
Ezza mendekati Sonya yang belum sadarkan diri. Ia meraih tangan Sonya dan tak henti menciumi punggung tangan istrinya.
"Sayang, sebentar lagi kita punya anak." Bisik Ezza penuh haru.
Ezza baru menyadari perubahan pada istrinya akhir-akhir ini diakibatkan karena kehamilan. Kehamilan membuat Sonya sangat sensitif sekali, sangat berbeda dengan sebelum hamil yang cenderung dewasa, Sonya yang sekarang sangat kekanakan dan cepat tersulut emosi. Namun, mengetahui kenyataan itu semua diakibatkan kehamilan, Ezza rela dimarahi istrinya asalkan Sonya dan bayi di perut Sonya selalu sehat.
"Makasih sayangku. Makasih selalu berjuang apapun untuk kita. Aku sangat sayang kamu Sonya. Cepat pulih sayang." Ezza memegang perut bawah Sonya lembut. Perut yang masih rata belum nampak adanya ruang kehidupan untuk bayi di dalamnya. Ezza tersenyum bahagia dan mengusap lembut perut Sonya.
"Nanti kamu akan tumbuh disini, Nak. Tumbuhlah dengan sehat dan kuat. Jangan menyusahkan mamamu yah, Nak. Papa akan selalu menunggu kamu dengan bahagia. Papa menyayangimu sejak papa tau kamu hadir disini." Ezza bergumam.
Sonya mulai sadar, Ia membuka mata perlahan dan menggerakkan jari. Ezza yang menyadari langsung memanggil dokter guna dilakukan pemeriksaan pada Sonya. Dokter datang dan melihat Sonya sudah sadar. Dokter menginformasikan yang terjadi pada Sonya, Sonya tak kalah terkejut dan meneteskan air mata mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung buah cinta dengan Ezza. Dokter juga menyampaikan agar Sonya tidak kelelahan dan meminum vitamin secara rutin.
"Terima kasih, Dok." Ucap Ezza dan Sonya bersamaan saat dokter meninggalkan keduanya. Tak lama Sonya dipindahkan ke ruang rawat inap. Sonya terpaksa menginap satu hari karena mengalami dehidrasi dan ditakutkan masih terlalu lemah jika harus langsung pulang ke rumah.
"Sayang, maaf ya aku jadi ngerepotin gini." Ucap Sonya yang merasa bersalah karena harus berakhir dengan menginap di rumah sakit.
"Sayang, aku yang harusnya minta maaf. Aku yang justru gak bisa menjaga kamu sampai kamu dan calon bayi kita harus tidur di rumah sakit."
"Tapi semua karena kecerobohanku. Harusnya sejak awal aku lebih peka dengan yang terjadi sama tubuh aku." Ucap Sonya sangat merasa sedih.
"Sayangku, jangan begitu. Aku tau kamu sangat sensitif karena kehamilan kamu. Tapi aku gak akan mau kamu menyalahkan dirimu sendiri seperti ini. Aku janji akan selalu menjaga kalian berdua. Kalian adalah harta paling berharga dihidupku." Ucap Ezza lembut dan tulus sembari menatap teduh kedua mata istri tercinta.
Sonya menangis mendengar ucapan Ezza. Ia sangat merasa bersyukur dan beruntung bisa menjalani kehamilan dengan support Ezza.
"Makasih sayang, aku juga bersyukur mempunyai kamu yang selalu ada buat aku. I love you." Ucap Sonya.
"Sama-sama sayang. I love you too." Ezza mengecup kening Sonya.
"Sekarang kamu istirahat dulu ya. Inget, gak boleh kecapekan ya." Lanjut Ezza.
"Iya sayang, kamu juga istirahat. Yukk tidur sini." Sonya menggeser badan rampingnya ke ujung tempat tidur rumah sakit.
"Jangan sayang, nanti kamu kesempitan. Aku bisa tidur di sofa."
"Aaakkkhh, gak mau sayang. Maunya tidur dipeluk sayang." Jawab Sonya dengan nada manja membuat Ezza gemas.
"Nanti kalau kamu kesempitan gimana? Aku disofa, kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa panggil aku."
"Enggak mau! Ini dedeknya yang minta bobok dipeluk papanya. Hayoo.." Ucap Sonya memanyunkan bibir sambil mengusap perutnya lembut.
