
Penelitian tiga serangkai sudah selesai. Kini Mela, Ika dan Oki tinggal menyusun laporan skripsi mereka dan menjalani sidang. Oki sering memilih mengerjakan laporan di perpus kampus agar bisa bertemu dengan kekasihnya.
Beda dengan Ika dan Mela yang kadang mengerjakan laporan sambil ngedate dengan pasangan masing-masing. Atau mengerjakan bersama di kosan Ika.
Dua bulan berjuang dengan hebohnya mengerjakan laporan saat dituntut deadline oleh dosen, akhirnya ketiga sahabat Anya diperbolehkan menjalani sidang akhir. Sebelum menjalani sidang, tak lupa Anya menyemangati ketiganya karena tidak bisa datang langsung melihat mereka sidang. Anya juga menyiapkan kejutan spesial untuk ketiga sahabatnya walaupun Ia tak bisa hadir.
"Selamat Mela, Ika dan Oki kalian bertiga lulus dengan revisi." Ketiganya tak henti bersyukur dan bahagia.
Oki yang keluar ruangan dan disambut Sisil yang ikut bahagia dengan kelulusan pacarnya.
"Selamat sayang." Ika memberikan bucket snack untuk Oki.
Berbeda dari Oki, Mela dan Ika hanya keluar ruangan untuk mencari telpon genggam dan mengabari kekasih masing-masing bahwa mereka berhasil lulus. Eric dan Iqbal ikut bahagia mendengar kabar kelulusan kekasih mereka.
"Gimana kabar kak Eric, Ka?" Tanya Mela saat keduanya mengakhiri panggilan.
"Kak Eric baik kok. Dia ada usaha bengkel sekadang, walaupun awalnya dibantu sama papa tirinya yang ternyata baik banget. Tapi Kak Eric tetap usaha untuk balikin semua bantuannya nanti, pelan-pelan. Tapi gue seneng liat hubungan kak Eric sama orangtua kandung dan tirinya makin akrab dan baik."
"Oiya? Gue ikut seneng dengernya. Gue gak nyangka Eric bisa jadi seperti sekarang. Semua karena bucin sama lu, Ka."
"Iya Mel, gue juga awalnya ragu sama kak Eric. Eeh sekarang udah nyaris bucin. Gue gak nyangka pengorbanan dia besar banget buat dapetin cewek se ordinary gue ini."
"Heeeiii, lu itu gak ordinary. Lu itu istimewa, Ka. Lu cewek yang lembut dan keibuan. Gak macem gue yang bar-bar. Semua yang di deket lu itu rasanya tenang banget. Jadi stop mikir lu itu cewek biasa. Lu itu luar biasa. Ngerti?"
Ika tersenyum mendengar ucapan Mela tentang penilaiannya pada dirinya.
"Terus pacar lu gimana, Mel?"
"Gak gimana-gimana. Dia bilang udah yakin kalau gue bakal lulus. Gak asik banget ya. Dia buru-buru juga mau ada operasi, jadi cuma ngucapin selamat abis itu finish deh telponannya." Curhat Mela sambil menghela nafas panjang.
"Cieee, ada yang sensi karena pacarnya sibuk. Tapi gue liat lu sama kak Iqbal cocok banget deh Mel. Lu yang bar-bar dan to the point begini, sedangkan kak Iqbal yang kalem dan hati-hati banget. Gue selalu berdoa happy ending buat kalian. Lu harus bahagia beb." Ucap Ika tulus.
"Aaakkk sayangku cintakuuu. Makasih ya. Gue sedih bayangin bentar lagi kita bakal masing-masing nentuin jalan hidup. Tapi lu tetep sahabat terbaik buat gue, Ka." Kedua wanita itu berpelukan.
"Ikutaaan dong." Oki menggoda Mela dan Ika ingin berhambur ke pelukan keduanya.
"Heeeh, inget tuh ada Sisil." Mela segera menahan tubuh Oki dan diiringi senyuman Sisil yang melangkah perlahan di belakang Oki.
"Iya kan kita bestfriend gaes, masa gak diajak pelukan sih." Oki manyun.
