Dikejar Cinta Pak Polisi

Dikejar Cinta Pak Polisi
Menjaga Perasaan


__ADS_3

Malam hari Sonya merasa sangat lapar. Entah kenapa Ia ingin sekali makan sate ayam langganannya.


"Sayang, aku kok pengen sate ayam yah." Ucap Sonya pada Ezza yang sedang sibuk di depan laptop.


"Ayooo cari sekarang." Jawab Ezza bersemangat sambil menutup laptop di depannya.


"Makasih sayang. Aku ganti baju dulu."


Kedua pasangan suami istri itu menelusuri jalanan ibu kota yang tetap ramai walaupun hari sudah malam. Mereka sampai di tempat penjual sate langganan keduanya. Kedua pasangan itu makan dengan mesra dan saling bertukar cerita. Saat pasangan itu sudah selesai makan dan hendak pulang, keduanya dikagetkan dengan panggilan seseorang yang memanggil Ezza.


"Ezza.." Sapa wanita itu. Ezza dan Sonya bersamaan menoleh ke arah sumber suara.


"Askiya.." Sapa Ezza pada Askiya yang tersenyum padanya. Askiya berlari kecil mendekati Ezza dengan senyum sumringah.


"Aaahh seneng banget bisa ketemu disini." Ucap Askiya tak menghiraukan kehadiran Sonya di sebelah Ezza.


"Sama siapa?" Tanya Ezza basa-basi.


"Sama temenku. Kamu udah selesai makan?" Tanya Askiya kembali tanpa menggubris Sonya.


"Iya udah selesai. Ini mau balik biar Sonya istirahat." Ucap Ezza tidak enak melihat ekspresi Sonya yang mulai terlihat badmood.


"Aku capek sayang, maklum lagi hamil muda." Ucap Sonya dengan manja dan bergelayut mesra pada suaminya.


Askiya yang melihat pemandangan di depannya nampak kesal namun berusaha menutupi kekesalan itu.


"Oooh lagi hamil ya?" Askiya terpaksa basa-basi di hadapan Sonya dan Ezza.


"Iya Sonya lagi hamil muda." Jawab Ezza.


Askiya mengangguk memahami ucapan Ezza.


"Iyaudah kita duluan ya. Bye." Pamit Ezza. Askiya mengangguk kembali. Terlihat raut kekecewaan setelah tadi senyumnya merekah saat menjumpai Ezza. Sonya berusaha menahan diri untuk cemburu karena Ia tau walaupun wanita manapun mencoba mencuri perhatian Ezza, perhatian Ezza tetap tertuju padanya. Tapi itu saat dulu sebelum Ia hamil dan bisa berpikiran logis. Kini saat hamil, semua hormon kecemburuan serasa membabi buta di hati Sonya. Rasanya kesal melihat wanita lain bertingkah genit dan mencari perhatian di hadapan suami tercintanya. Sonya menyadari tingkah kekanakannya, namun Ia tidak bisa mengendalikan semua kekesalan yang menghampiri saat melihat pemandangan seperti tadi.


Sepanjang perjalanan pulang, Sonya hanya terdiam di mobil. Tak sepatah kata terucap dari bibir tipisnya. Entah mengapa perasaannya terasa kesal walaupun Ia sadar tidak ada hal dari Ezza yang patut membuat Ia kesal.


"Apa aku cemburu?" Batin Sonya. "Tapi karena apa? Karena aku takut Ezza berpaling disaat badanku sudah tak seindah dulu." Batin Sonya kembali bergelut.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Ezza membuyarkan lamunan Sonya.


"Aku gak papa kok." Jawab Sonya singkat berusaha menyembunyikan rasa kesal yang entah karena apa.


"Serius sayang? Kamu daritadi diem aja loh. Gak kayak sebelum kita kesini."


"Gak papa sayang. Aku capek aja." Jawab Sonya berusaha menutupi semuanya.


Ezza mengalah untuk tidak bertanya kembali. Ia tidak ingin membuat Sonya semakin tertekan. Keduanya terdiam selama perjalanan hingga sampai di apartemen. Ezza dan Sonya masuk namun tetap dengan mode diam.


Setelah membersihkan diri dan bersiap tidur, Ezza memeluk dari belakang Sonya yang sedang berbaring di ranjang.


"Aku sayang kamu sayang. Gak ada wanita lain di hati aku." Ucap Ezza lembut membuat segala rasa kesal di hati Sonya menguap. Sonya terdiam tak membalas ucapan walaupun hatinya berbunga-bunga.


