
#Flashback On..
"Jadi kamu pacarnya anak saya?" Tanya Mama Inneke dengan pandangan tajamnya kepada Anya.
"Iya tante." Jawab Anya sedikit grogi harus berhadapan dengan mama dari pacarnya.
"Bisa kita bicara di luar dulu."
"Iya tante."
Anya mengikuti Mama Inneke keluar kamar, meninggalkan Gina di kamar dengan Yoga yang masih belum sadarkan diri.
"Saya Inneke mamanya Yoga. Nama kamu siapa?"
"Saya Anya tante."
"Udah kerja?"
"Belum, saya masih kuliah semester akhir." Mama Inneke menghela nafas panjang.
"Apa kamu benar-benar serius dengan anak saya?"
Anya terdiam mendengar pertanyaan Mama Inneke, Ia takut salah menjawab. Sebenarnya Anya serius dengan hubungannya dengan Yoga, namun kalau ukuran serius adalah pernikahan tentunya Anya belum sanggup.
"Begini Anya, saya sebenarnya sangat menginginkan Yoga segera menikah. Oleh sebab itu, saya menjodohkannya dengan anak teman saya. Mungkin kamu kaget mendengarnya. Tapi saya tidak ingin anak saya menghabiskan waktu untuk sesuatu hal yang belum tentu dan nantinya tidak ada kejelasan. Kalau Yoga tidak segera menikah, akan berimbas ke adiknya juga yang tidak akan menikah-menikah."
"Tante, saya bukan tidak memberi kejelasan untuk Kak Yoga. Tapi hubungan kami masih sangat baru. Kami baru mengenal beberapa bulan. Kalau untuk keseriusan, memang jujur saya belum siap menikah dalam waktu dekat karena saya masih perlu menyelesaikan yang harusnya menjadi tanggung jawab saya kepada orangtua saya, yaitu kuliah. Namun, dalam hubungan ini kami tidak main-main tante. Kak Yoga pacar pertama saya, untuk apa saya berani memilih Kak Yoga jika hanya ingin main-main saja." Anya menjelaskan pada Mama Inneke dengan jelas.
"Kalau memang kalian serius, tante sangat senang mendengarnya. Namun tante yakin kalian akan butuh waktu lama untuk yakin ke jenjang yang serius. Mohon maaf Anya, saya akan tetap mendukung Gista untuk mendekati Yoga. Jodoh tidak akan ada yang tau Anya. Tante harap kamu mengerti pilihan tante."
"Iya tante." Jawab Anya terpaksa tidak berano mendebat mama Inneke terkait keputusannya. Anya merasa perih mendengar penuturan Mama Inneke. Memang tidak ada kebencian di dalam ucapan mama Inneke, beliau hanya ingin anaknya memiliki kejelasan dalam waktu dekat karena masih ada adiknya juga yang menjadi tanggung jawabnya.
Kedua wanita berbeda generasi itu kembali masuk ke kamar. Pikiran dan hati Anya berkecamuk. Mungkin kalau tidak ada tragedi kemarin, Anya akan berusaha mengikhlaskan Yoga. Namun, pengorbanan yang Yoga lakukan kemarin membuka mata hati Anya bahwa Yoga adalah pasangan yang patut untuk Ia perjuangkan. Ia mengingat ucapan sahabatnya, Mela, berulang kali Mela berkata bahwa hubungan harus diperjuangkan dari dua arah agar kokoh. Itulah yang ingin Anya lakukan sekarang. Ia juga ingin berlari ke arah Yoga, bukan hanya diam menunggu Yoga menghampirinya.
#Flashback Off..
***
Ika dan Mela menelpon Anya, mereka melakukan video call secara bersamaan. Ika dan Mela kaget mendengar kabar yang menimpa Anya dan Yoga dan tidak menyangka dalang semuanya adalah Lusi, mantan Oki. Mela berencana besok akan bertemu dengan Anya, namun Ika tidak bisa menemui Anya karena Ia sedang pulang ke rumah orang tuanya.
Setelah selesai menelpon, Ika mendapat telpon dari Eric.
"Halo."
"Halo.. Lagi apa Ka?"
"Lagi rebahan Kak, kenapa Kak?"
"Gue mau ngabarin, kalau gue mau sidang besok?"
"Haaah serius?" Ika kaget dan bangkit dari tidurnya.