__ADS_1
"Tuh ajak Sisil aja pelukan. Kita kan gak ada yang diajak pelukan, jadi gini deh pelukannya." Jelas Ika.
"Ahahaha kasian banget. Kalau abis sidang dan lulus itu gini, ada yang dateng nyemangatin dan ngasih selamat. Dapet peluk lagi." Oki memeluk bahu Sisil.
"Sabar-sabar yah Sil punya pacar macem Oki gini." Ucap Mela pada Sisil.
"Udah sabar banget kok Kak. Doain makin sabar yah Kak." Ucap Sisip menimpali, diikuti tawa dari Mela dan Ika.
"Kok gitu sayang, aku kan pengertian banget padahal. Dewasa juga loh." Oki menyombongkan diri.
"Iyain aja deh Sil, kasian baru lulus jangan dibikin sedih." Ika menimpali kesombongan Oki.
"Iya deh, aku iyain aja. Kakak emang paling ngerti buangeeeetttttt sampai susah dikasih tau dan maunya sendiri." Ucap Sisil seolah menyanjung dan diikuti tawa semuanya.
"Tuuuh curhatan dari hatinya Sisil." Mela tertawa.
***
Andre bertemu dengan Airelle saat weekend. Hubungan Andre dengan Airelle sudah sangat dekat. Ia juga cukup dekat dengan Selly, walaupun Selly masih kadang menutup diri terhadap Andre.
Melihat bagaimana tumbuh kembang Airelle membuat Andre semakin ingin menjadi sosok ayah yang nyata bagi Airelle. Selama ini kedekatan Airelle semata karena gadis kecil itu nyaman dengan Andre yang dikenal sebagai teman mamanya. Andre ingin Airelle tau bahwa Ia adalah ayah kandung dan akan selalu ada untuk Airelle. Andre ingin menebus masa-masa dimana Ia tidak hadir saat Airelle bertanya dimana ayahnya.
Selly semakin luluh melihat kedekatan ayah dan putrinya. Namun, Selly tidak ingin hatinya terjerat lagi. Sudah cukup bagi Selly kebodohan di masa lalu. Sebagai seorang ibu, Selly juga sangat ingin memberikan keluarga yang utuh bagi Airelle. Akan tetapi ketakutan kegagalan menghampiri Selly. Bagaimana mungkin Ia bisa menjalin hubungan serius dengan seorang Andre? Bahkan masa lalu mereka saja sama-sama menjalin hubungan sebagai selingkuhan satu sama lain. Selly merasa tak pantas memperjuangkan semua ini.
Andre menghampiri Airelle yang sudah sedari pagi heboh menunggu kedatangannya. Andre berjanji akan membawa mainan yang diminta Airelle jika Airelle berhasil melewati challenge untuk menuruti perkataan mamanya selama seminggu. Ternyata Airelle berhasil untuk melakukan challenge. Ia berhasil dan menagih mainan yang dijanjikan.
Sambil senyum-senyum dan membawa mainan Andre memasuki pekarangan rumah Selly. Tanpa mengetuk pintu, dari dalam pintu langsung terbuka dan Airelle menyambut Andre.
"Om ganteeeeenggg." Airelle segera memeluk Andre.
"Hello sweetyyy.. Cantik banget sih."
"Makasih om. Oiya, mana hadiah buat Airelle om? Airelle kan udah jadi anak baik." Pinta Airelle tidak sabar.
"Ada dong. Ini diaaa.." Andre mengeluarkan hadiah yang sudah di bungkus. Airelle sangat menyukai barbie, dan Andre berhasil membelikan seri terbaru boneka barbie.
"Makasih yah om. Airelle seneng bangeeet." Airelle segera membuka hadiah dengan tidak sabar. Ia merobek kertas bungkus demi bisa melihat barbie di dalamnya.
"Om, ini kan barbie terbaru. Airelle sukaaa bangeeet. Makasih ya om." Airelle lompat kegirangan.
__ADS_1
"Sama-sama cantik."
"Coba om Andre ayahnya Airelle. Pasti Airelle bahagia banget." Ucap Airelle asal sambil memandangi barbie barunya.
