
Pagi hari Gista sangat kesal karena banyak pihak yang memutuskan kontrak sepihak dengannya. Dampak dari skandal fotonya dengan Yoga yang diambil secara diam-diam. Belum lagi managernya yang resign begitu saja.
"Dasar, gak tanggung jawab banget jadi orang." Gerutunya mengingat managernya yang memutuskan resign begitu saja.
Gista mengecek tabungannya dan jumlah denda yang harus Ia bayar.
"Sial.. Bisa abis tabungan gue nih."
Gista mengambil handphonenya dan menekan tombol yang sudah biasa Ia hubungi.
"Haloo om." Sapa Gista dengan nada manja saat telpon terhubung.
"Halo Gista sayang, kenapa?"
"Om, Gista minta duit dong."
"Emang yang kemarin sudah habis?"
"Gista harus bayar denda kontrak om. Tabungan Gista jadi abis."
"Iya udah nanti om transfer. Sekalian ketemu mau gak?"
"Makasih yah om sayang. Mau ketemu dimana?"
"Di hotel biasa gimana? Jam 8 malam."
"Siap om nanti Gista kesana langsung. Tapi jangan lupa transfer loh ya om, Gista tungguin."
"Iya sayang."
"Byeee."
Sesaat setelah telpon terputus Gista melihat rekeningnya dan saldonya telah bertambah cukup banyak.
"Yeeesss.. Gak perlu repot lagi sekarang." Gumam Gista tersenyum. Raut Gista sumringah kembali. Dia berencana menyelesaikan denda kontraknya lalu pergi ke salon supaya penampilannya saat bertemu om kesayangannya tidak mengecewakan. Gista sudah hampir 5 tahun menjalani hubungan dengan om tersebut. Dari sekian banyak pria beristri yang berhubungan dengan Gista, baru pria ini yang selalu memberinya uang dalam jumlah yang tidak main-main. Tentu hal itu membuat Gista tidak bisa melepaskannya. Apalagi pertemuan dengan om yang mungkin hanya sebulan dua kali tidak membuatnya kerepotan. Bertemu pun juga tidak terlalu lama, hanya urusan ranjang lalu mereka akan pulang masing-masing.
Pukul setengah 8 malam Gista meluncur ke hotel tempatnya berjanjian tadi. Ia berdandan sangat cantik dan sexy. Ia menggunakan dress hitam dengan tali spagetti, potongan di bagian dada yang sangat rendah. Ditambah dress yang sangat pendek hingga menampilkan pahanya yang mulus. Gista berjalan mantap menuju hotel. Seperti biasa, kamar sudah dipesan. Gista hanya cukup menuju kamar dan menunggu kedatangan om yang dianggap sebagai rekening berjalannya.
Gista menunggu sambil menikmati minuman yang sudah Ia pesan. Gista juga menata kembali penampilannya, menyemprotkan parfum agar senantiasa harum.
Pintu kamar terbuka, om tersebut datang dengan senyuman nakal melihat penampilan Gista yang menggoda.
"Halo sayang." Sapanya.
"Halo om Faisal sayang." Gista berdiri dan berhambur ke arah om tersebut dan memeluknya, tak lupa Ia juga mendaratkan kecupan di pipi om Faisal.
"Udah lama nunggunya?"
"Belum kok, barusan datang juga. Oiya om, gimana penampilan Gista?"
"Selalu sempurna." Puji Om Faisal sembari mengecup bibir Gista dengan nakal dan melingkarkan tangan di pinggang Gista.
"Iih om nakal. Mandi dulu yuk om. Gista bantuin."
Om Faisal menuruti perkataan Gista. Mereka melewati malam bak pengantin baru. Tanpa disadari Om Faisal sedari tadi ada sepasang mata yang melihatnya memasuki hotel sudah mengawasinya sejak di jalan.
***
Anya menuruni tangga setelah dari perpustakaan. Anya hendak ke kantin menemui Mela dan Ika.
"Anya.." Sapa seseorang dari belakang.
"Oki.."
"Gue mau ngobrol bentar."
"Ngobrol aja, kayak sama siapa aja."
"Gue mau minta maaf soal kelakuan gue beberapa hari kemarin. Gue gak ada maksud ngehindari lu."
"Iya gue tau , Ki. Semua karena Kak Yoga kan. Cemburunya berlebihan memang."