"Iya serius. Kalau lu mau dateng buat ngasih semangat, gue pasti seneng."
"Yaaah, sorry banget Kak. Gue lagi dirumah orang tua sekarang. Soalnya udah gak ada jadwal, jadi ya balik ke rumah orang tua."
"Ooh gitu. Terus balik lagi kesini kapan?"
"Hmm, minggu depan mungkin Kak."
"Kalau gitu lu utang buat ngasih semangat."
"Haaah utang apaan tuh? Gimana cara bayarnya?"
"Caranya bayarnya minggu depan kita keluar bareng. Gak boleh nolak."
"Keluar kemana Kak?"
"Emm, nanti gue pikir dulu tujuannya. Sekarang gue mikirin sidang buat besok."
"Semangat yah Kak, gue yakin kakak pasti lulus dan dapat hasil yang terbaik."
"Terima kasih Ika." Eric tersenyum-senyum sendiri.
"Sama-sama Kak."
"Oiya, nanti kalau udah balik kesini sekalian ada yang mau aku omongin."
__ADS_1
"Haah? Omongin apa Kak? Omongin sekarang aja kalau emang penting, nanti takutnya kelupaan."
"Enggak mau, mesti ngomongnya langsung gak bisa lewat telepon."
"Oooh gitu.. Oke, tunggu minggu depan berarti." Hati Ika menjadi berdebar. "Mungkinkah Kak Eric akan menyatakan cinta yah?" Batin Ika. "Aduh, gue mesti jawab apa kalau nantinya emang bener begitu." Sepanjang malam Ika terus memikirkan hal yang ingin Eric bicarakan. "Pasti yang Kak Eric ingin bicarakan tentang hubungan kita, hubungan yang selama ini dekat tanpa status." Tebak Ika penuh keyakinan. "Gue mesti jelas kalau gak bakal mau menjalin hubungan dengan playboy. Daripada nantinya gue makan hati sendiri. Ayo Ika, lu mesti bisa teges." Ika terus melanjutkan pikirannya sendiri.
***
Hari ini Yoga sudah bisa pulang ke apartemen. Awalnya Boy berencana menemaninya, akan tetapi ada pekerjaan dari atasannya yang membuatnya harus kembali ke kantor. Akhirnya Anya seorang diri membantu Yoga pulang ke apartemen. Anya membantu Yoga turun dari brankar dan naik ke kursi roda. Setelah itu mereka berdua bergegas ke parkiran. Barang-barang Yoga sudah dikemasi dalam mobil terlebih dahulu.
Sesampainya di apartemen, Anya memapah Yoga untuk masuk dan menaiki lift. Mereka sampai di depan apartemen Yoga dan masuk ke dalam. Anya membantu Yoga duduk di sofa. Anya berkeliling sejenak melihat interior apartemen yang tampak maskulin.
"Anya ambil barang dulu yah Kak, tunggu."
Anya bergegas turun ke basement untuk mengambil tas berisi barang-barang Yoga. Saat akan kembali ke atas, Anya melihat sosok yang Ia kenal. Gista.
Gista bergelayut manja kepada laki-laki yang hendak memasuki mobilnya. Ia melambaikan tangan hingga laki-laki itu berlalu dengan mobilnya. Gista melihat kehadiran Anya. Ia mendatangi Anya.
"Ups, ada siapa disini. Pacar yang gak direstui yah." Sindir Gista sambil berjalan mendekati Anya.
"Siapa bilang gue gak direstui? Lu sok tau deh." Balas Anya.
"Kalau tante Inneke masih bolehin gue deketin Yoga, artinya lu bisa dengan mudah gue usir dari hidup Yoga, calon suami gue."
"Mana mau Kak Yoga sama cewek yang gelendotan ke cowok mana aja. Kayak eeemmmh gak punya harga diri." Ucap Anya sinis sambil berlalu.
"Sial*n. Awas aja lu. Gue bakalan miliki Yoga dan bikin lu tau siapa gue." Ancam Gista sambil berteriak.
"Uuu takut. Ada tante-tante lagi marah. Kabuuur." Ejek Anya sambil berbalik badan. Anya meninggalkan Gista yang masih kesal dengannya.
"Awas lu, berani-beraninya ngeremehin Gista. Semua laki-laki harus bertekuk lutut sama gue." Gumam Gista.
Anya kembali ke apartemen..
"Kok lama sayang?" Tanya Yoga.
