
Anya masuk ke kamar dan terisak. Ia tak menyangka hari ini menjadi hari terburuk selama hidup di Bandung. Bahkan mendapati ucapan yang begitu menyakitkan dari kekasih hatinya sendiri. Semua hanya karena kecemburuan yang tak beralasan. Bukankah semua bisa dibicarakan dengan baik-baik? Tanpa harus ada caci maki dan ucapan yang menorehkan luka di relung hati. Tapi semua sudah terjadi. Yoga telah menumbuhkan luka atas ucapan yang didasari kecemburuan buta terhadap Adit.
Beberapa saat merasa lega menangis, Anya merasa kantuk melanda. Ia terlelap dengan mata bengkak. Tanpa sadar berpuluh-puluh panggilan masuk di handphone yang sedang di setting dengan mode senyap. Iya, Yoga berusaha menghubungi Anya berkali-kali. Untuk saat ini Yoga sudah bisa mengendalikan pikirannya karena menyadari kesalahan atas ucapan kasar yang Ia katakan.
Berkali-kali Yoga menekan nomor Anya, namun hasilnya tetap nihil. Yoga dilanda gelisah. "Aaah, kenapa gue selalu bego kalau emosi. Bisa-bisanya gue ngomong gitu ke Anya saking cemburunya. Anyaaa... Plis maafin gue. Jangan diemin gue begini." Gumam Yoga dengan wajah kusut dan menatap ke layar ponsel berharap ada panggilan kembali dari Anya.
***
Sudah hampir 5 bulan Sonya di rumah menikmati kehamilannya. Perut Sonya sudah nampak buncit tapi tetap terlihat seksi. Berbulan-bulan tidak bekerja membuat Sonya merasa rindu dengan aktivitasnya terdahulu. Bagaimana saat pagi harus bersiap ke rumah sakit. Masuk ke ruang operasi atau sekedar kontrol pasien membuat Sonya rindu semua. Dengan sadar Sonya tau bahwa semua tidak akan sama. Baik sekarang ataupun nanti setelah bayi di kandungannya lahir. Justru tanggung jawab besar akan ada di pundaknya.
"Apa mungkin gue bisa kerja lagi?" Gumam Sonya memandangi snelli dengan tanda namanya yang tergantung di sudut walk in closet.
"Kalaupun gue balik kerja, apa gue yakin bisa tega ninggalin anak dan fokus kerja. Apa gue harus berhenti kerja selamanya." Pikiran Sonya menerawang jauh. Ia sadar betul sulit kembali bekerja kembali begitu bayinya lahir. Sekalipun rumah sakit tempatnya bekerja adalah milik keluarga, tapi membagi waktu untuk keluarga terutama bayi baru lahir dengan pekerjaan tidaklah mudah.
"Ngelamunin apa sayang?" Tanya Ezza melihat kegalauan istrinya dengan memandang snelli.
"Emmh, cuma kangen kerja aja sayang. Bosen banget dirumah." Jawab Sonya jujur.
"Mau jalan-jalan? Biar bumil gak bosen?" Ezza berusaha membuat mood Sonya kembali baik.
"Mau kemana?"
"Kemana aja terserah bumil yang cantik."
"Iiih sayang. Bumil yang gendut nih." Jawab Sonya malu dengan pujian Ezza.
"Gak gendut sayang, tapi seksi."
Sonya terkekeh.
"Emmhh, beli nasi mawut yuk yang. Aku pingin nasi mawut abang-abang di pinggir jalan gitu."
"Siaaap. Apapun untuk bumilku. Let's go!" Ezza dengan sigap menuruti keinginan Sonya dan calon buah hatinya. Ezza meyakini Sonya sedang dalam fase mengidam jika menginginkan sesuatu. Maka dari itu sebisa mungkin Ezza menuruti keinginan Sonya agar anaknya nanti tidak terlahir ileran seperti mitos yang sering Ia dengar.
Keduanya meluncur menuju tempat makan pinggir jalan untuk menuruti keinginan Sonya. Hal ini membuat Sonya bahagia, Ia sangat merasa diperhatikan oleh Ezza walaupun Ezza sangat sibuk dengan pekerjaan. Ezza seolah tau bahwa Sonya sedang mengalami fase yang sulit. Menahan sakit dan mual karena hamil, belum lagi badan yang berubah karena kehamilan ditambah dengan Sonya yang harus istirahat di rumah dan tidak setress bekerja demi kehamilan. Perjuangan besar yang dilakukan Sonya tidak sebanding dengan pengorbanan Ezza untuk membuat Sonya tenang dan nyaman.