"Maaf yah Nya. Harusnya gue gak sampai segitunya."
"Udah gak usah dipikirin. Bagi gue lu itu temen baik gue Ki, udah kayak saudara. Jadi wajar kalau saudara diem-dieman lalu baikan."
"Makasih ya Nya. Gue yang harusnya malu udah nurut-nurut aja buat ngejauhin lu."
"Sama-sama. Udah yang lalu gak usah dibahas lagi. Oiya, gue belum dapet cerita lu jadian sama Sisil loh."
"Iya ntar gue ceritain. lu mau kemana ini?"
__ADS_1
"Ke kantin. Ada Mela sama Ika. Yuk ikut kesana."
"Yuk." Mereka berjalan bersama menuju kantin.
"Eeh tapi Sisil gak cemburu kan sama gue?" Tanya Anya sambil berbisik.
"Enggak. Dia bener-bener pengertian banget Nya."
"Eciieee yang bucin nih. Kaget gue kok lu bisa jadian. Gak tau kapan PDKTnya tau tau udah jadian aja."
"Sama kayak lu, tau tau udah jadian sama pak polisi."
"Iya itu beda cerita. Pak polisi yang ngejar-ngejar gue." Ucap Anya diselingi tawa.
Mereka sampai di kantin. Mela dan Ika sedang makan siang.
"Halooo bebeb-bebebku." Sapa Anya.
Mela dan Ika tersenyum melihat Anya bersama Oki, artinya mereka sudah baikan.
"Gitu dong, akur." Goda Ika.
"Kitanya akur, pasangan kita yang terlalu lebay nanggepin hubungan kita. Ya kan Ki?"
"Yo'i. Mel, gimana kondisi lu?"
"Udah baikan Ki." Jawab Mela sambil tersenyum.
Mela memang nampak kurusan. Ia hanya makan jika diingatkan oleh orang terdekatnya.
"Makan yang banyak Mel." Ucap Oki.
"Iya iya. Kalian bertiga nih sama cerewetnya deh." Mela sewot.
"Ya abis lu udah sampe kurus kering begini Mela. Kita khawatir." Balas Anya.
"Iya gue tau. Makasih banyak kalian udah khawatir sama gue." Mela tiba-tiba menitikkan airmata. Entah kenapa kesedihan kembali menyeruak dalam hatinya.
"Mel. Sudah cup cup." Ika disamping Mela memeluknya.
"Sorry sorry. Gue jadi mellow lagi. Gue keinget Vico lagi, dia pasti juga bakal sedih kalau liat gue gak doyan makan gini. Pasti semuanya ditawarin kalau gue males makan." Cerita Mela sambil sesenggukan.
"Mela, lu kuat. Vico pasti sedih kalau liat lu sedih." Ucap Anya.
"Aaakkkkhh, thankyou gaes." Mela mengusap airmatanya. Ia merasa amat beruntung ada teman-teman yang senantiasa menemaninya dalam kesedihan.
***
Sonya sedang menunggu Ezza saat jam makan siang. Mereka berdua ada janji dengan vendor untuk membicarakan gedung dan juga dekorasi untuk pernikahan mereka. Pernikahan rencananya akan digelar 3 bulan lagi. Tanggal sudah ditetapkan saat lamaran kemarin.
Sonya dan Ezza sudah meminta izin untuk mempersiapkan semuanya sendiri karena tidak ingin merepotkan orangtua mereka. Mereka juga menginginkan acara yang sederhana yang hanya dihadiri keluarga dekat saja. Karena yang terpenting bagi mereka adalah kehidupan setelah pernikahannya dan sakralnya acara pernikahan mereka.
Sonya menunggu di loby rumah sakit, tak lama mobil Ezza datang.
"Udah lama nunggu, sayang? Maaf ya soalnya tadi agak macet."
"Enggak lama kok, baru berapa menit aja."
"Terus ini kemana jadinya?"
"Ke Wizz Cafe aja sayang. Janjian sama vendornya disana."
"Oke siap tuan putri."
