
Mama dan papa Gista murka mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Gista hanya tertunduk sambil duduk di sofa apartemennya.
"Maafin aku ma, pa. Gista khilaf."
"Mama kecewa sama kamu Gista. Mama gak nyangka kamu jadi wanita perebut suami orang. Mama tidak pernah mengajari kamu seperti itu Gista." Ucap mamanya berapi-api.
"Maafin Gista ma, Gista sudah berniat meninggalkannya. Tapi Gista ternyata baru tau kalau hamil."
"Kamu minta orang itu bertanggung jawab. Kalian harus menikah!" Papa Gista berbicara sambil memegang kepalanya karena tak habis pikir dengan kelakuan putrinya.
"Apaaa? Gista gak mau pa, nikah sama tua bangka itu bisa bikin reputasi aku turun. Lagian, orang itu juga sudah bangkrut. Gimana dia nanti bisa nafkahin aku dan bayi ini." Ucap Gista sambil memanyunkan bibirnya.
"GISTA! Kapan kamu dewasa?" Teriak papa Gista murka.
"Kamu harus bertanggung jawab atas semua yang sudah kamu lakukan. Kamu harus menikah dengan ayah kandung bayi itu."
"Tapi paaa.. Om Faisal itu seumuran papa. Emang papa gak mau punya menantu seumuran papa?" Ucap Gista kekeh tidak mau jika Om Faisal menikah dengannya.
"Papa tidak mau tau. Kamu harus menikah dengan ayah bayi itu. Setelah itu, jangan harap kamu bertemu mama dan papa lagi."
Gista terhenyak dengan ucapan papanya. Sejak kecil Ia tidak pernah mendengar papanya semurka ini. Gista terpaksa menghubungi Om Faisal dan meminta pertanggungjawabannya. Ia sengaja menuruti keinginan papanya agar emosi papanya cepat mereda. "Aku yakin papa gak akan tega sama aku." Batin Gista.
Papa dan mama Gista meminta alamat Om Faisal dan berencana besok pagi akan mendatangi Om Faisal ke rumahnya.
Gista masuk ke kamarnya. Ia merasa kesal karena semua rencananya gagal. Bukannya berhasil menikah dengan Yoga, Ia justru harus menikah dengan si tua bangka.
"Siaaalllll. Gue mesti gimana ini. Gue gak mau nikah sama si tua bangka." Gumam Gista sambil mengacak-acak rambutnya.
***
Selly menerima panggilan wawancara kerja. Tak lain dan tak bukan di rumah sakit tempat Sonya dan Iqbal bekerja. Selly segera menuju rumah sakit dan menuju ruang hrd untuk melakukan wawancara. Cukup lama Ia menunggu giliran untuk wawancara, sampai akhirnya tiba waktu giliran Selly wawancara.
Selly memang wanita yang cerdas dibidangnya. Walaupun vakum bekerja Ia selalu memperbarui ilmunya dengan membaca jurnal terbaru mengenai dunia farmasi. Setelah hampir 15 menit melakukan wawancara, Selly dinyatakan berhasil untuk dapat bekerja sebagai apoteker di rumah sakit tersebut, Selly dapat mulai bekerja esok harinya.
Esok harinya Selly mulai bekerja, Ia datang di pagi hari. Di depan lobby, Selly tak sengaja bertemu dengan Sonya. Sonya yang melihat Selly, berusaha tetap tenang. Sonya mencoba menyapa Selly dengan menganggukkan kepalanya dan dibalas dengan hal yang sama oleh Selly. "Kenapa wanita itu disini?" Gumam Sonya saat berjalan mendahului Selly menuju ruangan kerjanya.
Sonya mencoba fokus bekerja mengingat momen dinner semalam yang sangat romantis dengan Ezza. Ia tidak mau moodnya rusak hanya karena melihat Selly di pagi hari. Perawat memasuki ruang praktek Sonya, mereka mengobrol bersama sebelum nantinya antrian pasien mengular.
"Dokter Sonya udah tau pegawai baru di farmasi?"
Sonya menggeleng.
"Siapa emang?"
"Denger-denger itu mantannya dokter Iqbal. Aku dapet info dari anak farmasi juga yang dulu temen kampus anak baru itu. Dia pernah liat kalau temennya itu pacaran sama dokter Iqbal waktu jaman kuliah."