"Memangnya kalau om Andre jadi ayahnya Airelle, Airelle mau?" Tanya Andre dengan rasa berharap.
"Mau dong om. Om kan ganteng, baik. Airelle mau banget om jadi ayahnya Airelle."
"Airelle, jangan ngomong aneh-aneh. Gak enak sama om Andre." Selly datang mengejutkan keduanya.
"Selly.. Gak papa kok Sel. Namanya anak kecil pasti punya keinginan. Jadi gak masalah." Andre mencoba menenangkan Selly yang sudah memasang wajah musam.
"Airelle main di dalam yah. Mama mau bicara sama om Andre dulu."
"Mama.." Airelle memanggil Selly saat sudah mendekati pintu rumah.
"Apa sayang?"
"Airelle setuju kalau mama sama Om Andre mau menikah." Airelle berhambur masuk ke dalam rumah menyisakan Selly dan Andre yang mematung kaget mendengar ucapan Airelle.
"Ngo.. ngomong apaan sih anak itu. Ngaco banget.." Selly salah tingkah.
"Aku seneng kalau Airelle setuju. Berarti aku tinggal berjuang buat ngeyakinin kamu." Jawab Andre bersemangat.
"Maksud kamu? Aku bolehin kamu bertemu Airelle karena aku gak mau misahin ayah dan anak. Bukan berarti kita bisa menikah dan jadi keluarga." Selly bersikeras.
"Kalau dulu aku tau kamu hamil Sel, aku akan tinggalin wanita manapun dan nikahin kamu." Selly terdiam mendengar ucapan Andre.
"Kalau enggak? Kamu bebas ninggalin aku setelah aku ngasih kamu kesucian aku? Stop Andre, berhenti bikin aku terlihat bodoh. Aku yang rela kasih semua buat kamu, gak semestinya aku nuntut kamu apapun. Bahkan dari awal aku harusnya tau kalau hamil adalah resiko yang harus aku tanggung." Selly berusaha menahan tangis mengingat kepiluan masa lalu.
"Selly, dengerin aku. Aku tau aku bukan lelaki yang baik. Tapi aku ingin berubah lebih baik. Aku berharap kamu mau memberi aku kesempatan untuk menebus kesalahanku yang lalu, dan membahagiakan kalian berdua sekarang."
"Aku gak yakin bisa bahagia jika mengingat masa kelam itu Ndre. Sorry." Selly masuk ke dalam rumah, Ia tak perduli dengan kedatangan Andre.
Selly tidak ingin hatinya goyah. Ia tau masih ada sisa rasa untuk Andre yang bisa bersemi kembali jika Andre bersikeras. Namun, Selly mencoba untuk memberi jarak agar perasaan itu tidak tumbuh kembali.
Andre berjalan dengan gontai menuju mobil. Ia merutuki kebodohan masa lalu yang membuatnya kehilangan masa kini. Andai dulu Ia tidak terlalu bebas dan lebih mementingkan perasaan. Pasti kini Ia bisa hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Andre membayangkan betapa bahagianya jika Ia bisa hidup bersama Airelle dan Selly. Bagaimana Ia akan menjalani hari dengan penuh semangat, bahkan untuk bekerja dan pulang ke rumah semua akan sangat berarti.
"Airelle.. Papa janji akan berusaha menyatukan keluarga kita. Papa akan janji menebus kesalahan papa. Papa akan bertanggung jawab apapun resiko yang akan papa hadapi." Gumam Andre memberi semangat diri sendiri.
__ADS_1
Andre sudah sangat menyayangi Airelle. Bagaimana Ia tidak menyayangi gadis cantik nan manja yang sangat mirip dengan masa kecilnya. Setiap Andre melihat Airelle, Ia hanya ingin memberikan apapun untuk kebahagiaan gadis mungil itu. Andre juga heran dengan dirinya sendiri, Ia berubah dalam sekejap setelah melihat darah dagingnya sendiri. Ia bahkan tak menyangka rasa sayang dengan anak akan sebesar ini. Mungkin proses inilah yang bisa membangun kedewasaan bagi diri Andre.