista menggandeng anaknya dan segera keluar meninggalkan rumah tersebut.


Mama Yoga terduduk lemas. Pikirannya kalut, Ia tak percaya anak laki-laki kesayangannya bisa menghamili wanita di luar nikah dan tidak mau bertanggung jawab. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya yang sedang di luar kota. Ia menjelaskan semuanya, suaminya geram mendengar cerita tersebut. Tak tinggal diam, papa Yoga segera memesan tiket pesawat pulang untuk membicarakan ini semua. Ia tidak mau berita ini sampai menyebar dan membuat malu nama baik keluarganya yang nantinya akan berimbas pada bisnisnya.


***


Anya sedang duduk di teras rumahnya. Ia mendengar deru mobil masuk ke parkiran. Ternyata Kak Sonya yang baru pulang. Ia langsung teringat saran Mela untuk menanyakan sosok di foto yang sedang bersama Gista.


Anya berlari ke kamar kakaknya.


"Kaaaaakkkkk.." Ucap Anya manja sambil masuk ke kamar kakaknya dan merebahkan diri di kasur.


Sonya yang baru masuk masih sibuk menaruh barang-barang bawaannya mulai dari tas, laptop dan kacamatanya.


"Kenapa?" Tanya Sonya sambil mengambil kapas dan cairan pembersih wajah, lalu membersihkan sisa make up di wajahnya. Ia menghampiri Anya dan duduk disampingnya.


Anya yang tadinya berbaring segera duduk.


"Anya mau nanya sesuatu, tapi kakak gak usah ember bilang ke mama. Oke?"


"Apaan dulu nih? Kalau aneh-aneh ya bakal kakak laporin dong."


"Iiihhh jangan dong kak. Kalau gitu Anya gak jadi nanya deh." Anya memasang wajah cemberut dan hendak beranjak dari kasur.


"Eeehh ngambek. Iya iya gak kakak bocorin ke mama. Asal jangan nanya yang aneh-aneh loh ya." Ucap Sonya sambil menarik tangan adiknya hingga terduduk kembali.


"Pokok kalau sampai bocor, aku ngambek ke kakak."


"Yaelah, emang ngambeknya gimana?" Goda Sonya.


"Emmmhh, gak mau dateng ke nikahan kakak. Weeekkk."


"Eeehh ya jangan gitu dong."


"Iya makanya janji dulu."


"Iya janji."


Anya mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia membuka galeri dan memilah satu foto yang cukup jelas baginya.


"Nih kak, Anya tuh kayak ngerasa pernah tau ini orang siapa. Tapi kok gak inget ya. Kayak gak asing gitu buat Anya. Kakak tau gak orang ini siapa?"


Sonya justru fokus dengan foto wanita yang ada di dalamnya.


"Lah ini cewek siapa?"


"Iiih kakak, nanti Anya ceritain. Jawab dulu kakak tau gak sama nih orang."

__ADS_1


Sonya memperbesar gambar tersebut agar wajah lelaki yang ingin diketahui Anya lebih jelas di matanya.


"Ini kan..."


__ADS_2