"Tunggu, maksud kamu Selly?"
"Aaahh iya bener dok. Namanya Selly. Dokter Sonya kenal?"
"I iya aku tau dia kok. Jadi dia kerja disini? Mulai kapan?"
"Mulai hari ini dok. Kemarin udah sempet kenalan si sama anak farmasi yang lain."
"Ooh gitu ya." Sonya berpura-pura tersenyum pada perawat tersebut.
Sonya memutuskan ke ruangan Iqbal saat jam makan siang. Ia mencari sepupunya tersebut.
Iqbal sedang di ruangannya dan sibuk di depan laptop.
"Baaalll." Sapa Sonya dan duduk di sofa.
"Hmmm... Ada apaan kok kayak gawat banget?" Tanya Iqbal sambil tetap menatap laptopnya.
"Gue ada info yang bikin lu shock pasti."
"Apaan?"
"Gue baru denger dari perawat tadi, kalau ada pegawai baru bagian farmasi."
"Emang kenapa? Cakep gitu pegawai barunya? Mau lu jodohin sama gue?"
"Ngapain gue jodohin lu sama dia. Lu udah pernah berjodoh bentar sama tuh orang. Terus berpisah karena orang ketiga." Jawab Sonya.
__ADS_1
"Selly?" Iqbal menghentikan aktivitasnya di depan laptop. Ia menatap Sonya mencari jawaban dari pertanyaannya walaupun sebenarnya Ia sudah tau siapa orang yang dimaksud.
"Yup. Selly kerja di sini sekarang. Gue gak nyangka loh. Parahnya lagi orang-orang pada tau kalau lu mantannya Selly."
"Yaudah lah, gue juga udah gak ada urusan sama dia. Dia juga taunya gue udah punya pacar." Ucap Iqbal keceplosan.
"Pacar? Siapa? Waaah ada yang lu sembunyiin ya dari gue?"
"Aduuuh bukan gitu maksud gue emhh temen deket, iya maksud gue temen deket."
Sonya memicingkan mata tanda tidak percaya dengan ucapan Iqbal.
"Seriusan. Kenapa liatin begitu?" Iqbal salah tingkah.
"Jujur lu sama gue. Apa yang udah lu sembunyiin?"
"Gak ada, beneran deh."
"Oke, gue gak mau ngobrol lagi kalau gitu. Bye." Sonya hendak beranjak meninggalkan ruangan Iqbal.
"Iya iya gue ceritain." Iqbal menyerah dengan ancaman Sonya.
"Jadi beberapa hari lalu Selly nemuin gue buat ngebujuk lu untuk batalin pernikahan."
"Gila ya, masih aja tuh orang. Terus?"
"Terus gue bilang gue gak mau dan gak bisa. Malah dia bilang gue gak mau bantu karena gue gagal move on sama dia."
"Serius lu? Iiih ngeselin banget sih."
"Nah si Mela sempet liat gue gitu, akhirnya pas dia tau ceritanya dia nawarin bantuin ke gue. Kita pura-pura pacaran biar Selly gak ngira gue gagal move on."
"Ciiieeee.. Pacar beneran juga gak nolak kok." Goda Sonya.
"Iya gue gak nolak, Mela yang nolak." Mereka berdua tertawa bersama.
"Terus Sellynya gimana?"
"Ya sekarang dia udah gak gangguin gue lagi. Gue jamin dia juga gak berani ganggu lu deh. Secara dia kerja disini, emang dia mau dipecat kalau cari masalah sama lu."
"Yaaah, jangan males dong, pliiis. Lu tau sendiri kerjaan gue udah banyak."
"Calon direktur rumah sakit harus terbiasa dong."
"Eeehh, enak aja lu. Ini rumah sakit kakek lu tau."
"Kakek lu juga."
"Pokoknya bantuin, gue capek banget nih tiap hari banyak banget laporan yang mesti di cek."
"Iya iya. Gue bantuin. Tapi sekali dia cari masalah, gue ogah lagi loh ya."
"Iya iya, gue jamin dia udah gak ada ide lagi buat cari masalah sama lu. Kita mesti profesional."
"Yeee gaya lu. Awas aja kerja gak profesional gara-gara galauin Mela."