"Aku tau pikiran kamu kesal dengan tingkah Askiya tadi. Tapi jangan pernah berpikir kalau dia bisa menggantikan kamu. Itu ketakutan yang tidak akan terjadi, sayang. Aku hanya mencintai kamu karena semua yang ada di dirimu. Seperti apa nantinya tubuh kamu, bukan alasan aku meninggalkanmu. Justru aku makin mencintaimu melihat semua pengorbanan yang rela kamu lakukan buatku." Sonya masih terdiam mendengarkan ucapan Ezza.


"Aku selalu berterima kasih kamu rela membuka hati untuk laki-laki yang penuh kekurangan seperti aku, kamu wanita cantik dan pintar mau menerima lelaki yang pernah menikah sepertiku. Kamu rela kesakitan tiap pagi mengandung calon bayi kita. Bahkan kamu rela cuti dari pekerjaan yang kamu senangi demi kesehatan bayi kita. Sayang, pengorbananmu sangat berarti buatku. Semua tak ternilai sayang, aku akan membalas semua itu dengan kasih sayang hingga akhir hidupku." Ucap Ezza membuat Sonya terisak. Ketakutannya serta merta terjawab begitu saja. Seakan tau isi hati dan kekhawatiran yang dirasakan, Ezza menjawab semua itu.


"Terima kasih sayang." Balas Sonya. Sonya berbalik dan membalas pelukan Ezza erat.


"Aku juga menyayangimu Ezza, sangat menyayangimu."


***


Yoga berniat memberi kejutan pada Anya setelah beberapa minggu berpisah. Yoga tidak sanggup menahan rindu setelah sekian lama tidak berjumpa. Pagi hari Yoga segera berangkat menuju Bandung agar bisa bertemu Anya.


"Lagi dimana sayang?" Tanya Yoga beberapa saat setelah Ia sampai di Bandung.


"Lagi di kantor sayang." Jawab Anya.


"Udah makan siang?" Tanya Yoga sambil melihat jam yang sudah menunjukkan jam makan siang.


"Belum, abis ini aja sayang kalau udah selesai."


Telpon terputus, Yoga bergegas menuju kantor Anya untuk memberi kejutan. Yoga sampai dan masuk mencari keberadaan Anya. Ia bertanya pada security dan mengetahui ruangan Anya. Saat hendak masuk Yoga dikagetkan dengan pemandangan Anya yang sedang berbincang dengan lelaki muda di hadapannya. Lelaki itu nampak memandang Anya dengan tatapan yang berbeda yang memantik rasa cemburu Yoga.


Yoga mengetuk pintu mengagetkan Anya dan Adit yang sedang berbincang. Keduanya menoleh, Anya kaget dengan kehadiran Yoga.


"Sayang.." Ucap Anya sambil melangkah mendekati Yoga. Adit memandang Anya yang tatapannya tak lepas dari lelaki yang baru saja dipanggil sayang oleh Anya membuat Adit paham bahwa lelaki itu adalah sosok kekasih yang diceritakan Anya selama ini.


"Kejutan.." Ucap Yoga mencoba tenang. Ia tidak mau tersulut emosi dan membuat pertengkaran.

__ADS_1


"Sayang kok gak bilang-bilang kalau mau kesini?" Tanya Anya.


"Namanya juga kejutan sayang."


"Oooh iya, Pak Adit ini pacar saya, Yoga. Sayang, ini senior Anya, Pak Adit namanya." Keduanya saling melempar senyum.


"Yasudah, kita bicara lagi setelah makan siang nanti." Ucap Adit pada Anya dan bergegas meninggalkan pasangan yang baru berjumpa.


"Sudah makan siang sayang?" Tanya Yoga.


"Belum sayang."


"Ayok makan siang dulu." Ajak Yoga.


"Ayok."


Anya dan Yoga melepas rindu dan saling bercengkerama. Tangan keduanya tak lepas dari bergandengan bersama untuk menebus momen berjauhan selama ini.


"Kangen." Ucap Anya dengan nada manja.


"Berarti berhasil kejutanku?" Tanya Yoga. Anya mengangguk dan memasang wajah bak anak kecil membuat Yoga gemas.


"Lain kali gantian Anya kasih kejutan buat sayang." Ucap Anya.


"Mau banget." Jawab Yoga.


Pasangan kekasih itu saling berbagi cerita sembari makan siang yang sudah lama tidak bisa mereka lakukan.