"Makasih ya sayang." Ucap Sonya sembari menyuap nasi mawut yang menggiurkan.
"Makasih buat apa sayang?" Ezza kebingungan.
"Makasih karena sayang mau nurutin ngidamnya bumil."
"Kalau sayang mau apapun, bilang ya. Jangan sungkan atau takut ngerepotin aku. Aku justru seneng banget. Artinya aku bisa jadi suami siaga buat istriku tersayang."
__ADS_1
"Uuuwww, so sweet banget. Love youuu sayang."
"Love you too.. Ibu dari anak-anakku." Sonya melayang bahagia sekaligus tersipu. Walaupun mereka makan di pinggir jalan, namun tetap terasa seperti di restoran mewah bintang lima. Semua terasa nikmat karena dengan siapa kita melewati momen tersebut yang menjadikan kenangan itu sangat berharga.
***
Di kampus Mela tidak konsen mengerjakan penelitian tugas akhir. Pikiran Mela tertuju pada Iqbal yang sejak kencan pertama mereka kemarin masih terekam di pikirannya. Entah kenapa Mela merasa Iqbal sudah berhasil masuk dalam hati Mela. Akan tetapi ketakutan masih hadir di hati Mela. Ia sangat merasa bersalah jika memiliki perasaan pada Iqbal dan bahagia di atas kenangan dengan Vico dahulu. Mela berusaha memendam perasaan yang dimiliki, bagi Mela tak adil jika Ia memulai hubungan yang baru saat Vico masih hadir dalam hati.
"Kenapa Mel?" Ika menepuk pundak Mela.
"Gak papa."
"Gak papa tapi kok banyak pikiran gitu."
"Iya Mel, kalau skripsian doang kayaknya gak sampe segalau ini deh lu." Oki menimpali.
"Oke-oke. Gue mau curhat."
Oki dan Ika mencari tempat duduk yang nyaman untuk mendengar curhatan Mela. Mereka duduk lesehan di dalam lab mekanika tanah sambil menunggu penelitian dilakukan.
"Jadi gini gaes, emmhh, gue ngerasa ada yang berbeda sama Kak Iqbal. Entah kenapa perhatiannya selama ini kayak baru gue rasain kalau dia bener-bener tulus."
"Terus?" Tanya Ika.
"Mela.. Lu dan Vico udah gak akan bisa bersatu. Lu tau itu kan. Lu juga gak selingkuh kok, lu cuma menjalani hidup dengan wajar dan normal. Kita hidup dan hati kita tetep bisa ngerasain perasaan, jadi gak akan salah jika lu suatu saat bisa jatuh cinta lagi." Cerocos Oki.
"Iya Mel. Yang udah nikah, terus ditinggal meninggal aja bisa move on dan bahkan nikah lagi. Janji mereka setia karena menemani sampai akhir hayat. Kalau kita masih dikasih waktu di dunia, maka kita harus tetap lanjut dengan apapun yang terjadi tanpa melupakan kenangan dengan yang sudah ninggalin kita duluan. So, lu jangan merasa bersalah begitu. Lu berhak bahagia Mel." Ika juga ikut mengingatkan Mela.
"Entah kenapa, gue ngerasa Vico gak rela gue sama laki-laki lain."
"Terus kalau dia gak rela apa yang bakal terjadi? C'mon Mela, kita realistis kalau Vico sudah meninggal. Sosok Vico gak bakal bisa hadir di sisi lu lagi. Vico juga gak se egois itu gue yakin. Dia justru ingin lu bahagia dengan orang yang tepat. Vico disana cuma butuh doa dari lu saat lu inget kenangan indah kalian berdua." Oki kembali nyerocos.
"Bener Mel. Kita gak minta lu lupain Vico kok. Vico tetap bagian hidup lu di masa lalu, kenangan indah lu. Kita cuma gak mau lu terpaku masa lalu sampai takut melangkah ke masa depan. Plis beeeb, lu berhak bahagia dan dicintai dengan orang yang tepat. Inget itu ya. Lu berhak bahagia!" Ika merangkul Mela meyakinkan bahwa perasaan yang bersemi di hati Mela bukanlah kesalahan yang harus Ia pendam.