Mereka membicarakan konsep pernikahan sambil sesekali bercanda tawa. Tak terasa mereka sampai di depan cafe. Tak lama pihak vendor juga datang. Konsep yang telah Sonya dan Ezza rancang bisa diwujudkan oleh vendor tersebut. Kesan sederhana dan sesuai dengan budget mereka tentunya. Sonya dan Ezza memilih untuk membiayain pernikahannya sendiri, mereka tidak ingin membebani orangtua terlebih tentang biaya. Untungnya Ezza sudah menabung sejak dulu.
Awalnya Ezza ingin memberikan pesta pernikahan yang mewah untuk Sonya, wanita yang sangat dicintainya. Tapi Sonya melarangnya. Bagi Sonya tidak perlu pernikahan yang mewah seperti itu. Apalagi hingga menguras tabungan Ezza setelah bertahun-tahun. Ezza dibuat kagum oleh kekasihnya sendiri. Bagaimana tidak, wanita jaman sekarang berbondong-bondong memilih pernikahan yang mewah. Namun, tidak dengan Sonya. Ia justru berfikir bahwa yang terpenting adalah bagaimana menjalani kehidupan setelah pernikahannya.
Pertemuan dengan vendor berjalan lancar. Sonya dan Ezza pun hendak kembali ke rumah sakit. Mereka sampai diparkiran dan menaiki mobil.
"Nanti pulang jam berapa sayang?" Tanya Ezza.
"Sore sayang. Jam 4an mungkin."
"Kok akhir-akhir ini kamu pulang sore terus sayang? Bukannya biasanya kamu pulang malam ya?" Tanya Ezza bingung.
"Emmhh, sebenarnya setelah lamaran kemarin aku sempat ngobrol sama Iqbal buat resign."
"Resign? Kamu yakin?" Tanya Ezza kaget karena baru mengetahui.
"Iya sayang, aku juga ragu awalnya. Saat ngobrol alasannya dengan Iqbal bahwa aku akan menikah, Iqbal akhirnya memberi opsi kalau aku bisa mengurangi jadwal praktek aku. Biar aku bisa pulang sore, nyiapin pernikahan kita dan.."
__ADS_1
"Dan apa?"
"Dan latihan jadi istri yang baik."
Ezza kaget tak mengerti dengan jawaban Sonya.
"Memang kalau kamu pulang malam jadi bukan istri yang baik gitu?"
"Bukan gitu, aku cuma pengen kerja tapi gak sampai menjadikan pekerjaan itu nomor satu. Saat jadi istri nanti aku harus tau bahwa prioritas aku adalah kamu, keluarga kita. Aku juga belajar masak biar nanti bisa masakin suami aku." Ucap Sonya mantap. Ezza tak mampu berkata-kata setelah mendengar ucapan Sonya. Ia terharu, tak menyangka Sonya sudah berpikir sejauh itu. Ia merasa tidak salah memilih calon pendamping. Ezza segera memeluk Sonya tanpa memperhatikan mereka sedang diparkiran.
"Sayaaang, malu. Lagi diparkiran, ada yang lewat tuh. Nanti dikira mesum." Ucap Sonya.
"Aku seneng banget sayang. Makasih ya selalu berusaha yang terbaik buat kita. Semoga keluarga kita nanti selalu bahagia. Oiya sayang aku gak nuntut kamu selalu masakin aku kok. Aku gak repot soal makanan. Aku nyari istri bukan chef. Dan yang penting apapun masalah kamu jangan pernah dipendam. Kita harus saling terbuka. Dalam hal apapun harus terbuka, sampai hal yang itu juga harus terbuka." Ezza mengedipkan mata nakal.
"Iiihh apaan sih. Kok jadi genit gini calon suami aku."
"Iiih gak papa dong. Kalau udah nikah bisa lebih genit lagi nanti. Justru bagus dong, genitnya sama kamu doang, gak mau sama yang lain." Sonya tersenyum mendengar gombalan Ezza.
"Awas sampe genit sama cewek lain. Apalagi kalau seandainya aku hamil, pasti tuh badan jadi bengkak, terus kamunya jadi lirik-lirik yang seksi-seksi. Bakal aku patahin jadi dua nanti." Ancam Sonya.
"Aduuuh jangan sayang, ngilu jadinya. Kalaupun kamu bengkak aku gak akan lirik-lirik. Justru aku deketin terus karena gemes jadinya. Semoga bisa langsung hamil ya nanti sayang. Kamu gak keberatan kan?"