"Jangan gitu dong. Doain kerjanya jadi semangat karena bisa dapetin Mela." Ucap Iqbal senyum-senyum.
"Udah mulai miring nih orang, senyum-senyum sendiri. Yaudah gue balik ke ruangan, abis itu cekin stok obat ntar laporannya gue email. Bye."
"Thankyou.. Bye.." Ucap Iqbal melambaikan tangan sambil memutar kursi kerjanya, tetap dengan senyum-senyum sendirinya.
***
Papa dan mama Gista pergi ke rumah Om Faisal pagi hari. Gista dengan terpaksa ikut kesana agar tidak terjadi keributan. Mereka sampai di depan rumah sederhana. Mereka turun dan menekan bel. Tak lama Om Faisal keluar dari rumah dan membuka pagar.
Om Faisal kaget dengan kedatangan Gista dan orang tuanya yang meminta pertanggungjawabannya atas kehamilan anak semata wayangnya. Mereka semua duduk di ruang tamu yang sederhana. Gista menatap sekeliling dengan risih. Ia tidak bisa membayangkan jika nanti menikah dengan Om Faisal dia akan tinggal disini. Dia sangat tidak rela.
"Begini Pak, saya sudah tau bahwa anak saya hamil. Dan bapak adalah ayah kandung dari bayi tersebut. Saya minta pertanggungjawaban bapak untuk menikahi anak saya." Ucap papa Gista.
"Gista mohon jangan pa." Gista berbisik memohon pada papanya.
"Saya akan menikahi Gista. Tapi apa Gista bersedia?" Balas Om Faisal.
__ADS_1
"Saya rasa kesediaan Gista tidak diperlukan. Bersedia atau tidak, dia juga harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya."
"Baik pak, saya akan menikahi Gista. Tapi saya hanya bisa menikah secara sederhana."
"Sederhana lebih baik, supaya tidak menjadi aib bagi keluarga." Ucap mama Gista sinis.
"Tolongin Gista ma." Gista mencoba menarik lengan mamanya yang ditepis begitu saja oleh mamanya.
Tak berselang lama mereka pamit setelah merencanakan tanggal pernikahan. Pernikahan dilakukan tiga hari lagi. Karena masih diperlukannya kepengurusan berkas untuk menikah.
Di perjalanan Gista menangis dan memohon pada mama dan papanya untuk tidak menikahkannya dengan Om Faisal. Ia berjanji tidak akan mengulang semuanya. Sampai di apartemen pun Gista tak hentinya meminta untuk kedua orang tuanya membatalkan rencana pernikahan tersebut.
"Plis ma, pa jangan nikahin Gista sama tua bangka itu. Setelah melahirkan anak ini, Gista akan kasih bayi ini ke ayah kandungnya. Gista gak akan pernah mengungkit bayi ini lagi. Pliis." Gista memohon dengan sangat.
"GISTA! Itu anak kamu. Tega kamu sama bayi dikandungan kamu." Bentak mamanya.
"Tapi Gista gak ingin bayi ini ma. Bayi ini kesalahan yang harusnya Gista tutupi seumur hidup."
PLAAAKKK!! Tamparan mendarat di pipi Gista. Papa Gista geram dengan semua ucapan anak semata wayangnya.
"Papa gak nyangka kamu tumbuh menjadi wanita seperti ini. Setelah semua ini terjadi, bukannya sadar kamu malah semakin menjadi seperti ini. Papa dan mama sangat kecewa dan malu sama kamu."
"Maafin Gista pa. Tapi Gista cuma pengen hidup sendiri. Gista belum siap nikah."
"Setelah pernikahan itu terjadi, kamu urus hidup kamu sendiri. Jangan pernah temui papa dan mama! Papa akan jual apartemen ini, dan kamu ikut dengan suami kamu!"
Gista kaget mendengar ucapan papanya yang terlihat sangat emosi. Papa Gista nampak serius dengan ucapannya. Gista semakin bingung bagaimana nasibnya nanti. Apartemen mewah yang selama ini ditinggalinya akan dijual. Sudah pasti Ia tidak memiliki tempat tinggal lain selain ikut dengan Om Faisal.
***
"Gimana kak hasilnya?" Tanya Ika antusias sambil menunggu Eric keluar dari sebuah gedung serbaguna.