"Iya deh iya." Ezza menyerah dan memilih menuruti keinginan istri tersayang. Ezza berbaring di tempat tidur rumah sakit dan memeluk istrinya dari belakang. Sonya tersenyum bahagia. Sonya menarik tangan Ezza guna mempererat pelukan suaminya.
"Sayang.." Panggil Sonya.
"Hmmm." Jawab Ezza sambil memejamkan mata mencoba tidur.
"Malam ini aku bahagia sekali. Kalian berdua kebahagiaan buatku. Jangan pernah tinggalin aku ya walaupun badanku nanti tak seindah yang dulu." Ucap Sonya lembut. Ezza mempererat pelukan mendengar ucapan Sonya.
"Kamu selalu seksi dan cantik di mataku. Bukan karena fisikmu, tapi karena hati kamu yang sangat cantik." Ucap Ezza membuat Sonya melayang terbang ke langit ke tujuh.
Sonya tersenyum sendiri mendengarnya. Ia merasa seperti sedang bermimpi yang sangat indah. Keduanya tertidur pulas sambil berpelukan.
***
"Kapan wisudanya sayang?" Tanya Yoga pada Anya saat mereka sedang makan siang di cafe.
"Belum tau sayang, tapi tanpa wisuda aku udah bisa daftar kerja pakai surat keterangan lulus kok." Jawab Anya.
"Udah daftar kemana aja emang? Jangan jauh-jauh sayang, aku tidak bisa jauh darimu." Gombal Yoga.
"Gombal bangeeettt woooiii. Sekalian daftar yang jauh aahh. Biar kakak kena malarindu." Jawab Anya sambil terbahak.
"Malarindu berat sayang." Yoga memanyunkan bibirnya.
"Biarin, biar kapok."
"Terus sayang jadi daftar kerja dimana aja?" Tanya Yoga kembali.
"Banyak sayang, kemarin banyak lowongan. Aku masukin lowongan hampir 5 atau 6 perusahaan sama BUMN, untungnya pada bisa pake SKL semua." Jawab Anya.
"Semoga cepat ada panggilan ya."
"Amin. Makasih kak. Oiya kak, gimana kak Boy sama Gina?" Tanya Anya mengubah topik.
__ADS_1
"Mereka baik kok. Rencana nikahnya minggu depan tapi gak pakai pesta yang ramai. Gina belum bisa ketemu banyak orang." Jelas Yoga.
Anya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Yoga.
"Pasti Gina trauma banget kak. Aku gak tega bayanginnya. Semoga Gina cepet pulih kembali yah kak, bisa hilangin trauma karena kejadian itu." Ucap Anya tulus.
"Iya sayang, semoga yah. Aku juga pasti bakal tenang banget kalau Gina nikah sama Boy nanti. Jadi ada yang bisa jaga Gina."
"Kok jadi ngarep sama kak Boy sekarang. Kemarin-kemarin gak setuju banget." Goda Anya.
"Aku bukan gak setuju banget, aku cuma gak mau mereka hubungan terus gak serius dan nanti jadi putus. Pasti hubungan aku sama Boy dan Gina juga bakal canggung. Tapi kalau sekarang kan beda, niat mereka memang ke jenjang serius makanya aku setuju-setuju aja." Jelas Yoga.
"Oooh gitu.." Jawab Anya singkat.
"Serius sayaaang."
"Hahaha iya iya, aku percaya sayang. Aku juga turut bahagia dengan pernikahan Gina dan Kak Boy. Salam buat keduanya yah kak."
"Iya sayang."
Keduanya melanjutkan perbincangan layaknya pasangan yang melepas rindu satu sama lain.
***
"Kamu dari mana?" Tanya Om Faisal pada Gista yang baru saja pulang.
"Jangan banyak nanya deh. Aku mau dari mana aja, itu urusan aku. Gak usah banyak nanya!" Jawab Gista asal dan segera melangkah menuju kamar.
"Gista, Berhenti!" Om Faisal terbawa emosi.
"Kamu bisa gak jawab baik-baik? Kamu dari mana? Kenapa baru pulang jam segini?" Tanya Om Faisal.
"Dari mana aja, itu urusan aku. Cerewet banget sih jadi orang."
"Apa kamu bilang? Kalau kamu seenaknya gini mending gak usah pulang sekalian." Ancam Om Faisal.