"Tadi ketemu calon istrinya kakak." Ucap Anya sambil manyun dan membereskan tas berisi pakaian Yoga.
"Siapa maksudnya?"
"Tuh si tante ngeselin."
"Iya kali, aku mana tau namanya. Gak pernah kenalan." Jawab Anya cuek sambil nyelonong masuk ke kamar Yoga untuk menaruh baju di lemari. Setelah selesai Ia duduk di sofa samping Yoga dengan wajah cemberut.
"Emang ngobrol apa sama Gista?"
"Intinya tuh calon istri kamu gak bakal nyerah buat dapetin kamu. Kesel dengernya." Anya tetep manyun.
"Maaf ya sayang, aku gak nyangka Gista senekat itu walaupun dia tau aku punya pacar."
"Iya, aku tau itu bukan salah kamu sayang. Tapi aku kesel aja rasanya."
"Itu namanya cemburu Anya sayang."
"Iiih enggak ya, siapa yang cemburu. Week."
"Itu cemburu sayangku."
"Tau aaahhh, aku mau pulang aja."
"Jangan dong, kan Boy belum dateng. Aku belum bisa ngapa-ngapain sendiri nih. Aaah aaah sakit.." Keluh Yoga.
"Kakak kenapa? Mana yang sakit?" Anya panik, namun Yoga malah tersenyum-senyum.
"Iih kakak nih ngerjain aku yah."
"Maaf sayang." Yoga menarik tangan Anya yang akan beranjak dari sofa hingga terjatuh sangat dekat dengan Yoga.
"Jangan marah-marah dong sayang. Aku kan lagi sakit, masa dimarahin terus." Yoga menyandarkan kepalanya di bahu Anya.
"Abis, kakak ngeselin. Si tante-tante itu tadi juga ngeselin banget. Kakak mau rebahan di kamar kah? Kalau iya biar Anya bantu."
"Rebahannya ditemenin kamu?" Yoga tersenyum jahil.
"Iiih apaan yah. Jangan aneh-aneh pikirannya."
"Enggak deh, aku duduk disini dulu aja. Kemarin-kemarin udah rebahan terus di rumah sakit."
__ADS_1
"Kalau gitu makan dulu yah. Mau aku masakin?"
"Mau sih yang, tapi aku gak ada bahan makanan."
"Yaudah kita pesan makanan yah, aku pesanin dulu."
Mereka makan bersama dan menunggu hingga Boy datang. Menjelang sore Boy datang, dan Anya berpamitan pulang kepada kedua lelaki yang berprofesi sebagai polisi itu.
***
Siang hari Sonya melamun sambil makan siang di cafetaria. Ia kawatir dengan kondisi adiknya apalagi setelah Anya cerita bahwa orangtua Yoga menjodohkan Yoga dengan wanita lain. Ia tau bahwa banyak orangtua yang menginginkan anaknya segera menikah apabila umurnya sudah matang. Tentunya hal itu terjadi pada Yoga karena dia sudah cukup umur. Pikirannya jadi melayang kepada Ezza. "Apa mungkin Ezza juga didesak buat nikah juga yah sama orang tuanya?" Batin Sonya. Sonya melamun tanpa sadar Ezza sudah di depannya.
"Uhuk.." Ezza pura-pura batuk untuk membuyarkan lamunan Sonya, tapi Sonya tetap tidak menyadarinya.
Ezza duduk di depan Sonya dan melambaikan tangannya di depan mata Sonya yang menerawang entah kemana.
"Eehh sorry sorry.." Sonya tersentak kaget dengan kehadiran Ezza.
"Sejak kapan disini sayang?" Sambung Sonya.
"Dari tadi. Ngelamunin apa sayang? Ada masalah?"
"Enggak sayang, cuma mikirin Anya aja kok sayang."
"Gimana kondisi Anya?"
"Dia baik, pacarnya juga udah mulai membaik kondisinya. Sudah boleh pulang ke rumahnya juga. Tapi aku kepikiran satu hal sayang."
"Kepikiran apa?"
"Pacarnya Anya dijodohin sama cewek lain karena orangtuanya pengen dia segera nikah. Orangtuanya tau kalau Anya masih kuliah dan belum mau menikah dalam waktu dekat." Ezza mengangguk memahami kegelisahan Sonya pada adiknya.