Eric menggeleng.
Ika tersenyum dan menepuk pundak Eric.
"Sabar yah kak. Jangan patah semangat."
"Iya tapi udah berkali-kali kok gagal terus." Eric tertunduk lesu. Mereka duduk di sebuah kursi taman yang ada di halaman gedung serbaguna tersebut.
"Ini udah kesekian kalinya aku wawancara, tapi kenapa kok sulit sekali buat dapat kerja."
Eric sempat senang beberapa minggu lalu karena ada panggilan kerja dari sebuah perusahaan besar. Ika juga dengan semangat membantu Eric untuk berlatih wawancara, mereka bersama berlatih dengan melihat video di internet bagaimana cara wawancara pekerjaan yang baik. Akan tetapi hasilnya nihil. Hari ini Eric tetap saja gagal, membuatnya sangat terpuruk.
Eric takut jika Ika kecewa padanya, melihatnya sebagai laki-laki yang tidak bisa diandalkan. Dulu Eric memang tidak pernah serius dalam menjalani kehidupannya. Namun, setelah Ia berteman dengan Vico, Ia mulai berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Apalagi saat mulai mengenal Ika dengan baik, Ia mulai tau apa itu tanggung jawab dan tujuan hidup sebagai manusia.
"Kak, kalau kakak menyerah sekarang. Kakak gak akan tau apa yang bisa kakak capai di kemudian hari." Ucap Ika menenangkan. Eric tersenyum mendengar ucapan Ika yang terdengar sangat menghibur.
"Tapi, kamu gak malu punya pacar pengangguran kayak aku gini?" Ika menggeleng.
"Kalau kakak gak berusaha, baru Ika bakal malu. Tapi Ika tau banget usaha kakak seperti apa. Ika sangat salut sama kakak yang pantang menyerah. Ika gak malu punya pacar yang pengangguran tapi ganteng kayak kakak."
"Waah kalau gitu aku nganggur aja deh. Jadi kalau kita nikah, kamu yang kerja. Gimana?" Tanya Eric sambil nyengir berniat menggoda Ika.
"Nikah?" Ika justru salah tingkah mendengar kata nikah yang diucapkan Eric.
"Iya nikah sayang. Emang kamu gak mau nikah sama aku? Apa aku kurang ganteng?" Ika tertawa mendengar pertanyaan Eric.
"Hemmm, mau gak yah. Kalau kurang ganteng sih bisa lah di permak-permak dikit." Ucap Ika menggoda Eric yang membuat Eric semakin gemas dengan kekasihnya itu.
"Harus mau nikah sama aku dong. Setelah semua impian kita tercapai, kita nikah dong sayang. Kita sama-sama berjuang buat itu semua."
Ika tersipu mendengar ucapan Eric. Ia tidak menyangka Eric berpikir sejauh itu tentang hubungan yang mereka jalin. Walaupun jalan masih sangat panjang, namun ucapan Eric tadi cukup membuat Ika yakin bahwa Eric tidak main-main dengan hubungan asmara mereka. Ika sadar jalan masih panjang, Ia masih ingin bekerja, melanjutkan pendidikannya, begitu juga Eric yang ingin bisa mandiri secara finansial. Ika hanya berdoa dalam hatinya, semoga semua impian mereka tercapai dan bisa saling mendukung satu sama lain.
"Oke, abis ini aku cari lowongan lain lagi. Semangat. Biar bisa cepet nikahin kamu." Eric mengangkat kepalan tangannya untuk menyemangati dirinya.
"Emmmhhh, Ika pikir-pikir dulu aah nikah sama kakak." Jawab Ika sambil tertawa dan berlari meninggalkan Eric yang masih terduduk.
"Eehh tunggu." Eric mengejar Ika yang sudah berlari meninggalkannya.
"Kejar aja kalau bisa. Weekkk." Ledek Ika.
"Awas yaaa, kalau dapet gak bakal aku lepas. Aku pasung dihatiku." Gombal Eric.
__ADS_1
"Tukang gombal." Ika tertawa mendengar ucapan Eric dan terus menghindari kejaran Eric agar tidak tertangkap. Mereka berdua tertawa bersama melupakan kegalauan Eric hari ini.