"Oooh gitu! Okeee, aku gak bakal pulang. Sekalian kamu gak usah ketemu anak kamu ini juga. Dasar gak tau diri!" Gista kembali keluar rumah dan pergi meninggalkan Om Faisal yang masih emosi dengan kelakuan istri mudanya.
"Gista! Masuk! Mau kemana lagi kamu?" Teriak Om Faisal melihat tingkah Gista yang justru pergi begitu saja. Gista tak bergeming, Ia tetap pergi meninggalkan Om Faisal dan tak menggubris suaminya yang sedang emosi. Gista memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tanpa tujuan Gista memutari jalanan ibukota.
Om Faisal mengambil handphone. Mencoba menekan nomor mantan istrinya.
"Halo." Sapa Tante Yuni diseberang telpon.
"Halo." Jawab Om Faisal dengan suara lirih.
"Mas Faisal, ada apa?" Tanya Tante Yuni.
"Aku mau minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan sama kamu. Aku tau aku salah, aku mohon kamu bisa memaafkanku." Ucap Om Faisal dengan nada bergetar mencoba menahan tangis.
"Mas, aku sudah memaafkan semuanya. Mungkin memang jodoh kita sudah usai. Oiya, selamat atas pernikahan mas. Andre yang memberitau kalau mas sudah menikah dan Andre juga bercerita dia akan segera memiliki adik."
"Iya, sama-sama. Aku tidak bahagia dengan pernikahan ini. Aku ingin kembali bersama kamu."
Tante Yuni terdiam sejenak.
"Jangan begitu mas, pernikahan memang banyak ujian. Aku harap mas bisa bahagia dengan istri baru mas dan mengarungi bahtera rumah tangga yang harmonis."
"Aku gak bisa. Aku benar-benar merindukan kamu, Yuni. Aku ingin kita kembali seperti dulu." Om Faisal memohon.
"Maaf mas. Aku gak bisa. Kita masih bisa berhubungan baik untuk Andre. Tapi jika kembali seperti yang dulu, aku benar-benar tidak bisa." Jelas tante Yuni.
"Iya, aku paham. Maaf untuk semuanya Yuni. Aku yang bodoh dengan egoku menghancurkan rumah tangga kita. Terima kasih sudah mau memaafkanku. Salam untuk Andre."
"Iya mas, sama-sama."
Om Faisal menutup telpon. Sungguh saat ini Ia hanya mampu meratapi segala kebodohannya di masa lalu. Penyesalan yang terasa sesak di dada selamanya akan menghantui hingga akhir hidup.
***
Pagi hari Andre sudah hadir di depan rumah Selly. Selly yang hendak keluar rumah, kaget dengan kehadiran Andre.
"Kamu ngapain pagi-pagi disini?" Tanya Selly.
__ADS_1
"Mau jemput kamu. Yuk aku anter ke rumah sakit." Ajak Andre.
"Aku bisa berangkat sendiri." Tolak Selly.
"Jangan gitu dong. Aku udah jauh-jauh kesini. Plis mau ya aku anterin kerja." Bujuk Andre.
Selly menyerah dan mengiyakan tawaran Andre. Keduanya di mobil tanpa ada yang membuka pembicaraan.
"Gimana kabar Airelle?" Tanya Andre.
"Airelle baik kok." Jawab Selly singkat.
"Kalau aku ajak dia ke taman bermain apa boleh?" Tanya Andre kembali. Selly menghela nafas sebelum menjawab.
"Andre, aku sudah bilang kemarin jangan seperti ini ke Airelle. Aku gak mau Airelle berharap terlalu banyak sama orang lain." Jawab Selly tegas.
"Plis Selly. Aku mau mencoba dekat dengan Airelle."
"Untuk apa? Kamu gak perlu berusaha apapun."
"Untuk menebus kesalahanku di masa lalu. Aku tau Airelle bukan anak mantan suami kamu. Airelle, anak aku kan?" Tanya Andre membuat Selly terbelalak. Selly terdiam tak sanggup menjawab. Lidahnya terasa kaku tak bisa berbohong dan tak kuasa mengungkap kejujuran.
"Aku gak tau kamu ngomong apa. Gak jelas banget." Selly berusaha tidak menjawab pertanyaan Andre.