"Iya sayang. Amin. Enggak keberatan dong sayang. Kalau aku udah yakin nikah sama kamu, artinya aku juga udah siap dengan kehidupan setelah pernikahan sayang. Melayani suami, nantinya kalau dikasih rejeki anak ya pasti harus dirawat. Aku paham dan siap dengan itu semua."
"Makasih ya sayang. Aku bener-bener beruntung punya calon istri kayak kamu." Ezza mengusap rambut Sonya.
"Sama-sama." Sonya tersenyum.
"Yaudah aku anter balik ke rumah sakit ya."
"Iya."
Mobil Ezza melaju menuju rumah sakit karena Sonya harus kembali bekerja.
***
Ika akan pulang dari kampus. Ia memesan taxi online di depan gedung kampusnya. Tak lama ada Eric datang menghampirinya.
"Kak Eric.. Kok bisa disini?" Ika kaget dengan kehadiran Eric. Tanpa banyak basa basi Eric menarik tangan Ika. Ika mengikuti langkah Eric.
Eric mengajak Ika duduk di gasebo kampus.
"Kak, kenapa?" Ika masih kebingungan dengan kehadiran Eric.
"Ka, aku mau kasih tau kalau aku keterima kerja."
"Bagus dong kak. Aku ikut seneng dengernya."
"Aku keterima kerja di bandung Ka."
Ika sedikit sedih mendengarnya. Namun Ia berusaha tidak menunjukkan kesedihannya.
"Ika, apa kamu bener-bener gak ada perasaan ke aku? Sedikitpun?" Tanya Eric tiba-tiba. Ika terdiam bingung harus menjawab apa. Eric menunggu jawaban, cukup lama Ika masih terdiam dalam kebingungannya.
"Seperti memang iya. Tidak ada tempat untuk cowok seperti aku dihati kamu. Ika, makasih buat selama ini. Aku gak akan ganggu kamu lagi. Aku akan berusaha lupakan kamu. Kamu pasti gak nyaman dengan aku selama ini." Eric tertunduk lesu sejenak. Lalu tersenyum ke arah Ika yang masih terdiam.
"Yaudah aku pamit." Eric berdiri. Saat hendak berbalik Ika menarik ujung kemeja Eric. Eric menoleh ke arah Ika.
"Aku belum ngomong apa-apa kak, kenapa nyimpulin semuanya sendiri." Kata Ika.
Eric kembali duduk di sebelah Ika.
"Kak, kalau kakak tanya perasaan Ika, jujur Ika merasa nyaman di dekat kakak. Kakak selalu bisa bikin Ika bahagia, bikin Ika kaget dengan segala ulah kakak, dan bikin Ika selalu kepikiran. Tapi Ika gak tau perasaan apa ini, karena Ika juga takut memulai hubungan dengan kakak. Ngeliat mantan kakak aja udah bikin Ika insecure. Ika takut kalau kakak hanya main-main sama Ika, apalagi banyak cewek cantik yang selalu deketin kakak." Eric tersenyum mendengar curhatan Ika. Hatinya bahagia dan rasanya ingin meledak.
"Ika, aku bukan cowok yang suka mainin perasaan cewek. Plis, percaya sama aku."
"Kasih Ika waktu sampai Ika rasa bisa percaya dengan ucapan kakak."
"Jangankan waktu, hati aja aku kasih buat kamu Ika."
"Gombal kan, mulai lagi. Udah berapa cewek coba yang jadi korbannya."
"Gak ada Ika. Aku gombalin kamu doang. Coba cek sendiri deh." Eric menyodorkan handphonenya.
"Ngapain ngasih handphone?"
"Iya siapa tau kamu mau ngecek, biar percaya kalau aku emang cuma deket sama kamu. Gak ada niat deketin siapapun. Gak ada niat bohongin kamu sama sekali juga."
"Iya gak perlu juga aku cek handphone kakak. Kan bisa aja semuanya dihapus dulu."
"Ikaaaa... Plis percaya dong. Emang aku ini ada tampang playboy apa?"
__ADS_1
"Banget kak. Iya plis kasih Ika waktu buat percaya sama kakak. Biar Ika yakin juga dengan perasaan Ika."
"Oke aku bakal nunggu kamu percaya. Aku juga bakal berusaha bikin kamu bisa percaya sama aku." Ucap Eric mantap sambil tersenyum.