Yoga sebenarnya sangat penasaran dengan sosok Adit yang tadi berbicara dengan Anya. Cemburu sangat menyelimuti perasaannya. Namun, Yoga berusaha berpikir logis dan tidak ingin membuat suasana menjadi buruk hanya karena cemburu buta.


***


"Om ganteeeng..." Airelle berhambur ke arah Andre yang baru saja keluar dari mobil.


"Airelleeeee sayang." Balas Andre.


Selly berjalan perlahan di belakang Airelle saat melihat Airelle memeluk Andre. Ada perasaan ingin mengungkap kebenaran pada Airelle, namun takut justru Airelle tidak bisa menerima kebenaran. Kegalauan merasuki perasaan Selly. Seandainya dulu Ia bersikap jujur pada semua Andre jika Ia mengandung anaknya, apakah semua akan berbeda dengan saat ini.


"Mau main sama Om?" Tanya Andre.


"Maaauuuuuu."


Airelle berlari kecil mendekati Selly.


"Mamaaa, Airelle boleh keluar sama om ganteng?" Tanya Airelle pada mamanya.


"Mau kemana sayang?" Andre mendekat ke arah ibu dan anak yang sedang bercengkerama.


"Mau beli mainan dan es krim. Boleh?" Tanya Andre.


"Tapi nanti ngerepotin om sayang." Ucap Selly.


"Yaaahh, plis mama. Boleh dong." Rengek Airelle dengan wajah menggemaskan.


Selly yang melihat hal itu tentu tidak tega. Ingin sekali Ia mengijinkan anaknya.


"Boleh ya Sel. Kamu juga bisa ikut kok."


"Yeeaaayyyy! Ayoook ma." Sorak Airelle gembira lalu menarik Selly ke arah mobil Andre.


"Maaf ya Ndre, kok jadi ngerepotin terus." Ucap Selly sungkan.


"Kenapa minta maaf, justru ini upaya aku menebus semua kesalahan aku. Aku yang harusnya minta maaf dan berterima kasih. Maaf atas semua yang pernah aku lakukan, dan terima kasih masih mau memberi aku kesempatan dekat dengan kalian berdua." Ucap Andre membuat Selly kaget. Andre sangat jauh berbeda dengan saat dulu Ia mengenalnya. Andre kini jauh lebih dewasa dan sangat memperlakukan Selly dengan baik. Selly tidak menyangka laki-laki yang dulu dikenalnya dan sangat kekanak-kanakan bisa berubah sangat drastis.


"Kenapa ngeliatin aku terus?" Tanya Andre membuat Selly tersipu.


"Iiih geer banget. Aku tuh ngeliatin Airelle yang kamu pangku." Ucap Selly beralasan karena Airelle memang maunya duduk dipangkuan Andre yang sedang mengemudi mobil.


"Oooh, sambil ngeliatin aku juga gak papa kok. Gak nolak." Ucap Andre.


"Iiih apaan sih kamu." Ucap Selly kesal untuk menutupi rasa malunya.


"Iya iya maaf."


"Hmmm.."


"Om, Airelle mau mainan make up-make up an ya. Boleh?" Ucap Airelle memecah keheningan Selly dan Andre.


"Boleh dong sayang. Emang mau make up buat kemana?" Tanya Andre.

__ADS_1


"Buat sehari-hari om. Biar Om ganteng gak cari perhatian ke mama, tapi terpesona sama Airelle." Ucap Airelle dengan polosnya membuat Selly terbelalak.


"Kamu kok tau kalau om cari perhatian ke mama? Tapi sayangnya gak diperhatiin perhatiin sama mama kamu." Andre bicara dengan nada sedih.


"Makanya om liat Airelle aja. Kalau Airelle dandan, pasti bakal lebih cantik dari mama."


"Emmmhhh, kalau Airelle dandan gak dandan jelas cantik banget. Om udah selalu terpesona sama Airelle." Goda Andre membuat Airelle tersipu.


Selly hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah Airelle dan Andre yang mesra bagai tidak melihat kehadiran Selly disebelah mereka.


***


Mela sampai di resto tempat membuat janji dengan Iqbal. Mela sengaja mengajak bertemu di lokasi mengingat rumahnya dan kampusnya cukup jauh dari rumah sakit. Ia tidak ingin merepotkan Iqbal yang pasti sudah lelah seharian dengan pekerjaan.