"Aku mohon Selly. Beri aku kesempatan untuk menjadi sosok ayah yang baik buat Airelle. Jika kamu tidak bisa membuka hati untuk aku, aku tidak masalah. Tapi aku hanya ingin Airelle bisa bangga dengan ayahnya." Andre memohon pada Selly.
Selly tidak bergeming. Ia diam dan tak menjawab permintaan Andre.
"Selly, aku minta maaf atas semua kesalahanku. Aku tau gak mudah buat kamu memaafkan aku atas semua yang terjadi. Aku hanya ingin menjadi lebih baik dan menebus semua. Aku gak mau nantinya hanya penyesalan yang aku rasakan, sama seperti papaku." Ucap Andre jujur.
Selly masih terus berpikir. Jujur Ia bahagia bahwa Andre ternyata mau mengakui Airelle. Ia mengira jika mengetahui kebenaran, Andre tidak akan mengakui Airelle. Tapi semua ketakutannya salah. Andre justru ingin dekat dengan Airelle.
"Ndre, Airelle memang putri kamu. Saat aku tau kalau hamil, aku mau memberitaumu. Tapi saat itu melihat kamu sama wanita lain." Selly menjelaskan.
"Sejak saat itu, aku memilih tidak jujur sama kamu. Dan menerima perjodohan oleh keluarga."
"Selly, maafin aku. Aku tau betapa hancurnya hati kamu saat itu." Ucap Andre merasa bersalah mengingat semua rasa sakit Selly.
"Itu sudah masa lalu Ndre. Bagiku yang terpenting sekarang adalah Airelle. Kebahagiaannya."
"Ijinkan aku juga membuat Airelle bahagia. Aku janji akan menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk Airelle." Selly mengangguk pelan. Bagaimanapun Selly tidak ingin memisahkan Airelle dengan ayah kandungnya.
"Iya Ndre. Aku ijinkan. Aku harap kamu tidak akan membuat kami kecewa." Harap Selly.
"Aku janji Selly. Aku akan menjadi ayah yang selalu ada untuk Airelle." Jawab Andre mantap dengan senyum di bibir.
***
Setelah mendapat berita kondisi Sonya yang masuk rumah sakit, mama Meli ditemani Anya bergegas ke rumah sakit. Ia ingin melihat kondisi anak sulungnya. Keduanya berjalan setengah berlari di lorong rumah sakit menuju kamar inap Sonya. Anya mengetuk pintu dan membuka pintu perlahan. Nampak Sonya yang terbaring di tempat tidur dan Ezza yang sedang membersihkan barang mereka.
"Kak Sonya.." Sapa Anya melihat kakaknya terbaring.
"Sonya.." Mama Meli mendekati tempat tidur Sonya dan berdiri disamping.
"Mama, Anya.. Kangeeen."
Ezza tersenyum melihat istrinya bahagia dengan kedatangan mama dan adiknya. Ezza mendekati mama dan Anya. Ezza mencium punggung tangan Mama Meli dan bersalaman dengan Anya.
"Kakak kenapa? Kok bisa dokter tumbang begini?" Goda Anya.
"Iya sayang, apa yang terjadi? Kamu jangan capek-capek makanya."
Sonya tersenyum dan memandang Ezza. Sonya menikmati ekspresi kepanikan kedua orang yang disayang. Ezza membalas senyuman Sonya dan mengangguk menandakan agar Sonya bercerita yang sebenarnya terjadi pada mama dan Anya agar mereka tidak kawatir.
"Ma, Anya.. Sonya tuh sebenarnya gak sakit."
"Kalau gak sakit kok sampe begini." Jawab Anya polos.
"Iiih beneran. Sonya gak sakit. Tapi Sonya.. ha..mil.." Jelas Sonya diiringi ekspresi kaget dari mama dan Anya.
"Serius kak? aaaahhh Anya happy banget dengernya. Jadi Anya bakal jadi tante dong. Mama bakal jadi nenek." Ucap Anya excited.
"Ya ampun Sonya. Mama gak nyangka. Mama seneng banget dengernya." Mama Meli tak sanggup berkata-kata.
__ADS_1
"Selamat ya kalian berdua. Mama doakan semuanya sehat dan rukun selalu." Ucap Mama Meli tersenyum sambil melihat Ezza yang berdiri di depannya. Ezza dan Sonya tersenyum dan berpandangan penuh kasih dan saling berpegangan tangan.
"Makasih ma buat doanya." Jawab Ezza.