"Thanks ya gaes. Gue jadi tenang. Tapi mungkin dalam waktu dekat, prioritas gue tugas akhir dulu. Gue pengen cepet lulus."
"SAMAAAA...." Teriak Oki dan Ika bersamaan.
"Emangnya lu doang beb yang mau lulus cepet, gue juga mau biar bisa cepet kerja dan dapet duit buat bantu bokap nyokap." Jelas Ika.
"Gue juga. Gue pengen cepet lulus juga." Oki ikutan.
"Biar bisa cepet nikah?" Goda Mela pada Oki.
__ADS_1
"Enak aja, ya biar bisa kerja juga lah. Nanti kalau udah settle baru gue nikah. Kalian gue undang, gak usah takut. hahahaha" Jawab Oki sambil ketawa sendiri diiringi gelengan kepala dari Mela dan Ika heran melihat tingkah Oki.
"Eeh, Anya gimana kabarnya?" Oki tiba-tiba teringat Anya.
"Vid call yukk. Mumpung ngumpul bareng." Ika mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan video ke Anya. Panggilan tersambung dan tak lama mendapat balasan dari Anya.
"ANYAAAAAAAA!!!" Teriak ketiganya serempak.
"Aaaahhhhhh, kangeeeennnn." Anya bahagia melihat ketiga sahabatnya menelpon. Membuat hatinya tidak merasa kesepian.
"Lagi apa Nya?" tanya Ika
"Lagi di proyek nih. Tapi abis nyerahin laporan jadi agak santai. Kalian gimana penelitiannya?"
"Aman kok Nya. Abis ini kita nyusul lu jadi ST." Jawab Oki.
"Iya, kita gak mau kalah. Pokoknya kalau kita sidang lu mesti dateng. Awas kalau enggak, kita semua ngambek tujuh turunan." Timpal Mela.
"Kalian perkiraan kapan sidangnya? Gue usahain yah. Kayaknya sulit dapet cuti karena kemarin gue udah meliburkan diri gara-gara opname." Jelas Anya.
"Haaah? Opname? Kenapa emangnya?" Tanya Ika khawatir.
"Iya kecapekan. Kayaknya gue belum kebiasa hidup sendiri dan terlalu forsir ke kerjaan biar maksimal. Jadinya drop deh. Sekarang sih sudah enakan, cuma ya itu gaes, gue kesulitan buat ngambil cuti karena udah absen sakit. Secara gue masih pegawai baru." Curhat Anya.
"Uuuwww tatian tayangku. Kalau emang gak bisa gak papa, jangan dipaksain deh. Gak tega gue. Ntar aja kalau kita wisuda aja lu dateng." Ralat Mela tidak tega mendengar cerita Anya.
"Uuuwww thankyouuu Mela tayaaang. Gue kangen banget sama kaliaaan tauu." Ucap Anya manja.
"Kalau kita lulus kita staycation ke bandung deh, buat nemuin si anak rantau satu ini." Usul Oki.
"SETUJUUUU!" Ika dan Mela menyetujui usul Oki tanpa banyak pikir.
"Aaakkkkhh mauuuu. Cepetin lulus supaya bisa cepet ketemu."
"Iyaaa, doain aja kita cepet lulus. Gak ada dosen yang ngeribetin kita."
"Siaaappp. Pokoknya mesti ngabarin gue kalau udah lulus dan siap ke bandung."
"Okeeee saaayyyy."
Video call dari ketiga sahabatnya cukup membuat mood Anya kembali membaik. Ia bisa melupakan masalah dengan Yoga sejenak. Anya menjalani hari seperti biasa walaupun sejak kemarin sore Yoga menghubungi untuk meminta maaf. Tapi Anya terlanjur kecewa dengan ucapan Yoga. Yoga bahkan tidak mau mendengar penjelasan Anya dan terus berpikir buruk tentang hubungan Anya dengan Adit. Anya merasa tidak dipercaya. Seketika keyakinan Anya pada Yoga memudar. Bukan karena tidak mencintai Yoga, namun Anya takut jika nantinya Yoga mengatur segala kehidupan Anya jika mereka terikat hubungan yang serius hanya karena embel-embel cemburu. Anya sangat takut tentang pernikahan, Ia sangat-sangat ragu.
***
__ADS_1