Iqbal sudah sampai terlebih dahulu di resto. Ia tidak ingin sang pujaan hati menunggunya dan merusak mood Mela. Iqbal menyadari Mela juga lelah seharian melakukan penelitian untuk skripsinya.


"Halooo kak, udah lama?" Sapa Mela mendekati Iqbal setelah melihat Iqbal melambaikan tangan padanya.


"Enggak kok, barusan aja nyampe. Duduk Mel."


Mela duduk di samping Iqbal membuat Iqbal gugup.


"Mau pesan apa?" Tanya Iqbal kembali.


"Emmhh, kakak pesen apa?"


"Tom yum enak kayaknya. Kamu mau juga?"


"Boleh deh kak."


Iqbal memesankan makanan dan kembali ke tempat duduk.


"Gimana skripsinya? Lancar?"


"Lancar kak. Cuma ya itu, menguras tenaga, waktu dan biaya." Jelas Mela.


"Pasti capek banget ya. Jangan telat makan Mel, biar gak drop."


"Iya pasti kak. Tapi kak Iqbal perhatian banget." goda Mela.


"Aku kan selalu perhatian sama kamu Mel. Jangan sampe kamu sakit lagi kayak dulu. Inget!"


"Iya iya kak. Mela juga gak mau sakit lagi. Nanti yang ada malah semua timeline yang udah Mela buat jadi mundur."


"Nah itu makanya harus jaga kesehatan."


"Iya kak, Mela jaga kesehatan banget. Mela berusaha banget ngikutin timeline dan sebisa mungkin sesuai. Rasanya bisa lebih tertata gitu, jadi cepet juga ngerjain skripsinya karena tiap hari ada progres."


"Waaah hebat banget dong." Puji Iqbal.


"Sebenarnya itu wejangannya Anya sih kak. Kalau bisa setiap hari harus ada progres. Nanti kita akan menuai hasilnya disaat waktu udah mepet. Pasti kita berterima kasih sama diri kita di masa lalu yang rela membuat progres skripsi tiap harinya. Dan Mela coba terapin di proposal kemarin dan emang manjur banget. Pas udah deket waktu deadline, Mela butuh revisi aja tanpa buru-buru ngerjain yang kurang. Hebat banget deh Anya itu, aku salut banget." Cerita Mela panjang lebar membuat Iqbal bahagia karena Mela mau bercerita padanya. Tanpa sadar Iqbal tersenyum memandangi Mela yang asik bercerita.


"Kak Iqbal, kak.. Kakak dengerin Mela cerita gak sih?" Panggil Mela membuyarkan lamunan Iqbal.


"Eeeh sorry sorry Mel. Aku terpesona banget ngeliat kamu soalnya. Jadi ngelamunin yang lain deh."


"Ngelamunin apa kak?"


"Ngelamunin masa depan kita." Gombal Iqbal.


"Hueeeekkk, gombal banget iih kakak nih."


"Yaaah namanya juga usaha Mel. Boleh lah sekali-sekali gombal."


"Hmmm, iya deh kali ini Mela bolehin. Tapi lain kali Mela gak terima gombal-gombalan. Mela butuhnya bukti nyata bukan gombal-gombal doang." Ucap Mela membuat Iqbal semangat.


"Bukti nyata? Tenang Mel, aku pasti buktiin. Aku bakal lakuin apapun yang kamu mau."


"Gak perlu segitunya kak. Lakuin aja yang menurut kakak baik."


Iqbal tersenyum. Hatinya tenang melihat respon positif Mela dalam pertemuan makan malam dengannya. Sepanjang makan malam hati Iqbal berbunga-bunga. Perasaan galaunya menghilang begitu saja, hanya tersisa semangat juang untuk memperjuangkan hati Mela. Bagi Iqbal mulai sekarang adalah waktu yang tepat mendapatkan hati Mela. Ia tak akan biarkan orang lain menikungnya. Ia akan berjuang hingga titik darah penghabisan mendapatkan cinta Mela.


***


Hallo readers..


Author ingin mengucapkan selamat tahun baru 2023 untuk readers. Terima kasih atas semua dukungan untuk novel dikejar cinta pak polisi. Semoga bisa menghibur readers selalu. Mohon dukungan agar author bisa berkembang menjadi lebih baik. Author tanpa readers hanyalah butiran debu.


Semoga ditahun yang baru, kita semua dilimpahi kesehatan, kebahagiaan dan kesejahteraan senantiasa. I love youuu all readers. Kalian sudah menjadi bagian dari hidup author. Ciiiieeeee~

__ADS_1


__ADS_2