"Semua nanti tergantung pacar Anya, keputusan ada di dia mau mempertahankan hubungan yang pasti akan sulit ke depannya, atau menyerah dengan hubungan mereka dan menuruti keinginan orangtua."
"Aku cuma kawatir, Anya belum pernah patah hati sayang. Kalau nantinya hubungannya dengan Yoga berakhir buruk, aku takut Anya kenapa-kenapa. Anya tumbuh sambil melihat bagaimana mama depresi saat kehilangan papa. Itu yang membuat aku kawatir sama Anya."
Ezza tersenyum, memegang tangan Sonya.
"Aku paham kekawatiran kamu sayang. Kamu benar-benar kakak yang baik. Aku salut sama kamu."
"Yang, kamu gak disuruh cepet-cepet nikah kan sama orangtua kamu?" Selidik Sonya.
Ezza kaget dengan pertanyaan tiba-tiba dari Sonya. Ia tertawa.
"Jangan-jangan ini yang bikin kamu galau juga yah?" Tebak Ezza.
"Yah sedikit sayang, aku takut jadinya kamu juga disuruh cepet nikah."
"Kalau disuruh cepet nikah beneran gimana? Kan kamu udah selesai kuliah, udah kerja bahkan, gak kayak Anya yang masih harus selesaiin kuliah."
Sonya bingung harus menjawab.
"Aku bingung Ezza. Aku sayang sama kamu, tapi jujur aku takut untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Mungkin masalahnya di aku, aku takut gak bisa jadi istri yang baik."
"Sonya, pernikahan adalah proses belajar. Aku tidak pernah menuntut kamu untuk jadi istri yang baik. Aku pengen kita berproses bersama menjadi partner untuk menjalani kehidupan ini. Saling support, saling berbagi kebahagiaan dan kesedihan. Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Bersama-sama kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi satu sama lain. Jadi, jangan berfikir ketakutan tidak bisa menjadi istri yang baik. Aku yakin kamu akan menjadi istri dan ibu yang hebat nantinya."
Sonya tersipu mendengar ucapan Ezza.
"Semoga ya. Tolong kasih aku waktu ya Ezza. Sampai aku benar-benar siap dan bisa mengatasi ketakutanku sendiri."
"Iya sayang, aku siap nungguin kamu. Tapi jangan kelamaan juga yah. Emang kamu gak pengen punya bayi yang lucu-lucu. Yang cantik kayak ibunya."
"Pengen. Kalau cowok nanti ganteng kayak ayahnya." Kedua tersenyum sambil bertatapan, tatapan keduanya teduh dan nampak ada cinta yang terpancar.
"Jadi sekarang jangan galau dan mikir aneh-aneh lagi. Oke?" Ezza membelai punggung tangan Sonya.
"Oke."
"Eeh, tapi kalau aku kenalin sama mama mau gak sayang? Gak ada maksud apa-apa sih. Aku cuma pengen mama dan kamu saling kenal aja, ngobrol-ngobrol gitu. Mama pasti seneng banget ketemu kamu, jadi ada temen cerita."
"Iya boleh sayang. Tapi yakin mamamu bakal suka sama aku sayang?"
"Yakin dong, gak ada alasan mama buat gak suka sama kamu sayang. Aku yakin mama pasti suka sama kamu."
"Aku jadi gugup sayang."
"Santai aja sayang, cuma kenalan biasa aja kok. Nanti coba aku tanya ke mama kapan ada waktu untuk ketemu kamu."
__ADS_1
"Iya sayang."
Sonya melanjutkan makan siangnya bersama Ezza. Mereka saling bercerita kegiatan satu sama lain. Setelah selesai makan siang, Ezza kembali ke proyek untuk mengecek kelanjutan pembangunan. Sonya kembali ke ruangan untuk menunggu jadwal prakteknya. Ia melamun membayangkan rencana pertemuannya dengan mama Ezza nantinya. "Semoga mama Ezza bisa nerima gue. Duh kenapa gue grogi dari sekarang sih." Batin Sonya. Wajar bagi Sonya merasa grogi membayangkan perjumpaannya dengan mama Ezza, ini pertama kalinya Ia akan berkenalan dengan orangtua pacarnya. "Pokoknya gue harus berpenampilan yang sopan. Jangan sampe merusak kesan pertama. Semangat Sonya, kamu pasti bisa mencuri hati calon mama mertua." Gumam Sonya.